
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
Bukan hanya kaum siluman saja yang ada dijantung hutan kematian ini, bahkan rahasia alam semesta berada disana tapi letaknyalah yang tak terdeteksi.
"Ibunda apakah harimau tadi adalah siluman?" Tanya Antares yang sedari tadi tak mau terlepas dari Permaisuri sampai membuat Zhang Feng kesal.
"Hei lepaskan ibundaku" katanya sembari melepaskan kaitan tangan Antares dengan tangan ibundanya. Sedangkan siempu perebutan hanya memutar bola mata malas akan sifat putranya yang pencemburu itu.
"Zhang Feng kau pelit sekali huh. Aku hanya ingin bersama ibunda saja kenap kau pelit begitu" kata Antares tak terima tautannya dilepaskan.
"Enak aja kau ini ibundaku tau" kata Zhang Feng sembari memeluk ibundanya takbmembiarkan Antares mendekati ibundanya sesikitpun.
Lilyana yang melibat kelakuan Antarea melongo kaget sebab ini bukan sikap adiknya yang pendiam. Mungkin kehadiran Permaisuri mengubah hidup mereka menjadi lebih baik, juga dengannkehadiran mereka memberikan pelengkap bagi dirinya juga adiknya.
"Kalian ini sudahlah jangan bertengkar begitu. Ingat tempat dan ingat berapa usia kalian" katanya tapi tak melepaskan pelukan anaknya malang dirinya semakin menduselkan wajahnya pada dada bidang sang anak.
"Ish ibunda tak bisa begitu Feng'er kan juga ingin bersama ibunda" rengerakn Zhang Feng membuat saudaranya juga kedua Pangeran Shi mengerling malas.
Sedangkan kedua perempuan lainnya mengernyitkan dahi mereka bingung.
"Sudah. Sudah ini ambillah dan biarkan ibunda tenang sebentar" kata Permaisuri melepaskan pekukannya dan mebrikan beberapa cemilan yang sengaja diambilnya tadi agar putra manjanya itu diam.
"Oho ibunda terbaik. Terima kasih ibunda Cup~" katanya girang dengan sebuah ciuman hangat dipipi kanan sang ibunda.
Taukah kalian apa saja yang diberikan Permaisuri pada Zhang Feng? Biar kuberi tau Permaisuri memberikan dua batang coklat, beberapa chiki, beberaoa minuman yang sudah ditaruhnya dalam paper bag membuatnya kegirangan tapi tak mejauh dari Permaisuri.
"Ibunda/Xiao'er aku juga mau" kata mereka minus Kenneth bersaudara yang tak tau apa itu.
"Haish kalian ini malah ikut-ikutan saja huh" katanya tapi tetap memberikan paper bag yang sama seperti milik Zhang Feng. Kenneth bersaudara dan dua siluman hatimau tadipun tak luput diberikannya semua rata memiliki ditangan masing-masing.
"Sudahkan mari kita lanjutkan lagi perjalan kita yang tertunda" kata Permaisuri.
Mereka hanya mengiyakan saja dengan mulut yang tak berhenti menguyah.
Semua orang bergembira memakan makanan yang diberikan oleh Permaisuri. Sebab, baru kali ini mereka memakan makanan yang seenak makanan pemberian Permaisuri.
"Oh ya Bo dan Bong dimana yang lain? Kenapa sejak tadi hanya ada kita saja?" Tanya Permaiauri sembari menggigit coklat batanh ditangannya.
"Disini bukan kawasan kami nona" kata Bo tenang.
"Makaudmu?" Tanya Permaisuri heran.
"Kawasan kami masihlah hatus masuk lebih dalam. Kawasan ini hanyalah lahan yang biasa kami sebut sebagai halaman depan. Sebab, disini hanya akan dikunjungi oleh siluman seperti kami. Yang artinya hanya penjaga gerbang atau pengawas saja yang akan datang kekawasan inj" jelas Bo.
"Lalu kalian tinggal dimana?"
"Nanti nona akan tau juga yang pasti sangat jauh dari kawasan ini" jawab Bong.
"Jauh? Berapa lama? Apakah kita akan berjalan sampai nanti?" Tanya beruntun dari Permaisuri.
"Ya jauh mungkin membutuhkan kurang lebih sebulan jika berjalan kaki" kata Bong.
"Kau gila hah" kata Permaisuri kesal.
__ADS_1
"Tidak kami tak gila nona itu kebenarannya. Tapi kami memiliki sesuatu untu sampai disana dalam hitungan detik saja" jelas Bong agar Permaisuri tak salah faham terhadap mereka.
"Apa itu dan kenapa sangat jauh"
"Portal. Sebuah portal yang biasa kami sebut pintu masuk rumah. Portal itu bagai pintu pada umumnya yang biasa kalian lihat. Memang sangatlah jauh nona karena seperti yang kami katakan tadi bukan hanya kaum kami saja yang ada disana tapi basih banyak lagi yang ada disana. Mungkin nona akan menganggapnya cerita penghantar tidur anak nantinya" jelas Bo.
