
...~Happy Reading~...
Ternyata pemandangan Tianmen Shan jauh lebih indah jika sudah sepenuhnya masuk kedalam. Apalagi dipagi hari yang cerah dengan suara alam yang indah menambah kesan sempurna untuk dilihat.
Meskipun dimasa depan Tianme Shan juga tak kalah indah dengan saat ini, tapi udara yang segar sudah tercemar oleh polusi. Ingin berfoto tapi banyak orang, meski mereka orang terdekat dan dipercaya namun jika semakij banyak orang mengetahuinya maka langit akan segera menghukumnya.
Untuk menghindari hal seperti itu maka lebih baik untuk menahan diri agar tidak lepas kendali. Karena tujuan utama mereka berada disini adalah untuk memastikan dinama asal suara dan pemicu kejadian kemarin.
Tapi dilihat dari kadaan saat ini sepertinya asal suara itu bukan berasal dari arah gunung Tianmen Shan ini melainkan diluar gunung tapi arah yang sama. Karena gerbang sudah tertutup dan akan terbuka satu jam lagi, maka mereka akan memanfaatkan waktu singkat itu untuk mengasah keahliannya.
Entah itu berkultivasi, teknik berpedang, mempelajari array, teknik pengobatan dan racun, atau yang lainnya. Permaisuri juga ikut berlatih tapi dirinya ingin melihat lihat Tianmen Shan lebih jauh lagi.
Menaiki anak tangga yang lumayan panjang, permaisuri sesekali memetik tumbuhan yang ditemuinya sepanjang jalan menaiki anak tangga dan sesekali menengok ke arah dimana anak-anaknya berlatih.
Jangan khawatri, Permaisuri sudah meletakkan berbagai macam makanan dan minuman untuk mereka jika sewaktu-waktu lapar atau kehausan. Jika bertanya dimana Antares berada jawabannya adalah tidur disamping tumpukan makanan dengan tenda kemah kecil yang muat untuk dua orang saja.
Sejak masuk tadi, Antares tak henti-hentinya meregek kelah dan ingin pergi tidur. Karena mereka memaklumi sikap kekanakannya, akhirnya Permaisuri mengeluarkan tenda itu dari ruang ilahinya untuk menghalau matahari dan serangga yang mungkin akan mengganggu tidur tampannya.
o0o
Kerakisaran Han, Ruang rapat dewan
Jika ditempat Permaisuri mereka sibuk dengan kegiatannya, lain pula dengan ruang rapat dewan yang memanas karena pro dan kontra hilangnya Permaisuri dan kelompok.
Banyak yang menduga bahwa mereka dimakan oleh hewan buas atau spirit beast , ada pupa yang menyakini bahwa mereka sedang tersesat. Tapi, bagi mereka yang susah mendapat surat dari Permaisuri tentunya hanya duduk dengan tenang tanpa ikut campur argumen mereka.
Dimata orang lain mereka yang anaknya ikut dengan kelompok Permaisuri hanya duduk diam menyesap aroma teh beranggapan bahwa mereka tak peduli akan hidup dan matinya sang anak. Padahal nyatanya mereka diam karena sudah mengetahui bahwa anak-anaknya aman bersama dengan Permaisuri.
Dari pada memikirkan para mentri yang berdebat lebih baik menikmati teh herbal yang sangat menggoda itu. Sedangkan Kaisar sendiri hanya memijit kening jengah melihat tingkah para mentri yang kekanakan.
"Bisakah kalian diam!! Zhen mengumpulkan kalian untuk meminta pendapat bukan untuk melihat kalian berdebat. Jika tidak ada yang memberikan pendapat maka Zhen akhiri pertemuan ini. Kalian bisa pergi." Perintahnya dengan tegas.
"Salam Yang Mulia Kaisar," ucap mereka.
Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan ruang rapat dengan berbagai ekpresi. Ada yang lesu, kesal, tersenyum sumringah, ada juga yang santai seolah tak peduli dengan apa yang mereka perebutkan sedari tadi.
"Yang Mulia, kemanakah rombongan Permaisuri berada? Apa benar Permaisuri dan rombongan dimakan oleh hewan yang berada dihutan kematian?" Tanya penasehat kerajaan dengan wajah penasarannya.
