
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
"Hah yang benar saja kau!!" Teriakan nyaringnya menggema disegala penjuru bahakan para hewanpun berlari menjauh dari sipembuat onar itu.
"Hei santai sedikit dan kecilkan suaramu itu" kata Mantan Permaisuri dengan kedua tangan yang menggosok telinganya dan sampai sekarang kedua telinganya masihlah berdengung nyaring membuat kepalanya pening.
"Bagaimana bisa aku yang mengambil alih hah" tanya permaisuri.
"Aku juga tidak tau pastinya tapi yang aku tau pada saat aku terbangun keadaan kami sudah berantakan dan aroma ruangan yang sangat asing bagiku" jelas Mantan Permaisuri dengan kedua pipinya yang memerah.
"Dan juga setiap kalibmelakukan itu pasti kau selalu mengambil alih dengan tiba-tiba seolah tau bahwa aku hanyalah parasit yang tak seharusnya tau" jelasnya dengan cengiran anehnya.
"Pantas saja setiap kali aku terbangun dari tidur dipagi hari badanku terasa remuk seolah dihantam kedasar jurang" katanya mengingat-ngingat.
"Berarti benar dugaanku tau" katanya bangga.
"Tapi aku juga tak terlalu memikirkan tentang sakit pada badanku waktu itu. Karena yang aku pikirkan mungkin saja saat bertugas aku tak sengaja terjatuh atau tersenggol atau bahkan karena terlalu lelah saja begitulah yang aku pikirkan" jelasnya.
"Haduh" Kata Mantan Permaisuri menepuk dahinya pelan karena ternyata Liang Feng Xiao sang kapten ini masih lah polos meskipun kejam.
"Ada apa denganmu?"
"Tak apa"
"Baiklah"
"Apakah waktu itu Kaisarnya asli atau yang sekarang?" Tanya Mantan Permaisuri penasaran.
"Sepertinya dialah Kaisar yang Asli karena dari aura yang di pancarkan oleh mereka berdua sangatlah berbeda. Jika Kaisar yang bersamaku saat melakukan itu aura yang dipancarkan sangatlah kuat dan mendominasi. Tapi Kaisar saat ini auranya sangatlah berbeda auranya lemah meskipun berwibawa tapi berbeda" jelasnya.
"Aku tau itu. Akupun baru mengetahui bahwa keduanya memang berbeda. Disaat Zhang Feng menginjak usia 1 tahun disitulah awal mereka berbeda" jelas Mantan Permaisuri.
"Apakah dia juga berhenti menemuimua atau melakukan itu?" Tanya Permaisuti penasaran.
"Ya saat itu juga kami bagai orang asing. Meskipun Kaisar yang asli seperti tau bahwa kita adalah dua jiwa yang berbeda tapi dia tetep menghormatiku dan selalu memperlakukanku dengan baik. Juga tak ada sorangpun selir diantara kami sebelum Kaisar saat ini datang"
"Pantas saja aku sudah tak pernah merasakan sakut pada tubuhku dan kebas para area sensitifku lagi" katanya.
"Apakah kau mengharapkannya?" Goda mantan Permaisuri.
"Hah" beonya
"Tidak tidak lupakan saja"
"Tapi tunggu apa katamu tadi?"
"Yang mana?"
"Yang kau katakan tentang tidak ada seorang selirpun disaat Kaisar asli itu masih lah berada disana?"
"Ya memang benar hanya ada aku disisinya saat itu. Tapi semua berubah saat Kaisar saat ini darang. Tatanan kekaisaran, aturan para leluhur, fraksi yang terpecah belah dan masih banyak lagi yang berubah"
"Apakah tidak ada yang tau tentang semua ini?"
"Sebenarnya ada" karanya.
"Siapa orang itu? Kenapa tak menghentikan perbuatan Kaisar saat ini?"