Sebenarnya bereapa banyak lagi teka-teki yang ada dididunia barunya ini. Kenapa dia merasa pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Tapi kapan? Itulah sepintas pertanyaan yang bersarang pada otak cantiknya.
Apa mungkin aku pernah kesini sebelumnya? Tapi kapan? Seingatku ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki dihutan kematian ini. Apalagi aku tak menyangka bahwa menemukan jantung dari hutan kematian akan semudah ini.
Mudah kelihatannya tapi aslinya sangatlah sulit ini mungkin awal tapi ini bukanlah akhir gumam Permaisuri dalam hati.
Semakin lama berjalan menyusuri jalanan yang indah. Tak lama sampailah mereka didepan sebuah portla yang bergerak bagai roda sepeda namun dengan warna yang berbeda. Warna portal itu berwarna hitam dititik tengahnya dengan berbagai warna disekelilingnya menambah kesan cantik nan menawan.
Ternyata portal itu tak secantik kelihatannya, dibuku yang pernah dibacanya menjelaskan setiap portal memiliki ciri khas yang sama yaitu tak bisa sembarang orang dapat masuk kedalamnya. Ada beberapa tipe portal yang ada dibuku entah itu benar atau tidak dia tak tau sebab dia tak pernah membuat atau menggunakan portal. Ini adalah pengalaman pertamanya, dan dia akan menanyakan apakah benar apa yang ada dibuku ataukah salah.
"Berbarislah" perintah Bo pada mereka dan langsung diangguki.
"Bo tunggu sebentar" kata Permaisuri.
"Ya kenapa nona?" Tanyanya heran.
"Bo dan Bong apakah benar jika setiap portal tak akan bisa dilewati jika hati kita memiliki keserakahan dan ketamakan meskipun sedikit saja?" Tanyanya.
"Dari mana anda tau nona?" Bukannya menjawab Bo malah balik bertanya.
"Tak penting dari mana aku tau yang pasti apa yang aku tanyakan benar atau tidak?" Tanya Permaisuri sekali lagi.
"Memang benar jika portal memiliki ciri khasnya sendiri nona. Tapi, semakin indah polanya maka semakin banyak pula larangannya" jelas Bo.
"Jadi semakin indah pola portal itu semakin banyak pantangan yang harus dilakukan oleh penggunanya begitu?" Tanya Permaisuri.
"Lalu apa saja pantangan yang harus kami hindari sebelum melangkah masuk portal itu" tanya Permaisuri sembari menunjuk portal didepannya.
"Hah ternyata anda lebih cerdik dari yang aku bayangkan nona" pujinya pada Permaisuri.
Permaisuri sendiri tak tau apakah harus menangis atau tertawa mendengar pujian dari Bo yang menurutnya seperti menyindir saja.
"Sudahlah tak usah memujiku seperti itu sekarang katakan saja" kata Permaisuri.
"Baik. Pertama kalian haruslah memiliki hati yang baik maksudku memandang semua mahluk dialam semesta ini sama" katanya dan diangguki oleh semuanya. Melihay anggukan dari orang-orang didepannya ini Bo melanjutkan ucapannya.
"Yang kedua, kalian jangan pernah sedikitpun bergikiran untuk memberi tahukan dunia kami pada orang luar. Pada saat kalian keluar dari sini" kata Bo melanjutkan perkataannya.
"Baik kami berjanji tak akan membiarkan dunia kalian terbuka jika bukan atas perintah kalian" kata mereka kecuali Permaisuri yang seperti tak mendengarkan ucapan Bo dan yang lainnya.
Disaat mereka semua sibuk menyanggupi perkataan Bo, Permaisuri malah termenung dengn kening mengernyit menahan sakit sebab ada sebuah ingaranbmenghantam otaknya secara random. Pecahan-pecahan ingatan bak potongan film menghantamnya dengan berbagai kejadian.
Dimulai dari sebuah pemandangan indah dengan mahluk hidup yang bahagia dengan berdampingan tanpa adanya pertengkaran atau perebutan sesuatu yang ada hanyalah kedamaian.
Dilanjut dengan kedatangan seorang pasutri dengan wajah yang rupawan. Semua mahluk hidup disana menyambut kedatangan pasutri itu dengan hati senang. Lama kelamaan kehidupan mereka makin tenang dan damai.
Lalu sebuah potongan lagi yang memperlihatkan banyaknya darah yang berceceran dan jangan lupakan puoa banyak mahluk hidup yang tewas entah karena apa.
Perang besar terjadi mengakibatkan kerusakan diberbagai sisi, pasangan pasutri itu berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan mereka yang berniat menghancurkan tempatnya.
__ADS_1
Hingga keduanya mampu memukul mundur musuh dengan kerugian besar berada dipihaknya. Banyak teman mereka yang tewas, tempat tinggal yang hancur, dengan segeran kedua pasutri itu menyegel tempat tinggalnya dengan kekuatan yang masih tersisa.
