The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
53. Kesal


__ADS_3

Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan


Happy Reading gaes~


Setelah sampai dikamarnya Permaisuri langsung mengambil pakaian didalam lemari dan mengganyinya didalam kamar mandi. Setelah selesai Permaisuri menuju meja rias yang terbuat dari kaca bukan tembaga. Melihat penampilan barunya yang baru saja dilihatnya. Pantas saja mereka tadi bersujud seperti itu, jadi inilah jawaban atas pertanyaannya.


Memoles wajahnya senatural mungkin setelah selesai ia menggambil cadar untuk menutupi wajah cantik nan mempesonanya. Biarkan nanti wajah cantiknya akan dinikmati oleh seseorang yang seharusnya tapi tidak sekarang tapi nanti.


Merasa ada yang memanggilnya Permaisuri mencari asal dimana suara itu berada.


"Hei kami ingin keluar dari sini" kata Guang Yue.


"Ternyata kalian. Keluar saja tidak ada orang disini" katanya santai tak berpindah tempat dari tempatnya sesikitpun.


Tak lama muncullah keempat orang dengan tiga pria tampan dan satu perempuan canttik dibelakangnya. Ekpresi mereka beragam ada yang malas, ada yang tersenyum konyol, dan ada juga yang cemberut kesal.


"Hei ada apa dengan kalian ini?" Tanyanya pada mereka.


"Biarkan saja mereka. Sudah tua tapi tak ingat umur malu sama anak kecil" omel Zian yang mungkin sudah muak dengan mereka.


"Tunggu tunggu jelaskan padaku apa yang terjadi dengan kalian ini?" Tanyannya lagi.


"Huh dia yang memulainya" kata keduanya yaitu Zhang Jun dan Zhao Lie Xian kompak.


"Ciee ciee barengan" kata Guang Yue dan Permaisuri bersamaan dengan tos tangannya. Sedang Zian hanya memutar bola mata malas.


"Mulai lagi" kata Zian malas.


"Kalian ini" bentak keduanya.


"Ciee ciee barengan lagi" kata mereka berdua lagi.


"Hahaha" Permaisuri dan Guang Yue hanya tertawa menertawakan wajah kesal Zhang Jun dan Lie Xian. Sedangkan Zian hanya memandang malas pada mereka yang menututnya tak jelas itu.


"Sudahlah kalian ini" lerai Zian yang sangat jengah.


"Ok ok maafkan kami ya" kata Permaisuri diangguki oleh Guang Yue. Sedangkan kedua orang yang ditertawakan tak menjawab hanya memalingkan wajahnya saja kearah lain.


"Jangan seperti itu" kata Lie Xian.


"Iya iya maafkan kami ya" kata Permaisuri lagi.


"Baiklah baiklah" kata Lien Xian akhirnya dengan pasrah.


"Aku ingin bertanya kenapa kalian ingin keluar? Bukankah tadi kalian bilangnya akan keluar jika aku mendapat masalah?" Tanya Permaisuri.


"Memang benar kita akan keluar jika kau mendapat masalah tapi, karena keadaannya sudah berbeda ya kami memutuskan keluar saja" kata Guang Yue.


"Oh memangnya masalah apa yang kalian pikirkan tadi tentangku?" Tanya Permaisuri lagi.


"Sudah kukatakan tadi jika kita akan keluar jika sipria tua itu tak mengijinkanmu untuk membangun pavilliun yang kau inginkan" Jelas Zian.


"Aiya maaf maafkan aku. Aku lupa saking senangnya" kata Permaisuri melas.


"Ya ya baiklah" kata Zian.


"Oh ya apakah kalian tau apa yang terjadi padaku tadi?" Tanyanya.

__ADS_1


"Apa?" Tanya mereka.


"Hah. Itu saat aku akan memasuki portal? Kenapa disaat giliranku portal itu memancarkan sinar dan mengubahku menjadi seperti ini?" Tanya Permaiauri bingung.


