The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
83. Menjadi gadis kembali? Benarkah!!


__ADS_3

...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...


...Happy Reading gaes~...


“Baiklah. Jadi, apa yang harus aku lakukan untuku hem?” Tanya Axe kepada Permaisuri untuk mengalihkan topic yang mulai memanas.


“Untuk saat ini aku tak akan meminta apapun padamu. Tapi, nanti aku akan menghubungimu lagi” kata Permaisuri dengan mengalungkan kedua tangannya keleher Axe.


“Wah, wah apakah kau sedang menggodaku Asta?” Tanya Axe.


“Menurutmu?” Bukannya menjawab Permaisuri malah balik bertanya.


"Jangan salahkan aku jika aku menghukummu baby” kata Axe dengan nanda rendahnya.


“Siapa takut dengan hukumanmu itu” tantang Permaisuri.


“Maka aku akan menghukummu saat ini” geram Axe.


“Aku-“  perkataan Permaisuri terendam oleh ciuman tiba-tiba dari Axe.


Pagi yang cerah itu kini berubah menjadi pagi yang panas bagi keduanya, angin sejuk dipagi hari berganti menjadi panas bak berdiri dibawah sinar matahari yang dapat menghasilkan keringat yang deras. Aku tak akan menjelaskan dengan terperinci karena aku tak berpegalaman tentang hal itu, bayangkan saja sesuai imajinasi kalian saja. Jangan salah aku yah aha.


Hari yang pagi kini berganting menjadi siang hari, lumayan lama keduanya beradu cinta didalam kamar Permaisuri. Untung saja Axe sudah memasang barer kedap suara dan menghalangi koneksi antara Permaisuri dan ruang ilahi, hingga mereka tak tau apa yang dilakukan oleh Permaisuri karena pintu komunikasi sudah disegel oleh Axe untuk sementara waktu.


Kini Permaisuri sangat kesal dangan ulah Axe yang katanya kelewat batas itu, sedangkan sipelaku senang-senang saja dengan apa yang dilakukannya bahkan sejak mereka selelsai melakukannya Axe selalu menebar senyum seribu wattnya. Jika saja saat ini Axe berada di komik mungkin saja senyumnya memancarkan sinar bak matahari yang sangat menyengat.


Permaisuri langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sehabis olahraga pagi, meskipun merasa perih dibagian bawahnya tak menyurutkan niat Permaisuri untuk mandi dan mengguyur tubuhnya dengan shower untuk menghilangkan keringat yang sudah sangat lengket ditubuhnya.


Sepeninggalnya Permaisuri, kini kamar itu sunyi dengan menyisakan Axe seorang yang sedang


menyandar diheadboar.   Namun netranya tak sengaja menangkap sesuatu berwarna


merah yang menempel diseprei kasur yang kebetulan berwarna putih itu.


“Darah” gumamnya.


Axe meraba darah yang menempel diseprei kasur sambil mengingat-ingat darah siapa itu dan kapan darah itu berada diseprai tempat tidur wanitanya. Tidak mungkin jika itu darah menstruasi karena hanya sedikit, hanya berbentuk lingkaran yang tak terlalu besar.


“Apakah? Apkah dia kembali menjadi gadis lagi setelah melintasi dimensi?” Tanyanya entah pada siapa.


Axe yang kebingungan mencari jawaban dari semua pertanyaan yang bersarang didalam otaknya, hingga tak sadar bahwa Permaisuri sudah selesai membersihkan dirinya dan sedang memandang kearah Axe yang sedang melamun.


“Hey Axe, kamu kenapa?” Tanya Permaisuri yang menatap Axe penuh tanda Tanya.


“Hah, iya ada apa?” Bukannya menjawab Axe malah balik bertanya membuat Permaisuri mengernyitkan dahinya bingung. Tak biasanya Axe menjadi orang yang kebingungan seperti orang ling-lung yang terkena hipnotis.


“Ada apa? Kamu kenapa hem?” Tanya Permaisuri membelai lembut wajah Axe.


“Tak apa sayang. Hanya saja aku sedang kebingungan” katanya jujur.


“Kebingungan kenapa hem?” Tanya Permaisuri.


“Aku hanya bingun apakah benar setelah kamu melakukan lintas dimensi kamu menjadi seperti dirimu dulu yang masih menjadi seorang gadis?” Tanyanya penuh dengan tanda Tanya.


“Hahh!!” Permaisuri yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya cengo dengan mulut bak ikan kekurangan air, terbuka dan menutup lucu sekali.


“Iya, coba lihat ini” Kata Axe memberikan seprei yang ternoda darah.


