
...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...
...Happy Reading gaes~...
“Tuan muda bertahanlah, sebentar lagi akan berlalu.” Kata salah satu dari kumpulan orang serba hitam.
“…..”
Tak ada jawaban dari tuan muda yang mereka sebut, kini tuan muda itu hanya menggeram menahan sakit disekujur tubuhnya yang amat sangat menyakitkan.
Dua puluh menit berlalu, keadaan tuan muda kembali membaik setelah perjuangan panjang. Sekumpulan orang berbaju hitam bernafas lega melihat keadaan tuan muda yang perlahan membaik. Maid dan yang lainnya berucap syukur dengan keadaan tuam muda mereka yang membaik, meskipun terasa amat lama.
Sedangkan tuan muda sendiri sudah tidak sadarkan diri, mungkin karena terlalu lelah menahan diri agar tetap dalam keadaan sadar.
“Bawa tuan muda kekamarnya, bersihkan dia dan pakaikan ramuan ini diseluruh tubuh tuan muda. Hanya dari perut hingga leher dan oleskan juga dibagian telapak kaki hingga lutut. Jangan sampai terkena wajahnya, mengerti.” Perintah seorang pria tua dengan rambut putihnya menyerahkan wadah berisi ramuan cair yang entah apa saja isinya.
“Baik kami mengerti guru.” Jawab mereka serntak pada pria tua yang mereka panggil Guru itu.
Sepeninggalnya tuan muda dan beberapa maid yang bertugas, kini ruangan itu sudah bersih dari kekacauan yang diperbuat oleh tuan muda. Maid yang tadi berjejer rapi sudah tidak ada, hanya ada sekumpulan pria berbaju serba hitam dan beberapa pria berjas.
“Guru, sampai kapan tuan muda akan seperti itu? Apakah tidak ada cara untuk menghentikan atau mencegah hal ini terjadi lagi? Atau adakah cara untuk mengurangi rasa sakit yang dialami tuan muda?” Tanya pria paruh baya yang masih terlihat gagah.
“Tak ada cara lain, selain dia. Jika dia kembali, maka penderitaan tuan muda juga akan berangsur membaik karena aku yakin dia mampu mengobati tuan muda kita.” Jelas Guru itu dengan helaan nafas kasar.
“Kapan? Sampai kapan tuan muda menunggu, Guru? Bahkan tidak ada tanda-tanda dia akan kembali.” Cercanya frustasi kepada Guru.
“Aku juga tak tau pastinya kapan, tapi yang pasti dia akan segera kembali setelah urusannya disana terselesaikan. Mungkin dia hanya akan sebentar disini dan akan kembali lagi kesana, itulah aturannya.” Kata Guru itu menatap kosong langit-langit ruangan dengan senyum pedihnya.
“Apakah tak bisa dia selamanya berada disini? Menemani tuan muda untuk selamanya?” Tanya pria paruh baya itu beruntun.
“Banyak cara untuk mempertahankannya. Tapi, semua tergantung kemauannya.” Lagi dan lagi helaan nafas berat Guru itu layangkan.
“Apa maksudmu, Guru?” Tanya pria paruh baya itu heran.
“Apakah kau tau Zhu, bahwa cara apapun tak akan berhasil jika dia sendiri yang menginginkan pergi. Kita tak bisa menahannya lebih lama jika dia tak menginginkannya. Bertahan hanya dengan keterpaksaan tak akan berakhir baik, sama saja kita menahan tangannya untuk terus terluka, dan kita akan semakin membuatnya menderita,” ucap Guru menjelaskan.
“Aku yakin, dia pasti tak akan terpaksa Guru. Sangat jelas sekali bahwa dia sangat menyayangi tuan muda, aku pastikan dia akan selalu bersama engan tuan muda selamanya apapun yang terjadi dia akan bertahan disisi tuan muda.” Tekad pria patuh baya yang ini kita ketahui bernama Zhu itu.
__ADS_1
“Kenapa kau sebegitu yakinnnya, Zhu?” Tanya Guru penasaran.
“Aku memiliki firasat, jika urusannya terselesaikan dia akan kembali. Tapi, aku tak tau kembali untuk apa dan karena siapa.” Cicitnya pelan.