"Kami tak bisa menjawabnya hanya kau sendirilah yang mampu menjawab pertanyaanmu. Carilah jawaban dari semua pertanyaanmu dan kau akan mengetahui jati dirimu yang sebenarnya" jelas Zian.


Bukannya menjawab Zian malah memberikan jawaban yang hampir sama dengan panatua Meng yang menyuruhnya harus mencari sendiri dari pertanyaan yang bersarang diotaknya.


"Bisakah kalaian menjelaskannya saja padaku?" Kata Permaiauri frustasi.


"Maaf kami tak berhak atas itu" kara Zian.


"Kenapa?" Katanya pelan.


"Karna itu bukan kehendak kami" jelas Zhang Jun yang sedari tadi diam saja.


"Lagi. Lagi dan lagi jawaban seperti itu yang kalian semua berikan padaku" teriaknya kesal.


"Maafkan kami" sesal mereka dengan menundukkan kepalanya. Mereka menyesal karena tak bisa memberi tahukan apapaun pada Permaiauri karena itu bukan tugas mereka. Tugas mereka hanya melindungi dan menemani Permaiauri hingga Permaiauri mengetahui jati dirinya, teka-teki dalam hidupnya barulah mereka bisa memberitahukan secara perlahan apa yang tidak dimengerti olehnya.


"Baiklah terserah kalian saja. Tapi, jika nanti aku tau semua rahasia dalam hidupku lihat saja aku akan menendang kalian keluar dari ruang ilahiku dan kalian harus pergi sejauh-jauhnya dariku" putus Permaisuri yang terlanjur kecewa bercampur kesal pada mereka dan sepertinya ucapannya tak main-main.


Sedangkan keempat orang itu menegang kaku ditempatnya jangn lupakan mata yang terbelalak seperti akan keluar saja dari tempatnya. Jika Permaisuri sudah menjanjikan itu makan itulah yang akan terjadi nantinya. Iyulah yang membuat mereka menegang tak percaya, memang salahnha juga tak memberitahukan apapaun. Bagaimana lagi jika mereka nemebritahukan sesuatu pada Permaiauri merekabakan dihukum oleh dewa tapi jika mereka tak memberitahukan apaapun mereka sendiri yang akan menyesal.


Kenapa mereka terlalu bodoh hingga tak mampu memberikan alasan yang lebih masuk akal lagi. Jika saja tadi mereka memberikan teka-teki sedikit saja mungkin tak akan seperti ini jadinya.


Permaisuri tak akan marah atau mengancam mereka dengan ancaman yang sangat menggerikan itu.


Keempatnya segera menyusul Permaisuri yang sejak tadi sudah berlalu dari hadapan mereka. Sungguh sial sekali mereka hari ini. Niatnya ingin bersantai ria tanpa ada yang mengganngu tapi ini apa? Karena ulahnya sendiri hari bersantai rianya hilang dibawa angin.


Sedangkan ditempat Permaisuri yang ternyata sedang berada didapur bersama Yi Ai dan Lilyana yang sempat dibawanya tadi. Awalnya Permaisuri ingin menghilangkan rasa kecewa dan kesalnya dengan menghirup udara segar tapi perutnya tak bisa diajak kerjasama alhasil Permaisuri membawa kedua gadis itu menuju kedapur.


Mungkin Kaisar itu terlalu bodoh hingga tak melihat mana yang memang cantik tanpa poles dengan yang cantik tapi dipermak disana sini wajahnya. Anak kecipun tau mana yang bagus dan mana yang jelek. Jika anak kecil disuruh memilih antara Permaisuri dengan Seli pastinya anak kecil itu akan langaung memilih Permaisuri tanpa harus berpikir panjang lagi.


