The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
85. Scorpion Beast Fire


__ADS_3

...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...


...Happy Reading gaes~...


“Baik, let’s begin our journey,” ucap Permaisuri


“Of course, our precipice is coming.” jawab mereka serempak, dengan semangat yang membara.


Kini Permaisuri dan rombongan sudah sampai disebuah portal yang menghubungkan antara dunia ras siluman dengan dunia luar. Sama seperti saat pertama kali memasuki dunia ras siluman, dimana saat akan masuk portal haruslah bergantian dan berantri dengan rapi.


“Akhirnya, kita keluar juga dari dunia ras siluman.” Kata Fu Lin dengan nafas lega.


Begitupun dengan yang lainnya yang mana mereka berlomba-lomba menghirup udara segar siang hari yang masih sangat sejuk, kahs pengunungan sekali. Memang benar portal itu membawa mereka kesebuah pegunungan asri yang sangat hijau, namun sejak tadi tak ada hewan satupun yang terlihat.


“Anak-anak, waspadalah. Sesuatu yang tenang menyimpah berjuta-juta bahaya.” Peringat Permaisuri kepada mereka.


“Baik,” ucap mereka.


Tak lama, muncullah sekumpulan kalajengking dengan ekor merah hitam yang sangat mencolok, mungkin saja kalajengking-kalajengking itu berelemen api. Karena hawa yang dipancarkan oleh sekumpulan kalajengking itu samar-samar memanas.


“Hati-hati, kalajengking itu mungkin Beast Fire tingkat tiga. Kita bisa mengambil inti Kristal dan inti kehidupan dari mereka yang jumlahnya lumayan banyak untuk menambah skor kita nanti. Tapi, ingatlah satu hal, utamakan keselamatan jaga diri masing-masing dan juga saling bekerja sama untuk menuntaskan mereka. Ingat Ibunda tak mengijinkan luka sekecil apapun ditubuh kalian. Mengerti?” Perintahnya sekaligus memperingatkan agar selalu


berwaspada.


“Baiklaksanakan perintah anda ketua.” Kata mereka formal.


“Kalian bagi kelompok menjadi beberapa dan aku akan bersama dengan Antares, tak apa kan?” Tanyanya pada mereka namun matanya menatap kearah Zhang Feng.


“Tentu saja ibunda, jagalah Ares dn jangan legah. Feng’er akan menjadi kuat untuk melindungi ibunda dan yang lainnya. Saat ini Ares memerlukan ibunda.” Kata Zhang Feng dengan dewasa tak terlihat kekecewaan dimatanya namun yang terlihat adalah binar tulus dan semangat yang membara.


“Baiklah, jaga diri kalian. Kita mulai dengan arah yang berlawanan.” Perintah Permaisuri.


“Baik, laksanakan ketua.”


Akhirnya mereka menyerang sekelompok kalajengking itu dengan arah yang bebrbeda, dengan setiap kelompok menyerang dari berbagai sisi. Kelompok pertama yaitu Permaisuri dan Antares yang berada dalam array pelindung yang tadi Permaisuri buat untuk melindungi diri dari racun diekor kalajengking itu. Tidak hanya Permaisuri saja, melainkan yang lain juga berada dalam lingkaran array.


Kelompok kedua adalah Zhang Feng, Chong Xi, dan Fu Lin. Kelompok ketiga adalah Yao Qi, Lilyana, dan tentunya bersama dengan Bei Shan. Sedangkan kelompok terakhir adalah Chong Li, Yi Ai, dan Xuan xuan.


Dimana kelompok pertama menyerang dari arah barat, kelompok kedua arah timur, kelompok ketiga arah selatan dan yang terakhir kelompok keempat menyerang kearah utara. Jika kalian bertanya arah mana Permaisuri menyerang, maka jawabannya adalah berada ditengah-tengah keempat kelompok dengan Antares yang dengan setia memegang hanfu Permaisuri sambil memangemut lollipop yang tadi diberikan oleh Permaisuri agar lebih memfokuskan pada lolipopnya dari pada pertarungan itu.


