
Samara mendengus, “Kalian menolak tawaran,u? Baiklah aku harap kalian tidak akan menyesal.” Lalu Samara bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kedua besannya.
“Keluarga yang menarik.” gumamnya dengan senyum diwajahnya. Setelah Samara keluar dari cafe Chandra Hasena dan Indira bernapas lega.
Duduk berhadapan dengan Samara membuat jantung mereka berdegup kencang karena aura menakutkan yang keluar dari tubuh Samara.
“Sekarang mama tahu darimana sikap dingin Varen berasal. Mereka benar-benar mirip bahkan ekspresi wajah dan cara bicara mereka pun sama.” gumam Indira menilai.
“Mama benar. Tapi papa jadi kasihan kepada Reina. Dia harus berurusan dengan orang-orang dingin seperti keluarga Bimantya.” sahut Chandra.
Keduanya pun saling melempar pandang dan mulai merasa khawatir serta iba pada nasib putri mereka. Sementara itu Samara menatap uang lima lembar berwarna merah ditangannya.
Dia terkejut Reina akan mengganti biaya pengobatannya tapi Reina lebih terkejut dengan sikap kedua orang tua Reina yang menolak tawarannya mentah-mentah. Siang tadi Samara sengaja menabrakkan diri ke taksi yang ditumpangi Reina. Dia ingin mengetahui sifat asli menantunya dan memastikan kehamilannya.
Namun kedatangan Kaifan mengacaukan tujuannya. Samara menatap luka di telapak tangannya. ‘Ternyata wanita itu cukup ramah.’ batinnya.
“Ramah?” dengus Samara mengepalkan tangannya yang terluka. “Sepertinya aku semakin tua. Sampai-sampai aku lupa kalau kemarahan bisa dibuat-buat.” gumamnya lagi.
‘Ingat dulu! Ivanna juga bersikap ramah sama seperti Reina.’ bisik hatinya mengingatkan pikirannya yang mulai goyah. Mobil yang ditumpangi Samara memasuki kediamannya.
Terlihat taksi yang menabraknya tadi siang sudah terparkir di pekarangan rumah. Samara turun dari mobil dan berjalan menuju supir taksi yang tengah menunduk hormat kepadanya.
“Nyonya---”
PLAK!……...sebuah tamparan keras bersarang diwajah supir taksi itu.
“Kenapa kau sampai lengah, hah? Gara-gara kamu Varen jadi terluka. Seharusnya kamu sudah bisa memprediksi serangan balik dari pria itu.” geram Samara. Dia kesal dengan kecerobohan yang dilakukan Tanta. Seharusnya Tanta bisa mencegah kedatangan Kaifan kerumah cucunya.
“Maaf Nyonya.” ucap Tanta sambil menunduk. Dia sadar diri telah lalai menjalankan tugasnya karena terlalu kaget dengan kejadian yang menimpa nyonya besarnya.
Saat Reina membawa Samara masuk kerumahnya, Tanta memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Varen jadi dia tidak melihat kedatangan Kaifan.
__ADS_1
“Dimana pria itu sekarang?” tanya Samara.
Tanta menunduk dalam-dalam, “Dirumah singgah Nyonya. Anak buah kita sedang menjaganya.”
Samara berpikir sejenak menimbang-nimbang untuk mengambil keputusan yang akan diambil untuk Kaifan. Sebelumnya Samara sudah meminta Ezra untuk mencari tahu identitas Kaifan.
Dan dia terkejut saat mengetahui jika Kaifan adalah salah satu karyawan di perusahaannya. “Beri pria itu pelajaran. Pastikan dia tidak mengganggu cucuku lagi! Satu lagi, perketat penjagaan dirumah Varen. Aku tidak mau terjadi seesuatu dengan kandungan wanita itu.” ujar Samara melangkahkan kakinya menuju kerumah.
Tadi siang ketika didalam taksi, Samara melihat rujak yang dibeli Reina dan itulah mengapa dia yakin kalau menantunya itu sedang hamil. “Ezra!” panggil Samara seraya mendudukkan dirinya di sofa.
“Iya Nyonya Besar.” sahut Ezra.
“Urus pemecatan Kaifan dan jangan sampai pria itu mengganggu istri Varen lagi.”
“Baik Nyonya Besar.” Ezra mengangguk.
Setelah beberapa hari tidak berkutat di dapur. Pagi ini Reina kembali menyibukkan diri dengan memasak. Mengingat luka diwajah Varen membuatnya kesusahan mengunyah jadi Reina berencana untuk memasak telur dadar dan sup ayam krim jagung sebagai menu sarapan mereka.
