
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
Permaisuri dan kelompoknya melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda tadi. Dengan Mahkota bunga yang setia dikepalanya menambah kesan kecantikan tiada tanding. Disetiap langkahnya mereka lakukan dengan sesekali tertawa karena candaan konyol yang mereka lontarkan.
Antares yang dijadikan korban bullyan oleh mereka hanya mencebikkan bibir kesal dan menggerutu tak jelas membuat semuanya tertawa karena wajah imutnya itu. Bahkan Lilyana yang notabennya adalah kakak kandungnya saja ikut-ikutan membully sang adik dan menambah kekesalan dalam hatinya.
Karena saking kesalnya sampai membuat kedua mata cantiknya berkaca-kaca menahan tangis. Antares memang terkenal bodoh dan lemah di kekaisaran barat bukan hanya itu saja tapi pemikirannya pun seperti anak kecil yang tak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang dewasa.
Mengapa Antares bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena kekuatan dalam dirinyalah yang membuat dia harus menjadi orang yang terlihat bodoh.
Ibunda tercintanya yang wafat bukan hanya karena diracuni oleh musuh dikekaisaran saja tapi juga karena menyegel kekuatan sang putra yang jauh lebih besar dari sang ayah.
Biar ku beritahu sedikit rahasia tentang ibunda dari duo Kenneth itu, tak ada yang tau hanya suaminya Kaisar Kenneth dan orang tua Kaisar Kenneth mertuanyalah yang tau asal usul dirinya. Tapi dipenghujung nafasnya sang ibu memberitahu kedua anaknya siapa dia dan identitasnya.
"Sudahlah jangan mengejek Antares lagi" kara Permaisuri tak tega melihat wajah sedih Antares.
Merasa ada yang menolongnya dari mereka yang membully ditinya sejak tadi, Antares menunjukkan wajah super imutnya pada Permaiauri dengan harapan bahwa Permaiauri akan luluh dan memarahi mereka.
"Cup. Cup. Cup sini son biar ibunda peluk hm" katanya sambil merentangkan tangannya mengisaratkan agar Antares memelukknya.
"Hikss huwaa" tangisnya pecah antara kesal dan haru. Kesal karena mereka dan haru karena mendapatkan perhatian yang besar dari Permaiauri. Selama ini tak ada yang memanjakannga seperti itu selain sang kakak Lilyana. Sebab dari dulu sejak meninggalnya sang ibu, kakek dan neneknya tak ada lagi orang yang mau memberi kehangatan akan kasih sayang padanya hanya kakaknya saja.
"Sudah sudah jangan menangis lagi nanti tampannya hilang loh" goda Permaisuri.
"Hiks,,,apakah benar ibunda" tanyanya polos dengan suara yang masih cecegukan.
"Tenyu saja. Jadi jangan menangis lagi hem" kata permaisuri dengan mengelus pucuk kepala Antares sayang.
"Baiklah ibunda"
"Ini baru putranya ibunda"
"Aku juga"
"Aku juga"
"Aku juga" kata yang lainnya tak terima karena Permaisuri mengatakan hanya Antares saja putranya.
"Iya iya kalian semua juga" kata Permaisuri pasrah melihat kecemburuan dimata mereka.
"....."
"Sudahlah jangan seperti anak kecil saja kalian ini. Hanya karena Antares kalian sudah pencemburu seperti ini. Heyy kekanakan sekali. Dasar bocah" kata Yao Qi jengah melihat para keponakannya yang menurutnya sangatlah berlebihan itu.
"Paman kau sangat kejam" kata Fu Lin cemberut.
"Paman tak peduli" katanya dan melenggang pergi mengikuti langkah Permaisuri dan Antarea yang ternyata sudah jauh meninggalkan mereka.
"Tunggu kami" kata mereka.
Yi Ai dan Lilyana yang sedari tadi menonton hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kelakuan mereka. Bukan tanpa sebab mereka seperti itu, Yi Ai seringmendengar rumor bahwa Pangeran Mahkota Han Zhang Feng, Pangeran Han Bei Shan, Pangeran Han Chong Li adalah para Pangeran yang terkenal dingin, datar dan kejam tak pandang bulu pada siapapun. Tapi, ini apa? Bahkan tingkah ketiganya sangat jauh dari rumor yang dibicarakan diluaran sana.
