TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 54. KERAGUAN


__ADS_3

Felix mendengus kesal sekaligus merasa lucu dengan sikap sepupunya itu. Rasa khawtair Varen yang berlebihan membuatnya terlihat lebih menyebalkan sekarang. “Aku hanya…...”


Belum selesai Felix berbicara Varen sudah memotong perkataannya terlebih dahulu.


“DIAM!” ucapnya dengan penuh penekanan.


 Felix pun akhirnya terdiam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat seraya menahan senyumnya.


 


Pintu ruangan IGD terbuka dan Varen langsung menghampiri dokter, “Bagaimana keadaan istri saya?”


“Istri anda mengalami stress ringan. Dia juga kelelahan, saya sarankan agar dia lebih banyak istirahat dan makan yang bergizi. Jangan terlalu banyak pikiran.” jawab dokter.


 


“Baik dok.apa saya sudah bisa menemuinya?” perasaan Varen tidak tenang sebelum dia melihat keadaan Reina dan memastikan sendiri kalau istrinya itu baik-baik saja.


“Silahkan.” jawab dokter sembari tersenyum.


Varen pun segera masuk kedalam ruangan, dia melihat Reina yang masih terbaring dengan mata terpejam. Varen menarik kursi lalu duduk disamping ranjang.


Tangan kirinya terulur mengusap keringat yang mengalir di dahi istrinya dan tangan kanannya bertaut dengan tangan kanan istrinya yang terkulai lemas.


“Aku sempat melihat Reina berbicara dengan Elora. Aku sangat yakin Elora mengatakan sesuatu untuk mengganggu Reina.” ucap Varen ketika dia mengingat saat Elora keluar dari kantornya.


 


Reina menghampiri kakaknya dan mengatakan sesuatu padanya, Reina bahkan mengejar Elora sampai ke depan lift. Varen mengeryitkan keningnya menatap Reina, dia merasa penasaran pada apa yang sebenarnya terjadi tadi? Kenapa Reina berlari mengejar Elora dengan ekspresi cemas?


“Apa mereka memang selalu tidak akur? Nampaknya Reina tidak terlalu menyukai kakaknya.” tanya Felix yang juga mulai merasa penasaran.


 


“Entahlah. Sifat mereka berdua memang berbeda dan bertentangan. Tapi Reina biasanya lebih banyak mengalah.” jawab Varen seraya mengingat ketidakberdayaan Reina saat Elora merebut Bobby darinya. “Lebih tepatnya tidak ada seorangpun di keluarganya yang membelanya.” sambungnya lagi.


 


Felix pun mengangguk paham. Dia bisa membayangkan perbedaan sifat keduanya. Elorea memang wanita egois dan agresif berbeda dengan Reina yang lebih halus dan pengertian.


“Aku akan mencari tahu percakapan mereka melalui rekaman CCTV kantor.” ujar Felic.


Kemudian dia memperhatikan Varen yang masih memakai setelan kerjanya dengan manik biru yang belum tertutup lensa mata. “Apa kamu baik-baik saja dengan penampilan seperti ini?”


 

__ADS_1


Varen menoleh pada sepupunya. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Felix. “Reina memanggilku dengan Varen sebelum dia pingsan. Mungkin dia sudah mengenaliku.” jawab Varen terdengar ragu.


“Benarkah? Apa mungkin itu yang menyebabkan Reina stress?” tanya Felix mengeryit.


 


Varen menatap Felix yang menatapnya intens, Varen menautkan alisnya dan berpikir mungkin apa yang dikatakan Felix ada benarnya juga. Mungkin saja dia yang membuat Reina pingsan karena kaget mengetahui kebenaran tentang suaminya.


“Apa yang harus kukatakan jika Reina meminta penjelasaan saat dia sadar nanti? Apa dia akan marah dan membenciku?” Varen mengungkapkan ketakutannya yang tiba-tiba saja muncul.


 


Reina mengeryit, dia mencium aroma disinfektan menyeruak ke indera penciumannya. Sayup-sayup dia mendengar suara dua pria yang sedang mengobrol lalu perlahan dia pun membuka matanya.


“Aku harap Reina akan memaafkan aku.”


“Pak Verdi?” panggil Reina dengan suara parau. Matanya mengerjap-ngerjap menjernihkan pandangannya. Setelah beberapa saat pandangan matanya sudah normal kembali dan menatap Verdi.


“Kamu bangun? Apa kamu…..”


 


Reina tersentak saat menyadari kalau tangan Verdi tengag menggenggam tangannya. “Kenapa bapak pegang-pegang tangan saya?” ketusnya sambil menyentakkan tangan Verdi dan berusaha untuk bangun. Verdi pun tertegun lalu segera membantu Reina untuk duduk.


