
...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...
...Happy Reading gaes~...
"Emosi jiwa yang terpendam adalah emosi yang tersimpan dalam hati kita dan dialah musuh terbesar kita sendiri" jelas pria paruh baya itu menerawang.
"Maksudnya?"
"Kau pasti tau bahwa emosi bukanlah hal yang baik apalagi jika itu berlebihan sebab sesuatu yang berlebihan itu tak baik. Sama dengan emosi"
"Ya aku tau itu sama dengan sakit hati yang tak ada obatnya dan akan membekas didalam hati dan pikiran kita" kata Permaisuri.
"Kau benar nak. Emosi adalah musuh nyata dalam diri kita, maka dari itu kau harus melewati ruangan hitam pekat itu dulu baru kau bisa sampai disini"
"Lalu tempat apa ini?"
"Akan kami jawab nanti setelah menjelaskan emosi jiwa yang terpendam"
"Baiklah"
"Ruang emosi jiwa yang terpendam ini sama dengan Yang, dimana ruang batimu adalah Yin yang emuanya serba putih karena kau adalah seorang perempuan. Yin dan Yang sangatlah melengkapi seperti siang dan malam, cahaya dan kegelapan, langit dan bumi, perempuan dan laki-laki seperti itulah kedua ruang dalam tubuhnya. Jika kau melakukan penyatuan pada pemilik Yang yang kental maka ruang emosi jiwa yang terpendam akan berubah dengan sendirinya menjadi ruang yang kau impikan"
"...." Permaisuri hanya terdiam menyimak dengan serius apa yang disampaikan oleh kedua paruh baya itu.
"Maksudnya disini adalah jika memiliki seseorang yang kau cintai atau seorang suami yang memiliki Yang yang sangat kental maka ruangan yang awalnya hanya ada hitam pekat itu akan berubah menjadi ruangan serba guna yang kau impikan dan daya simpannya sepuluh kali lipat dari ruang ilahimu"
"Jika tidak?"
"Maka ruangan itu akan selalu menjadi hitam tanpa cahaya dan tak bisa diubah bagaimanapun caranya"
"Lalu apa lagi yang dapat menjelaskan tentang ruang emosi jiwa yang terpendam itu?"
"Banyak pengeryian tentang ruang ini. Tadi pasti kau merasakan beban dikedua pundakmu kan?"
"Benar apa maksudnya itu"
"Itu artinya didalam hatimu masih banyak tersimpan emosi entah itu sedih, kecewa, marah ataupun yang lainnya. Dan bagusnya lagi kau mampu bertahan bahkan melawan rasa takutmu juga emosimu yang membisikkan bak iblis neraka yang mengikutimu"
"Pantas saja aku merasakan beban seperti tertimpa beton yang sangat banyak dikedua pundakku"
"Itulah kenapa ruang itu dinamakan ruang emosi jiwa yang terpendam sebab seperti apapun kau menyimpannya jika memasuki ruang itu maka kau tak akan bisa terbebas walaupun hanya sedetik saja"
"Jadi serapi apapun aku menyimpannya tak akan lolos jika berada disana?"
"Benar"
"Lalu apalagi?"
"Bukan hanya itu jika kau memiliki ketakutan sedikit saja maka ketakutanmu akan tergambar dengan sangat jelas dan akan menjadi musuh nyatamu yang amat sangat menakutkan. Semua yang berada dihatimu emosi apapun itu tak akan pernah lolos dari kejaran ruang itu."
"....."
"Maka dari itu setelah ruang batin maka akan ada ruang emosi jiwa yang terpendam tapi tempat ini tak akan bisa muncul dimanapun itu"
"Kenapa begitu? Bukankah tempat ini muncul contohnya saat ini?" Tanya Permaisuri.
"Karena tempat ini adalah ciptaan oleh kami untuk berhunugan langsung denganmu dan hanya dirimulah yang bisa sampai kesini dan sesuka hati mendatanginya sebab kami menanamkannya dalam jiwamu dan akan selalu menhikutimu kemanapun kau pergi anakku" jelas wanita paruh baya itu.
"Apakah jika kalian sudah menemukan tubuh kakian tempat ini akan masih mengikutiku?"