__ADS_1
"Entahlah, Zhen juga tidak bisa melacak keberadaan mereka untuk saat ini. Seperti ada energi yang menghalangi Zhen untuk mendekati mereka apalagi Permaisuri." Desahnya lelah sembari memijit pangkal hidungnya lelah.
Hening
Untuk sesaat ruangan hening sunyi tak bersuara hanya terdengar helaan nafas yang saling bersautan dari kedua orang itu.
"Tapi, yang mulia saya menaruh rasa curiga kepada beberapa orang." Kata penasehat serius.
"Benarkah? Siapa mereka?"
"Pemilik rumah jahit kepala Lu, perdana mentri Meng dari kekaisaran Shi, perdana mentri Liang, Raja dari barat, kepala tabib Liang, dan juga Ibu suri." Jelas penasehat kerajaan.
Mendengar perkataan dari penasehat kerajaan, Kaisar tersentak kaget karena mereka semua termasuk keluarga dari anggota Permaisuri. Ada apa sebenarnya? Kenapa dia yang seorang Kaisar tak mengetahuinya? Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya? Atau mungkin mereka sengaja merahasiakan darinya agar dirinya slterlihat seperti orang bodoh? (Kan emang situ bodoh bang:v eaaa canda bodoh_^)
"Mungkin apa yang kau katakan tadi ada benarnya. Pasti ada hal yang membuat mereka bersikap tenang saat mengetahui bahwa anak mereka tidak pulang dan keberadaannya tidak diketahui." Duganya.
"Tapi Yang Mulia, saya merasa gelisah beberapa hari ini tentang beberapa hal." Kata penasehat kerajaan secara tiba-tiba.
"Hal apa itu? Kenapa kau mengatakan dengan keringat diwajahmu?" Tanya Kaisar heran melihat respon dari penasehat kerajaan.
"Tiga hari yang lalu saya bermimpi didatangi oleh wanita tua disebuah ruangan aneh dan mengatakan 'Dia yang terluka telah pergi, berganti menjadi penuh dendam dan ambisi. Mereka yang bersalah tak bisa melarikan diri. Menjadikan langit dan bumi sebagai saksi. Sang pencipta telah memberi janji, siapa saja yang bersalah tak bisa lari. Kuasa dunia berada dalam jemari. Tanggunglah akibat dari apa yang kalian beri. Permata berharga telah kalian sakiti.'Saat itu juga seolah langit mendengarkan perkataan dari wanita tua itu dengan petir yang menyambar apa saja, Yang Mulia kita harus menemui pendeta agung untuk mencari jawaban atas perlataan wanita tua itu." Jelasnya panjang lebar.
Entah siapa yang dimaksud sebagai sang pembalas dendam itu, yang pasti dia mungkin akan menuntut balas akan rasa sakit yang dialaminya. Siapapun dia, namun intinya adalah sebuah ancaman yang tak bisa disepelekan.
"Sudahlah. Untuk saat ini kita berfokus menemukan Permaisuri dan rombongannya, meskipun mereka terlihat tenang namun ketenangan itulah yang hatus diwaspadai. Siapa tau dibalik ketenangannya tersimpan rencana, kita tidak boleh lengah sedikitpun." Jelas Kaisar.
"Anda benar, Yang Mulia. Seiring berjalannya waktu akan terkuak siapa dia yang dimaksud sebagai pembalas dendam itu dan kita tidak boleh melonggarkan kewaspaan kita. Sesuai perkataan anda, saya akan menugaskan beberapa prajurit untuk mencari keberadaam Permaisuri dan rombongan."
"Bagus. Kau pergilah tinggalkan Zhen sendiri dan jangan biarkan siapapun masuk. Mengerti!" Perintah Kaisar mutlat.
"Baik, laksanakan Yang Mulia."
"Keluarlah."
"Enn."
Sepeninggalnya penasehat, kini ruangan yang sejak awal memang sudah hening bertambah hening sangat mencekam. Entah kenapa atmosfir ruangan langsung menurun begitu saja menambah kegelisahan dalam hati Kaisar. Entah kebetulan atau memang takdir disela-sela lamunannya Kaisar merasakan aura yang sangat familir baginya berada dalam jangkauan yang sangat dekat.
