
...Typo (s) bertebaran Amatir maklumkan...
...Happy Reading gaes~...
"Maksud kami adalah kau harus selalu menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Jangan terlalu memberikan kepercayaan penuh dengan siapa saja yang kau anggap baik. Karena meskipun dia baik belum tentu hatinya juga baik, dan yang kau anggap musuh belum tentu dia selalu jahat padamu. Terkadang musuh lebih tau kelemahan dan kelebihan kita dibanding orang terdekat kita sendiri"
"....."
"Nak, hidup didunia fana tak akan seindah yang kau bayangkan. Semua banyak rintangan yang siap kapan saja menerjang kita. Maka dari itulah kami memperingatkanmu untuk selalu percaya pada diri sendiri, kau memang boleh memberikan kepercayaanmu pada siapapun karena itu adalah keputusan dan hakmu. Tapi, saringlah mereka terlebih dahulu nak, apakah mereka layak dipercayai olehmu atau tidak"
"Baik aku mengerti sekarang. Maksud kalian adalah agar aku tak menyesali apa yang aku lakukan saat ini di masa depan. Apakah seperti itu maksud dari perkataan kalian padaku?"
"Benar anakku. Kami tak melarangmu hanya memperingatkanmu saja untuk selalu berhati-hati"
"Ya aku akan senantiasa mengingat amanah kalian padaku"
"Bagus, bagus sekali. Tak salah dia memilihmu nak" kata pria paruh baya itu misterius.
"Dia? Siapa yang kalian maksud dengan dia oleh kalian sejak tadi?"
"Bukan siapa-siapa. Tak penting juga kita membicarakan dirinya" kata pria paruh baya santai meski dalam hatinya ketar-ketir takut ucapannya terdengar oleh dia.
"Huhh baiklah"
Keheningan melanda ketiga orang beda generasi itu. Ketiganya terlarut dalam lamunan masing-masing yang entah memikirkan apa hanya mereka yang tau. Sedangkan Permaisuri masih lah tak paham dengan pembicaraannya sejak tadi. Maksudnya adalah Permaisuri tak terlalu mengerti kenapa kedua paruh baya itu berasusah payah memberitahunya hal ini?
Apakah ada hal yang harus dia selesaikan dan harus dicari sendiri jawabannya oleh dirinya? Mungkin saja. Meskipun begitu untuk saat ini Permaisuri tak terlalu ingin memusingkan pikirannya dengan hal-hal berbau rahasia itu.
Masih banyak hal yang menunggu Permaisuri dimasa depan, bukan hanya hal kecio saja tapi hal besar juga menunggu dirinya. Tergantung seberapa kuat Permaisuri menghadapi semua hal yang akan menghampirinya dimasa memdatang. Bukan hanya masalah alam semesta yang akan menghantamnya tapi juga masalah pribadi yang siap kapan daja menghantui hidupnya kelak.
Akan banyak kejadian tak terduga yang akan menimpa alam semesta dimasa depan karena kecerobohan umatnya. Mereka semua hanya bisa bertahan dan mempertahanka apa yang harus dipertahankan. Jikq tak mampu bertahan maka mereka sendiri yang akan menanggung kesalahannya sendiri.
Jangan terlalu memberikan kepercayaan pada orang lain meakipun kita selalu bersama. Sebab manusia hanya akan memberikan kekecewaan pada manusia lainnya, pada akhirnya kitalah yang akan menderita kekecewaan yang sangat mendalam. Ketahuilah musuh dari musuh nyatamu jauh lebih ganas dari musuh yang bagaikan boneka.
Mereka hanya pion untuk mempertahankan jati dirinya agar takbdiketahui oleh publik, menggandalkan diri orang lain untuk memuluskan rencananya dan mengorbankan orang lain pula.
Jangan heran banyak musuh kita yang bagai boneka yang dikendalikan oleh musuh dari musuh nyatamu.
