
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
"Yang Mulia? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya mereka panik.
Tak ada jawaban dari siempu karena yang ditanya masihlah sibuk mengerang kesakitan pada tubuhnya yang terluka.
"Biarkan nona ini melihatnya" katanya.
Mereka bertiga tak ragu seperti tadi karena perempuan yang tadi menolong mereka tak memiliki niat jahat.
"Baik silahkan nona" kata pria berhanfu biru.
Setelah mendapatkan izin Liang Feng Xiao langsung mengecek kondisi pria berhanfu hitam. Membuka pakaian atasnya guna melihat apakah ada luka serius yang membust sipria menggeram kesakitan.
Tak lama setelah dibuka ternyata dugaannya benar terdapat luka tusukan dan goresan yang memanjang juga lumayan dalam namun darahnya tak berwarna merah kental seperti darah biasanya, melainkan merah kehitam- hitaman yang sepertinya terdapat racun.
"Oh astaga bagaimana mungkin kau bisa menahannya hah" omelnya pada sipria dengan memukul kepalanya pelan tak memperdulikan bahwa yang dipukulnya kesakitan atau tidak. Sedangkan yang dipukup bukannya mengaduh melainkan hanya mendengarkan omelan panjang bak seorang ibu kepada anaknya. Juga jangan lupakan senyum tipis yang entah apa maksudnya.
sedangkan ketiga pengikutnya hanya mampu terdiam kaku melihat kelakukan perempuan itu pada tuannya.
"Nona ada apa?" Tanya sipria berhanfu merah.
"Teman bodohmu ini terkena racun" katanya ketus. lagi dan lagi kepala sipria itu ditupukulnya karena gemas dengan respon yang diberikan sipria. Membuat ketiga pengikut sipria lagi dan lagi melogo kaget.
Hei nona ini sangat berani memukul kepala Yang Mulia. Bahkan sudah dua kali kepala Yang Mulia dipukulnya dan tanpa rasa takut sesikitpun. Jika saja Yang Mulia tidak terluka aku sangat yakin bahwa nona ini akan diberikan hukuman. inner ketiganya terkejut bercampur kagum.
Pria berhamfu hitam yang menjadi korban hanya mampu menahan senyum yang selama ini sangat mustahil dilakukannya. Tapi perempuan ini dengan beraninya melakukan hal yang bahkan orang lain tak berani melakukannya.
Sungguh menarik sekali dia katanya dalam hati. Seketika suasana hatinya langsung cerah tak memperdulikan sakit yang tadi di rasakannya.
Sebenarnya dia juga kaget, selama ini tidak ada orang yang berani memukulnya hanya ibundanya saja yang sering menjewer telimganya. Namun sekarang perempuan asing ini dengan beraninya memukul kepalanya.
"Hei kalian bantu aku mengangkat teman bodohmu ini ke danau yang ada disana" katanya sambil menunjuk dimana danau yang tadi ditemuinya berada. Lagi dan lagi pria berhanfu hitam itu dikatai orang bodoh. Sedang siempu malah berusaha menahan senyum yang akan mengembang itu.
"Baik nona"
Mereka bertiga langsung membopong sipria berhanfu hitan menuju tempat yang tadi diperintahkan oleh Liang Fenh Xiao. Sedangkan Liang Feng Xiao sendiri nelangkah menuju ketempat si ketua kepompok pembunuh bayaran untum memaatikan sesuatu.
"Paman buka mukutmu sekarang" titahnya.
"Tidak akan" katanya meski rasa sakit disekujur tubuhnya menyerang amat menyakitkan apalagi semut yang mulai berdatangan menggerogoti luka lukanya.
"Setia sekali kau paman" remehnya.
"Setia atau tidak itu bukan urusanmu" ketus siketua.
"Ohoho baiklah baiklah terserah saja. Tapi sekarang buka mulutmu" katanya dengan nada rendah diakhir kalimatnya. Mau tak mau si ketuapun menuruti perintah Liang Feng Xiao karena bagaimanapun melihat pembunuhan yang sangat keji membust nyalinya menciut.
"Anak pintar" katanya dengan mengelus kepala siketua.
__ADS_1
Setelah siketua membuka mulut, Liang Feng Xiao meneliti apakah ada yang mencurigakan didalam mulut siketua atau tidak. Tak lama netra cantiknya menangkap sesuatu bibawah lidah bagian kiri.
"Ahaha ternyata benar dugaanku bahwa kau akan melakukan bunuh diri nantinya. Tapi untunglah nona ini dengan cepat menemukannya. Sekarang ulurkan lidahmu" perintahnya lagi.
"Tidak akan pernah kulakukan" katanya menantang.
"Baiklah baiklah. Bagaimana jika lidahmu kutukar dengan nyawa keluargamu hm" katanya dengan smirk yang menakutkan.
Mendengar apa yang dikatakan orang didepannya yang kelewat santai membuat dirinya menegang ketakutan.
"Jangan libatkan kekuargaku. Mereka tak tau apapun akan hal ini" mohonnya putus asa.
"Pilihan ada ditanganmu" hanya itulah yang dikatakan oleh Liang Feng Xiao.
"Baiklah aku menyerah. Kau bisa memotong lidahku" katanya dengan tegas. Biarlah aku kehilangan lidah bahkan nyawaku tapi jangan keluargaku yang menjadi korban akan kesalahanku gumamnya dalam hati.