Permiasuri menerima seprei yang diberikan oleh Axe kepadanya, melihat seprei ditangannya yang tercetak noda darah tapi dirinya tak merasa sedang datang bulan. Jadwal datang bulannya sudah lewat sehingga dirinya sangatlah yakin bahwa darah diseprei ini bukan darah mentruasinya.


“Bagaimana?” Tanya Axe sekali lagi. Namun, kali inii pertanyaannya penuh dengan semangat entah karena apa.


“M-mungkin saja” kata Permaisuri ragu-ragu.

__ADS_1


“Kenapa kamu tak yakin begitu hem?” Tanya Axe heran melihta respon Permaisuri yang tak seperti dugaannya.


“Entahlah aku juga tak begitu yakin dengan dugaanmu itu” cicit Permaisuri.


“Kalau begitu bagaiman perasaanmu saat ini? Apkah kau merasakan sakit atau apa?” Tanya Axe.


“Emm,,,sebenarnya memang sangat sakit saat tadi pertama kali ingin berdiri. Rasanya seluruh tubuhku tak bisa digerakkan saking sakitnya, apalagi dibagian 'itu' sangatlah perih seperti tersobek tapi aku tak tau” kata Permaisuri merona malu.


“Berarti dugaanku memang benar” kata Axe kesenangan.


“Apkah ‘dia’ pernah mengatakannya padamu?” Tanya Axe sekali lagi.


“Dia siapa?” Bukannya menjawab Permaisuri malah balik bertanya pada Axe mengenai siapa ‘dia’ itu.


“Astaga, apakah sebelum orang itu pergi dia tak mengatakan perihat ini?” Tanya Axe.


Permaisuri yang sudah mulai paham siapa ‘dia’ yang dimaksud oleh Axe akhirnya mengingta-ingat apa saja yang dikatakan olehnya seblemun dirinya pergi.


“Ah ya, aku ingat sekarang” kata Permaiusri.


“Apa?”


“Dia pernah bilang bahwa setelah kami memisahkan diri aku akan kembali menjadi diriku sendiri yang saat dulu sebelum  berada disini. Yaitu seorang gadis yang belum pernah melakukan hubungan suami istri” jelas Permaisuri mengingat ucapan mantan Permaisuri dulu disaat mereka berpelukan.


“Berarti memang benar”


“Awalnya aku tak percaya. Tapi sekarang karena sudah mengalaminya aku percaya tentang semua perkataannya itu” kata Permaisuri menerawang pada kejadian waktu itu, kejadian yang sangat-sangat diingatnya hingga kapanpun.


Karena pada saat itu Permaisuri sangatlah senang bahwa dirinya bukan menumpang pada tubuh orang lain lagi meskipun mereka sama. Setelah kepergian mantan Permaiusri tubuhnya seakan lebih ringan dari pada dulu, seperti beban dalam pundaknya terangkat alau tak keseluruhan.


Jadinya Permaisuri seakan mengabaikan apa yang dikatakan olehnya disaat mereka berpelukan saking senangnya, tak heran jika Permaisuri tak percaya dengan asumsi Axe.


Tapi, meskipun begitu ada rasa senang dihatinya jika dirinya kembali menjadi seorang gadis seperti dirinya dulu. Jangan salah meskipun dulu Permaisuri berasal dari dunia modern yang meskipun berhubungan layaknya suami


Jangan harap bisa menyentuhnya jika hanya mengatas namakan cinta tapi tidak ada ikatan Pernikahan. Hanya saja hari ini menjadi pengecualian dalam hidupnya, dimana prinsip yang selama ini dipegah teguh olehnya hancur lebur


hilang entah kemana.


Mungkin karena rasa percaya atau ada hubungan khusus antar dirinya dan Axe hingga membuat tubuh dan pikirannya tunduk akan pesona yang dimiliki oleh Axe. Entahlah bahkan Permaisuri sendiri tak percaya bahwa dirinya dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada Axe.


“Tapi…..” katanya ragu-ragu.


“Kenapa?” Tanya Axe bingung.


“Kau sudah tau tentang prinsipku kan?” Tanya Permaiusri memastikan.


“Hn.” Katanya seraya menganggung.


“Jadi?” Tanyanya lagi.


“Jadi? Jadi apa?” Bukannya menjawab Axe malah balik bertanya.


“Jika kau sudah mengetahui prinsipku maka apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Katanya seraya bertanya dengan nada malas.


“Tentau saja menikahimu lagi,” ucapnya santai.


“Tunggu dulu, tadi kau mengatakan kata lagi? Apa maksudnya itu?” Selidik Permaisuri dengan mata memicing.


