
Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan
Happy Reading gaes~
"Terima kasih kembali" jawab mereka.
Pemuda serigala masih menangis dipelukan Permaisuri dan ketiga pemuda tampan lainnya sudah sejak tadi melepaskan diri dari pelukan sang ibunda dan sekarang malah menyibukkan diri dengan makanan yang tadi sudah disiapkan oleh Permaisuri untuk mereka.
"Sssttt sudahlah jangan menangis lagi hem masih ada kami disini" kata Permaisuri menenangkan kesedihan pemuda serigala itu. Bukannya mereda tapi tangis pemuda serigala itu malah bertambah keras membuat keempatnya mengerjap bingung.
"Hey paman jangan menangis kau tau, kau sangat jelek jika menangis" kata Antares polos dengan ciki-ciki yang masih dikunyahnya.
Permaisuri hanya cekikikan mendengar itu dan Han bersaudara sudah tak bisa menahan tawa mereka. Sedangkan siempu korban bully langsung menghentikan tangisnya namun masih terdengar sesegukan dari mulutnya jangan lupakan wajah memerah yang entah karena apa.
"Hiks,,,kau sejak tadi selalu mengejekku" katanya masih diselingi cecegukan kecil.
"Ares tidak mengejek paman serigala, Ares hanya mengatakan fakta saja" kata Antares acuh tak acuh. Sungguh serigala itu tak tau apakah dia harusnya menangis atau tertawa mendengar ucapan polos dari seorang pemuda yang bertingkah kekanak-kanakan.
"Huhh maafkan aku" kata serigala itu pasrah.
"Sudahlah nak jangan masukkan dalam hati perkataan Ares tadi. Sekarang makanlah makanan ini sampai mereka datang" kata Permaisuri menengahi.
"Baiklah-" karanya gantung karena tak tau harus memanggil apa.
"-ibunda, panggil saja aku ibunda dan anggaplah aku seperti ibundamu sendiri sama seperti mereka" helas Permaisuri dengan senyum keibuannya.
"I-ibunda" katanya dengan berkaca-kaca.
"Ya ibunda" jelas Permaisuri.
"Hiks-" tangisan pemuda serigala itu terputus karena sebuah coklat yang menerobos tanpa sepengetahuannya darinya mendarat tepat pada mulut mempesonanya.
"Maka saja jangan menangis seperti anak kecil"kata Zhang Feng dingin jengah melihat tingkah pemuda serigala itu.
"Eum iaya" katanya sambil menguyah coklat.
Sekitar dua puluh menit mereka menunggu kedatangan yang lainnya.
Meskipun terasa begitu lama tapi waktu mereka dihabiskan dengan bercanda gurau satu sama lain. Yah meskipun pemuda serigala itu hanya sesekali menanggapi candaan yang dibuat oleh Han bersaudara dengan korban yah selalu Antares.
Tak lama muncul lah beberapa orang dari berbagai arah, karena memang arah mereka berbeda satu sama lain membuat mereka mau tak mau datang dari arah yang berbeda. Mereka datang dengan keadaan yang jauh dari kata baik dan saat tadi memisahkan diri.
Entah apa yang dilakukan oleh mereka sampai membuat keadaannya seperti itu.
Tentu saja mereka yang seperti itu membuat kelompok Permaisuri terheran heran sebab mereka berempat plus pemuda serigala sampai tak mengenali wajah mereka karena lumpur yang menempel diwajah dan pakaiannya.
"Kalian semua kenapa? Kenapa penampilan kalian sampai seperti itu? Wajah yang hanpir tak dikenal dan pakaian astaga" seru Permaisuri pusing melihat keadaan mereka.
"Ibundaa" regek mereka kecuali Yao Qi, Bo dan Bong yang hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang pasti tak gatal mungkin karena malu.
"Kalian semua harus memberaihkan diri terlebih dahulu" tegas Permaisuri tak bisa terbantahkan.
__ADS_1
"Tapi ibundaa kami harus membersihkan tubuh kami yang kotor ini dimana?" Tanya Yi Ai bingung.
"Benar ibunda. Dari sini kepavilliun kita sangatlah jauh, takutnya petang kami sampai disini?" Tanya Lilyana bingung.
"Benar ibunda. Shan'er risih dengan kotor ini" regek Bei Shan pada Permaiauri katena memang dirinya sangat mencintai kebersihan.
"Baiklah baiklah. Ibunda akan membantu kalian mencari tempat untuk membersihkan diri dari lumpur lunpur itu" putus Permaisuri karena tak tega juga melihat wajah mereka yang merengut sedih.
"Benarkah?" Tanya mereka bebinar bisa dilihat dimata mereka masing masing binar cerah yang mampu menyilaukan mata Permaisuri.
"Iya kalian tunggu disini saja" perintah Permaisuri.
