
...Happy Reading...
PRIA BERTOPENG itu membisikkan beberapa kalimat yang pastinya mudah dimengerti oleh Iblis jiwa kekosongan itu. Biar kuberitau pria bertopeng itu masihlah orang yang sama dengan yang dijumpai oleh Permaisuri dan yang pasti tuan dari Jun Bei yang mengerikan itu.
Sekian lama mendekam di istana mewahnya, akhirnya pria bertopeng a.k.a Axe memutuskan untuk terbang bebas bagai burung tanpa beban. Mungkin terlalu berlebihan tapi mau bagaimana lagi itulah kebenarannya.
Axe sangat tak sabar untuk melihat pertunjukan apa lagi yang akan dibuat oleh wanit-ralat gadisnya itu setelah pulang dari liburannya. Pasti akan sangat menarik dan tak akan pernah mengecewakan.
Ck, ck kasian sekali mereka yang melahirkan anak dari iblis sepertinya pasti nanti akan mengikuti jejak si iblis. Tapi, jika orang tuanya tidak mengaharkan tentang hal buruk maka jiwa iblisnya akan tidur dan akan bangkit kapan saja jika dibangkitkan oleh tempramen yang emm buruk apalagi melibatkan emosionalnya.
Tak bisa dibayangkan seberapa kejam iblis itu jika sampai mereka membangkitkan hanya untuk kesenangan atau keserakahan saja. Maka balasannya adalah nyawanya sendiri.
"Lakukan apa yang Zhen perintahkan, maka Zhen akan membiarkan mu hidup sesuai keinginganmu. Tapi ingat, jika kau berbuat hal yang merugikan maka saat itu juga kau, jiwamu, dan semua keturunanmu akan musnah tanpa bisa dihidupkan kembali. Mengerti!" Mutlaknya.
"Mengerti! Yang rendah ini mengerti Yang Mulia." jawab iblis itu cepat.
"Bagus, jangan coba-coba berkhianat karena setiap gerakmu Zhen mengetahui semuanya. Camkan itu!"
"Baik, akan saya ingat selalu Yang Mulia dan saya tak akan mengecewakan anda." kowtownya cepat dengan tubuh yang bergetar hebat jangan lupakan juga keringat dingin disekujur tubuhnya.
"Pergilah dan lakukan tugasmu dengan baik," usirnya dengan kibasan tangan ringan.
"Baik, baik saya permisi Yang Mulia."
Seperti mendapat angin segar, Iblis jiwa kekosongan langsung bergegas meninggalkan Axe sendirian.
"Cih, menjijikkan." makinya melihat tingkah iblis jiwa kekosongan yang lari terbirit-birit.
"Let's play the game." gumamnya dengan smirk tampan andalannya. [Damagenya gak ngotak:),]
"Pesona pria tampan memang tiada tanding!" Narsis nya dengan mengangkat sedikit kerah bajunya sombong.
(Ps: pstt tau kan maksudnya? ya kayak kakek badboy atau kang playboy lah ya. Tapi aku real emang gk tau:") kalau virtual tau canda virtual. Intinya gitu deh ya)
🏕🏕🏕
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya ditempat Permaisuri dan anggotanya berada, kini hari yang sudah malam hari mengisyaratkan mereka untuk istirahat, mengistirahatkan tubuhnya agar energi dalam tubuh terisi penuh.
tenda-tenda sederhana yang mereka bangun pemberian Permaisuri sudah terpasang diatas tanah dengan indah melingkar mengelilingi api unggun yang menyala menjadi sumber hangat mereka.
Dimana ada empat tenda untuk mereka tidur, satu tenda berisi tiga orang dan ada juga yang berisi dua orang. karena jumlahnya ganjil maka mereka para laki-laki harus memilih diantaranya yang tidur berdua.
Sedangkan untuk tenda Permaisuri sendiri, dirinya menempati tenda tengah yang dihimpit oleh ketiga tenda lainnya. Permaisuri tak tidur sendiri melainkan dengan para gadis tentunya.
__ADS_1
Jika kalian bertanya kenapa kedelapan pria itu tidak dibagi dua saja? kenapa harus tiga? jawabannya karena Antares yang tidak terbiasa tidur dengan banyak orang, maka dari itu yang lain memaklumi sikap Antares. Dengan acuh tak acuh Zhang Feng menawarkan diri untuk sekamar dengan Antares dan disambut pekikan girang oleh siempu.
Tenda-tenda itu berdiri melingkari api unggun yang dibuat oleh Permaisuri dan jangan lupakan lahan yang kosong dijadikan dapur mini, kamar mandi karena memang dekat dengan sungai.
Rencananya Permaisuri dan yang lain akan menetap disana selama tiga hari. Bukan tanpa alasan melainkan itu permintaan dari penjaga gunung untuk menetap sementara dengan alasan da hal penting yang akan mereka ketahui nanti. Maka dari itu Permaisuri mengiyakan karena memang dirinya juga penasaran dengan rahasia tempat yang disinggahinya itu.
"Karena hari sudah gelap kalian gantilah pakaian dengan pakaian bersih dan juga setelah selesai kemari karena kita akan makan malam setelah itu tidur. Mengerti?" titahnya.