Saat pertama kali bertemu dengan Pangeran Mahkota Han waktu dia pergi kekediaman Permaisuri, memang kesan pertama yang dipikirkannya adalah bahwa rumor diluaran sana memanglah benar perihal mengenai Pangeran Mahkota Han. Namun, lama kelamaan dirinya tau bahwa apa yang dirumorkan tak selamanya adalah sebuah kebenaran.
Sejak saat itu Yi Ai dekat dengan Pangeran Mahkita Han namun dekat dalam kata lain sebagai saudara sebab Yi Ai pernah bercerita pada Zhang Feng bahwa dirinya menyukai Chong Li kala itu yang tak sengaja bertemu. Sejak saat itu Zhang Feng sering menggoda Yi Ai.
Sedangkan untuk Lilyana baru mendengarnya saat ditinya sampai dikekaisaran bersama sang adik kala itu.
Semua orang membicarakan ketiga Pangeran yah meskipun tak selalu mereka yang dibicaeakan tapi ketiganya lebih mendominasi karena kekejamannya.
__ADS_1
Pangeran Han Chong Xi dan Pangeran lainnya juga tak kalah dari ketiganya tapi yah karena beberapa Pangeran tak terlalu mencolok jadi ketiga Pangeran ah maksudnya keempat Pangeran itu lebih mendominasi.
Benar kata oepatah jangan menilai dari luarnya saja, sebab apa yang kau lihat dan kau dengar itu belum tentu sebuah kebenaran.
Sekitar sepuluh menit berlalu mereka sampai pada bangunan sederhana tapi lebih mendominasi dari yang lainnya, tempat itulah Panatua Meng tinggal.
Seorang pengawal yang melihst kedatangan rombongan itu segera menghampirinya dan memberi hormat pada mereka lebih tepatnya pada Permaisuri dan yang lainnya hanya memaklumi saja.
"Salam Yang Mulia" katanya
"Ya berdirilah jangan seperti itu"
"Terima kasih Yang Mulia"
"Ya"
"Kalau boleh saya tau ada tujuan apa anda mendatangi kediaman Panatua Meng?"
"Kami ingin mengatakan pada beliau. Apakah beliau ada ditempat?"
"Ya Yang Mulia Panatua Meng ada didalam mari saya antarkan anda dan para rombongan menemui Panatua Meng"
"Baik pimpin jalan"
"Mari ikuti saya"
Mereka mengikuti langkah penjaga itu dari belakang. Kediaman Panatua Meng tak terlalu besar dan tak terlalu kecil juga tapi sangat nyaman dan elengan meskipun sederhana. Karena kediaman dan dunia ini tak tersentuh oleh manusia luar kecuali mereka, tentu saja bangunan disini sangatlah asli dan terjaga keindahannya. Entah sudah berapa lama bangunan ini berdiri.
Tibalah mereka didepan sebuah pintu berwarna coklat dengan ukiran indah disetiap sisinya. Dengan sedikit ketukan Penjaga tadi meminta ijin menyampaikan apa yang dibawanya itu lada Panatua Meng.
"Mohon maaf Panatua yapi, saya membawa Yang Mulia beserta rombongan yang katanya ingin menemui anda" kata sipenjaga sopan.
Gedebuk
Gedebuk
"Salam Yang Mulia" katanya.
Sedangkan Permaisuri dan yang lain hanya menaikkan sebelah alisnya heran.
"Panatua Meng ada apa?" Saking penasarannya Permaiauri melintarkan pertanyaan itu dan malah mengabaikan salam dari Panatua Meng.
"Yang tua ini menjawab Yang Mulia-" katanya mengatur nafas
"-maafkan hambamu ini yang telat menyadari kedatangan anda beserta rombongan" lanjutnya.
"Oh jadi karena itu Panatua Meng tergesa-gesa membuka pintu tadi?" Tanya Permaisuri lagi.
"Benar Yang Mulia" katanya.
"Hah Panatua lain kali jangan lakukan hal ini lagi. Jangan terburu-buru apalagi jika aku yang ingin menemui anda Panatua" peringat Permaisuri.
"Baik Yang Mulia"
"Apakah kami tak dipersilahkan untuk masuk dan duduk?" Tanya Permaisuri karena kakinya sudah kram ngomong ngomong.
