The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao

The Assassing Queen Traveled Time : Liang Feng Xiao
78. 'Ini ruang makan, bukan kuburan baru'


__ADS_3

...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...


...Happy Reading gaes~...


Sebenarnya mudah saja bagi Permaisuri untuk menerobos masuk dengan tingkat kultivasinya saat ini. Tapi, karena dirinya menginginkan sesuatu dari kedua orang ini jadinya Permaisuri agak mempersulit sedikit agar keinginannya bisa terpenuhi. Bukankah ini yang dinamakan simbiosis mutualisme? Dimana kedua belah pihak saling menguntungkan.


Permaisuri bisa mendapatkan pengikut setia dan kedua orang itu mendapatkan apa yang mereka inginkan ditambah dengan kesembuhan orang terkasihnya itu. Memang benar mereka yang mengatakan tak ada yang geratis didunia ini. Karena itulah kenyataannya, sebab jika kita tak bisa memanfaatkan situasi kita sendiri yang akan dirugikan nantinya.


Maka dari itu jadilah cerdas untuk menaklukan situasi dan jadilah pintar untuk menghadapi mereka yang menurutnya sangatlah pintar. Jika pinter dibalas pintar maka keduanya setara namun jika pintar dibalas dengan cerdas maka cerdaslah yang akan memenangkannya.


Bahkan orang bodohpun bisa memenangkan sebuah pertempuran jika orang itu mampu mengendalikan suasana dalam artian orang itu mampu membalikkan keadaan dengan kecerdasannya yang bis mengendalikan suasana. Tak ada orang bodoh didunia ini, yang ada hanyalah orang malas yang tak ingin berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Begitupun dengan Permaisuri yang sangatlah pintar bermain kata hingga lawan tak mampu melawannya karna sebuah perkataan saja. Mereka bahkan tak sadar bahwa mereka sudah dikendalikan lewat perkataannya yang sangat menyakinkan itu. Yah meakipun semua perkataan Permaisuri adalah kebenarannya namun, jika orang lain mungkin tak pandai bermain kata maka ucapkan selamat tinggal untuk keuntungannya itu.


Lumayan lama pembicaraan ketiganya hingga tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan sore hari, bahkan Permaisuri melewatkan jam makan siangnya. Ups maaf maksudnya makanan yang sejak tadi dimasak oleh anak-anaknya sampai saat ini belum selesai juga. Entah apa yang mereka lakukan hingga memakan waktu yang sangat lama hanya karena memasak saja.


"Baiklah, karena waktu sudah menunjukkan sore hari dan itu tandanya Permaisuri ini harus bersantai menikmati udara segar" kata Permaisuri saat melihat kearah jendela yang sudah berwarna jingga itu.


"Baiklah Yang Mulia. Kami berdua mengerti" kata pria tua itu menyadari perkataan Permaisuri yang secara tak langsung mengatakan bahwa pembahasan ini harus berhenti sampai disini karena hari sudah akan gelap dan keduanya mengerti hal itu.


"Baik dan kalian Permaisuri ini perintahkan untuk tidak memata-matai kami" perintahnya mutlak.


Kedua pria itu secara tak sadar menelan saliva kasar mendengar ultimatum yang harus keduanya patuhi apapun yang dikatakan oleh Permaisuri karena semua perintah yang dikeluarkan oleh Permaisuri semuanya adalah Mutlak.


"Baik Yang Mulia" kata kesuanya.


"Bagus. Bagus pergilah" kata Permaisuri.


Setelahnya kedua orang itu memutuskan untuk menutup akses untuk tidak melihat semua kegiatan yang dilakukan oleh Permaisuri dan yang lainnya.


Meskipun begitu kedua orang itu tetap mengaktifkannya meskipun kaca besar itu dalam keadaan off. Keduanya seperti memasang sinyal untuk mengetahui apakah mereka dalam keadaan baik atau dalam keadaan bahaya.


Permaisuri sudah tak memperdulikan kedua orang itu lagi, sekarang penampilan Permaisuri sudah kembali seperti semula. Jika kalian bertanya dimanakah aura Permaisuri yang sangat agung itu berada? Jawabannya sudah kembali memasuki tubuh Permaisuri sejak tadi, setelah sumpah setia yang dilakukan oleh kedua Xie itu selesai aura Permaisuri dengan sendirinya kembali masuk dan entah berada dimana saat ini.


