
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
"Apa yang dapat naik tapi tak bisa untuk turun" kata mereka.
Dengan keras semuanya memikirkan tentang pertanyaan itu. Bagi Permaisuri ini sangatlah familliar sebab didunia Modern dulu sangatlah sering ia mendengar kalimat ini tapi dia lupa apa jawabannya.
"Waktu kalian tinggal 10 detik lagi" kata Bo.
"Bagaimana ini" kata Xuan panik.
"Kalian tenanglah" suara Permaisuri mengintrupsi mereka untuk terdiam sejenak. Lama berkutak dalam otak seperti ada lampu yang bersinar diotaknya langsung saja Permaisuri membuka mata yang tadi sempat ditutupnya.
"3"
"2"
"1-" ucapan Bo terpotong oleh suara Permaisuri.
"Tunggu" katanya.
"Apakah kau tau apa jawabannya?" Kata Bong meremehkan. Merasa diremehkan dengan hewan buluk didepannya ini lantas ucapan sarkaanya membuat mereka terdia.
"Jangan pernah meremehkan lawan kalian sebelumnkalian mengetahui seberapa besat kekuatan lawan" katanya.
"Maafkan teman saya nona" kata Bo kesal pada Bong yang memang sering meremehkan lawan.
"Tak masalah tapi tidak untuk lain kali"
"Baik. Jadi apa jawabanmu nona?" Tanya Bo.
"Jawabanku adalah Umur" katanya tenang. Anggota Permaisuri bingung kenapa bisa umur?. Sedangkan Bo dan Bong tercengang mendengar ucapan nona didepannya ini karena sejak mereka menjaga gerbang masuk, keduanya belum menemukan manusia yang dapat menjawabnya. Hanya sekaranglah mereka bisa melibat dwngan pasti manusia itu. Sejak ribuan tahun menjaga gerbang masuk.
"Bagaimana? Apakah jawabanku salah?" Tanyanya.
"Tidak. Tidak buka seperti itu maksud kami" kata Bo panik.
"Lalu maksud kalian apa tidak langsung menjawabnya?" Tanya Permaisuri.
"Maksud kami adalah jawaban yang nona berika sangatlah tepat" kara Bo lagi.
"Iya lah kalau salah ya karena tidak benar" candanya.
"ibunda bukan saatnya bercanda" kata Zhang Feng memperingatkan sang ibunda agar melihat kondisi terlebih dahulu sebelum bercanda. Merasa tersindir Permaisuri hanya cengegesan saja.
"Maaf maafkan Ibunda ehehe" katanya dengan kekehan khasnya.
"huh. Sudahlah" katanya lagi
"Tapi nona apakah alasannya, kenapa anda memilih umur?" Tanya Bong resah karena sudah meremehkan lawan yang jauh lebih berbahaya dengan manusia yang sempat ditemuinya.
"Kenapa ya? Hmm ya karena umur tak bisa turun tapi terus bertambah. Semakin hari umur semakin meningkat dan tak akan bisa untuk kembali pada saat kita masih bayi. Mungkin perkataanku membuat kalian bingung intinya umur tak bisa untuk diturunkan atau dikurangi sedikitpun, sebab umur bagaikan identitas yang harus kita patuhi untul diri kita sendiri" jelasnya.
"Wah luar biasa ternyata anda sangatlah cerdas nona. Melebihi dugaan saya" kata Bo.
__ADS_1
"Tentu. Ada lagi?" Tanya Permaisuri.
"Masih ada nona" kata Bong.
"Katakan saja"
"Apa yang tak bisa dibeli dialam semesta ini" kata Bo.
"Kasih sayang" kata Fu Lin.
Permaisuri diam saja menurutnya inilah kesempatan untuk mengasah kemapuan anak dan gegenya itu.
"Kurang tepat tuan" kata Bo membuat Fu Lin lesu seketika.
"Kebahagiaan" kata Chong Li.