"Aiya maafkan yang tua ini. Mari masuk"
"Baik"
"Dan kau Gu kembalilah ketempatmu" kata Panatua Meng setelah rombongan Permaisuri memasuki ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Baik Panatua saya permisi"
"Baik"
Setelah kepergian penjaga yang bernama Gu, Pantua Meng kembali memasuki ruangan kerjanya dan segera menemui Permaisuri beserta rombongannya.
"Yang Mulia ada perlu apa anda menemui yang tua ini?" Tanya Panatua Meng bingung.
"Panatua Meng kami ingin meminta ijinmu untuk memburu binatang dan tanaman langka di sekitaran dunia ras siluman ini apakah Panatua mengijinkannya?" Tanya Permaisuri.
"Tentu saja Yang Mulia jika hanya djsekitaran dunia ras siluman ini tapi jika anda ingin mengambil diantara kami yang tua ini mohon maaf yang sebesar besarnya karena yang tua ini taka akan memberikan ijin" katanya tegas.
"Panatua Meng tenang saja kami tak akan mengambil diantara mereka karena mereka masihlah dalam lingkup dunia ini dan aku merasa akrab dengan kalian jadi aku tak akan membiarkan mereka tersakiti seujung kukupun" kata Permaisuri tak kalah tegasnya dengan aura dominannya.
Panatua Meng terpana dengan ucapan tegas dan aura dominan yang dipancarkan oleh Permaisuri. Apakah seperti ink aura sang pemimpin itu? Jika iya maka dia sungguh sangat beruntung bertemu sang pemimpin seperti Permaisuri didepannya ini.
"Baiklah anda beserta rombongan bisa berburu Yang Mulia. Kapan anda beserta rombongan akan berburu?"
"Saat ini juga. Jika begitu kami permisi terlebih dahulu Panatua Meng. Salam"
"Salam Panatua Meng" kata mereka.
"Kenapa terburu-buru Yang Mulia?" Tanya Panatua Meng.
"Waktu adalah uang Pantua dan sedetikpun waktu sangat berharga bagiku. Jadi kami taka akan menyia nyiakan uang kami"
"Baiklah Yang Mulia yang tua ini mempersilahkan anda beserta tombongan untuk segeran melakukan apa yang anda rencanakan" katanya pasrah.
"Baik permisi Panatua"
"Mari saya antar"
"Tak perlu kami bisa sendiri. Lebih baik Panatua menyelesaikan pekerjaanmu hang menumpuk itu" kata Permaisuri meliri meja kerja Panatua Meng yang banyak berkas yang menumpuk itu.
"Baik Yang Mulia" kata Panatua menggaruk kepala bagian belakangnya.
Permaisuri dan rombongan segera meninggalkan tempat Panatua Meng dan bergegas memburu binatang dan tanaman langka.
o0o
Sedangkan disis lain namun ditempat yang sama disebuah tempat yang penuh dengan bermacam jenis bunga Lily mengelilingi sebuah batu es yang berada ditengah-tenah danau berwatna putih seputih susu, dimana diatas batu es terdapat sepasang manusia yang tertidur bak putri tidur.
Dengan hanfu berwarna putih bersih kontras dengan sekitarnya, tak ada pergerakan dari keduanya bagai mayat tapi nafas keduanya masih melekat ditubuhnya.
Suasana hening penuh dengan aura menyenangkan mengelilingi ruangan. Tak lama sinar terang yang mampu menyilaukan mata siapapun tapi tak ada yang melihatnya sebab hanya kedua makluk itu yang berada disana dan saat ini tetap memejamkan mata mereka.
Setelah cahaya menyilaukan itu meredup tampaklah dua sosok pria dan wanita berbaju yang sama perais dengan kedua orang yang tertidur itu. Namun rupa mereka tak sama.
"Sebentat lagi keturunan mereka akan segera tiba" kata sipria.
"Ya kau benar sebentar lagi alam semesta akan merasakan kedamaian dan kesejahteraannya kembali" jawab si wanita.
"Masa kejayaan alam semesta dan hutan kematian akan kembali jaya dan semua mahluk akan merasaka kebahagiaan tiada tara" kata si pria.
"Kita tunggu saja hingga keturunan mereka menemukan mereka"
"Ya"
Bersambung~
Arin Up satu dulu:))
__ADS_1
Jangan lupa Like an Voment
Usahain kolom komentar jangan sampek kosong ya:))