Bayangan seorang pria berbaring diatas batu es yang tak mencair dengan seorang perempuan menyalurkan tenanganya hingga membust dirinya memuntahkan darah seteguk. Tak lama siperempuanpun mengikuti sipria yang terbaring itu.
Perempuan itu membaringkan tubuhnya didekat sipria dengan posisi siperempuan memeluk tubuh sipria dari samping.
Lama mereka berada dalam posisi yang sama dan salah satu dari mereka tak ada yang bergerak bagai patung yang tertidur diatas batu es.
Seakan tersadar Permaisuri langsung tersentak menyaksikan apa yang ada diotaknya. Jangan lupakan pula keringat sebiji jangung diwajah canyiknya. Padahal hanya sebuah ingatan bukan dirinya yang melakukan. Dia hanya melihat tanpa harus melakukan apapun tapi kenapa dia malah ikut merasakan apa yang terjadi disana.
Sungguh membingungkan, apa yang sebenarnya terjadi kenapa dia merasakan apa yang kedua pasangan itu rasakan. Tapi anehnya meskipun begitu dia tak bisa melihat kedua wajah pasangan pasutri itu.
Memang pasutri itu sangat menawan dari aura yang dipancarkan tapi dia tak tau pasti seperti apa rupa mereka sebab seperti ada yangbmenghalangi pengelihatannya.
Lama melamun sampai tak menuadari bahwa semua mata mengarah padanya. Mereka dapat melihat bahwa wajah Permaisuri memucat dengan keringat dingin diwajah ayunya itu.
Tersentak karena merasakan tepukan halus dipundaknya menyadarkan dirinya dari lamunan yang sedang menari-nari diotak cntiknya.
"Ibunda" panggil Zhang Feng pelan dan lembut.
"Ya-ya" jawabnya linglung karena takbsepenuhnya dia tersadar dari lamunan tak berujung itu.
"Ibunda ada apa hm" tanya Zhang Feng lembut.
"Ada apa? Apa?" Tanyanya sedikit tersadar.
"Hah. Ibunda kami oerhatikan sedari tadi tak fokus? Apakah ada yang dipikirkan oleh ibunda?" Desahan lesu dilayangkan oleh Zhang Feng pada sang ibu.
"Maafkan ibunda hm. Ibunda hanya lapar saja jadi tak fokus begini deh" jelas ucapannya adalah kebohongan dan Zhang Feng tau itu tapi tak ingin bertanya lebih jauh lagi karena dia merasa ada sesuatu yang dipikirkan oleh Ibundanya.
"Baiklah jika ibunda memang lapar mari masuk dan kita akan memasak banyak makanan nanti" kata Zhang Feng.
"Benarkah? Kalian yang akan memasaknya kan?" Tanya Permaisuri dengan girang jangan lupakan binar dimata indahnya.
"Bukan kami tapi ibunda yang akan memasak nanti" ringis Zhang Feng tak ingin membuat kesenangan ibundanya sirna.
Benar saja binar senangnya langsung redup setelah mendengar ucapan sang putra kini terganti dengan wajah datar dan dinginnya menandakan bahwa dia sangatlah kesal. Zhang Feng yang melihat wajah ibundanya begiyu menjadi panik.
"Baiklah. Baiklah nanti kami masakkan sesuatu untuk ibunda tapi ibunda juga harus memasakkan kita makasan juga nanti hem" kata Zhang Feng mencoba bernegosiasi dengan ibundanya.
Sedangkan mereka yang sedari menonton hanya berkikik geli. Suruh siapa menjanjikan hal yang berat begitu apalagi dirinya yang seorang Pangeran mana pernah dia pergi kedapur apalagi masak mungkin saja dapurnya akan hancur berantakan akibat ulah mereka.
"Kalian semua harus memasakkan ibunda nanti dan sebagau balasannya ibunda akan membuatkan cemilan untuk kalian semua" seru Permaisuri girang.
Sedang mereka yang tadi menertawakan nasib Zhang Feng langsung terdiam kaku.
Sekarang gantian Zhang Feng yang menertawakan mereka.
Tentu saja Permaisuri hanya mengerjai mereka saja dan tak akan tega membuat para pria tampan itu berurusan dengan alat masak.
Kedua gadis cantik itu sedari tadi hanya tertawa menertawakan kesialan mereka atas ulahnya sendiri. Mereka berdua tak takut jika nanti disuruh memasak sebab mereka terbiasa memasak unyuk dirinya sendiri.
"Kalian berdua jangan banyak terrawa nanti bantu mereka memasak" kara Permaisuri keoada keduanya.
"Siap ibunda" kata keduanya serempak.
__ADS_1
"Baiklah masri masuk agar kalian bisa makan nanti" kata Bo dengan senyum tulusnya yang sedari tadi melihat bagaimana kelakuan mereka ini.
Bersambung~