
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
Mengikuti instruksi yang diberikan oleh Bo dan Bong mereka mengikuti perintah itu dengan tertip. Dimulai dari Bong yang masuk dulu diikuti Zhang Feng, lalu Yi Ai, dan seterusnya Permaisuri memilih dibelakang dengan Bo karena Permaisuri ingin menanyakan sesuatu pada Bo.
"Bo boleh aku bertanya?" Kata Permaisuri hati-hati.
"Tanyakan saja nona" kata Bo.
"Bo kau bisa memanggilku Feng Xiao atau Xiao'er terserahmu. Dan ya aku ingin bertanya apakah hutan kematian inibhanyalah tameng untuk melindungi dunia kalian dari manusia?" Tanya Permaisuri.
Hening
Bo tak mampu menjawabnya sebab lagi dan lagi dia mendapatkan keterkejutan dari orang yang sama. Kenapa wanita didepannya ini mengetahui dunianya terlalu banyak? Siapa sebenarnya wanita ini? Itulah yang dipikirkan oleh Bo.
"Bo" panggil Permaisuri tapi tak mendapat jawaban dari siempu.
"Booo" panggilnya sekali lagi dengan sesikit tepukan pada pundak Bo. Sedang siempu terkejut dengan tepukan Permaisuri.
"Bo ada apa?" Tanyanya lagi.
"Ah tak apa Xiao Xiao" katanya. Permaisuri yang mendengar namanya dipanggil seperti itu mengernyitkan dahinya.
"Maaf jika kau keberatan dengan nama yang kuberi" katanya kikuk.
"Bukan begitu. Hanya saja aku baru pertama kali dipanggil Xiao Xiao oleh orang lain. Biasanya mereka akan memanggilku Xiao'er. Tapi tak apa aku suka" kata Permaisuti.
"Syukurlah kalau begitu" lega Bo.
"Lalu bagaimana jawaban dari pertanyaanku itu Bo?" Tanya Permaisuri sekali lagi.
"Kalau aku boleh tau dati mana kau mengetahui tentang kami? Sebab tak ada satupun buku yang menjelaskan tentang dunia kami. Orang luar hanya tau tentang hutan kematian dan hutan asli dari hutan kematian itu sendiri. Jika tentang dunia kami aku rasa tidak ada yang tau" jelas Bo.
"Dari buku. Ya aku tau dari sebuah buku kuno yang ada diperpustakaanku. Jadi benar?" Tanya Permaisuri.
"Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Aku tak terlalu tau tentang ini jika kau ingin tau lebih banyak tanyakan saja pada panatua kami dia mungkin saja tau banyak. Sekarang giliranmu" jelas Bo.
Tak terasa giliran Permaisuri tiba sebelum masuk sebuah cahaya keemasan mengelilingi tibuhnya hanya Bo dan Permaisuri yang tau sebab semuanya telah masuk terlebih dahulu.
"Bo apa yang terjadi" tanyanya pada Bo heran dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
"Aku juga tak tau Xiao Xiao" kata Bo.
Ini adalah pemandangan pertama yang dilihat ileh Bo sebelumnya. Sejak dia ditugaskan menjaga gerbang dia tak oernah melihat fenomena seperti ini.
"Xiao'er tenanglah dulu" kara Zian menggema diotaknya.
"Baik" jawab Permaisuri.
Tak lama sinar emas itu menyurut menampilakan penampilan Permaisuri dengan perubahan yang besar. Rambut hitamnya berubah menjadi putih dengan gradiasi emas, pakaian yang semula hangu laki-laki kini berubah menjadi hanfu yang sangat cantik dengan warna hijau dan putih, jangan lupakan mahkota kecil dikepalanya menambah kecantikan alaminya. Wajah yang mulus tanpa cacat tapi tetap ditutupi oleh cadar seolah tau bahwa kecantukannya akan membuat kekacauan dialam semesta. Sungguh dewipun akan iri pada kecantikan tiada tandingannya itu.
