
...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...
...Happy Reading gaes~...
[Aku dihadapkanpilihan
Antara benar dan salah
Aku mencintai kamu
Sangat mencintai]
Nyanyian itu yang terucap dengan polos dari bibir mungilnya. Sebuah kalimat pertama yang menggambarkan dirinya sedang bimbang. Kebimbangan yang entah seperti apa, dirasakan olehnya saat ini.
[Kamu berjalan bersamanya
Selama kamu denganku
Begitu rumitnya dunia
Hanya karena sebuah rasa
Cinta]
Dengan memejamkan mata karena menghayati kandungan setiap bait yang dinyayikan olehnya. Apalagi dengan didukung oleh angin malam yang meliuk-liuk disekitarnya, malah menambah kesan wow.
[Jadilah aku, kamu, dan dirinya
Berada di dalam dusta yang tercipta
Mengapakah harus kurasa?
Sepenting itukah cintamu?
Kita berawal karena cinta
Biarlah cinta yang mengakhiri]
Ho-o-o-o-ooo
Ho-o-o-o-ooo
[Jadilah aku, kamu, dan dirinya
Berada di dalam dusta yang tercipta
Mengapakah harus kurasa?
Sepenting itukah cintamu?
Kita berawal karena cinta
Biarlah cinta yang mengakhiri]
Ho-o-o-o-ooo
Ho-o-o-o
Ho-o-o-o
[Mengapakah harus kurasa?
Sepenting itukah egomu?
Kita berawal karena cinta
Biarlah cinta yang mengakhiri]
[Kamu dihadapkan pilihan
Antara aku dan dia
Begitu rumitnya dunia
Hanya karena sebuah rasa
Cinta]
Mulmed : Agnes Mo – Sebuah rasa.
__ADS_1
Bulir-bulir bening mulai berjatuhan dengan sendirinya dari mata indahnya, dari yang mulainya hanya setetes makin lama makin deras saja. Tangisnya pecah tak bisa dibendung lagi olehnya, entah apa yang membuatnya menangis dengan begitu lancarnya. Padahal sejak kecil dirinya tak pernah menangis, bahkan dirinya lupa kapan terakhir kali dirinya menangis.
Dengan sesegukan ditemani gemerlap bintang di luasnya langit malam, mengeratkan selimut ditubuhnya untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulangnya. Sampai dirinya merasakan sebuah usapan dikepalanya, mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang sedang mengelus kepalanya dengan sayang.
Ternyata yang mengelus kepalanya adalah sosok pria tampan yang mengisi relung hatinya itu, Ssosok yang kata khalayal umum dingin, kejam dam menyeramkan itu lah siraja penguasa hatinya. Jarang orang tau atau bahkan tak akan ada banyak orang yang mengetahui bagaimana sifat asli pria tampan didepannya ini.
“Baby, kenapa menangis hem? Tanyanya pelan.
“…..”
Tak ada jawaban dari Permaisuri karena saat ini Permaisuri masih menatap wajah pria itu dengan masih sesegukan. Bukannya tak mendengar hanya saja Permaisuri tak ingin menjawab pertanyaan yang dilayangkan pria ini kepadanya hanya itulah jawabannya.
“Hey,baby ada apa hem? Katakan saja padaku hem” Tanyanya dengan sedikit bujukan karena melihat keterdiaman dari wanita tercintanya itu.
“Bolehkah aku bertamya padamu?”Tanya Permaisuri.
“Tanyakan saja semua yang mengganjal dalam otak cantikmu itu hem. Jika aku mampu menjawabnya maka aku akan menjwabnya dengan senang hati untukmu” Jelas pria tampan itu dengan penuh ketulusan.
“Apakah, apakah sebelum ini kita pernah saling bertemu atau saling mengenal?” Tanya Permaisuri.
deg
Pertanyaan macam apa itu? Kenapa dia menanyakan hal itu? Apakah dia sudah mengingatnya? Gumam pria itu dalam hati.
Banyak pertanyaan yang tiba-tiba menyerang otaknya, tentang apakah Permaisuri memngingat kehidupan sebelumnya atau apakah Permaisuri hanya asal bertanya atau apalah itu. Tapi, semua pertanyaan yang ada diotaknya mungkin saja salah atau masih banyak lagi kemungkinan benar dan salah tapi, apa?
“Apa maksud dari perkataanmu itu Asta?” Tanya pria itu bingung.
“Jika kau sudah memanggilku dengan Asta berarti kau ingin aku menjelaskan semuanya, benar?” Tanya Permaisuri.
Asta atau lebih lengkapnya Castarica Draniela Becker adalah nama Amerika Permaisuri, yang diberikan oleh sang ayah yang memang berdarah Amerika itu. Becker adalah marga ayahnya yang diturunkan kepada kedua anak dan istrinya itu untuk identitas mereka.
“….."
Pria tampan itu memilih diam dan tak ingin menjawab karena merasa bahwa wanita didepannya ini sedang dalam emosi yang tak stabil.
“Axe katakana sesuatu jangan diam saja” serunya frustasi.
“Apa yang harus kujawab Asta?” Tanya Pria tampan itu yang kini kita ketahui bernama Axe.
“Hiks…katakan apakah kita pernah bertemu dikehidupan lalu?” Tanya Permaisuri dengan tangis yang kembali pecah.
Jawaban yang singkat padat dan tegas itu membuat Permaisuri memfokuskan pengelihatannya pada pria yang dicintainya itu.
“Bagaimana?” Tanya Permaisuri ambigu.
“Huhh?” Tanya Axe karena tak terlalu mengerti.
“Katakan Axe, bagaimana kita bertemu?” Tanya Permaisuri.