Disinilah Permaisuri sekarang, bukan lagi didapur melainkan diMansionnya untuk mengambil bahan-bahan masakan yang diperlukan. Sejak tadi wajahnya sudah berseri terlihat sangat bahagia melupakan apa yang dialaminya tadi. Memang memasak adalah cara yang ampuh untuk menghilangkan emosi dihatinya. Tapi, jika emoainya kembali lagi aku peringatkan jangan coba-coba mendekatinya atau menyapa dirinya sebab dia akan memarahimu dan mendiamkanmu.


Nasib keempat orang tadi berada ditangan Permaisuri sekarang mereka hanya menunggu kapan mereka akan didepak dari mansionnya. Bisa saja Permaisuri memutuskan tali kontrak antara dirinya dengan mereka tapi, Permaisuri tak ingin itu terjadi sebab dia merasa akan ada hal besar menanti dirinya dimasa mendatang. Lagi pula dirinya tak perlu terlalu egois memaksakan kehendaknya untuk membuat mereka mengatakan apa saja yang nereka ketahui.


Sudahlah hari semakin malam dan anak-anak belum makan jadi biarkan aku tenang sejenak untuk memasakkan makanan untuk mereka. Pergilah, pergilah kau pikiran sialan gerutunya dalam hati.


Permaisuri kembali dengan tangan penuh dengan bahan yang dibutuhkannya.


Setelah itu mereka bertiga melanjutkan acara memasaknya menghiraukan keempat sosok yang menampilkan wajah risaunya. Begutupun dengan Zian yang biasanya selalu berwajah datar dan acuh tak acuh sekatang ikut merasakan keresahan dihatinya dan itu disebabkan oleh Permaisuri.


o0o


Istana megah yang mampu menampung banyak orang hanya diisi oleh empat orang saja. Dimana satu orang itu duduk disinggasananya dengan gagah dan ketiganya lagi berdiri didepannya.


"Bagaiman?" Tanya sipria yang sedang duduk itu dengan suara sexy nya.


"Ampun Yang Mulia hamba tak bisa menembus hutan kematian dibagian jantungnya Yang Mulia" kata sipria berbaju hitam aka Jun Bei.


Kalian benar pria yang duduk dengan gagahnya adalah orang yang sama yang selalu menyuruh Jun bei mengawasi dia.


"Sudah Yang Mulia ini duga kau tak akan mampu kejantung hutan kematian itu. Tapi tak masalah Yanh Mulia ini yakin dia akan baik-baik saja disana karena disanalah tempatnya tinggal" kata sipria tampan itu.


"Tapi Yang Mulia bukankah kita akan menyalahi aturan takdir jika membiarkan dia berada disana?" Tanya pria berbaju Merah.

__ADS_1


"Tidak. Sama sekali tidak menyalahi aturan sebab inilah saatnya dia mengingat semuanya. Mengingat siapa jati dirinya dan siapa Yang Mulia ini" katanya sambil menatap kosong langit-langit tuangan.


Sedangkan ketiga orang lainnya menatap iba pada sang tuan, sejak dulu tuannya selalu begini jika menyangkut tentang dia. Cinta mereka bagaikan batu dipinggar pantai yang selalu tertabrak ombak laut. Banyak karam yang menghantan cintanya, hingga memisahkannya dengan pujaan hatinya dalam jangka waktu yang sangat lama.


Tuannya yang kejam dan dingin hanyalah cover untuk menyembunyikan rasa sedih dihatinya. Kejamnya dia hanya untuk menutupi kerapuhan dalam hatinya. Tidak ada yang tau selain mereka bertiga seberapa rapuhnya pria didepan mereka.


Hanya ada satu orang yang mampu mengendalikan emosi dihatinya iti dan orang itu adalah dia sang pujaan hati sampai kapanpun itu.


Namun keadaan saat ini tak memungkunkan untuk tuannya bersama dengan pujaan hatinya sebab cinta mereka kali inipun diuji entah sampai kapan ujian cintanya akan berakhir. Tapi yang pasti ujian cinta mereka kali ini berbeda dan mungkin inilah akhir dari segalanya.