"Ok pilihan yang bagus. Jika paman berkata jujur aku sendiri yang akan menjamin keselamatan kekuargamu. Kudengar istrimu sedang hamil ya?" Tanyanya.
"Dari mana kau tau semuanya?" Bukannya menjawab siketua malah balik bertanya.
"Tak penting dari mana aku mendapatkan informasi ini. Sekarang yang terpenting jujurlah pada mereka dan aku yang akan menjaga keluargamu" janjinya dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah" kata siketua tegas.
Slass
Arghh
Tak lama setelah suara kesakiyan itu berakhir, dua irang pria berhanfu hijau dan merah merah mendekati keduanya.
"Nona sebaiknya anda segera mengobati tuan kami dan orang ini biar menjadi urusan kami berdua" kata sipria berhanfu merah.
"Baiklah dia menjadi tugas kalian sekarang" katanya sembari meninggalkan ketiganya dan segeran menemui pria yang tadi terluka.
Tak lama Liang Feng Xiao sampai ditempat dimana pria itu berada, melihat bahwa keadaanya sudah lumayan parah Liang Feng Xiao menyuruh pria berhanfu biru mengambil air danau sedangkan unyuk dirinya sendiri mencari tanaman yang bisa untuk menjadi obat.
"Ini nona airnya" kata sipria berhanfu biru.
"Taruh saja didekatku" katanya.
Selama satu jam berkutat dengan tanaman obat dan membubuhi keseluruh tubuh pria berhanfu hitam selesai. Liang Feng Xiao hanya perlu menunggu pria ini bangun dari pingsannya dan memnerikan obat untuk diminumnya nanti.
Tak terasa hari yang tadinya pagi sekarang sudah menjelang malam. Tapi, pria berhanfu hitam tak kunjung bangun juga.
"Hei kau siapa nama kalian?" Tanyanya pada mereka.
Tak ada jawaban dari ketiganya, mungkin mereka takut bahwa perempuan didepannua adalah mata-mata.
"Hais kalian baiklah nona ini akan memperkenalkan diri." Katanya sembari mengambil nafas.
"Nama nona ini adalah Liang Feng Xiao putri dari perdana mentri Liang" katanya santai tak memperdulikan ekpresi yang diberikan keempatnya. Ah iya pria berhanfu hitam sudah sadar sejak Liang Feng Xiao bertanya pada ketiganya. Tapi, hanya diam melihat apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
"Putri perdana mentri?" Tanya ketiganya gugup.
"Ya kenapa?" Tanyanya heran sebab dia tak lama tinggal didunia ini.
"Salam tuan putri maafkan kami yang tak sopan ini" hormat ketiganya.
"Hah. Apa apaan kalian ini. Duduk saja" katanya yang merasa risih dengan penghormaran ketiganya.
"Terima kasih putri" kata ketiganya.
"Ya ya ua cepat katakan" desaknya
"Nama kami adalah-" ucapan mereka terpotong karena ringisan dari Liang Feng Xiao jangan lupakan tangan yang memegang kepalanya.
"Shit sialan!! Waktuku hampir habis argh" teriaknya kesal apalagi rasa sakit yang mendera dikepalanya.
"Tuan putri ada apa" tanya ketiganya panik.
"Nona ini harus pergi" kata Liang Feng Xiao tak kalah panik. Saat akan berdiri ada sebuah tangan yang menariknya hingga membuat dirinya limbung dan sebuah benda kenyal mendarat dibibirnya.
"Eh" katanya .
Kalian pasti heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada Liang Feng Xiao sampai dirinya terkejut dan tak bisa memprosesnya. Baik biar kujelaskan. Saat akan berdiri pria berhanfu hitam itu menarik tangannya dan terjadilah tabrakan pada bibir keduanya.
Cup
Kecupan kedua mampu menyadarkan Liang Feng Xiao akan pikiran leletnya itu.
Tersadar karena firsh kissnya sudah diambil pria tak dikenal dirinya langsung memukul dada sipria dan membuat sipria mengaduh kesakitan.
"Dasar mesum! Tak tau berterima kasih sudah ku tolong malah membalasku seperti ini dasar sialan" umpatnya.
"Heh kalian berikan obat itu pada pria mesum ini. Aku akan pergi sekarang dan aku akan berdoa semoga aku tak akan bertemu dengan dirimu lagi dimasa depan" katanya sembari pergi meninggalkan mereka yang melogo.
"Hahaha" sebuah tawa menggelegar dihutan yang mulai gelap menambah suasana mencekam saja.
"Manis sekali meskipun tertutupi cadar" katanya dengan senyum yang menawan.
Melihat ketiga pengikutnya yang terdiam dengan wajah cengonya, menyadarkan dirinya kedunia nyata bahwa sekarang tak hanya sendiri tapi masih ada orang lain.
"Kalian bawakan Benwang obat yang nona tadi katakan" katanya dingin. Tersadar dari lamunan mereka bertiga menuruti apa yang diperintahkan untuk ketiganya.
"Baik Yang Mulia"
Flashback off
Tentu saja keduanya tak akan ingat akam pertemuan itu. Sebab ada sebuah oerisai penghalang yang membatasi ingatan keduanya. Hanya waktu yang dapat menjawab semua teka-teki yang ada diantara keduanya.
Bersambung~
Aku Up lagi jangan lupa Like dan Votenya
__ADS_1