
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dua minggu sudah Reina bekerja di Kenz Corp. selama itu pula Varen selalu menunggunya dipersimpangan jalan. Meskipun tidak banyak hal yang mereka bicarakan selama perjalanan pulang tetapi Reina menikmati setiap kebersamaannya bersam Varen. Sama seperti malam-malam sebelumnya, seharusnya malam ini Reina sudah selesai bekerja dan pulang.
Tapi malam ini Reina masih harus mengikuti meeting bersama bosnya. Pengerjaan proyek yang bermasalah serta membuat sedikit kekacauan di perusahaan yang menyebabkan Verdi sibuk menyelesaikan semuanya. Sebagai sekretaris CEO, Reina pun mau tidak mau harus sigap menemani bosnya bekerja lembur.
Reina melihat keluar jendela kaca ruangannya, langit sudah gelap pertanda siang berganti malam, dia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Reina mulai gelisah karena teringat Varen yang pasti sudah menunggunya dipersimpangan rumah mereka. Sialnya lagi Reina tidak bisa mengabari Varen kalau dia akan pulang terlambat.
Ponsel Reina tertinggal didalam tas sedangkan dia masih diruang meeting. Dia hanya bisa berharap supaya meetingnya segera selesai agar dia bisa pulang. Dia tak mau membuat suaminya khawatir.
“Bagaimana pun caranya masalah mengenai bahan baku ini harus segera kalian selesaikan. Dan untuk pengecekan proyek saya serahkan kepada Pak Bobby. Besok dia sudah kembali bekerja.”
Mendadak hati Reina bergetar saat mendengar nama Bobby disebutkan. Dia teringat dengan mantan suaminya. Tapi Reina tak segera menampik pikirannya, tidak mungkin kan Bobby bekerja di perusahaan yang sama denganya? Seingatnya nama perusahaan tempat Bobby bekerja bukan Kenz Corp tapi SKA Company.
“Kalau kalian sudah paham, meeting hari ini kita sudahi sampai disini. Besok pagi saya ingin laporan dari setiap departemen sudah ada diatas meja kerja saya.” tukas Verdi.
Reina tersenyum lebar, dia sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang dan bertemu dengan suaminya yang entah masih menunggunya dipersimpangan atau tidak.
Ketika Reina akan keluar dari ruangan bosnya, Verdi memanggilnya. “Reina, untuk pertemuan dengan Pak Narenda besok tolong kamu atur ulang jadwalnya. Besok kita harus pergi memantau proyek.”
Reina mengangguk, “Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan rapat bersama dengan tim personalia dan pemasaran? Apa dibatalkan juga? Atau di reschedule ulang?”
“Batalkan saja, saya akan bicara langsung dengan penanggung jawabnya.” ujar Verdi.
Setelah percakapannya dengan atasannya itu selesai, Reina segera keluar dari ruangan Verdi dan bersiap-siap untuk pulang. Hari semakin larut dan akan semakin sulit mendapatkan taksi didaerah ini.
__ADS_1
Tepat ketika Reina memasuki lift, Verdi menyusul masuk kedalam lift. Meskipun Reina sudah sering berada dalam lift yang sama dengan Verdi namun mengingat malam yang semakin larut, Reina merasa tidak nyaman.
“Saya antar kamu pulang. Ini sudah larut, tidak aman bagi wanita naik taksi sendirian jam segini.” tawar Verdi saat Reina hendak keluar dari lift.
“Terima kasih pak. Tapi saya bisa pulang sendiri. Permisi.” tolak Reina. Sekilas dia melirik dan melihat rahang Verdi menegang dan sorot matanya berubah tajam.
Namun Reina tak mengindahkannya, dia takut Varen salah paham jika Verdi mengantarnya pulang. Apalagi ini sudah malam, dia hanya ingin menjaga perasaan suaminya saja. Begitu dia sampai di jalan raya didepan kantornya, kebetulan sebuah taksi lewat dan berhenti tepat didepannya. Reina tidak menyia-yiakan kesempatan langsung naik kedalam taksi.