“Saat dipasar malam?” “
“Bukan, bukan itu yang aku maksud”
“Lalu, pertemuan yang mana yang kau maksud itu Asta?”
“Jika kau memang mengetahuinya, katakan saja jangan menutup-nutupi dariku lagi Axe”
Seru Permaisuri frustasi dengan masalah yang silih berganti. Tanpa ada jawaban pasti.
“A-apakah kau…” kata Axe gagap.
“Benarkan? Kau juga terlibat dalam masa laluku atau tidak Axe hiks?” Tanya Permaisuri pada Axe.
Axe yang tak tega melihat wanita yang amat dicintainya itu menangis tak berdaya seperti ini, tak pernah dilihat oleh Axe sebelumnya bahwa wanita yang dia ketahui sangatlah kuat dan tangguh dalam segala hal menangis hari ini hanya karena bingung akan masa lalunya.
“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan yang kau siapkan itu hem” kata Axe dengan menghapus air mata dipipi chubby Permaisuri.
“Janji” katanya dengan mengacungkan jari kelingkingnya kekanakan.
“Janji. Kapan pangeran tampanmu itu tak menepati janji hem”
“Dasar penggombal ulung” sungut Permaisuri melihat kenarsisan pria didepannya ini.
“Bukan gombalan sayang, itu kenyataan tau” Katanya tak terima dikatai penggombal ulung.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Axe bahwa dirinya tak pernah sekalipun mengingkari janjinya, yah meskipun kepergiannya yang mendadak itu.
“Lalu janjimu yang waktu itu bagaimana? Janji yang mengatakan ingin membawaku jalan-jalan dan menikmati waktu berdua bersama denganmu itu?” Tanya Permaisuri mengungkit janji Axe yang sebelumnya tak ditepati olehnya itu.
__ADS_1
Skakmat
Axel tak dapat menjawab perkataan yang dilontarkan oleh Permaisuri, dirinya tergagu karena ucapannya sendiri. Kenapa juga Permaisuri mengungkit masalah itu, jika begini bagaimana Axe menjawabnya dengan percaya diri.
“Asta, maafkan aku tentang masalah itu hem. Aku juga sudah menjelas9kannya padamu, jadi jangan membahasnya lagi ya” mohonnya pada Permaisuri.
“Hn”
“Oh ayolah, maafkan aku hem” mohon Axe sekali lagi.
“Sudahlah lupakan saja, sekarang jawab semua pertanyaa yang akan aku tanyakan padamu.” Kata Permaisuri.
“Baik”
“Pertama, aku akan bertanya tentang pertanyaanku yang tadi”
“Yang seperti apa?”
“Pertanyaan tentang apakah kita pernah saling menengal satu sama lain dikehidupan dulu? Bukan didunia modern tapi, sebelum itu?” Tanya Permaisuri.
“Jawaban seperti apa yang kau inginkan dariku Asta? Jawaban jujur atau bohong?”
“Yang pasti aku membutuhkan kejujuran darimu”
“Baiklah aku akan mengatakannya dengan jujur kepadamu. Semua yang kau inginkan dariku”
“Baik maka katakana saja”
“Jika aku mengatakan bahwa kita pernah bersama dikehidupan sebelumnya, apakah kau akan percaya kepadaku?” Tanya Axe.
“Tentu saja aku aku akan mempercayaimu”
“Kenapa kau menjawab dengan sangat yakin?” Tanya Axe.
“Karena aku mendapatkan ingatan tentang masa laluku dan itu berhubungan denganmu” Kata Permaisuri dengan begitu yakin.
“Benarkah? Katakan apa saja yang kau dapatkan dari ingatanmu itu?” Tanya Axe dengan wajah girangnya dan juga binar senang yang sangat ketara itu.
“Dari ingatan yang aku dapatkan, aku melihat kau berada disampingku, selalu menemani aku kemanapun aku pergi bisa dibilang kau bagaikan anak ayam yang selalu menikuti induknya” Kata Permaisuri dengan senyum konyolnya.
“Apa kau bilang!!” Seru Axe tak terima dikatai seperti anak ayam yang selalu mengikuti induknya yang meskipun itu kebenarannya. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dirinya bisa menjadi seperti itu.
“Tidak mau mengaku ternyata” kata Permaisuri main-main
“Aku tidak seperti itu”
“Kau iya”
“Tidak”
“Ya, dan jangan membantah ucapanku lagi” Kata Permaisuri dengan wajah galaknya, mampu membuat Axe terdiam kaku.
“Baiklah” pasrahnya.
“Ok lanjut, pertanyaan kedua adalah apa hubungan kita dulu? Kenapa dulu kita sangatlah dekat hingga kau selalu mengikutiku?” Tanya Permaisuri penasaran.
“Hubungan kita ya? Emm…menurutmu bagaimana?” Bukannya menjawab, Axe malah balik bertanya kepada Permaisuri.
“Teman?”
“Kau menyakitiku” katanya dramatis dengan memegang dada kirinya.
“Sepasang kekasih?”
“Kurang tepat sayang”
“Sejak tadi kau mengatakan salah, lalu apa yang benar? Katakan padaku?” Tanya Permaisuri.
“…..”
Tak ada jawaban dari Axe, karena dirinya bimbang apakah ingin mengatakannya atau tidak. Dirinya seakan bertanya pada hatinya apakah ini sudah waktunya atau masih harus menunggu lagi? Entahlah Axe saat ini sangatlah kebingungan.
“Hei, jawab aku” seru Permaisuri.
Baiklah mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengatakan hubungan antara kami berdua gumamnya dakam hati.
“Hubungan antara kita berdua di kehidupan sebelumnya adalah hubungan…”
...Bersambung~...
__ADS_1