Bukan tanpa alasan Permaisuri berada ditengah keempat kelompok itu, melainkan atas perintah Zhang Feng yang tak ingin ibundanya dan juga Antares terluka, Padahal mereka mengetahui dengan pasti seberapa kuat Permaisuri. Tapi, mereka tak peduli seberapa kuatnya Permaisuri apalagi Zhang Feng yang mengatakan akan melindungi dirinya. Mau tak mau Permaisuri menuruti perkataan mereka dengan ditemani Antares yang sibuk mengemut lollipop dimulutnya.


Saat ini tuga Permaisuri hanya mengawasi keempat kelompok itu agar seimbang melawan sekumpulan kalajengking. Memastikan bahwa anak-anaknya tidak terluka barang sedikitpun, jika sampai kalajengking itu melukai anaknya meskipun segires saja maka, ucapkan selamat tinggal hari esok.


“Ibunda!!” panggil Antares menarik-narik hanfu yang dikenakan oleh Permaisuri.


“Ada apa, Ares?” Tanya Permaisuri.


“Ares lapar, ibunda.” keluhnya mengelus perutnya seolah menenangkan penghuni yang berdemo didalam sana.

__ADS_1


“Baiklah, Ares duduk yang  tenang disini ya dan makan makanan yang ibunda beri. Habiskan semuanya jangan sampai ada sisa, mengerti!” kata Permaisuri mengeluarkan beberapa jenis makanan didepan Antares yang sudah duduk manis diatas matras yang tadi Peermaisuri siapkan.


“Huum, akan Ares habiskan semuanya dan tidak akan menyisakan cici sedikitpun,” ucap Antares dengan riang. Jika kalian bertanya siapa itu cici? Jawabannya adalah nasi yang entah kenapa dipanggil cici olehnya.


“Anak pintar, habiskan semuanya sebelum mereka mengambil makanan, Ares hem.” Kata Permaisuri menunjuk mereka yang sudah kehilangan fokus karena mencium bau makanan yang tadi dikeluarkan oleh Permaisuri.


“Ibunda, Feng’er juga mau.” Kata Zhang Feng yang setia menyerang kalajengking didepannya.


“Jika Feng’er juga mau, maka selesaikan.” Kata Permaisuri dengan nada main-main.


“Baiklah,” ucap Zhang Feng.


Setelah mengatakan niatnya pada Permaisuri, Zhang Feng mengintrupsi anggotanya untuk menyerang dengan tiga tahap agar kalajengking diarea mereka musnah dan diangguki oleh anggotanya.


“Kita harus memusnahkan kalajengking itu dengan cepat, agar kita bisa makan seperti, Ares.” Kata Zhang Feng kesal karena kalajengking ini seperti tidak ada habisnya.


“Baiklah, aku juga lapar. Mari beraksi.” Kata Fu Lin mengelus perutnya lembut, jangan lupakan tangannya yang diangkat dengan menggepalkan telapak tangannya, gesture memberi semangat.


Akhirnya kelompok Zhang Feng dengan usaha yang sangat keras bisa memusnahkan kalajengking yang ada diarea mereka dengan kekuatan penuh. Dengan wajah yang berseri, ketiga pemuda tampan itu melangkah dimana Permaisuri dan Antares berada.


“Ibunda, tugas kami sudah selesai. Apakah kami bisa bergabung dengan kalian?” Tanya Zhang Feng  cepat.


Permaisuri yang sejak tadi sibuk mengusap sekitaran mulut Antares yang belepotan, akhirnya menolehkan kepalanya keasal suara. Di sana, terlihat ketiga pemuda tampan dengan senyum secerah matahari dengan tangan yang menyatu didepan dada, posisi memohon namun dengan ekpresi yang berbeda.


“Benarkah?” Tanya Permaisuri.


“Sudah mengambil inti Kristal dan inti kehidupannya?” Tanya Permaisuri sekali lagi.