Bo saja yang melihat menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Memang Permaiauri yang berhanfu laki-laki saja sudah cantik. Ini apalagi luar biasa cantik seakan mulutnya tak mampu berkata apapun lagi.
"Bo mari masuk" katanya dengan suara tegas. Aura Permaisuri semakin kuat dari yang tadi. Aura yang sangat menindas mampu membuat siapa saja bertekuk lutut dibawah kakinya.
"Ba-baik" kata Bo terbata.
Kedunya lantas memasuki portal dengan tenang. Angin spoi-spoi menerpa wajah keduanya, angin yang hangat mampu membuat keduanya rileks seperti beban yang dipikulnya hilang entah kemana.
Setelah sampai didepan mereka, lagi dan lagi semua orang terpesona dan bukan hanya mereka saja tapi semua yang ada disana. Semua siluman berlulut dihadapan Permaisuri membuat sang empu mengernyit heran begitubpula dengan Bo yang heran melihat yingkah teman temannya.
__ADS_1
Tak lama datanglah seorang pria tua dengan sebuah tongkat ditangannya menghampiri Permaisuri.
"Bo apa yang kau lakukan cepat berlutut" kata pria tua itu marah.
Bo yang diteriaki merasa heran tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Sedangkan Permaisuti dan rombongan hanya mengernyit bingung dengan apa yang dilakukan oleh orang didepannya ini.
"Selamat datang didunia para siluman Yang Mulia" kata mereka semua serempak begitu juga dengan sipria tua tadi yang ikut bersujud dihadapan Permaisuri dan rombongan.
Rombongan Permaisuri terbelalak kaget mendengar sapaan dari mereka. Apa semua ini. Siluman? Yang Mulia? Apa maksudnya ini? Itulah yang dipikirkan mereka kecuali Permaisuri.
Permaisuri sendiri hanya termenung dengan apa yang terjadi didepannya. Apa maksud dari Yang Mulia seperti yang mereka katakan? Aku semakin tak mengerti saja apa yang terjadi? Apalagi yang akan kau berikan padaku dewa? Rahasia apa lagi yang akan menantiku? Gumam Permaisuri dalam hati. Sungguh dirinya sangat pusing ini belum ngenap satu hari ia berada dihutan kematian tapi sudah banyak kejadian yang dijumpainya.
"Bangkitlah kalian semua" kat Permaisuri.
Mereka yang bersujud tadi langsung berdiri sesuai perintah yang diberikan olehnya. Meskipun mereka berdiri tapi pandangan mereka tetap mengarah pada tanah tak berani hanya sekedar memandang dirinya.
"Aku perintahkan angkat pandangan kalian dan lihatalah lawan kalian. Lihat siapa orang yang sedang berbicara pada kalian semua jangan ada diantara kalian yang menundukkan pandangan atau melihat kearah lain disaat lawan kalian berbicara" Tegasnya.
Mau tak mau mereka melihat kearah Permaisuri. Lagi dan lagi mereka terpesena akan pesona yang dipancarkan olehnya. Apalagi aura yang dipancarkannya sangatlah agung dan mulia, aura sang pemimpin yang tiada duanya telah kembali.
"Salam hormat pada sang pemimpin" kata sipria tua diikuti semuanya. Kali ini merekabtak bersujud hanya membungkuk tanda hormatnya.
"Salam kalian aku terima" katanya. Biarlah pertanyaan demi pertanyaan tersimpan apik diotaknya jika ada saatnya pertanyaan itu akan dia utarakan.
Mereka yang mendengar salamnya diterima merasa bahagia entah karena apa, mungkin mereka menduga bahwa Permaisuri adalah pahlawan mereka hingga menerima salampun mereka sudah bahsgia. Sudah ribuan tahun mereka hidup didunia ini demi menantikan saat-saat seperti ini. Saat dimana pemimpin mereka menyapa mereka lagi, dan mengubah tempat tinggalnya menjadi seperti dulu yang indah dan damai.