Mereka semua menunggu Permaisuri mencari tempat yang cocok untuk membersihkan diri mereka dari lumpur yang menempel ditubuhnya itu.
Melihat Permaisuri menuju tengah tengah tempat mereka berteduh mengingatkan mereka pada saat pavilliun di dunia ras siluman bagian dalam dibanhun dalam hitungan detik. Tak salah lagi bahwa kali ini Permaisuri akan melakukan hal yang sama.
"Zian apakah aku bisa mengeluarkan satu pavilliun lagi dan nantinya akan aku ambil lagi apakah bisa?" Tanya Permaisuri datar karena masih kesal dengan mereka berempat.
Zian dkk yang merasa dipanggil yah meskipun salah satu diantara mereka tapi tak apa, langsung menerima telepati dari Permaisuri demgan hati yang bergembira.
"Xiao'er ruang ilahi adalah milikmu dan berada dalam genggamanmu tentu saja kau bisa memindah keluar atau mengambil dari luar ke dalam sesuai dengan keinginanmu" jelas Zian.
"Lalu jika nanti aku ingin mengembalikannya lagi pada tempat awal bsgaimana caranya?" Tanya Permaisuri lagi dengan masih mempertahankan wajah datarnya namun binar bingung terpampang jelas dimatanya.
"Masalah mengembalikan pavilliun pada tempatnya kau bisa memikirkan nanti yang penting sekarang lakukan saja apa yang ingin kau lakukan" jelas Zian.
"Baiklah"
Setelah telepati keduanya terputus, Permaisuri langsung memfokuskan pikirannya pada Qi lalu membanyangkan pavilliun mana yang akan Permaisuri pilih kali ini. Dengan lambaian tangan yang pelan Pavilliunpun sudah ada didepan mata mereka.
Bahkan pemuda serigala itu hanya mengerjabkan mata dengan mulut yang terbuka dan kadang menutup persis seperti ikan yang kekurangan air. Pemuda serigala yang tak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya tapi sekarang malah menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya.
Tak lama Permaisuri membuka kelopak matanya dan tersenyum bahagia bahwa usahanya tak sia sia untuk mengeluarkan pavilliun ini dari ruang ilahinya. Meskipun terlihat mudah tapi tenaganya terkuras lumayan banyak namun tak membuat dirinya mengeluh jika hasilnya seperti ini.
"Mari kita masuk dan bersihkan tubuh kotor penuh lumpur kalian" kata Permaisuri dengan senyum cantiknya.
"Baik ibunda" kata mereka yang tubuhnya penuh lumpur.
Disaat saudara mereka berbondong bondong maemasuki pavilliun untuk membersihkan diri. Lain halnya dengan ketiga pemuda tampan yang masih asik mengunyah ditempat awalnya. Melihat itu Permaiauri hanya menghela nafas panjang pasrah melihat kelakuan anaknya itu.
"Pemuda serigala mari masuk" kata Permaisuri karena memang dia belum tau siapa nama pemuda serigala itu.
"Baiklah" kata Pemuda serigala itu dan masuk menuju pintu meninggalkan Permaiauri bersama ketiga pemuda lainnya.
"Hey son ayo masuk dulu dan bawa semua makan itu didalam masih banyak makan dan minuman yang menunggu kalian" pancing Permaisuri agar ketiga pemuda tampan itu memdengarkan ucapannya.
Benar saja telinga mereka bagai kelinci yang bisa menangkap radar bahaya dan langsung membereskan makanan didepannya itu dengan tergesa gesa.
Permaisuri hanya menatap datar ketiganya tanpa ada niatan membantu sedikitpun dan pergi meninggalkan ketiga pemuda tampan yang masih sibuk memungut makanan yang masih berserakan dibawahnya.
"Ibunda tunggu!!" Seru ketiganya setelah selesai memungut makanan mereka.
__ADS_1
"Ck cepatlah kalian jangan lelet aeperti siput begitu" kata Permaisuri.
"Ibundaaa kami bukan siputt" kata mereka bertiga membantah ucapan Permaisuri karena tak terima dikatai siput.
"Kkk~" Permaiauri hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli mendengar perkataan ketiganya.
o0o
Kini semua orang sudah berkumpul siruang santai bergaya Modern iyu dimana ada sofa yang sangat nyaman ditambah karpet berbulu yang hangat sangat pas untuk mereka duduki. Untung saja tak ada televisi disana jika ada pasti sudah sangatlah heboh dan melanggar aturan tuhan. Yah meskipun dia sudah banyak melanggar tapi mau bagaimana lagi jika keadaannya seperti itu mau dikata apa.
Mereka yang tadinya kotor karena lumpur kini sudah wangi dan bersih berkat peralatan mandi yang diberikan oleh Permaisuri. Tak main main Permaisuri memberikan peralatan mandi modern untuk mereka mandi dan mereka awalnya bingung tapi setelah itu langsung berbinar kesenangan seperti anak kecil dibelikan manisan hahaha menggemaskan sekali mereka itu.
