
...~Happy Reading~...
“Tuan muda?” panggil paman Zhu mengguncang pelan bahu tuan muda.
Tak lama kelopak mata tuan muda terbuka dengan perlahan, menampilkan manik mata yang indah dengan binar kehidupan yang kembali muncul.
“Dia datang, paman. Mama, mama mengatakan untuk aku bangkit dari kesedihan ini, paman.” Katanya dengan semangat.
Ada apa dengan tuan muda? Tanyanya dalam hati.
“Paman, mama tadi membisikkan padaku untuk tidak mengecewakannya, dia mengatakan untuk aku bisa berubah menjadi pemuda yang lebih bertanggung jawab atas hidup, dan mama juga mengatakan untuk aku tidak bersedih akan kepergiannya,” ucapnya lagi dengan binar yang kian membara.
“Syukurlah.” Lega paman Zhu melihat binar kehoidupan dalam mata tuan mudanya.
“Paman, mulai besok aku akan kembali beraktivitas, sekolah kembali, mengerjakan pekerjaan kantor dan juga bermain.” Serunya semangat.
“Jika memang mama anda mengatakan seperti itu, maka tuan muda jangan mengecewakan mama anda kembali. Minum susu anda tuan muda setelah itu istirahatlah, karena esok hari anda akan membuka lembaran baru, hari baru dan semangat baru menanti anda, tuan muda.” Nasehatnya.
“Baik, berikan susu itu paman. Aku akan istirahat untuk membanggakan mama.” Katanya dengan terburu-buru hingga membiarkan perkataannya yang konyol.
Paman Zhu hanya terkekeh geli mendengar perkataan tuan mudanya yang aneh itu, tapi ia biarkan karena tak ingin mengganggu kebahagiaan tuan mudanya.
“Minumlah, tuan muda. Istirahat dengan baik agar mama anda tidak kecewa.” Candanya.
“Pasti, aku akan membuat mama bangga memiliki anak sepertiku. Pasti mama akan bahagia jika kembali nanti,”
“Tidurlah, tuan muda. Good night have a nice dream, son.” [Selamat malam semoga mimpi indah, nak.] Paman Zhu menarik selimut tuan muda hingga sebatas dada dan tak lupa mengelus pucuk kepalanya dengan lembut.
“Night is also for you uncle, sweet dreams.” [Malam juga untukmu paman, mimpi indah.] setelah mengatakan itu tuan muda memejamkan kelopak matanya untuk terjun kedalam alam bawah sadarnya dengan senyum manis yang masih merekat dibibir menggodanya.
Paman Zhu bergegas mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur untuk menerangi ruangan. Sebelum itu, paman Zhu membereskan gelas dan beberapa makanan yang tidak disentuh oleh tuan muda dan membawanya kedapur untuk dibereskan.
Semoga anda selalu bahagia tuan muda, paman selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan semoga dia segera kembali untuk menyempurnakan kebahagiaan anda. Semoga saja. Doa paman Zhu dalam hati penuh ketulusan.
o0o
kini ditempat Permaisuri dan kelompok berada hari sudah akan beranjak sore hari dan buruan mereka sangatlah memuaskan. Bukan hanya Scorpion Beast Fire saja yang mereka lawan masih banyak lagi seperti sekelompok serigala salju yang mungkin tersesat, sekumpulan semut yang berelemen logam, beberapa beruang hitam yang ganas, macan kumbang yang akan melahirkan, dan yang terakhir sekumpulan orang bodoh yang menginginkan harta mereka.
Seperti saat ini, dimana sekelompok orang bodoh yang tidak mereka ketahui menginginkan buruan yang dengan susah payah mereka dapatkan dan dengan seenakjidatnya ingin direbut. Hoho tidak semudah itu furgoso, jika ingin maka berusahalah dengan sekerasnya.
“Serahkan semua buruan kalian pada kami, tak peduli siapa kalian yang terpentingt harta kalian menjadi milik kami, benar begitu teman-teman?” perintahnya dengan santai.