Merenggangkan otot tubuhnya yang kaku karena terduduk dengan posisi tubuh yang sama sejak tadi, membuat tubuhnya kaku bak kerupuk yang dijemur dibawah panas matahari. Menggerakkan tubuhnya kekiri dan kekanan jangan lupakan bunyi krak yang nyaring mampu membuat ngilu siapa saja yang mendengarnya. Bahkan Yao Qi, Bo dan Bong yang sejak tadi disana ikut meringis ngeri mendengar suara tubuh Permaisuri.


Ssshht kenapa aku yang ngilu padalah yang berbunyi bukan tubuhku. Kenapa Permaisuri biasa saja tak ada meringis atau apa? Aduhh ngeri sekali mendengarnya gumam ketiga pria itu dalam hati dengan mata yang memicing dan bibir yang didigit seperti menahan nyeri.


Permaisuri bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kearah dapur dimana anak-anaknya berada.


Sebenarnya Permaisuri cukup terheran, kenapa sejak siang hingga petang begini mereka belum menyelesaikan masakannya? Sedang apa sebenarnya mereka itu?.


Diambang pintu Permaisuri sudah disambut oleh kekacauan yang tak pernah diduga olehnya sebelum ini. Bagaimana tidak jika dapur yang awalnya sangatlah rapi kininsudah acak-acakan bak kapal pecah dengan peraltan dapur yang sudah ada dimana-mana.


Meskipun begitu bagian yang hancur itu berada disebelah kiti dimana disana terdapat beberapa anak laki-lakinya dan disebelah kanan jauh lebih rapi dibanding sebelah kiri. Disebelah kiri adalah kawasan para laki-laki minus Zhang Feng, Chao Li, dan Bei shan. Karena ketiganya bergabung bersama bersama para gadis dan untungnya ketiga pria tampan itu lumayan mahir memasak dengan sekali dengar.


Mungkin saat ini ketiga pria tampan itu aman dari amukan ganas sang ibunda, sebab kawasan mereka sangatlah bersih dan rapi jauh dari kata hancur seperti dibagian kiri mereka. Dan lebih beruntungnya lagi pembagian kedua tempat ini terpasang array yang membatasi wilayah mereka, hingga dapat dilihat wilayah siapa yang hancur dan wilayah siapa yang masihlah rapi.


Sedangkan Permaisuri hanya memandang pemandangan didepannya ini dengan datar tanpa ekspresi. Padahal tadi sebelum mereka memasuki dapur, Permaisuri sudah memperingatkan untuk tidak mebuat dapur cantiknya tergores barang ssdikitpun. Tapi, apa ini? Bukan hanya tergores melainkan membuat setengah dari dapurnya hancur berantakan dengan barang-barang yang jauh dari kata baik.


Amarahnya memuncak ketika melihat anak-anaknya yang berada dibagian sebelah kiri dengan tidak ada rasa bersalahnya malah asik memlempar sayur-sayuran yang sepertinya diambil dibelakang tadi.

__ADS_1


Padahal mereka tau bahwa Permaisuri sangat tidak menyukai hal yang seperti itu, karena menurut Permaisuri itu sama saja membuang makanan dan membuang makanan sangatlah sikap tercela.


Sedangkan kelompok Zhang Feng dkk masih asik dengan kegiatan merekanyang sepertinya hampir menyelesaikan semua masakan mereka tanpa terusik oleh keributan yang dibuat oleh kelonpok disebelah kiri mereka.


Lima belas menit kemudian, kelompok Zhang Feng dkk menyelesaikan masakannya dengan hasil yang sangat baik. Bagaimana tidak, didepan mereka banyak sekali makanan yang menggugah selera siapa saja yang melihatnya. Mereka membuat makanan khas budaya mereka dan makanan khas budaya negri asal Lilyana tinggal.


Dengam senyum cerah Zhang Feng dkk saling berpandangan satu sama lain seakan menyuarakan bahwa mereka melakukan hal yang baik. 'Kerja bagus semuanya' begitulah isyarat mata yang dilakukan oleh mereka. Yi Ai dan Lilyana langsung berpelukan katena gembira dengan hasil yang mereka lakukan sejak tadi siang, mereka berdua tak menyangka bahwa usaha mereka sajak tadi tak sia-sia malah diluar perkiraannya.