Semua mata mengarah pada pemuda serigala yang berada disisi Permaisuri, mendapatkan pandangan seperti itu membuatnya risih dan gugup. Permaisuri menanggap kerisihan dan kegugupan dari pemuda serigala itupun kasihan dan memneri intruksi pada semuanya untuk tak menatap seperti itu.
"Sudah lah jangan menatapnya seperti itu kalian tau dia takut melihat wajah jelek kalian" kata Permaisuri santai tak memperdulikan gerutuan kesal karena dikatai jelek.
"Pemuda siapakah dirimu? Jika bisa perkenalkan dirimu pada kami agar kami bisa tau siapa dan dari mana kau berasal" Tanya Yao Qi menengahi. Pemuda serigala itu tak langsung menjawab karena masih ragu untuk mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya pada mereka.
"Tak perlu takut kami bukan orang jahat untuk keluarga sendiri" kata Zhang Feng hangat dengan senyum ramahnya.
Pemuda serigala yang awalnya ragu ragu mengatakan siapa dirinya kini perlahan tenang karena sikap ramah dan aura positif mereka.
"Katakanlah nak" kata Permaisuri dan diangguki oleh siempu.
"Baiklah namaku Xie Cao Gang kalian bisa memanggilku Cao'er atau Gang'er saja. Aku adalah Putra Mahkota dari ras serigala yang jauh dari sini. Pack kami diserang oleh para ******** itu karena menginginkan tahta kerajaan" katanya tegas meskipun terselip kekecewaan dihatinya.
Pemuda serigala yang bernama Xie Cao Gang memaksakan senyumnya untuk diberikan pada mereka agar tak mengasihani dirinya yang lemah ini.
"Xie Cao Gang yang artinya Pemimpin yang tegas dan kuat apakah benar?" Tanya Permaisuri.
"Ya nama itu adalah pemberian dari ayahanda dan kakek kekaisaran" katanya pedih namun masih mempertahankan senyum sejuta pedihnya. Permaisuri tak tahan dengan wajah pedih itu langsung saja dia merangkut bahu tegap nan tapuh itu dari samping untuk menguatkan dirinya.
"Lalu ibunda mu?" Tanya Yao Qi lagi.
"Ibunda ya" katanya menerawang. Mereka hanya mengernyitkan dahi karena bingung melihat respon Xie Cao Gang yang terlihat bagai orang yang sangat menderita.
"-ibundaku, aku tak pernah merasakan seperti apa sosok ibunda itu. Tak tau bagaimana rasanya jika kepalaku diusap oleh tangan lembutnya. Tak pernah dinyanyikan lagu penghantar tidur jika aku akan menuju dunia mimpi. Tak pernah memarahiku jika aku nakal atau salah." jedanya.
"-Aku tak tau seperti apa sosok ibunda itu, sejak kecil hanya ayahanda dan kakek kekaisaran yang selalu bersamaku nenek kekaisaran sudah meninggal disaat aku berusia satu tahun dan ibunda,,,meskipun berada disisiku tapi aku tak tau bagaimana rasanya pelukan seorang ibumda dalam hidupku" jelasnya lagi dengan senyum pedih dan mata kosong bagai tubuh tanpa raga. Ternyata penderitaan Xie Cao Gang begitu besar tapi mereka samgat salut dengannya sebab tak memperlihatkan sisi rapuhnya pada siapapun itu.
"Cao'er jika kau ingin mersasakan seperti apa itu kasih sayang seorang ibu maka anggaplah ibunda sebagai ibunda kandungmu dan anggaplah mereka sebagai kekuargamu juga hem seperti yang ibunda katakan sejak awal" kaya Permaisuri bukan karena kasihan tapi dia merasa bahwa dia harus membahagiakan pemuda ini dan juga membahagiakan anak-anaknya.
Cukup dirinya yang dulu yang merasakan kesengsaraan, kepedihan hati maupun batin tapi jangan mereka. Mereka adalah permatanya belahan jiwanaya, apalagi Zhang Feng yang berasal dari rahimnya sudah cukup pemderitaan dirinya karena kelalaian para orang tua jangan menambah beban dihati mereka lagi.
"Benar kau sekarang adalah saudaraku, saudara kami semua" kara Zhang Feng sambil memeluk perut ibundanya dati samping dan sesekali mengecup pipi bakpau ibundanya itu.
"Anggaplah kami sebagai keluargamu janganlah sungkan pada kami" seru semuanya.
"Hiks terima kasih jika saja aku tak perhi kesini aku tak akan merasakan hal paling besar dalam hidupku ini" katanya dengan isak tangis bahagia.
"Tentu saja. Mulai sekarang kita adalah saudara" kata Antarea penuh semangat.
__ADS_1
"Benar!!" Seru mereka.
Bersambung~