
...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...
...Happy Reading guys~...
"Hah!!"
Tentu saja mereka yang ada disana terkejut dengan wajah cengo yang tidak ada elit-elitnya. Bagaimana tidak, jika Permaisuri secara tiba-tiba melayangkan perkataan yang membuat mereka tercengang.
Kalimat yang tak pernah didengar oleh mereka bahkan tak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya malah secara gambalng dikatakan oleh Permaisuri. Padahal yang mereka pikirkan sejak tadi adalah bahwa ibunda mereka akan memarahi mereka, sebab mereka sudah membuat kekacauan didapur tercintanya. Namun, pemikirannya sangatkah jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh ibundanya.
"Ada apa? Kenapa melihat ibunda seperti itu?" Tanya Permaisuri pada mereka yang melihatnya dengan berbagai ekspresi.
"Tidak. Tidak apa ibunda" elak mereka.
"Ya tidak ada apa-apa Xiao'er" kata Yao Qi, Bo dan Bong.
"Jika memang tidak ada apa-apa, kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Permaisuri sekali lagi.
"Sebenarnya apakah ibunda tidak marah pada kami?" Cicit Chong Xi.
"Menurut kalian?" Bukannya menjawab Permaisuri malah balik bertanya dengan pertanyaannya yang tadi.
"Ya" jawab mereka serempak.
"Jika memang iya, kenapa kalian masih melakukannya? Padahal ibunda sudah memperingatkan kalian sejak awal?" Katanya membuat mereka bungkam seribu bahasa.
Yao Qi, Bo dan Bong yang memang tak tau apapun memilih untuk diam saja, karena tak ingin ikut campur dan berimbas pada mereka nantinya. Mereka tau bahwa Permaisuri tak akan menyakiti anak-anaknya tapi, akan memberikan hukuman yang akan membuat mereka tak akan mengulanginya kembali.
"....."
Tak ada jawaban dari mereka, malah mereka menghentikan makannya dan menundukkan kepala, menandakan bahwa mereka merasa bersalah dengan apa yang dikakukan olehnya tadi. Bahkan Antares yang hanya duduk santai menikmati makanan saja terdiam tak tau ingin melakukan seperti apa.
Mungkin menurutnya diam adalah salah satu cara yang paling tepat untuk menanggapi suasana saat ini.
Sedangkan Permaisuri yang tak mendapatkan jawaban hanya menghelana nafas kasar, menghadapan mereka yang labil sangat memerlukan tenaga ekstra agar Permaisuri tak salah nantinya.
Namun, meskipun mereka salah Permaisuri tak akan bermain tangan. Karena merki bagaimanapun mereka hanyalah seorang anak yang masih memerlukan bimbingan dari orang tuanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi nantinya.
"Baiklah, ibunda tak akan marah pada kalian. Tapi, kalian harus berjanji terlebih dahulu pada ibunda. Bagaimana apakah kalian setuju?" Tanya Permaisuri dengan negosiasi yang tak pernah jauh darinya itu.
Mereka seakan berfikir apakah mereka harus menerimanya atau kah tidak? Disatu sisi mereka ingin menerima persyaratan yang diajukan oleh Permaisuri karena merasa bersalah dan tak ingin terkena hukuman. Tapi, disatu sisi mereka merasa bahwa persyaratan yang akan diberikan oleh Permaisuri kali ini akan membuat bulu kuduknya merinding takut. Entahlah pikiran konyolnya mulai bermunculan kepermukaan.
Dilema
Mereka saat ini merasa dilema, karena tak tau ingin memilih yang mana. Sebab keduanya adalah pilihan yang sulit sama saja maju mundur salah dan mereka tak ingin menyesalinya. Tapi, jika tak dipilih mereka akan merasa amat bersalah atas perbuatannya yang sudah memporak-porandakan dapur yang awalnya sangat rapi menjadi kacau bak kapal diterjang ombak.
"Bagaimana? Pikirkan sambil makan saja" celetuk Permaisuri.
Bukan tanpa alasan Permaisuri mengatakan hal itu, karena melihat makanan dipiring anaknya masih banyak Permaisuri hanya mengingatkan untuk menghabiskan dengan cara menyindir halus sehingga mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama mereka bisa makan dengan tenang dan nyaman dan kedua mereka bisa memikirkan pilihan mana yang akan dipilih sambil mekan.
__ADS_1
Sungguh keuntungan yang sangat menguntungkan mereka. Jika ada keuntungan seperti ini lagi mungkin mereka akan dengan cepat menyetujuinya dengan senang hati tanpa harus berpusing ria memilih yang mana. Dengan hati yang riang mereka makan dengan diiringi tawa yah meskipun otak mereka masih berfikir tentang pilihan mana yang akan mereka pilih nantinya.
Sekitar lima belas menit makan siang menyermpat malam itu selesai namun tak ada yang berniat meninggalkan ruang makan entah karena apa. Mungkin mereka menunggu intruksi dari Permaisuri dulu baru meninggalakn tempat.