“Sudah, lihatlah ini.” Kata Chong Xi memngangkat buntalan kecil berwarna merah yang menyala-nyala.


“Wow, you guys are really great boy. Jika begitu kenapa ibunda harus menjawab tidak?” Tanya Permaisuri yang dibalas dengan senyum yang semakin cerah saja.


“Thank you, our mother really loves you.”Kata mereka bertiga langsung memeluk Permaisuri, mengakibatkan Antares ikut terjepit oleh ketiganya.


“Alright, have a seat, sweet pity  Antares.” Peringatnya pada ketiga pemuda tampan yang sedang menyengir konyol itu.


“Ibunda, kami sangat lapar.” Keluh Chong Xi memegang perutnya dan disetujui oleh yang lain.


“Kalau begitu, duduk dan makanlah dengan tenang. Jangan ganggu konsentrasi yang lainnya hem,” ucap Permaisuri.


Oh ayolah ibunda, sejak awal konsentrasi mereka sudah ibunda hancurkan inner ketiga pemuda tampan itu dalam hati dengan malas.


“Sudah jangan membatin saja, cepat makan sebelum dihabiskan oleh Antares.” Perintahnya.


“Baiklah,”


o0o


Prang

__ADS_1


Prang


Arghhh


Hiks…


Hiks…


Grrhh


Suara  pecahan kaca, erangan kesakitan, tangisan, dan geraman berasal dari sebuah rumah mewah yang saat ini sangat tak berbentuk. Keadaan saat ini sangatlah tidak kondusif dengan tampilan luarnya yang sangat menawan, dikediaman bak istana itu bagai kapal pecah yang diombang ambing ombak dilautan.


Arghhh


Arghhh


Lagi dan lagi suara erangan kesakitan kembali terdengar dari dalam rumah bak istana itu, penghuni yang lain seperti maid tidak memiliki keberanian untuk menolong. Sebab siapapun yang menolognya maka nyawa mereka menjadi taruhannya.


Maid yang melihat hanya bisa menahan tangis, tak kuasa melihat tuan mereka kesakitan. Bahkan beberapa orang yang ada didekat orang itu hanya bisa menahan hatinya untuk tidak mendekat.


Jika kalian bertanya apa yang terjadi hingga mereka semua hanya bisa menonton? Dan bahkan ruangannya berserakan pecahan kaca dengan keadaan bak kapal diterjang ombak? Maka jawabannya adalah menahan diri untuk keadilan.


Mungkin kalian bingung dengan apa maksud dari menahan diri untuk keadilan, mungkin saja ya atau bisa jadi tidak. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kalimat itu, hanya saja mungkin keadaan yang membedakan.


Erangan dan tangisan itu bukanlah penyiksaan yang mungkin kalian kira begitu, tapi hanya sebuah erangan kesakitan untuk menjaga diri dan orang lain agar tidak terkena dampak dari ulahnya yang tidak bisa menjaga kendali.


Mungkin itulah yang cocok untuk saat ini, diruangan itu terdapat seorang pemuda tampan yang meraung dengan diikuti geraman menyakitkan hingga mampu membuat mereka yang disekitarnya menahan tangis tak kuasa menahan nyeri dihati.


“Bertahanlah tuan muda, sebentar lagi akan segera berlalu,” ucap salah satu pria paruh baya berpakaian serba hitam dengan tudung kepala berwarna hitam dan juga sebuah buku ditangannya.


“Sampai kapan?” Tanya pemuda yang mengerang kesakitan itu.


“Sebentar lagi, tuan muda.”


“Sampai kapan!!” raung pemuda itu.


Prang


Arghhh


Arghhh


...Bersambung~...


Assalamualaikum Readers, maaf kalau Arin lama Upnya dan maaf juga karna janji-janji palsu yang Arin pernah janjiin. Arin php banget yak, maaf banget. Insya'allah next time Arin usahain double Up.


Follow my IG: @ariana_meysa


Jangan lupa Vote, Like, and Coment

__ADS_1


__ADS_2