"Aku tak tau kenapa mereka tak menghentikan perbuatan Kaisar saat ini karena aku merasa ada orang dibalik mereka yang seperti tidak memperbokehkan menghentukan tindakan Kaisar saat ini. Dan orang itu,,," katanya dengan jeda diakhir kalimatnya.
"Siapa orang itu katakan saja?" Desaknya.
"Kakek, nenek, Kaisar terdahulu dan ibu suri Kekaisaran, juga,,"
"....." Permaisuri masih menunggu kelanjutan ucapan dari Mantan Permaisuri.
"Keluarga kita" katanya sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Seperti tersambar petir disiang bolong Permaisuri tak menyangkan bahwa orang-orang tersayangnyalah yang tega menyembunyikan kebenaran ini.
"Kau pasti bercanda kan hahaha ya kau pasti bercanda hahaha" katanya dengan tawa pedih.
Bagaiman bisa keluarganya sendiri tega menyembunyikan hal besar ini? Apakah mereka tak berfikir seberapa menderitanya dia juga putranya itu? kenapa? kenap mereka begitu tega dengannya? Apakah ini yang mereka sebut kasih sayang tulus?
Mantan Permaisuri hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang tak kuasa menahan air mata kesedihan yang selama ini ia rasakan.
"Hahaha" tawa spedihannya menggelegar bahkan tumbuhanpun ikut merasakan kepedihan dan kesedihannya dilihat dari semua tumbuhan yang melayu tak mengeluarkan keindahannya.
"Sungguh luar biasa mereka hiks,,,mereka menyembunyika semua ini dariku selama ink hiks,,,apakah mereka tak pernah memikirkan tentang perasaan kita? Atau Putraku? KENAPA? KENAPA MEREKA DENFAN TEGANYA MENYEMBUNYIKAN HAL BESAR INI DARIKU ARGGHH" Raungnya histeris.
Suasana disana sudah tak terkendali lagi, cuaca yang awalnya yerang menderang kini berubah menjadi gelap dengan petir yang menyambar, hujan deras dan angin yang bertup kencang. Bukan dialam mimpi saja tapi didunia nyata. Dihutan kematian, dunia para ras siluman, dikekaisaran bahkan diistana megah tempat Jun bei biasa melaporkan apapun mengenai dia ikut merasakannya.
____
"Apa yang terjadi hari masihlah pagi kenapa cuaca menjadi seperti?"
"Ya kau benar tadi tidak begini"
"Cepat buat pelindung"
____
"Yang Mulia Kaisar bagaimana ini apakah terjadi sesuatu dihutan kematian? Bagaimana depan para Peserta?"
"Zhen pun tak rau harus berbuat apa"
____
"Ibu suri bagaimana ini?"
"Tenanglah Aijia juga bingung"
"Apakah ini ulah Xiao'er?"
"Tidak mungkin"
"Jika benar bisa bahaya"
"Ini salah kita membiarkannya pergi kehutan kematian"
"Tidak cepat atau lambat ini akan terjadi juga"
____
"Yang Mulia ada apa ini?"
"Jun bei sepertinya dia sedang marah. Emosi dalam dirinya tak terkendali dan naik turun"
"Marah? Emosi? Marah oleh apa Yang Mulia? Jika emosi dalam tubuhnya tak terkendali ini bisa berbahaya Yang Mulia?"
"Sepertinya dia sudah tau sedikit demi sedikit tentang jati dirinya"
"Lalu bagaimana Yang Mulia?" Paniknya
"Terpaksa Yang Mulia ini harus menemui dia untuk meredakan emosi dihatinya"
"Tapi Yang Mulia-"
"Tidak ada waktu lagi"
____
"Tuan apa yang terjadi"
"Hmm sepertinya dia sudah bangkit"
"Apakah kita harus ketempat para penyihir"
__ADS_1
"Tidak perlu karena para penyihir itu yang akan kesini"
"Salam Yang Mulia"
"Katakan"
"Dia ada dihutan kematian Yang Mulia"
"Bagus kita bisa kesana nanti"
"Tapi kita tak bisa memasuki hutan kematian Yang Mulia"
"Sialannn"
_____
Sedangkan ditempat Permaisuri saat ini sudah tak berbentuk, petir yqng tidak biasa menyambar apa saja yang dilaluinya, hewan-hewan bersembunyi menyembunyikan diri untuk menyelamatkan nyawa kecil mereka dari amukan yang maha dasyat.