"Pergilah keruang santai yang tadi kita tempati. Permaisuri ini ingin menyampaikan sesusatu dan juga memdengar jawaban kalian" katanya.
Jika Permaisuri sudah memanggil dirinya dengan kata Permaisuri ini maka mereka harus melaksankannya tanpa membantah sedikitpun jika tidak tunggulah hukuman manisa dari Permaisuri.
Jika menurut kalian Permaiauri kejam, tak masalah karena itulah kenyataannya. Salah sedikit mendapatkan hukuman, memang harus karena jika orang salah haruslah mendapat hukumannya sendiri namun dengan hukuman versi Permaisuri yang tentunya akan membuat siapa nagis dan ngeri secara bersamaan.
"Baik laksanakan Yang Mulia" jawab mereka serempak dengan wajah seriusnya.
Maka mereka pun akan menggunakan kata formal untuk menghormati Permaisuri. Permaisuri langsung pergi menuju kearah dimana ruang santai berada dan lainnya membereskan ruang makan dan dapur yang belum sepenuhnya bersih dari kenakalan mereka tadi.
Sekitar sepuluh menitan mereka berkutat dengan peralatan pembersih kini satu persatu melangkah menuju dimana Permaisuri berada. Mereka yang sudah datang langsung mengambil tempat duduk yang menurut mereka nyaman untuk disuduki.
Sebenarnyaa dimanapun mereka duduk mereka akan mendapatkan tempat duduk yang sangat nyaman. Karena tempat duduk itu adalah sofa empuk dari abad ke-21 yang yah kalian semua pasti sudah merasakannya. Jika tidak, maka nasib kalian sama seperti Author haha.
Sekitar lima menit kemudian semua orang berkumpul menempati kursi yang tadi kosong. Dengan sebuah meja panjang yang tak terlalu tinggi dari tempat duduknya memudahkan mereka untuk melihat dengan jelas. Kini wajah mereka sangatlah serius karena Permaisuri juga sangatlah serius.
Permaisuri menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkannya untuk diskusinya nanti, karena tak ingin membuang waktu lama lagi akhirnya Permaisuri mengawali pertemuan pentingnya dengan sebuah pertanyaan yang membust mereka harus berpikir dengan keras.
"Baik Permaisuri ini akan memulainya" katanya.
"Tapi, Permaisuri ini akan mengajukan sebuah pertanyaan yang harus kalian jawab" kata Permaisuri dengan menekankan kata 'harus' dikalimatnya
"....."
"Jika kau mengahdapi sebuah musuh yang sangat kuat dan musuh tersebut adalah orang terdekatmu yang paling kau percayai sebelumnya maka apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Permaisuri.
"....."
Hening
Tak ada jawaban dari mereka sebab mereka sudah berkelana didalam otaknya mencari jawaban yang tepat dari perranyaan yang dilayangkan oleh Permaisuri padanya. Belum lagi pilihan yang tadi dilayangkan oleh Permaisuri belum juga mereka jawab dan sekarang, datang lagi pertanyaan yang menguras otak dan tenaga mereka.
"Bagaimana?" Tanya Permaisuri karena tak mendapatkan jawaban untuk kesekian kalinya.
"....."
"Lagi? Lagi dan lagi Permaisuri ini tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang Permaisuri ini layangkan untuk kalian? Sungguh mengecewakan" kata Permaisuri dengan wajah kecewanya.
"....."
Mereka semakin merasa bersalah atas ketidak mampuannya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Permaisuri kepada mereka. Bukan hanya sekali tapi ini sudah yang kebeberapa kelinya mereka melakukan kesalahan yang sama.
"Jika tak ada yang mau menjawabnya. Baiklah Permaisuri ini akan kembali kekamar dan kalian bisa beristirahat untuk pemburuan besok pagi" kata Permaisuri bergegas dari tempat duduknya.
Namun, sebelum Permaisuri beranjak dari tempat duduknya sebuah suara mengintruksinya untuk tetap duduk manis ditempatnya kembali. Ternyata suara itu berasal dari Antares dan Zhang Feng yang mengatakan akan menuruti syarat yang akan diberikan olehnya nanti.
__ADS_1
"Ibunda aku berjanji akan menuruti semua perkataan ibunda dan maafkan atas sikapku yang sudah merusak peralatan dapur tadi" kata Antars dan Zhang Feng secara serempak membuat senyum kemenangan dilayangkan oleh Permaisuri namun tak ada yang menyadarinya karena senyum yang Permaisuri berikan sangatlah tipis hingga tak terlihat seperti sebuah senyum.
"Lalu?"
"Jika kami mendapatkan musuh yang berasal dari orang terdekat kami dan sangat kami percayai maka kami tak akan segan untuk menghabisinya. Tak perduli siapa dia yang terpenting kebenaran dan keadipan haruslah yang utama" kata mereka berdua setelah saling melirik dan mengatakan dengan tegas tanpa gugup sedikitpun.