Dunia fana tak akan selalu mulus bak jalan diaspal baru. Hidup mulus akan selalu didampingi oleh jalanan terjal atau menanjak. Bahkan jurang kematian terpampang nyata didepan mata kita, tergantung bagaimana kita menghadapi dan menjalaninya menjadi jalanan mulus penuh kebahagiaan.
Pilihan hidup tentunya berada ditangan kita sendiri, bahkan jika kita tiada itu adalah pilihan kita sendiri apakah mendahului takdir atau menyesuaikan dengan takdir.
Hidup kita adalah kita sendiri yang menjadi penentu, tak ada yang bisa mengendalikannya meskipun dia seorang Kaisar sekalipun. Dunia fana sangatlah kejam siapa yang tak bisa bertahan maka tamatlah dia, pion kuat tak menjamin hidup kita kedepannya.
Permaisuri baru mengingat bahwa ada hal lain yang menunggunya dan dia sudah terlalu lalu oama berada disini. Permaisuri bergegas untuk kembali ketempat awal dia betada tapi, yang harus dia lakukan saat ini adalah menemukan jalan keluar supaya dua bisa menyelesaikan urusannya.
"Sudahlah lupakan saja. Aku ingin bertanya pada kalian tentang bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari tempat ini dan kembali ketempat air suci itu berada. Karena sudah terkalu lama aku meninggalkan mereka" katanya sangat ketara bahwa Permaisuri sedang panik.
"Tenang lah nak. Perbedaan waktu antara disini, diruang ilahimu dan didunia nyata sangatlah berbeda jauh"
"Maksudnya bagaimana?"
"Jika didunia nyata satu jam maka diruang ilahimu sudah beberapa hari. Begitupun dengan disini nak, disini perbedaan waktu sangatlah jauh berbeda. Perbandingan antara ketiganya tak bisa disamakan sebab disini masihlah beberapa menit saja. Satu detik disini bagaikan satu jam di dunia nyata anakku"
"Woah keren sekali. Berarti ditempat ini adalah kebalikan dari ruang ilahiku begitu?"
"Bisa dibipang begitu nak"
"Jika di ruang ilahi sangat cepat berarti tempat ini sangatlah lambat. Benar?"
"Benar sekali nak" kata wanita paruh baya itu dengan senyum menawannya.
"Aku baru menyadari bahwa majahmu sangatlah mirip dengan wajahku. Yang membedakan hanya dibeberapa bagian saja dan juga usia kita berdua" celetuk Permaisuri menunjuk kearah wanita paruh baya itu bingung namun mampu membuat kedua pasangan paruh baya itu menegang kaku.
deg
__ADS_1
"Ahaha kau bisa saja bercandanya anak muda" elak pria paruh baya dengan senyum yang dipaksakan.
"Benarkah? Tapi selama ini perkiraanku tak pernah salah" tanya Permaisuri bertambah bingung.
"Tentu saja itulah kenyataannya anak muda" kata pria paruh baya itu cepat.
Sedangkan wanita paruh baya itu hanya terdiam dengan menampilkan senyum pedihnya dan jangan lupakan pandangan mata yang sayu, seperti menyimpan kesedihan dan kekecewaan yang sangatlah mendalam.
"Benar juga ya. Aku dan kalian tak ada hubungan apapun, hubungan darah juga tidak ada karrna aku baru mengenal kalian" katanya kepada kedua pasangan paruh baya itu santai tak melihat reaksi dari keduanya.
Kedua pasangan paruh baya itu entah kenapa merasakan sesak didadanya yang amat sangat menyakitkan, hingga tak mampu untuk dibendungnya. Bahkan kedua mata tua wanita paruh baya itu sudah berkaca-kaca siap mengeluarkan cairan beningnya jika tak ditahan oleh siempu.
Permaisuri tak terlalu memperhatikan kedua pasangan paruh baya ini, memang Permaisuri sangatlah peka dengan keadaan dan situasi sekitar tapi tidak dengan suasana hati orang lain sebab dia orang yang tak peka terhadap perasaan orang lain diwaktu yang sangat diperlukan. Contohnya saja seperti saat ini.