“Jika kau sudah seyakin ini, maka pertahankan keoptimisanmu akan kedatangannya. Persiapkan segalanya dari sekarang, untuk saat ini jangan sampai tuan muda mengetahui firasatmu ini.” Perintah Guru.
“Baik Guru Tiayi, aku berjanji akan mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya dan tak akan menimbulkan masalah dimasa depan mengenai hal ini.” Janji Zhu pada Guru Tiayi.
“Bagus, untuk saat ini jangan biarkan tuan muda memikirkan hal berat. Biarkan dirinya beristirahat dengan cukup, mengisi tenanganya untuk mempersiapkan diri untuk masa depan. Banyak kemungkinan yang menanti kita, jangan biarkan kemungkinan itu menjadi boomerang kita nanti.” Peringatnya pada Zhu dan hanya diangguki oleh siempu.
“Kalau begitu kami pergi dulu, salam.”
Guru Tiayi dan antek-anteknya pergi entah kemana bersama dengan angin, tak ada jejak sedikitpun yang ditinggalkan oleh Guru Tiayi untuk mereka ikuti. Begitulah Guru Tiayi, tak ada yang tau seperti apa dan dimana tempatnya berasal, semua bagaikan ilusi yang hanya mereka sendiri yang tau. Bagai terjebak dalam ilusi duniawi yang fana, rahasia yang semakin menumpuk tanpa ada satupun yang terjawab.
Kini ruangan itu hanya tersisi beberapa orang saja yang setia menemani paman Zhu, mari kita panggil dia paman Zhu. Paman Zhu hanya memandang kepergian Guru Tiayi dengan pandangan kosong tak berselera, banyak pertanyaan yang bersarang diotaknya mengenai perkataan Guru Tiayi tdi.
Paman Zhu tak terlalu mengerti kemana arah perkataannya, hanya saja paman Zhu yakin bahwa dia akan kembali tapi tidak dalam waktu dekat ini. Dan juga, dia kembali mungkin mada hal penting yang akan dia urus dan paman Zhu juga memiliki firasat bahwa dia tak akan lama berada disisi tuan mudanya. Meskipun begitu paman Zhu optimis bahwa dirinya bisa menahan dia untuk selalu berada didekat tuan mudanya.
Apapun caranya paman Zhu akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mempertahankan dia agar lebih lama atau selamanya bersama dengan tuan mudanya itu. Sudah lama sejak kepergiannya, tuan mudanya menjadi pendiam dan selalu menyendiri dari dunia luar. Bahkan untuk sekolah saja tuan mudanya hanya sesekali dalam satu minggu.
Tak jarang guru pengajarnya yang secara khusus menemuinya dirumah dalam artian seperti homeschooling, seperti itulah mungkin. Banyak guru yang kadang menegeluh atas sikap tuan muda yang kurang aturan atau yang hanya diabaikan olehnya.
Tuan muda hanyalah bocah kecil yang kesepian dirumah bak istananya, hidup dengan hanya bersama dengan para pelayan dan orang-orangnya, tak membuat kehidupan tuan muda berjalan dengan lancar meskipun harta mengelilinginya. Kalian pasti paham bukan, jika anak seusia tuan muda sangatlah memerlukan perhatian orang tuanya atau orang-orang terdekatnya untuk menyalurkan kasih sayang dan cinta seta pelican hangat yang sangat menenangkan.
Namun, kasus tuan muda snagatlah sulit ditebak. Orang tua yang entah siapa, menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi dan jangan lupakan orang terkasihnya yang juga pergi tanpa tau kapan akan kembali. Sejak satu tahun lalu sikap dan prilaku tuan muda berubah seratus delapan puluh derajad dari sikapnya yang ramah.
Kini hanya ada tuan muda yang dingin, pendiam dan kasar. Salah sedikit saja maka hukuman menanti kita, sungguh miris keadaan tuan muda saat ini. Sebenarnya dalam hati, tuan muda sangat ingin menjadi anak-anak sebayanya yang hanya tau belajar dan bermain, tanpa harus memikul beban berat pada pundak rapuhnya.