"Sedikit lagi" kata Bo senang melihat antusias mereka yang ingin memecahkan teka-teki darinya itu.
"Kebebasan" kata Zhang Feng.
"Sedikit lagi. Biar kuberi bocoran ya. Jika yang kalian sebutkan digabung menjadi satu apa itu?" Kata Bo.
"Cinta" sebuah suara mengintrupsi mereka. Membuat semuanya melihat kearah sisuara yang dngan lantang menjawab pertanyaan tadi.
Ternyata yang menjawabnya adalah Pangeran Antares yang sedari tadi diam saja. Pangeran Antares terkenal dengan otak bodohnya yang tak akan mampu berpikir seperti manusia pada umumnya.
Selain julukan bodoh Pangeran Antares juga dikenal dengan sikap dan sifatnya yang seperti anak kecil yang gampang dibodohi. Tapi saat ini apakah benar rumor yang beredar itu.
"Antares" seru semuanya kecuali Permaisuri yang hanya tersenyum. Inilah yang membuat Permaisuri sangat tertarik pada kedua Kenneth bersaudara itu.
Tak selamanya rumor itu adalah kebenaran. Sama halnya dengan gosip, mereka bergosip pasti ada yang ditambahkan atau dikurangi. Mereka tanpa tau yang sebenarnya hanya mendengar dari mulut orang lain dan membuat spekulasinya sendiri sehingga menyebabkan hal-hal seperti itu terjadi.
"Tuan jawabanmu sempurna. Itulah maksudku yang mengatakan bahwa jawaban kalian hatus menjadi satu" kata Bo.
"Tuan kenapa anda menjawab Cinta?" Tanya Bong.
"Cinta bagiku adalah devinisi dari segalanya. Didalam cinta pasti ada kasih sayang dari orang sekitar atau seseorang yang berarti, cinta juga dapat memberikan kebahagiaan atau bisa juga penderitaan terganyung bagaimana kita menyikapi cinya itu sendiri" katanya terdiam sejenak.
"Cinta juga memberi kita kebebasan untuk mengungkapkan apa yang ada dihati dan pikiran kita untuk berkarya mengatas namakan cinta. Tapi cinta juga dapat membunuh kita jika kita menyalah artinkan arti Cinta itu sendiri. Seperti cinta Ibunda kepada kami berdua yang tiada bandingnya hingga membuat dirinya rela mengorbankan nyawanya demi cintanya pada kami berdua" katanya lagi dengan air mata yang sudah membentuk sungai kecil dipipi tirusnya itu.
Permaisuri terenyuh dan melangkah mendekati Antares untuk memberikan ketenangan pada hati kecil Antates yang rapuh. Memberikan pelukan penuh kasih dari seorang ibu untuk anaknya mengingatkan bahwa masih ada dirinyalah disisinya.
Grep
Permaisuri langsung membawa Antares kepelukan hangatnya dan pecahlah tangis Antares yang selama ini dia pendam agar kakaknya tak merasa sedih akan dirinya yang lemah itu.
"Cup cup cup. Sudahlah nak jangan menangis lagi masih ada ibunda disini dan juga ada kak Lilyana disisimu jangan lupakan pula mereka yang menyayangi mu tulus dari hati hem" kara Permaisuri memberikan ketenangan pada Antares.
Lilyana yang melihat berapa rapuhnya sang adik hanya mampu memalingkan wajahnya kearah lain berusaha tegas agar bisa melindungi sang adik dari bahawa yang mengintainya.
Merasakan ada yang memeluknya dari samping Lilyanapun menoleh pada siapa orang yang beranibmemeluk ditinya.
Melihat bahwa Yi Ai yang memeluknya sambil tersenyum seperti mengatakan semua akan baik-baik saja. Mau tak mau Lilyana tersenyum dan balik memeluk Yi Ai meski air matanya tak bergenti.