"Xiao'er tenanglah kau bisa menghancurkan alam semesta jika begini" kara Mantan Permaisuri menenangkan Permaisuri yang tak terkendali.
"Kau bilang tenang hah!! Bagaimana aku bisa tenang jika mereka dengan sengaja menyembunyikan hal besar ini dariku dan membuat putraku menderita" raungnya marah
"Tapi jika kau begini kau bisa lebih menghancurkan Putra kita" kata sebuah suara mengintrupsi keduanya.
Mendengar sebuah suara yang tak asing ditelinganya mampu meredam emosi dihatinya tapi tidak dengan air mata yang sedari tadi terus mengalir bak air hujan.
"Hiks" tangisnya pecah dengan lutut yang lemas
"Sstt" merasakan usapan dan pelukan yang hangat menerpa dirinya membuat tangisnya pecah. Mantan Permaisuri yang melihatnya hanya tersenyum tulus dengan air mata yang menderai.
"Pergilah temui dia. Temui cintamu tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi, perbaiki semuanya kau berhak untuk bahagia bersama cintamu" katanya tulus.
"Tapi,,,tapi bagaimana denganmu?" Tanyannya.
"Kenapa denganku?"
"Kau juga berhak untuk bahagia. Selama ini kau juga sama menderitanya sepertiku"
"Tenang saja dewa memberikanku sebuah anugrah yang membuatku bisa hidup semauku"
"Maksudmu hiks"
"Dewa membiarkanku hidup didunia yang aku mau dengan kehidupan yang aku impikan"
"Maka lakukanlah dan berbahagialah selalu"
"Ya dan kau juga harus pergi sebelum kau terjebak dalam mimpi ini"
"Terima kasih" kata Permaisuri tulus.
"Mari pergi bersama"
"Ayo"
Kedua orang itu pergi dengan tujuan yang berbeda dan kearah yang berlawanan tapi sebelum bener-benar pegi keduanya menyempatkan diri untuk berpelukan melepas beban yang berada dipundak keduanya.
"Selamat tinggal" kata keduanya.
Setelah itu sebuah cahaya mengelilingi keduanya dengan senyum tulus yang terpatri dibibir keduanya.
Sedangkan didunia nyata pria tampan nan misterius itu memeluk dan membisikkan kata-kara penenang untuk Permaisuri sebeb Permaiauri masihlah menangis walau matanya masih dalam posisi terpejam.
Jangan lupakan petir, dan hujan beserta anginnya belum mereda. Jika terus begini banjir bandang akan diderita oleh semua orang dan itu tak bisa dibiarkan. Banyak mahluk tak bersalah disini jika hanya mereka yang bersalah atau serakah dia akan membiarkan saja tapi kasihan bagi mereka yang tak tau apapun tapi terkena dampaknya juga.
"Hei baby wake up" katanya sembari mencium pucuk kepala Permaisuri.
Permaisuri yang merasa terusik pun perlahan membuka mata sembabnya yang berat juga pening dikepalanya.
Menyesuaikan dengan cahaya mentari dikamarnya oerlahan netra cantiknya mulai seperti biasa yang dapat melihatdengan jelas. Merasa ada yang memelukkan dan hidungnya menangkap aroma parfum yang sangat dikenalnya membuat dia tersentak dan melepaskan pelukan mereka dengan paksa.
__ADS_1
"K-kau"
Bersambung~