"Tentu saja nak" kata keduanya bersamaan.
"Apakah tempat ini bisa terpisah dari kedua ruang itu?"
"Tentu saja bisa" kata pria paruh baya itu bangga.
__ADS_1
"Apapun yang kau mau itu yang akan terjadi"
"Terima kasih untuk semua kebaikan kalian tapi jika aku boleh tau apa nama tempat ini dan apa hubungan antara diriku dan juga kalian?"
"....."
"Kenapa kalian menjadi diam begitu? Apakah ada perkataanku yang menyinggung atau yang tak mengenakkan?"
"Tidak bukan seperti itu nak"
"Lalu seperti apa?"
"Tempat ini kau bisa menamainya taman Lily sebab semua bungan disini adalah bunga Lily dari segala jenis, karena kami berdua tau bahwa kau amat sangat menyukai bunga Lily"
"Kalian sangat menegtahui apa yang aku suka dan apa yang aku inginkan. Aku tanya sekali lagi apa hubungan kalian denganku?" Tanyanya penasaran.
"Jika kau ingin mengetahuinya segeralah cari dimana keberadaan tubuh kami berdua. Jika kau sudah memdapatkannya apapun yang kau tanyakan dan kau inginkan akan kami kabulkan jika memang tidak menentang takdirmu"
"Kenapa kalian sangat takut menentang takdirku? Bukankah kalian sejak tadi mengatakan akan melakukan apapun untukku meskipun akan menantang alam semesta?"
"Memang benar yang kami katakan nak. Kami sangat sanggup untuk melakukannya tapi jika berhadapan dengan takdir apalagi takdirmu kami akan menjadi lemah dalam sekali tatap" jelas Pria paruh baya itu.
"Kenapa begitu?" Tanyanya heran.
"Kita bisa menentang para dewa-dewi sekalipun alam semesta tapi, tak ada yang bisa menantang takdir anakku. Kami pun akan lemah jika berhadapan dengan yang namanya takdir"
"....."
"Karena takdir adalah penentu kita. Bahkan dewa takdir yang mengurusi takdir makluk hidup tak bisa menentukannya hanya bisa diubah sesuai usaha yang kita kerjakan nak"
"Jadi begitu"
"Benar nak"
"Lalu apa yang membuatku berada ditempat ini? Apakah kalian berdua memanggilku kesini? Apakah ada hal penting atau apa?" Tanya Permaisuri beruntun.
"Kenapa tertawa?" Tanya Permaiauri bingung melihat respon keduanya dan jangan lupakan kepala yang dimiringkan kearah kiri.
"Kau terlalu terburu-buru nak" kekehnya.
"Humb" katanya cemberut dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain tak ingin menatap kedua paruh baya itu. Jangan lupakan kedua tangannya yang sedekap dada menambah keimutannya saja.
"Baiklah. Baiklah kami akn menjawabnya nak"
"....."
"Yang membuatmu berada ditempat ini adalah tas keinginan kami untuk menyapamu dan membicarakan beberapa kata. Seperti yang sejak tadi kita lakukan"
"...."
"Apakah kami berdua yang memanggilmu? Jawabannya adalah ya. Memang kamilah yang memanggilmu untuk datang kesini dan menyelesaikan ujianmu sekaligus dua"
"Dua? Apa saja itu?"
"Yang pertama diruang batin kau mampu bertahan dan menyaksikan keseluruhan dari datangnya kedua penghuni baru itu hingga mengelola aura dalam ruang batinmu"
"Yang kedua apa?"
"Kau dapat melewati ujian dari ruang emosi jiwa yang terpendam dan kau mampu melewatinya seakan-akan ujian itu bukanlah apa-apa bagimu"
"Lalu pertanyaanku yang terakhir, bagaimana?"
"Apakah ada hal penting hingga kami memanggilmu kesini? Jawabannya ya. Kami memanggilmu kesini karena ada beberapa hal yang harus kami beritahu kepadamu nak" kata pria paruh baya itu.
"Apa itu dan siapakah nama kalian berdua? Aku rasa sangatlah tak sopan memanggil kalian dengan kau atau lainnya kan?" Tanya Permaisuri yang sudah sangat penasaran itu.