Sedangkan para laki-laki hanya saling melirik dengan senyum tipisnya, jangan lupakan mereka juga saling merangkul satu sama laim dengan Zhang Feng berada ditengah kedua saudaranya. Chong Li dan Bei Shan memandang penuh cinta kearah kedua gadis yang telah merebut hatinya pada pandangan pertama itu.


Permaisuri yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tulusnya tak menyangka bahwa dirinya akan menyaksikan secara langsung cinta pada pandangan pertama yang dulu sempat diremehkan olehnya. Karena Permaisuri dulu mengira bahwa cinta pada pandangan pertama tak pernah ada, dan kini dirinya harus mengakui bahwa pemikirannya sangatlah salah.


Namun sedetik kemudian senymnya pudar karena ujung matanya tak sengaja melihat kearah sebelah kiri dimana anak nakalnya masih setia dengan tingkah konyolnya. Karena sudah tak tahan dengan tingkah mereka ditambah perutnya juga sudah berdemo minta di isi jadi, Permaisuri membangunkan mereka dati tingkah konyol dan nakalnya itu.


"Ekhem. Sudah selesai bersenang-senangnya"


deg


Bagai disambar petir disiang bolong mereka seketika menghentikan segala kegiatan yang mereka lakukan sejak tadi. Dengan terbata-bata mereka arahkan kepalanya keasal suara, dan pandangan mereka jatuh kearah sesosok wanita cantik diambang pintu dengan tangan yang bersedekap didadanya jangan lupakan pula wajah datar tanpa ekspresi yang sangat menyeramkan itu.


Secara tak sadar mereka semua menelan ludah kasar apalagi mereka yang berada dibagian kiri karena wilayah mereka sangatlah kacau dan mereka mulai merutuki kesalahannya karena membuat dapir kesayangan ibundanya menjadi tak berbentuk lagi.


"Eh. Ibunda Permaisuri ehe sedang apa disana ibunda?" Tanya Chong Xi dengan wajah konuolnya seakan-akan tak tau apa-apa.


"Menurut kalian?" Bukannya menjawab Permaisuri malah balik bertanya.


"Ibunda ingin kekamar mandi?" Perkataan konyol yang diucapkan oleh Xuan-Xuan bukannya memperbaiki mood Permaisuri malah sebaliknya, mood Permaisuri semakin jelek dilihat dari raut wajah datarnya yang semakin datar.


"Pertanyaan konyol macam apa itu" seru Yi Ai mendenggar perkataan Xuan-Xuan.


Permaisuri tak menjab hanya mengamati apa yang dilakukan dan apa yang dikatakan oleh anak laki-lakinya yang semakin salah tingkah melihat keterdiamannya.


Lima menit berlalu namun mereka masih bertahan dalam keterdiamannya, entah apa yang mereka pikirkan yang pasti mereka bingung ingin mengatakan apa karena mulut mereka kelu akibat perbuatan mereka yang memang salahnya.


"Sudah?" Tanya Permaisuri memecahkan keheningan yang dibuat oleh mereka.


"Sudah ibunda" cicit mereka.


"Bereskan dan ibunda tunggu dimeja makan selama sepuluh menit" titahnya mutlak dan harus mereka patuhi.


Permaisuri langsung membalikkan badan melangkah menuju kearah meja makan berada. Sebelum sepenuhnya berbalik netra tajamnya tak sengaja menangkap sesosok mahluk yang duduk dibawah dengan makanan di tangannya. Pantas saja sejak tadi dia tak melihat sosoknya ternyata dia sedang asik memakan cemilan yang entah didapat dari mana.


"Ares?" Panggil Permaisuri pada sosok itu yang tak lain adalah Antares.


"Huhh" katanya sambil mendongakkan kepalanya mencari dimana asal suara yang memanggilnya tadi.


"Ares sedang apa duduk dibawah huum?" Tanya Permaisuri.


"Tadi Ares ingin bergabung bersama Xuan Ge tapi Jie-jie melarang katanya Ares duduk saja disini dan makan makanan ini. Begitu kata Jie-jie ibunda" katanya jujur.


"Ikut ibunda ke ruang makan hem. Kita makan disana saja ya" ajaknya tak tega membiarkan bocah tampan polos itu ikut serta membersihkan kekacauan yang tak dirinya tak ikut andil itu.

__ADS_1


"Baiklah ayo ibunda"


"Hem ayo pergi dan bawa makanmu juga ya" kata permaisuri lembut.