Sekali lagi Permaisuri tersenyum namun bukan senyum kemenangan seperti tadi namun senyum tulus keibuan yang diberikannya untuk kedua anaknya yang sangat gantle mengatakan apa yang ada didalam pikirannya tanpa takut sedikitpun. Mereka tak takut bahwa nantinya hal itu akan menjadi boomerang dimasa mendatang.
"Apakah kalian tak takut jika nantinya perkataan kalian akan balik menyerangmu dimasa depan?" Tanya Permaisuri memastikan.
"Tidak Yang Mulia" kata mereka tegas.
"Apa alasan kalian mengatakan hal itu dengan seyakin ini?"
"Aku tak akan takut untuk malakukan hal baik, tapi aku akan takut jika keadilan tak ditegakkan. Malah membiarkan keburukan menduduki alam semesta dan hal itu lebih menyakitkanku dari pada melawan musuh orang terdekatku" kata keduanya saling berpandangan dengan senyum bangganya.
Itulah jiwa seorang pendekar sejati yang mengutanakan keadilan dari pada kekerabatan. Bukannya tak sayang pada orang terdekat atau keluarganya tapi, jika sebuah kekuarga saja bisa melakukan hal yang tak terpuji bagaimana dengan orang lain? Meskipun harus kehilangan tapi itulah bayarannya.
Orang tak bertanggung jawab dengan perbuatannya tak pantas untuk dikasihani jika itu terjadi maka alam semesta tak akan baik kedepannya. Alam semesta tak boleh ditinggali orang seperti itu karena akan merusak tatanan alam semeata itu sendiri.
Memang benar jika ada tokoh antagonis maka ada tokoh protagonis karena keduanya akan selalu mengiringi salan satunya diantara keduanya. Sama dengan kehidupan jika ada yang namanya kehidupan maka ada yang namanya kematian. Jika ada pertemuan maka ada perpisahan. Itulah perputaran hidup, dimana poros waktu terus berjalan kedepan tanpa bisa diputar atau kembali barang sedetikpun.
"Bagus Permaisuri ini sangat menghargai semangat, tekad, dan ketegasan dari perkataan kalian berdua. Permaisuri ini tak akan mempertanyakan kembali pertanyaan yang Permaisuri ini berikan kepadamu tadi. Tapi, pesan Permaisuri ini adalah jangan sampai kalian melibatkan orang tak bersalah dalam masalahmu nantinya" kata Permaisuri dengan pesan yang akan mereka ingat selamanya.
"Baik Yang Mulia pesan anda akan sekalu kami ingat dimanapun kami berada" kata keduanya dengan tangan kanan yang berada didada dan kaki yang ditekuk.
"Bangkitlah. Tegakkan diri dan kepala kalian dengan setegaknya, tunjukkan pada alam semesta bahwa kalian adalah pendekar sejati dengan jubah bak baja berkulit hitam naga" kata Permaisuri pada Antares dan Zhang Feng dengan berkatnya yang pasti juga diberkati oleh alam semesta ini.
"Terima kasih banyak Yang Mulia" kata keduanya dengan hormat ala pendekar sejati.
Keduanya pun bangkit dengan menegakkan kepala juga badannya menuruti perkataan dari Permaisuri.
Sedangkan yang lainnya seperti mendapat motivasi dan juga seperti telah di isi ulang semangat mereka.
Dengan senyum merekahnya mereka turut menjawab dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara hingga tak sadar bahwa mata mereka mengeluarga air mata.
Entah apa yang mereka pikirkan tapi yang jelas pikiran mereka seakan membawa kedamaian hingga tak mampu dibendung oleh otaknya. Mengakibatkan mata mereka mengeluarkan air bening dari kedua matanya dengan haru yang melekat didada.
"Yang Mulia terimalah Janji kami dan kami akan memilih kebenaran tak peduli jika musuh kami adalah kekuarga kami sendiri" seru mereka berdua lantang.
Nafas mereka memburu seakan-akan mengikuti lomba maratoon, dengan hati yang senang dan penuh gembira. Mereka seakan habis berlari demgan jarak yang jauh hingga mampu membuat degub jantungnya bergetar tak seperti biasanya.
"Ha ha ha. Inilah yang diinginkan oleh Permaisuri ini" katanya dengan senyum penuh kemenangan.
Tujuan Permaisuri mengatakan hal itu adalah untuk mengingatkan mereka agar lebih waspada pada siapapun tak terkecuali. Karena hidup bukan hanya untuk kebahagiaan saja namun masih banyak lagi yang akan mengiringnya dimasa depan.
"....."
Mereka tak mampu menjawab hanya bisa tersenyum dengan lebar penuh kebanggaan entahlah apa yang dipikirkannya hingga membuat mereka mengangkat kepalanya tinggi. Seakan-akan mengatakan pada dunia bahwa mereka juga adalah seorang pendekar sejati yang patut dihormati oleh seluruh penghuni alam semesta.
__ADS_1
...Bersambung~...