__ADS_1
"Maafkan kami berdua anakku" kata wanita paruh baya itu dengan pandangan sayu pada Permaisuri.
"Maaf? Untuk apa?"
"Maafkan kami karena saat ini bukan saatnya kau mengetahui identitas kami yang sebenarnya" katanya lagi dengan suara sedih.
"Baiklah. Baiklah aku tak akan mempermasalahkan hal itu karena menurutku setiap irang pasti memiliki privasinya sendiri dan aku memaklumkan itu" kata Permaisuri pasrah tak ingin memperpanjang masalah nama keduanya. Karena sejak tadi Permaisuri bertanya nama mereka pasti jawabannya akan sama.
"Terima kasih nak"
"Ya. Sekarang jelaskan kepadaku ada kepentingan apa memanggilku kemari?"
"Baiklah dengarkan baik-baik nak dan jangan sampai apa yang kami berdua sampaikan padamu terdengar ditelinga orang lain. Mengerti!!" Pria paruh baya itu memberikan peringatan pada Permaisuri agar dimasa depan tak akan ada masalah dan menargetkan dirinya, yah meskipun dirinya sudah menjadi target orang tak bertanggung jawab.
"Baiklah" kata Permaisuri dengan tegas dan lantang.
"Ada beberapa hal yang harus kami sampaikan padamu dan salah satunya kau sudah memdengarnya tadi"
"Yang mana?" Tanyanya sebab terlalu banyak yang dibicarakan tadi hingga Permaisuri bingung yang mana maksud mereka.
"Kami tadi mengatakan bahwa kau harus mencari dimana tubuh kami berdua berada" kata wanita paruh baya itu lembut jangan lupakan tangannya yang mengelus kepala Permaisuri lembut.
"Ooh yang itu. Bagaimana aku mencarinya jika nama kalian saja aku tak tau?"
"Jangan khawatir nak. Kau bisa mencari tubuh kami melalui hatumu sebab dimanapun kami berada jika hatimu yakin disana ada kami maka itulah jawabannya"
"Apakah bisa seperti itu?"
"Bisa anakku janganlah kau meragukan ucapan kami berdua karena apapun yang kami ucapkan semuanya adalah demi kebaikanmu nak"
"Jika hatiku tetap tak menemukan tubuh kalian bagaimana?"
"Ikuti suara dalam hatimu, pusatkan pikiran dan hatimu menjadi satu dan kau akan menemukan jawabannya"
"Baiklah aku akan melakukan seperti yang kalian berdua katakan padaku"putusnya dwngan semnagt yang membara terlihat jelas dikedua matanya dan membuat senyum cerah dikedua wajah paruh baya itu.
"Bagus. Bagus sekali nak"
"Lalu apakah ada lagi yang akan kalian katakan padaku?"
"Masih banyak yang ingin kami katakan padamu nak"
"Baik aku akan mendengarkan semua perkataan kalian" katanya penuh semangat.
"Baiklah dengankan baik-baik"
"Ya"
"Pertama kami hanya ingin memperingatkanmu, jangan pernah meremehkan lawan kita sekecil aoapun lawan pasti mereka mempunya kartu As dalam saku bajunya"
"Ya aku tau itu"
"Kedua jangan terlalu mempercayai seseorang meskipun itu adalah orang terdekatmu. Karena musuh paling ngata adalah orang terdekat kita"
"Tapi mereka sangatlah baik dan aku memastikan itu"
"Yang kau anggap baik belum tentu itu kebenarannya. Memang kami akui kesetiaan para pengikutmu memanglah nyata adanya tapi, orang tersekatmu bisa saja mereka musuh nyatamu. Atau bisa jadi musuhmu saat ini akan menjadi musuh terbesar dalam hidupmu nanti" kata pria paruh baya itu penuh dengan misteri.
"Apa maksud kalian, tak mungkin kalian mengatakan hal ini tanpa adanya buktikan?"
"Ha ha ha sungguh kami tak bisa meragukan spekulasi dan pemikiran tajam mu itu" kata pria paruh baya itu kesenangan dan penuh bangga hati.
"Katakan saja apa maksud kalian padaku"
"Maksud kami adalah..."
__ADS_1
...Bersambung~...