__ADS_1
Kaisar yang sejak tadi gelisah bertambah gelisah dilihat dari bola mata yang menyisir keseluruh ruangan mencari dimanakah posisi pasti sang pemilik aura yang sangat akrab itu. Tak menyerah meski tak keteme, Kaisar berdiri dari singgasananya dan menoleh kekanan, kekiri, dan kebelakanh namun seolah hanya aura saja berada disekitarnya.
"Mencariku?" Tanya sebuah suara maskulin yang menenangkan dari arah sudut kanan Kaisar yang paling gelap.
Secepat mungkin Kaisar menoleh keasal suara dimana sesosok pria berjubah merah hitan dan jangan lupakan topeng merah hitam dengan gradiam emasnya yang unik namun elegan. Semakin lama tubuh pria itu terlihat seiring langkahnya yang menuju dirinya yang masih bediri kaku didepan singgasana.
"Lama tidak bertemu, Móguǐ de kōngxū línghún? (Iblis jiwa kekosongan?)" Sapa pria itu penuh penekanan.
Sapaan yang dilontarkan oleh pria bertopeng itu malah semakin membuat Kaisar ketar ketir dibuatnya. Kenapa orang ini bisa kembali dengan cepat? Tanyanya dalam hati.
"Oh salah apa kabar Yang Mulia Kaisar Han Dong Yu..... Palsu." Katanya dengan lantang dan bisikan penuh penekanan diakhir kalimatnya.
Tubuh Kaisar atau Iblis jiwa kekosongan saat ini kaku dan bergetar disaat bersamaan sesaat mendengar lontaran kata demi kata yang dikatakan oleh pria bertopeng itu.
"Kau... kau bisa kembali secepat ini?" Tanya Iblis jiwa kekosongan itu terbata.
"Ck ck ck. Jika saja kau tidak membiarkan raga istriku tercintaku terluka, maka aku tak akan kembali secepat ini. Tapi, kau membiarkan mereka menindasnya, dencaci makinya, sampai-sampai pelayan rendahan juga ikut menindasnya!"
Prok... prok... prok...
"Bagus, sangat bagus. Aku membiarkanmu mengambil alih tubuhku untuk menjaga raganya selagi jiwa yang kuat pergi, tak ku sangka kebaikan yang aku berikan malah kau sia-siakan begitu saja. Cihhh! Dasar makhluk rendahan. Iblis sepertimu gak pantas menginjak pintu neraka dan sangatlah tak mungkin mnjangkau surga. Jika urusan istriku sudah terselesaikan maka aku akan menghancurkanmu agar tak bisa berengjarnasi." Jelas pria bertopeng itu panjang lebar.
Dari penjelasan pria bertopeng itu bahwa Kaisar saat ini bukanlah Kaisar yang sebenarnya melainkan jiwa dari iblis yang mengiginkan tubuhnya untuk dikuasai. Namun selama ini Iblis jiwa kekosongam tidak pernah sekalipun membuat Ibu suri kesushan.
Karena bagi Iblis jiwa kekosongan, Ibu suri sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Karena alsan itulah Iblis jiwa kekosongan dangat amat menyayangi Ibu suri dari apapun meski dirnya sangatlah menginginkan kebebasan.
"Maafkan aku. Aku juga terpaksa melakukannya." Akunya memels.
"Kau kira dengan mengatakan hal ini maka semua masalah diantara kita akan selesai begitu saja? Biar kuberitahu bahwa kau sangatlah tak beruntung karena hal itu. Untuk saat ini aku akan membiarkanmu tenang. Tapi tidak untuk lain kali dam tidak ada kata kain kali dan lagi." Perintah pria bertopeng itu penuh peringatan.
"Baik. Aku akan mengampunimu untuk saat ini. Tapi, kau harus melakukan seperti apa yang aku katakan padamu. Bagaimana?" katanya lagi setelah tiba-tiba sebuah ide muncul diitaknya
"Aku terima... aku terima." Jawab Kaisar cepat.
"Baik. Kau dengarkan dengan baik dan benar karena aku tidak ingin mengulanginya."
"Baik."
__ADS_1
...Bersambung~...