Oh tuhan kenapa rasanya sesakit ini. Aku tak mampu jika berlama-lama berada disisinya gumaman dalam hati penuh pilu itu.
"Bagaimana caranya agar aku bisa kembali?" Tanya Permaisuri tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi hingga tak melihat keadaan disekitarnya.
"....." tak ada jawaban dari padangan paruh baya itu.
Sebab keduanya masih terlaruk dalam lamunan menyakitkan dalam hati itu.
"Heii!!" Seru Permaisuri lumayam kencang untuk menyadarkan keduanya dari lamunan tak berujung itu.
"Ah ya. Ada apa nak"
"Hufft. Aku tadi bertanya pada kalian bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari tempat ini?" Tanyanya sekali lagi.
"Oh baiklah. Dengarkan apa yang akan aku katakan hem"
"Baiklah paman"
deg
Paman!! Kenapa hatiku tiba-tiba sesakit ini. Padahal kami sudah menyiapkan sejak dulu jika kejadian seperti ini terjadi inner kedua pasangan paruh baya itu dengan memegang tepat diarah dadanya beradabdengan wajah merah menahan rasa sesak yang mendera tiba-tiba.
"Kalian kenapa?" Tanya Permaisuri panik penuh dengan kekhawatiran.
"....."
"Ayo jawab aku. Kenapa kalian diam saja?" Tanya Permaisuri lagi karena tak mendapatkan jawaban dari kedua orang didepannya ini.
"Ah...maaf"
"Ada apa?"
"Tak ada apa-apa nak"
"Jika tak ada apa-apa kenapa kalian terdiam dan memegangi dada kalian? Apakah ada yang sakit? Jika ada katakan padaku sekarang aku akan menyembuhkan kalian"
Apakah kau bisa menyembuh kan hati kami yang saat ini terluka nak? Jika bisa maka lakukanlah dan kaminakan sangat bersyukur. Tentu saja perkataan itu hanya mampu diucapkan dalam hati keduanya.
Pasangan paruh baya itu sekan tak mampu mengatakan apapun karena lidah keduanya mendadak kelu entah disebabkan oleh apa. Yang pasti mungkin disebabkan oleh hal yang sangat besar.
"Tak apa nak. Kami akan memberitahumu bagaimana cara untuk keluar masuk ketempat ini dan kami yakin cara ini sangatlah mudah untukmu"
"Katakan cepat"
"Jika kau ingin masuk makan katakan masuk ketaman Lily, jika kau ingin keluar dari tempat ini maka sebutkan saja dimana kau ingin pergi nak"
"Baiklah. Terima kasih" katanya tulus.
"Untuk apa anakku?"
"Untuk semuanya, kalian sudah menasehatiku dengan sangat baik dan mengajarkan banyak hal yang belum aku ketahui sebelumnya. Karena itu aku ingin mengucapkan banyak terima kasih dan ini berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam" ucapnya tulus.
__ADS_1
"Baik kami terima ucapan terima kasihmu nak" kata keduanya harus dengan apa yang dilakukan oleh Permaisuri pada keduanya.
Sungguh hari ini sangatlah ditunggu oleh keduanya, mereka berdua sangat menantikan hari ini dan tak akan melupakan hari dimana keduanya menemui sang permata yang sangat jauh untuk digenggam olehnya.
"Apakah aku boleh pergi sekarang?" Tanyanya bingung entah kenapa tiba-tiba hatinya sangat tak rela berpisah dengan kedua paruh baya ini
"Tidakk" seru keduanya dalam hati tentu saja.
Mereka berdua hanya mampu berteriak didalam hatinya tanpa mau memgucapkan kebenaran pada sang permata.
"Tentu saja nak" lain dimulut lain pula dihati.
Miris. Kata itulah yang mampu menggambarkan keduanya saat ini dimana mereka tak bisa hanya untuk merengkuh tubuh kecil Permaisuri. Sebab seperti terdapat sebuah dinding transparan yang tak kasat mata memghalangi keduanya untuk melakukan hal itu. Sungguh kasihan sekali pasangan paruh baya itu.