Dia memberitahu supir taksi alamat tujuannya. Sepanjang jalan dia gelisah sambil melirik ke jam tangannya. Sudah beberapa kali dia mengirimkan pesan dan menghubungi suaminya namun Varen tidak membalas ataupun menjawab panggilannya. “Apa mungkin dia sudah tidur ya?” gumamnya.
Saat taksi yang membawanya sampai dipersimpangan, Reina merasa kecewa karena tidak menemukan sosok Varen menunggunya ditempat biasa. ‘Ah, ini kan sudah lumayan larut ya. Mungkin saja dia sudah pulang.’ batinnya.
Dia memutuskan untuk langsung pulang kerumah. Setelah membayar ongkos taksinya dan berjalan menuju kerumah,
Tanpa ada senyum diwajahnya, melihat wajah kedua orang tuanya membuatnya teringat kembali perlakuan mereka padanya. Kedua orang tuanya yang menghancurkan pernikahan dan juga hidupnya.
Indira dan Chandra heran melihat penampilan Reina dalam setelan kerja. “Akhirnya kamu pulang juga. Tidak perlu sini begitu pada kami.” ucap Indira.
Sedangkan Chandra memicingkan matanya, melihat penampilan putrinya yang tak seperti biasanya. “Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Mana suamimu yang tak berguna itu?” tanyanya.
“Aku baru pulang kerja. Varen mungkin ada didalam.” sahut Reina tanpa sedikitpun rasa hormat.
Chandra dan Indira terkejut mengetahui Reina sudah bekerja. Namun mereka tidak memperlihatkannya, dan masih seperti biasa memandang Reina dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
“Di dalam tidak ada orang. Kami sudah mengetuk berkali-kali tapi tidak ada yang menjawab.”
Reina mengeryit tak percaua, dia membuka pintu dan mengajak kedua orang tuanya masuk dan menawari mereka minum tapi ditolak. Padahal Reina pun hanya sekedar basa basi saja pada mereka.
“Kami berdiri saja. Sofamu sudah tua, takutnya berdebu nanti baju kami kotor.” tolak Indira lagi.
Reina merasa tersinggung dengan kata-kata ibunya.
Tapi dia menahan diri agar tidak terpancing emosi dan ribut dengan mereka. Dia beranjak pergi untuk memanggil suaminya. “Varen?” panggilnya membuka pintu kamar.
Tak ada siapapun di kamar, dia mengecek kamar mandi juga kosong. Varen benar-benar tidak ada dirumah.
“Suamimu ada?” tanya Indira saat melihat Reina keluar dari kamar.
“Tidak ada. Mungkin masih dijalan.” jawab Reina.
“Dijalan? Lihat pa, apa kata mama? Varen itu pasti menjadikan anak kita sapi perahnya. Ini sudah terbukti kan? Jam segini Reina baru pulang kerja tapi suaminya kelayapan entah kemana. Enggak jelas! Untung saja Elora sudah menikahi Bobby!”
“Varen tidak kelayapan! Jangan sembarangan bicara. Dia hanya belum pulang, biasanya juga dia sudah dirumah jam segini.” Reina membela suaminya. Dia tidak terima kedua orang tuanya berprasangka buruk tentang suaminya. Memangnya apa hak mereka mencampuri hidupnya? Toh mereka sendiri yang membuangnya?
“Alaaaa…..nggak usah kamu bela-belain suamimu yang pemalas itu. Dari dulu kelakuannya memang tidak pernah berubah. Selalu saja hidup dibawah ketiak istri. Kerja tidak, tahunya hanya main ponsel saja. Kerjaan tidak jelas begitu.” ejek Indira. "Suami begitu kamu bela-belain. Ya, kaluan berdua memang cocok! Ssma-sama tidak berguna!"
“Cukup! Varen tidak seperti itu? Apa kedatangan kalian kesini untuk mengejek dan menghinanya?”
Reina menarik napas berusaha meredam gejolak emosinya.
__ADS_1
Tuduhan orang tuanya bahwa Varen hidup dibawah ketiak istri adalah salah besar. Karena selama ini Varen selalu memenuhi semua kebutuhannya dengan sangat baik. Dia memberikan uang pada Reina setiap harinya.