Kebahagiaan keduanya menanti mereka didepan sana. Namun untuk menuju kesana masihlah banyak jalan yang harua dilalui. Entah jurang, tanjakan, jalanan lurus, atau bahkan tikungan tajam pun akan menanti mereka.


"Tuan kapan anda akan menampakkan diri didepannya?" Tanya pria berhanfu hijau itu.


"Nanti disaat dia menuntaskan dendamnya. Akupun akan menampakkan diri untuk memberi pelajatan pada sibajingan tengik itu. Dan pada saat itu pula mereka akan menampakkan diri sebab kekuatan dalam tubuhnya 98.9% sudah terbangun dalam dirinya" jelas sipria tampan.


"Kapan itu akan terjadi Yang Mulia" tanya Jun Bei.


"Tak lama lagi. Perkiraanku adalah saat perlombaan itu berakhir dan melewari hari ketujuh berakhirnya disaat itulah kekuatan 98.9% nya akan bangkit dan mereka akan bergerak" jelasnya lagi.


"Kenapa hanya 98.9% saja? Kenapa tidak semuanya Yang Mulia?" Tanya Jun bei lagi bingung.


"Bukan saatnya kekuatan penuh dalam dirinya bangkit dengan sempurna. Peperangan yang sebenarnya masihlah jauh bukan saat ini. Mungkin setelah semuanya selesai dan kami kembali mungkin disanalah awal peperangan yang seaungguhnya terjadi" jelas sipria tampan itu.


"Baiklah Yang Mulia kapanpun itu kami akan senantiasa selalu bersama anda. Walau nyawa kami taruhannya" lantang mereka bertiga bersumpah setia pada tuan mereka yang selalu menoling disaat orang lain pergi meninggalkan mereka sendiri.


"Ya kalian haruslah selalu bersamaku karena kaalian bukan hanya bawahanku tapi temanku, saudaraku dan keluargaku" kata Pria tampan itu dengan senyum tulusnya yang sudah jarang diperlihatkan. Seyum itu menular kepada ketiganya membuat ruangan itu menjadi lebih hidup.


"Uwuu sweet sekali" kata pria berbaju hijau dengan nada gemuli main-mainnya


"Jijik aku mas" kata sipria berhanfu merah.


"Sini aku peyuk" kara Jun Bei.


"Kalian ini selalu saja begitu" kata sipria tampan yang duduk itu kesal.


"Ululu sini sini aku cium dulu" kata mereka.


"Gila!! Mana sudi akuvdicium kalian" katanya mengindik ngeri.


"Huhh mana sudi aku dicium olehmu" cibir ketiganya.


"Sudahlah" kata pria tampan itu


"Jun bei kaublanjutkan menjaga disekitar sana dan kalian berdua kembalilah kesana. Aku akan memanggil kalian berdua nanti jika aku membutuhkan bantuan kalian nanti" katanya lagi.


"Baik Yang Mulia kami permisi dulu" kata mereka bertiga main-main.


"Heii" serunya.


"Hahaha" tawa menggelegar adalah balasan dari ketiganya. Tidak menunggu jawaban pria itu ketiganya langsung pergi melakukan tugas masing-masing sebelum terkena marah.


"Sialan mereka membuatku kesalvsaja huh" dengusnya tapi meakipun begitu dia tetap tersenyum melihat tingkah keyiganya.


o0o


Ditempat Permaisuri

__ADS_1


Mereka makan dengan baik dan tenang, dengan tambahan empat makluk yang sebelumnya belum mereka kenal. Dan lagi sikap Permaisuri yang tak biasa itu menambah kebingungan mereka bahkan Yi Ai dan Lilyana saja yang sejak tadi bersamanya dibuat kebingungan juga.


Bersambung~


__ADS_2