Paman Zhu sangat prihatin melihat keadaan tuan mudanya yang semakin hari semakin memprihatinkan. Namun, paman Zhu tak ingin terlihat seperti mengasihinya, karena beliau tau tuan muda paling benci dikasihani.
“Tuan,” panggil sebuah suara mengagetkan paman Zhu.
“Ada apa?” Tanyanya.
“Anu tuan, tadi saat kami membersihkan tubuh tuan muda, beliau tersadar dan menanyakan keberadaan anda.” Jelas maid itu.
“Katakan saja bahwa aku akan menemuinya setelah urusan disini sudah selesai.” Kata paman Zhu.
__ADS_1
“Baik tuan, akan saya sampaikan.” Jawabnya.
Sepeninggalnya maid itu, paman Zhu mempersilahkan beberapa orang yang tersisi untuk membahas mengenai perkambangan tuan muda dengan cepat namun jelas. Paman Zhu juga menyampaikan bahwa tuan muda untuk saat ini dibiarkan beristirahat tanpa ada gangguan dari siapapun. Paman Zhu juga mengatakan bahwa jika ada guru pengajar atau kepala sekolah yang menanyakan keberadaan tuan muda maka mereka harus menjawab dengan tegas bahwa tuan muda sedang melakukan perjalanaan bisnis tanpa ada yang mengganggu.
Mereka hanya menganggung menyetujui perkataan paman Zhu selagi itu untuk keselamatan tuan mudanya. Mereka sudah melakukan uji kesetiaan saat pertama kali mereka mendaftar menjadi bagian dari rumah itu dulu, jika mereka mengingkarinya walau hanya sedikit jangan salahkan siapapun jika kehidupannya akan suram. Karena sejak awal sebelum mendaftar semua larangan dan konsekuensinya sudah mereka katakan.
“Kalian pergilah.” Perintah paman Zhu.
“Baik tuan.”
“Diwen, pastikan mereka mengerjakan tugasnya dengan baik.”
“Laksanakan perintah anda tuan,”
***
Clek
Suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan pemuda tampan yang hanya memandangi luar jendela dengan pandangan kosong. Setelah mengetahui siapa orang itu, netranya kembali memandang luar jendela yang menurutnya lebih menarik ketimbang sipembuka pintu.
Sedangkan paman Zhu yang tadi membuka pintu hanya menghela nafas pasrah melihat keadaan tuan mudanya yang menyedihkan itu. Dengan langkah pelan paman Zhu menghamppirinya dengan tangan yang membawa nampan berisi susu.
Diletakkannya nampan itu diatas nakas, ditatapnya tuan mudanya yang kesepian itu dengan binar kesedihan yang amat sangat mengganggu untuk tuan muda. Karena tak tahan dengan binar kesedihan dimata paman Zhu, tuan muda akhirnya mengalihkan pandangannya menatap kearah paman Zhu berada.
“Berhentilah memandangku seperti itu, paman.” Perintahnya menekan di setiap kata yang dilontarka olehnya.
Paman Zhu hanya tersenyum polos, seolah dirinya tak melakukan apapun. “Jika pandanganku bisa mengalihkan dunia anda, aku akan melakukannya setiap hari untuk mengeluarkan anda dari labirin itu.” Jelas paman Zhu tenang.
“Jangan memulainya, paman.” Peringat tuan muda malas.
“Paman belum melakukan apapun, kenapa anda sudah mengatakan jangan memulainya? Apakah anda akan menemani paman bermain?” tanyanya hanya sekedar basa basi.
“Tidak terima kasih, aku akan disini melihat dia.” Jelasnya.
Lagi, paman Zhu menghela nafas sekali lagi. Dengan sikap tuan muda yang keras kepala itu terkadang mampu membuat paman Zhu sakit kepala karena frustasi menghadapinya. Jika bisa, paman Zhu ingin sekali membawa tuan muda ketaman hiburan untuk menghibur otaknya yang kadang mengalami masalah itu agar membaik.
Tapi, itu hanyalah sebuah angan yang sulit terwujud. Jika tuan mudanya marah karena moodnya yang kurang baik, bukanya berteriak meraung mengeluarkan kemarahan malah hanya berdiam diri dikamar seharian tanpa mau menyentuh makanan, dan hal itu sungguh merepotkan.
__ADS_1
...Bersambung~...