"Baiklah. Aku akan pergi dan akan kembali lagi tunggu aku pulang" celetuknya.
Permaisuri sendiri tak menyadari perkataannya itu, dengan sendirinya meluncur dari mulut menggodanya itu. Hingga tak sadar membuat kedua hati orang disekitarnya menghangat mendengarnya.
"Kami akan selalu menunghumu nak"
"Baik"
Setelah itu Permaisuri pergi meninggalkan tempat itu dan pergi meninggalkan kedua paruh baya yang menatap kepergiannya dengan sendu. Permaisuri hanya mengucapkan mantra dalam hatinya, ingat ya bukan mantra seperti difilm Harry Potter.
Tak lama Permaisuri sampai ditempat pertama kali dia berada yaitu ditengah air terjun suci itu berada. Perlahan Permaisuri membuka kedua matanya dan melihat keselilingnya, ternyata dirinya sudah berada ditempat awalnya berada.
"Tuan selamat anda sudah naik tingkat hanya dalam beberapa jam saja" seru mereka berempat kesenangan melihat tuannya sudah naik yingkat dengan sangat cepat.
"Benarkah?" Tanyanya memperjelas dugaan sementaranya.
"Benar tuan. Tapi kami tak bisa melihat ditingkat mana anda berada" kata Lie Xian kesenangan dan sedih diakhir kalimatnya.
"Tak masalah berarti kalian harus lebih berusaha lagi meningkatkan kultivasi kalian hem" bujuk Permaisuri bak seorang ibu kepada anaknya.
"Apakah tuan sudah tak marah lagi pada kami?" Seru Zian sitembok berubah menjadi anj*ng imut.
"Apakah aku pernah marah dengan sangat lama?" Tanya balik Permaisuri.
"Aha ha ha. Tentu saja tidak tuan" kata Guang Yue dengan melambaikan tangan kirinya pelan.
Memang benar Permaisuri tak pernah marah terlalu lama tapi, dari ucapan Permaiauri sudah seperti orang yang menyombongkan diri sendiri dan hal itu membuat keempatnya menahan tawa agar tak meluncur jika tidak maka tamatlah mereka.
"Baiklah terserah kalian saja tapi Permaisuri ini hanya mengingatkan kalian unyuk segera meningkatkan level kultivasi kalian ketahap setinghi mungkin. Sebab dalam waktu dekat Permaisuri ini mungkin akam berkunjung keduania atas"
deg
Bagai waktu berhenti dalam sekejab akibat perkataan Permaisuri barusan, bukan apa tapi perkataannya menimbulkan kecemasan dihati keempatnya tak tak mamou mereka ungkapkan dalam sebuah kata. Karena terlalu sulit untuk dikatakan hanya dengan ucapan. Sama seperti perkataanya yang hanya berupa janji tak pernah ditepati. Eakk wkwk.
"Ada apa apa? Apakah ada perkataanku yang memberatkan kalian?"
"Tidak. Tidak sama sekali tuan kami sama sekali tak keberatan dengan apa yang anda katakan" kata Zhang Juan yang sejak tadi diam mengamati, dan dianggukiboleh ketiga orang lainnya.
Belum waktunya anda mengetahui ini Yang Mulia. Biarlah, biarlah anda sendiri yang mengingatnya seiring berjalannya waktu inner mereka berwmpat dalam hati.
"Baiklah jika tak ada hal yang ingin dikatakan Permaisuri ini akan pergi dulu untuk memberikan air suci ini"
"Baik tuan"
"Oh ya panggil aku dengan sebutan seperti biasa karena kata 'Tuan' sangat menggangguku ngomong-ngomong" pintanya ah lebih tepatnya perintah mutlaknya yang hanya mapu untuk mereka berempat mengiyakan saja. Meskipun begitu keempatnya tetap senang, sebab tuannya sudah kembali seperti dulu lagi.
"Aku pergi dulu. Aku harap setelah aku kembali kesini kalian sudah lumayan kuat" katanya dan langsung meninggalkan keempat pengikutnya.
"Baik"
...Bersambung~...
__ADS_1