"Yang Mulia mari ikuti hamba" kata sipria tua.
"Baik. Pimpin jalan" katanya.
"Mari" kata sipria tua.
Tak lama tampaklah sebuah taman indah dengan air terjun disisi kanannya dengan indah. Disebelah kiri aira terjun terdapat gasebo yang mungkin cukup untuk mereka duduki. Ada juga taman bunga lily dari berbagai jenis menambah keindahannya. Tak lupa sebuah ayunan sederhana yang pegangannya seperti akar tanaman yang dipenubi bungan cantik. Lengkap sudah pemandanga indah ini.
"Yang Mulia silahkan duduk" kata si pria tua.
Permaisuri dan rombongan hanya mampu menuruti perintah sipria tua. Sedangkan pria tua tadi mengalihkan pandangannya pada mereka yang sejak tadi mengikuti langkahnya.
"Kalian semua kembalilah beraktifitas" jelasnya dan diangguki oleh semua orang.
"Laksanakan Panatua" kata mereka kompak.
"Tunggu" cegah Permaiauri menghenyikan langkah mereka yang berniat meninggalkan tempat.
"Ada yang ingin anda katakan Yang Mulia? Tanya sipria tua.
"Bo dan Bong tetaplah disini" jelasnya. Membuat orang yang bersangkutan menganggukkan kepalanya pasrah.
"Ada lagi yang anda butuhkan Yang Mulia?" Tanya ai pria tua.
"Tidak" kata Permaisuri singkat dan jelas.
" kalau begitu kalian bisa pergi" perintah pria tua itu. Setelah mereka pergi barulah Permaisuri membuka mulutnya lagi.
"Bo dan Bong duduklah jangan bersiri seperti itu" perintah Permaisuri.
"Ta-tapi kami-" ucapan keduanya terputus oleh pria tua yang mengintrupsi agar keduanya menuruti apa yang dikatakan oleh Permaisuri tanpa membantah sesikitpun. Dengan pasrah keduanya mengikuti perintah dari kedua orang besar itu.
"Pak tau siapa kau dan mengapa kau dan yang lainnya sampai berlutut begitu saat melihatkau tadi" tanyanya to the point.
"Ampuni hamba Yang Mulia jika hamba dan yang lainnya membuat anda merasa tak nyaman" bukannya menjawab pria tua ini malah meminta maaf.
__ADS_1
"Hei pak tua santailah padaku jangan bersikap begitu" katanya. Permaisuri berasal dari dunia Modern yang seba santai didunianya dulu tidak ada yang berbicara seperti itu bahkan pada presiden sekalpin. Jika kepada ratu inggris atau raja ratu lainnya dia tak tau.
"Baik Yang Mulia" katanya. Sebenarnya pria tua ini tak tau apakah harus tertawa atau menangis mendengar julukannya yang diberikan oleh Permaisuri.
"Panggil aku seperti mereka berdua memanggilku. Kau bisa memanggilku Feng Xiao atau Xiao'er terserah padamu" jelas Permaisuri.
Seumur hidupnya pria tua itu tak pernah diperlakukan sehangat ini. Meakipun dulu pahlawan dunianya baik tapi dia tak menolak panghilan yang diberikannya pada tidirnya. Tapi hari ini dia dipanggil pak tua dan harus menggunakan bahasa yanh santai. Sungguh luar biasa.
"Baik Xiao'er"
"Jelaskan pertanyaanku tadi" tanya Permaisuri.
"Apakah bisa" katanya sembari melirik pada yang lainnya. Mengerti maksud sipria tua Permaisuri mengangguk bahwa mereka dapat dipercaya.