"Mengerti ibunda."
"Pergilah."
Tak lama mereka kembali dengan wajah segar dan piama pemberian Permaisuri tentunya. Lilyana dan Yi Ai dengan malu-malu menghampiri Permaisuri dan yang lainnya. Bagaimana tidak malu jika ini pertama kalinya mereka menggunakan pakaian tipis dan bercelana meskipun berlengan panjang. Tetap saja mereka malu dan tak terbiasa.
Sedangkan para pemuda berdecak kagum melihat kedua gadis itu yang menurut mereka sangat cantik dengan aura santai nya.
"Ekhem." suara Permaisuri menyadarkan mereka dan mereka tertunduk malu.
"Sudah puas mengagumi mereka? apakah masih kurang?" tanya Permaisuri santai namun ditelingan mereka seperti alunan kematian.
Dengan gelengan kepala yang cepat mereka seakan mengatakan tidak akan mengulanginya lagi.
"Sudahlah sekarang waktunya makan. Jika setelah inibkalian ingin tidur maka tidurlah dan jika masih ingin terjaga maka terjaga lah. Tapi, ingat jangan pernah melangkahkan kaki menjauhi kawasan yang sudah Ibunda beri array, mengerti?" tegas Permaisuri.
"Mengerti ibunda." jawab mereka serempak.
Setelah memberikan peringatan untuk tidak pergi terlalu jauh, akhirnya mereka makan dengan tenang dan sesekali Permaisuri menanyakan hal-hal yang biasa mereka lakukan.
Tak lama sekitar lima belas menit mereka telah menyelesaikan acara makan malamnya dengan hikmat. Kini tinggalah Permaisuri seorang didekat perapian dengan ditemani gitar ditangannya.
Duduk dialasi sofa panjang yang menyerupai kasur namun lebih pendek, Permaisuri memetik senar gitar random bingung ingin menyanyi apa.
Jika kalian bertanya dimana keberadaan yang lain, maka jawabannya ada yang tidur, ada yang di kamar mandi, dan ada juga yang sedang makan cemilan didapur mini.
jrengg
jrengg
jrengg
Petikan gitar lembut itu seakan memanggil siapa saja untuk mendekat, tapi sepertinya Permaisuri memasang array agar tidak ada yang mendekatinya supaya mereka melanjutkan aktifitasnya tanpa ganghuan dari bunyinya gitar.
Hari semakin gelap dan Permaisuri masih betah diposisinya yang kini gitar telah berganti bentuk menjadi guling yang dibelitnya dengan kaki.
__ADS_1
Memandangi langit yang gelap namun penuh kilauan dari taburan bintang dan pastinya bulan uang cantik menambah kecantikan langit malam hari ini.
Saking terpesonanya dengan keindahan malam, hingga tak sadar bahwa sudah ada sesosok manusia yang sejak tadi memandangi dirinya dengan binar lembut penuh kekaguman.
"Cantik." kata orang itu tak mengalihkan pandangannya.
"Ya, kau benar malam ini langit memang sangat cantik." jawab Permaisuri tanpa menyadari orang disampingnya.
"Tapi, ada yang lebih cantik dari hamparan bintang di langit." celetuk orang itu lagi.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Permaisuri tak membuat dirinya berpaling akan indahnya langit malam.
"Kamu."
"Eh..., aku? bagaimana bi... sa," perkataan Permaisuri tergagap ketika dirinya menolehkan kepala melihat orang yang menggombalinya.
"Axe!!" pekik Permaisuri terkejut.
"Kejutan!" katanya tak kalah heboh dengan tangan yang direntangkan bersiap untuk menerima sebuah pelukan hangat.
Tapi, bukannya mendapat pelukan Axe malah mendapat pukulan sebuah guling empuk menimpa dirinya.
"Aduh..., aduh..., hei sayang berhentilah. Kau menyakitiku." kata Axe dengan wajah bak orang paling menderita.
"Apakah ada yang sakit? Katakan padaku jangan diam saja." tanya Permaisuri beruntung jangan lupakan wajah khawatir dan tangan yang membolak balikkan tubuh Axe, mengecek apakah ada yang sakit atau tidak.
"Hei! Tenanglah aku baik, tidak ada yang menyakituku aku hanya bercanda, sayang." kata Axe menghentikan tingkah Permaisuri.
"Kau!!" geram Permaisuri.
"Oke oke aku mengaku salah. Dari pada kita hanya bertengkar lebih baik kita nikmati malam indah kita berdua. Bagaimana?" tawar Axe.
Sejenak Permaisuri memikirkan ucapan Axe dan sedetik kemudian Permaisuri mengiyakan saja toh tak ada yang dirugikan disini.
"Baiklah."
Mendengar perkataan Permaisuri, Axe menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Permaisuri dan sekali hentakan Permaisuri kini sudah berada dalam pelukan hangatnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" seru Permaisuri kaget.
"Diamlah dan nikmati saja."
...BERSAMBUNG~...
__ADS_1
Jangan lupa mampir diceritain baruku ya🤗