“ … “
Permaisuri dan yang lain hanya diam tanpa berniat membalas, terlalu malas mengeluarkan tenaga hanya untuk sekumpulan orang bodoh yang banyak omong kosong. Jika diibaratkan sekelompok orang itu bagaikan petir disiang hari yang cerah tanpa hujan, artinya banyak berbicara tapi tidak bertindak. Sama seperti keledai dugu yang menunggu tuannya, yah mungkin cocok untuk mereka.
“Jangan basa basi, jika ingin maka ambilah,” ucap Yao Qi main-main.
Merasa diremehkan kelompok itu meradang dengan rahang mengeras. “Jangan menghina kami!” seru salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Oh, maaf kawan. Kami tak bermaksud menghina, tapi jika merasa ya sudah terima saja.” Selorohnya acuh tak acuh.
“Kurang ajar! Kalian serang dia.” Perintah pemuda yang mungkin ketua dari mereka.
“Ge, beri mereka hadiah karena sudah berani membuat Aresku ketakutan.” Perintah permaisuri menekan kata ‘hadiah’ dan ‘Aresku’
“Dengan senang hati.” Jawabnya tersenyum lebar.
“Butuh bantuan, paman?” Tanya Zhang Feng dengan nada mengejek.
“Bocah nakal, tak perlu paman bisa mengatasinya sendiri.” Kata Yao Qi dengan dengusan sebal karena diejek oleh keponakannya.
“Ya sudah jika tak ingin ku bantu,” ucap Zhang Feng mengendikkan bahu.
“Hei kalian! Lawan aku,” tantang Yao Qi.
“Sialan kau!! Tunggu apalagi, serang dia.” Perintah pemuda itu.
“Cih!! Mainnya keroyokan, dasar bocah.” Remehnya mencoba memprovokasi sang lawan.
“Dasar tua bangka sialan!! Sudah mau mati masih banyak omong,” maki pemuda itu.
"Apa yang sedang kau lakukan, Dao wei?” tiba-tiba sebuah suara dingin menghentikan pertikaian yang akan dimulai itu.
“Cih, sampah sepertimu mau apa hah? Jangan ikut campur urusanku, Dao Ling!” bukannya menjawab pemuda yang bernama Dao Wei malah memaki pemuda yang bernama Dao Ling.
"Seperti ya, tapi hubungan mereka tak sebaik nama mereka. Sepertinya pemuda bernama Dao Ling ini memiliki kemampuan yang lumayan tapi duipandang sebelah mata. Menarik!” jelas Permaisuri dengan seringaian licik.
Mereka yang mendengar perkataan Permaisuri secara alami menyunggingkan seringaian kejam kecuali Antares yang bingung tentunya.
"Lanjutkan Ge, jangan buat kesenanganku terlewatkan.” Perintah Permaisuri.
“Baiklah, lihat bagaimana kerennya aku.” Bangganya membusungkan dada dengan sedikit menepuk pelan.
“Cih, banyak tingkah. Kerjakan saja,” ucap Permaisuri malas.
“Hei nak! Jangan ikut campur antara kami dan mereka. Menyingkirlah dan lihat bagaimana aku menghajar mereka yang sombong itu.” Perintah Yao Qi pada Dang Ling.
"Ya,”
Sepertinya Dao Ling ini seorang kultivator berbakat tapi tertimbun krikil inner Permaisuri dengan smirk andalannya.
“Tunggu apalagi, cepat serang dan habisi dia!!”
“Baik, tuan muda.”
“Oh ternyata dia tuan muda Dao, sekarang aku mengingatnya.” Celetuk Yi Ai tiba-tiba.
“Kau kenal dia, Ai’er?” tanya Permaisuri penasaran.
__ADS_1
“Tidak ibunda, hanya saja Ai'er pernah melihatnya memasuki rumah bunga saat akan kepasar.” Jelas Yi Ai.
*Rumah bunga : sama seperti rumah bordir/ tempat para penghibur ranjang.*
"Oh, sedang apa kau disana Ai’er? Apakah ingin merasaan dunia baru?” goda Permaisuri.
"Ibunda...!”
"Tidak, jika kau menginginkannya maka aku akan menemui orangtua mu untuk langsung menikahkan kita.” Potong Chong Li panik.