"Sebelum itu saya akan memperkenalkan diri nama saya adalah Meng Qe kalian bisa memanghilku panatua Meng atau kakek Meng. Kami berlutut keerna memang kami pantas verlutut dihadapan anda Yang Mulia" katanya menggunakan bahsa formal lagi.
"Kenapa bisa begitu? Memangnya siapa aku?" Tanyannya.
"Siapa anda? Itu bukan tugas hamba Yang Mulia. Anda sendirilah yang harus mencari tau sendiri siapa anda dan jati diri anda" jelas panatua Meng.
"Baiklah baiklah terserah saja karena aku sudah bosan bermaintebak tebakan. Oh ya aku ingin meminta persetujuanmu" kata Permaisuri.
"Persetujuan apa itu Xiao'er" tanya Panatua Meng.
"Kakek aku ingin disini ada pavilliun apakah boleh" tanyannya denga muka yan dimelaskan.
"Ahaha boleh boleh kenpa tidak boleh" kata panatua Meng kikuk sembari melambaikan tangan kirinya dengan pandangan yang diarahkan kesembarang tempat. Sebab meskipun Permaisuri memakai cadar tapi keimutannya masihlah terlihat jelas.
"Benarkah kakek?" Tanyanya sekali lagi.
"Ya benar sekali" tegas panatua Meng.
"Yeyy kalau begitu tunggulah disini" katanya bergegas berdiri.
"Ibunda mau kemana" tanya mereka kecuali Yao Qi yang dusuk sambil memakan makanan yang tadi diberikan oleh Permaisuri itu.
"Tunggu dan lihatlah jangan mengganggu ibunda ok" katanya pada mereka.
Mereka yang melihat ibundanya berdiri ditengah-yengah taman dekat air terjun tak jauh dati gazebo yang mereka duduki hanya mengikuti perintah ibunda mereka.
Melihat kearah kiri pamannya dengan santai memakan cemilan yang tadi membuat mereka secara tak sadar mendengus kesal.
"Apa? Jangan menatap paman begitu lebih baik kalian duduk dan makan saja makanan kalian. Dari pada merecoki ibundamu yang nantinya akan marah kalian sendiri yang menanggungnya paman tak ikut campur" jelasnya santai.
Mereka memutuskan untuk duduk sembari memakan makanan tadi sambil melihat apa yang akan dilakukan oleh Permaisuti ditengah halaman sana.
Ditempat Permaisuri sendiri, sedang berkonsentrasi mengikuti arahan dari Zian. Bagaimana caranya pavilliun yang ada diruang ilahinya berpindah didunia nyata. Ternyata tak terlalu susuah hanya memfokuskan pikirannya pada pusat Qi dalam tubuhnya lalu bayangkan pavilliun yang mana yang akan ia pindah. Setelah selesai dia tinggal melambaikan tangannya dan Gocha pavilliun telah berada dihadapannya.
Mereka yang melihat fenomena langka itu hanya mampu menganga tak percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh Permaisuri. Sebenarnya seberapa besar kekuatan asli yang dimiliki olehnya. Kenapa banyak sekali kejutan-kejutan yang datang silih berganti tapi tetap pada orang yang sama.
Merasa sudah selesai Permaisuri membuka matanya dan langsung memekik girang melihat pavilliun terbesar diruang ilahinya sudah ada didepan matanya. Langsung masuk menuju kamarnya yang memang ada disana lebih tepatnya dilantai dua. Meskipun berlantai dua tapi jangan salah, luas pavilliun ini sangatlah luas seperti stadion sepak bola didunia Modern. Hayo seberapa luas pavilliun ini.
Bergegas dengan sedikit tergesa-gesa. Sebenarnya dia hanya ingin mengganti pakaiannya saja dengan pakaian Modern karena disini tak akan sembatang orang yang bisa masuk jadi bebas saja dia menggunakan pakaian yang diinginkannya.
Bersambung~
Aku Crazy Up ya
Jangan lupa Like dan Votenya
Arin tunggu ya
__ADS_1