Keadaan sunyi penuh dengan haru membuat Bo dan Bong ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh Antares.
__ADS_1
Merasa suasana sudah tak terkendali Bo menyarakan niatnya untuk mempersilahkan mereka masuk.
"Maaf mengganggu tangis haru kalian tapi gerbang akan segera terbuka maka bersiaplah" kata Bo.
Mendengar intruksi yang diberika Bo membuat mereka menyudahi acara harunya dan menanti apa saja yang ada didalam sana.
Cling
Cling
Sebuah suara diikuti dengan sinar yang sangat terang membuat mereka memejamkan mata guna menghalau cahaya terang itu menyerang mata mereka. Tak lam setelah menyesuaikan dengan sekitar, mereka secara perlahan membuka kembali mata mereka.
Pemandangan yang pertama kali dilihat oleh mereka adalah pemandangan yang sangatlah indah yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Memang mereka masihlah dikuar gerbang tapi pemandangan didepannya sangatlah memukau mampu menghipnotis siapa saja. Decakan kagum tak pernah terhenti dari jesebelas orang itu.
Andai Xue jie ikut pasti akan seru katanya sesal dalam hati.
Memang Tong Xue tak ingin ikut karena ingin menjaga Pavilliunnya dari tangan nakal orang lain. Alhasil Permaisuri hanya nampu mengiyakan permintaan Rong Yue.
"Baiklah mari ikuti saya" kata Bo.
Rombongan Permaisuri mengikuti langkah Bo dan Bong dari belakang. Memasuki kawasan yang indahnya luar biasa tak mampu untuk digambarkan dengan perkataan. Setiap langkah mereka tak henti hentinya pujian mereka lontarkan.
Cling
Cahaya yang tak terlalu menyilaukan berasal dari depan mereka dan nampaklah dua laki-laki tampan yang mereka tak tau siapa itu.
"Xiao'er disinilah tempat kami berasal" sebuah suara mengintrupsi diotaknya yang djyakinnya adalah suara dari pada hewan kontrak mereka.
"Benarkah? Lalu siapa kedua pemuda itu?" Tanyanya melalui telepati.
"Mereka adalah siluman yang bisa merubah wujudnya sama seperti kami tapi yang membedakan adalah bahwa kami lebih agung dari mereka" kata Zhang Jun sombong.
"Sombong sekali kau huh" kata Permaisuri mendengus kesal.
"Tentu karena kami adalah binatang ilahi yang sudah lama punah" katanya lagi mempertahankan kesombongannya.
"Diamlah kau. Kau sudah tua jadi diam saja" kara Permaisuri kesal.
"Pefftt" suara tawa yang ditahan oleh keteman Zhang Jun. Membuat orang yang ditertawakan mendengus kesal.
"Sudahlah sekarang bukan saatnya untuk bertengkar" lerai Zian malas.
"Xiao'er dengarkan aku, disinilah tempat para siluman berada. Semua jenis siluman ada disini karena disinilah tempat mereka tinggal. Kau sudah membaca buku diperpustakaan diMansionmu kan? Jika iya kau pasti tau gentang hal ini. Kau juga bisa menaruh pavilliun diruang Ilahimu kesana dengan syarat meminta ijinlah pada panagua mereka" jelas Zian.
"Baiklah. Apakah kalian tak ingin kekuar sekedar menyapa mereka?" Tanyanya.
"Kami akan keluar nanti. Jika kau mendapt kesulitan nanti disaat itulah kami akan keluar" kata Guang Yue.
"Baiklah" kata Permaisuri memutuskan telepati mereka.
Ternyata inilah yang disembunyikan sejak dulu. Hutan kematian hanya tameng untuk menjaga keaslian dari hutan kematian sendiri. Pantas saja oendekar itu rela mengkrbankan nyawanya demi menjaga keseimbangan alam semesta. Tapi sepertinya tak sesederhana kelihatannya.
Bersambung~
__ADS_1