“ ... “
“Kenapa?” tanya Chong Li bingung.
"Harusnya kami yang bertanya begitu, kau kenapa?” tanya Zhang Feng menaikkan salah satu alisnya.
“Ibunda hanya bercanda, tidak mungkin Yi Ai melakukan hal hina itu sebelum menikah. Jadi, jangan panik seperti itu. Tapi, ibunda pegang janjimu tadi.” Sebelum Chong Li menjawab, Permaisuri lebih dulu memotongnya agar pikiran negatif Chong Li pergi.
“Benarkah?” tanyanya dengan binar senang.
"Menurutmu?” bukannya menjawab Permaisuri malah balik bertanya.
"Tidak,”
"Sudahlah, perhatikan cara paman kalian ‘bermain’ jangan bicara lagi.” Perintah Permaisuri menekan kata bermain.
“Baik.”
Ditempat Yao Qi berada, saat ini pihak musuh kesulitan melawan Yao Qi yang terlihat santai padahal tidak. Yao Qi akui bahwa lawannya tak bisa dianggap remeh, kekuatan mereka memang bisa terbilang kuat. Tapi, jika mereka meremehkan musuh, maka kekuatan sebesar apapun akan kalah dengan keremehannya sendiri.
“Sialan!! Semuanya, pastikan dia mati hari ini. Jangan sampai kalianmemberinya ampun, mengerti!” seru teman Dao Wei, yaitu Ling Pu.
Sedangkan Dao Wei sendiri hanya mengamati mereka dengan perasaan kesal dan amarah yang akan meledak kapan saja. Tapi, sepertinya Dao Wei lebih memilih menumbalkan teman-temannya dari pada melawannya sendiri. Bisa dibilang bahwa Dao Wei tipikal tuan muda manja yang masih bersembunyi dibalik ketiak orang tuanya,istilah kerennya yaitu Pengecut.
Berbanding terbalik dengan Dao Ling yang tenang, santai mengamati pertikaian mereka. Bahkan Dao Ling tak jarang mengomentari setiap gerakan atau jurus yang mereka keluarkan. Juga, sikap tenang Yao Qi yang menghadapi musuh, membuat Dao Ling terkesan.
Menarik, itulah yang ada dipikiran Dao Ling tentang Yao Qi. Bukan hanya Yao Qi tapi kelompoknya yang seolah acuh tak acuh dengan pertikaian yang tertonton didepan mereka. Dao Ling mengernyitkan dahi bingung dengan mereka karena diantara mereka ada yang dengan santainya memakan makanan, ada yang bercanda, ada yang menonton tapi dengan wajah malah, dan ada juga yang terkesan tak peduli dengan menggerutu entah apa yang pasti sejak tadi bibir orang itu tak berhanti bergerak.
Sungguh menarik sekaligus mengharukan bagi Dao Ling yang tak pernah diperlakukan seperti itu. Timbul rasa iri melihat keharmonisan pada mereka yang alami tanpa drama, ingin rasanya ia berlari menerjang perempuan cantik yang paling tua diantara mereka dan memelukkan erat mencurahkan isi hatinya. Entah kenapa Dao Ling sangat ingin melakukannya, hatinya bergerak untuk merasakan seberapa nyaman dan hangat jika ia bisa memeluk perempuan itu.
Sampai tak sadar kakinya melangkah menuju kelompok Permaisuri yang asik dengan kegiatannya tanpa menghiraukan kekacauan didepan mereka. Dao Ling ingin berada diposisi Antares yang dapat bermanja dengan perasaan sayang dan juga ingin merasakan seperti apa jika dirinya disuapi seperti Antares. Apakah akan berdebar dan hangat atau biasa saja, atau bahkan luar biasa hingga tak mampu mendekripsikan perasaannya. Tapi, yang pasti Dao Ling mendambakan kehangatan nyata itu.
"Eh!!”
...Bersambung~...
Maaf Arin baru Up, sekian lama gak ada kabar akhirnya muncul juga. jangan kecewa ya manteman, Arin dalam fase males tingkat kuadrat jadi lama Upnya.
Jangan lupa Vote, komen, and like.
__ADS_1