“Reina…..kamu sungguh akan masuk kerja hari ini?” tanya Varen disela kesibukan istrinya memasak.
“Tentu saja aku sudah terlalu lama ijin tidak kerja.” jawab Reina seraya membawa hasil masakannya ke meja makan. Reina merasa kesehatannya sudah mulai pulih jadi dia memaksa untuk pergi bekerja. Lagipula kemarin Varen sudah berjanji akan memperbolehkannya pergi bekerja setelah istirahat satu hari.
“Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu.” ucap Varen terdengar khawatir dalam nada suaranya.
Reina tidak menolak tawaran suaminya karena sebenarnya dia takut akan bertemu Kaifan di kantor. Dia yakin pria itu tidak akan berhenti mengganggunya begitu saja. Tapi tidak masuk kerja juga bukan solusi untuk menghindarinya, mengingat hari pernikahan semakin dekat.
Dan Reina harus segera mengumpulkan uang agar bisa mempersiapkan bulan madu mereka.
“Eugghhh!” Varen meringis kesakitan ketika berusaha membuka mulutnya.
Pukulan Kaifan membuatnya kesakitan ketika mengunyah makanan atau sekedar menyuapkan makanan. Reina segera berdiri dan mengambil sendok yang ukurannya lebih kecil.
__ADS_1
“Coba pakai sendok ini saja.” Reina menyendok sup dan menyodorkan kemulut suaminya. Varen tertegun dengan ekspresi mematung. Jarak wajah Reina dan dirinya sangat dekat karena posisi Reina yang berdiri di sampingnya dengan badan membungkuk sambil mengacungkan sendok ditangannya.
“Aku bisa makan sendiri.” ucap Varen dengan suara yang mendadak parau.
Dia hendak meraih tangan Reina untuk mengambul sendok namun Reina malah menghindarinya.
“Cepat buka mulutmu!” tuntut Reina tanpa sedikitpun menjauhkan diri dari wajah suaminya. Dia ingin memastikan separah apa rasa sakit suaminya ketika membuka mulut.
Varen menggerakkan mulutnya, dia berusaha untuk tidak meringis namun gagal. Urat kepalanya terasa seperti ditarik hingga menimbulkan rasa sakit diseluruh wajahnya.
“Pakai sedotan saja.” ucap Reina seraya kembali ke dapur untuk mengambil sedotan. “Makan pelan-pelan.” Reina meletakkan sedotan di mangkuk Varen seraya mengusap punggungnya dengan lembut. Kemudian dia kembali duduk di kursinya.
Tubuh Varen mematung saat Reina menyentuhnya. Debaran jantungnya semakin cepat sehingga membuat seluruh darahnya terpompa menjadi hangat dan menimbulkan sensasi menggelitik di seluruh tubuhnya. Bulu-bulu ditubuh Varen meremang dan sesuatu yang menyenangkan memenuhi hatinya. Varen bahagia mendapat perhatian dari istrinya.
...*****...
“Aku masuk dulu ya, Varen.” Reina pamit kepada suaminya ketika mereka sudah sampai didepan lobi. Seakan tidak mau berpisah, jalinan tangan mereka semakin menguat. Reina seakan tidak rela kehilangan genggaman tangan Varen ditangannya. Sebenarnya Reina takut jika Kaifan akan menemuinya setelah Varen pergi.
“Apa aku harus mengantarmu sampai kedalam?” tanya Varen. Reina menjawab dengan gelengan kepalanya. Penolakan Reina berbanding terbalik dengan remasan tangannya yang semakin kuat.
“Aku akan mengantarmu sampai ke lantai tempat kerjamu.” sambung Varen lagi.
Kepala Reina mendongak lalu mengelengkan kepalanya.
“Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri.” Reina tidak mau kedatangan Varen menjadi bahan perbincangan rekan kerjanya. Dia sadar semenjak dirinya dan Varen turun dari taksi, tatapan mata semua orang tertuju padanya.
“Aku masuk dulu ya.” pamit Reina seraya melepaskan genggaman tangan suaminya. Kemudian dia melangkah pergi memasuki gedung kantornya.
Terlihat dua orang satpam menyapanya dengan ramah.
“Apa yang kamu lakukan berdiri disini?” suara seorang wanita membuyarkan lamunan Varen yang tegas fokus menatap istrinya yang menghilang dibalik pintu masuk gedung perusahaan. Varen menatap dengan ekspresi datar melihat Elora dan Bobby yang berdiri disampingnya.
__ADS_1