"Ocee ibunda"


Setelah itu Permaisuri pergi meninggapkan mereka yang terpaku karena perbuatan mereka yang sudah membuat ibundanya marah. Tak ingin berlarut dalam penyesapan mereka bergegas membersihkan kekacauan yang diperbuat oleh mereka tadi.


"Feng Gege sebaiknya kita membagi tugas saja" kata Yi Ai.


"Boleh juga. Kalian bisa membagi tugas agar cepat selesai" kata Zhang Feng.


"Aku, Miss Lilyana akan mencuci peralaran yang tadi kita pakai. Sedangkan Li'er dan Shan Ge membereskan semua bahan-bahan dan mengelap meja ini sampai bersih seperti awal kita memakainya. Dan untuk Feng Ge antarkan makanan ini ke ruang makan untuk dicicipi oleh ibunda.Bagaimana?" Tanya Yi Ai.


"Baiklah" seru mereka dan langsung melakukan tugas masing-masing dengan tujuan mempersingkat waktu.


Sedangkan dikelompok Xuan-Xuan dkk mereka masih sibuk membereskan kekacauan yanh mereka perbuat tanpa berpikir untuk membagi tugas atau yang lainnya. Mungkin karena mereka panik hingga mereka tak ada pemikiran untuk membagi tugas satu sama lain.


"Aku akan mengantarkan makan ini ke ruang makan dulu dan kalian cepatlah menyusul" kara Zhang Feng sambil mendorong kereta dorong yang khusus untuk mengantarkan makanan yangvdia dapat tadi didekat pintu dapur.


"Baik"


Zhang Feng mendorong kerera makanan itu kearah ruang makan berada, diruang makan sudah terdapat beberapa orang sepertinya sudah menunggu kedarangannya. Setelah sampai didekat sang ibunda Zhang Feng langsung menaruh makanan yang tadi dimasaknya bersama saudaranya.


"Ibunda cobalah masakan kami ini" katanya pada Permaisuri.


"Letakkan saja dan tunggu yang lain selesai baru kita akan makan bersama" kata Permaisuri dengan datar.


Zhang Feng hanya menghela nafas pasrah mendengar perintah yang dikatakan oleh ibundanya dan langsung menyusun semua makanan ke meja makan. Setelah selesai menata makanan, Zhang Feng duduk dikursi duduk dekat Antares berada.


Tak lama Miss Lilyana, Yi Ai, Chong Li, dan Bei Shan tiba dengan keadaan yang sudah lumayan rapi dari tadi. Kini tinggalah Fu Lin, Xuan-Xuan, Chong Xi, dan Cao Gang yang belum berada disana entah berapa lama lagi mereka akan menyelesaikan kekacauan didapur itu.


Diruang makan saat ini sangatlah tegang, entah karena apa aku tak tau. Tapi, mungkin saja mereka takut untuk membuka suara karena terlalu takut akan kemarah ibundanya itu jadi, mereka memilih diam saja.


"Panggil mereka. Jika mereka belum juga datang maka tidak ada makan siang dan makan malam" celetuk Permaisuri membuat Zhang Feng secara reflek berdiri dan segera bergegas kearah dapur untuk memanggil saudaranya untuk segera ke ruang makan jika tidak ucapkan sepamat tinggal pada makanan.


"Kalian tinggalakan dulu saja. Sekarang mari makan jika tidak ibunda akan berrambah marah pada kita" kata Zhang Feng.


Mereka yang mendengar intruksi dari Zhang Feng langsung bergegas melangkah menuju kran untuk mencuci tangannya yang kotor.


"Sudah?" Tanya Permaisuri setelah melihat kedatangan mereka yang terburu-buru.


"Sudah ibunda"


"Duduk dan makanlah" perintah Permaisuri pada mereka dan langsung diangguki oleh mereka semua.


Kini ruang makan yang biasanya hangat karena terlalunasik bercanda sekarang hanya terdengar celotehan Antares dan sesekali tanggapi oleh Permaisuri. Sedangkan yang lain hanya melihat saja karena terlalu takut untuk sekedar menantap sang ibunda.


Padahal Permaisuri tak marah hanya ingin menjahili mereka saja, siapa suruh merka tak mendengarkan ucapannya dan malah mengacau dapur cantiknya menjadi kapal pecah yang diterjang ombak itu.


"Bersikaplah biasa, ini ruang makan bukan kuburan baru"

__ADS_1


"Hah!!"


...Bersambung~...


__ADS_2