“Issshhh….apaan sih? Jangan pegang-pegang!” ujar Reina menepis tangan Verdi yang hendak membantunya untuk duduk. Reina menatap Felix dan Verdi secara bergantian dan mengeryit.


 


“Kamu tidak ingat? Kamu pingsan!” sahut mereka berbarengan. Lalu keduanya saling lempar pandang kebingungan bagaimana harus bereaksi karena sepertinya Reina tidak ingat apa-apa.


“Pingsan?” Reina mengulang perkataan kedua bosnya itu.


 


Reina menautkan alisnya mencoba untuk mengingat kejadian terakhir yang ada dalam kepalanya. Reina ingat ketika dia akan pulang dia berjalan menuju ke lift dan setelah itu.


“Varen?” pekik Reina seraya membulatkan matanya. Tubuh Varen/Verdi pun langsung menegang. Hatinya sudah bersiap untuk menerima kemarahan dan amukan Reina.


 


“Ponsel dan tas saya ada dimana?” tanya Reina seraya celingukan mencari-cari.


“Ada di mobil saya. Kenapa?” tanya Felix tergagap. Dia bingung dengan reaksi Reina yang mendadak saja panik dan terlihat sangat cemas.


“Suami saya pasti sudah menunggu saya pulang. Tolong pinjam ponselnya, saya mau menelepon.” pinta Reina seraya mengulurkan tangannya kepada Verdi.

__ADS_1


 


Pria itu pun menautkan alisnya, dia bingung dengan sikap Reina yang seolah tidak mengenalinya. Padahal jelas-jelas tadi Reina memanggilnya Varen sebelum dia pingsan. Felix pun melongo ikutan bingung menatap sikap Reina yang terlihat aneh.


“Mana? Pinjami saya ponsel!” pinta Reina dengan gemas bercampur cemas.


 


Varen terlonjak dan refleks dia mengeluarkan ponselnya. Ketika dia memberikan ponselnya pada Reina , dia ingat kalau itu adalah ponsel suami Reina. Varen kembali menarik tangannya.


“Kenapa saya harus meminjamkan ponselku?” dia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jasnya.


 


Reina tercegang, bosnya ini ternyata pelit sekali. Sambil mendengus kesal dia menatap Felix. “Pak Felix, tolong pinjami saya ponsel ya.” pintanya dengan nada memelas.


Felix pun terlihat semakin bingung dengan situasinya tapi dia segera memberikan ponsel pada Reina.


“Terima kasih.” ucap Reina tersenyum lalu dia menatap Verdi dengan tatapan sinis. “Dasa pelit! Huh!”


 


Reina menekan nomor telepon suaminya. Keningnya mengeryit ketika nomor ponsel Varen muncul didalam daftar kontak milik Felix.


“My-Cous?” Reina membaca nama yang tertera pada ponsel bosnya. “Bapak mengenal suamiku?” tanya Reina dengan kening berkerut.


 


“Hah? Maksudnya?” Felix melongo dan bingung harus menjawab apa. Dia melirik Varen yang sedang mengelus tengkuknya.


“Varen Saskara?” Felix bertanya seraya memaksakan senyumnya. Reina pun mengangguk.


“Ke---kenal.” ucap Felix tergagap seraya menatap Varen yang terlihat kebingungan. Felix kembali memaksakan senyumnya. “Jadi Varen itu suami kamu?”


 


“Iya. Varen adalah suamiku. Bapak kenal suamiku dimana?” tanya Reina sambil menunggu teleponnya tersambung. Felix semakin kebingungan namun Varen pun ikut lebih bingung lagi.


Belum lagi kebingungan mereka hilang, suara getar ponsel Varen mengagetkan ketiganya. Varen pun langsung mengeluarkan ponselnya.


 


Terlihat nama ‘Felix’ muncul di layar ponselnya, dia bingung harus bagaimana. Apakah harus mengangkat atau menolak panggilan istrinya itu. Sedangkan Reina menggeram kesal, “Bapak tidak lihat itu panggilan masuk? Suara getar ponsel bapak benar-benar mengganggu saya.”


 

__ADS_1


Varen menaikkan kedua alisnya dan berinisiatif untuk keluar ruangan. “Maaf.” ucapnya seraya keluar.


“Kenapa tidak diangkat sih? Apa Varen tidak pegang ponsel ya?” gumam Reina terdengar khawatir. Dia kembali mencoba menghubungi Varen. Tak lama nada sambung kembali terdengar.


__ADS_2