Mati aku, kenapa bisa keceplosan. Rutuknya dalam hati menyadari kesalahannya.


“Ah itu, maksudku,,,maksudku kita akan menikah lagi nanti setelah balas dendammu selesai hem.” Katanya cepat.


“Lagi?” Permaisuri tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Axe padanya.

__ADS_1


“Iya lagi dan lagi jika kau mau.” Katanya.


“Kenapa sejak tadi kau selalu mengatakan kata lagi tanpa kau perjelas hahh!!” karena kesal Permaisuri sedikit  meninggikan nada suaranya.


“…."


“Jawab Axe, jangan hanya diam saja.” Sentaknya pada Axe.


“….”


“Baiklah, kau memilih untuk diam kan maka pergi kau sekarang.” Finalnya.


“Baby aku bisa jelaskan, aku-“


“Aku bilang pergi dari hadapanku sekareang.” Raung Permaisuri melempar barang-barang disekitarnya kearah Axe.


“Biar aku jelaskan dulu, jangan seperti ini.”


“PERGI AKU BILANG!!” Kemarahan Permaisuri sudah berada dipuncaknya saat ini, mau tak mau Axe pergi menuruti perkataan Permaisuri.


“Baiklah, aku pergi tapi, aku akan kembali lagi nanti setelah kau merasa tenang.” Katanya pasrah.


“….”


Permaisuri memilih diam enggan menjawab perkataan Axe yamng tak membantu sama sekali. Sepeninggalnya Axe, Permaisuri luruh kelantai dengan tangisan yang tak dapat ditahannya lagi.


Tangis yang sejak tadi ditahan agar Axe tak melihatnya kini terjun bebas dari mata indahnya. Bulir-bulir bening berlarian membentuk sungai kecil dipipi chubynya, dengan terisak dan sesekali memukul dadanya yang sesak


bertujuan menguirangi rasa sakitnya.


“Kenapa? Hiks kenapa kalian begitu tega kepadaku hiks…kenapa kalian membuatku seperti orang gila hahh!!” Raungnya entah siapa ‘Mereka’ yang dimaksud oleh Permaisuri.


“Jika hidupku untuk dipermainkan kenapa aku terlahir kembali hahh!! Apa salahku hingga kalian membuatku seperti ini.”


Raungan kesedihan Permaisuri terdengar hingga keluar kamarnya, bahkan mereka yang sejak tadi menantikan kehadirannya terkejut karena teriakan itu. Mereka saling berpandangan satu sama lain, bingung dan penasaran bercampur menjadi satu, seakan bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


Sedangkan Zhang Feng tanpa banyak basa basi bergegas menuju kekamar ibundanya untuk melihat kondisinya saat ini. Apa yang menyebabkan ibundanya meraung sarat akan kesedihan itu, sudahlah sebentar lagi aku akan


mengetahuinya.


“Ibunda Feng’er akan masuk.” Katanya tanpa menunggu jawaban.


Untung saja barer yang diciptakan oleh Axe sudah memudar dan Zhang Feng bebas masuk kedalam. Setelah masuk Zhang Feng segera mengunci pintu dengan barer yang dipasangnya untuk mencegah orang lain masuk kedalam kamar dan melihat kondisi ibundanya. Meskipun barer pelindung yang dibuat oleh Zhang Feng termasuk lemah tapi bagi mereka cukup kuat untuk dibobol.


Pandangan pertama setelah masuk kekamar Permaisuri adalah barang-barang yang berceceran dan kondisi kamar yang seperti kapal pecah menimbulkan seperempat siku didahi Zhang Feng.


“Ibunda!!” Seru Zhang Feng berlari menghampiri Permaisuri yang sibuk memukul dadanya.


“Ibunda lihat Zhang Feng,” ucapnya mengguncang Permaisuri pelan.


“…..”


Karena tak mendapat jawaban akhirnya Zhang Feng memeluk tubuh rapuh ibundanya, tangisan Permaisuri pecah mendapat pelukan hangat yang sangat nyaman. Memukul- mukul tubuh Zhang Feng menyalurkan rasa sesak dihatinya.


“Tuangkan semua kesedihan ibunda pada Feng’er,” ucapnya mengelus lembut punggung Permaisuri.


“Hiks…hiks kenapa mereka snagat jahat pada ibunda Feng’er? Kenapa?” Racau Permaisuri.


“Menangislah ibunda, selagi bisa mengurangi beban dalam hati ibunda.” Kata Zhang Feng.


“Apakah ibunda tak pantas untuk bahagia Feng’er?


...Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2