
“Reina apa kabar? Kapan kamu masuk kerja lagi? Aku sangat merindukanmu, sudah beberapa hari tidak melihatmu membuatku merasa kehilangan.”
Reina langsung menjauhkan ponselnya melihat nama orang yang memanggilnya. Matanya membulat saat melihat nama Kaifan HRD tertera dilayar ponselnya.
Varen memicingkan matanya merasa curiga. “Siapa yang menelepon?” suaranya terdengar datar.
“Hah?” Reina menatap suaminya dengan ragu-ragu dia membalikkan layar ponsel.
“Sialan!” umpat Varen langsung berdiri merebut ponsel istrinya. “Sudah berapa kali aku bilang jangan pernah ganggu istriku! Apa kamu tuli hah? Dengar ya, aku tidak akan segan-segan menghajarmu jika kamu masih mengganggu istriku!” Varen pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Reina tercengang melihat kemarahan suaminya, Varen benar-benar marah dan wajahnya terlihat merah padam. Baru pertama ini Reina melihat kemarahan Varen yang selama ini hanya memasang wajah datarnya. “Kamu marah?” tanya Reina ragu-ragu.
Varen berbalik untuk menatap makanan istrinya. “Habiskan makananmu lalu bersiap. Aku pergi keluar sebentar.” ucapnya kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
“Varen! Sarapanmu----” kata-kata Reina terpotong saat melihat suaminya menghilang dibalik pintu. “Dia benar-benar marah? Hanya karena telepon dari Kaifan?” dengus Reina. Tatapannya tertuju pada piring Varen yang baru tersentuh sedikit. “Kemana dia pergi?” tanya Reina menatap kearah pintu yang tertutup.
Sementara itu Varen menghampiri taksi yang biasa berada disekitar rumahnya. Dia membuka pintu mobil itu dengan kasar. “Antarkan aku ke alamat rumah Kaifan.” perintahnya.
Tanta terlonjak melihat kedatangan tuannya yang tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang merah padam. Tanta pun segera melajukan mobilnya tanpa suara.
Berapa lama untuk sampai disana?” tanya Varen sambil menatap jam tangannya yang saat ini menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
“Sekitar satu jam...” jawab Tanta.
“Dia mungkin sudah berangkat ke kantor kalau satu jam. Pastikan lokasinya.” potong Varen.
Tak lama terdengar suara Tanta yang sedang menghubungi seseorang. Sedangkan Varen menyangga kepalanya sraya menghadap keluar jendela.
Jarang sekali dia merasakan emosi yang meledak-ledak seperti ini. Varen tidak tahu pasti apa penyebabnya tapi dia paling tidak suka jika pria lain mengganggu istrinya. Pandangan mata Varen jauh menatap keluar jendela dengan pikiran yang melayang.
__ADS_1
“Lokasi mobil Kaifan masih berada disekitaran rumahnya Tuan Muda.” ujar Tanta membuyarkan lamunan Varen.
“Percepat mobilnya!” titahnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Mendengar perintah tuannya, Tanta langsung menginjak pedal gasnya melaju kencang. Sekali-kali dia mencuri pandang kearah majikannya itu yang tampak sedang berpikir keras,
Tanta mengeryit melihat majikannya yang terlihat marah, biasanya Varen selalu bisa mengendalikan emosinya. Dia jarang sekali memperlihatkan kemarahannya. Tapi kali ini terlihat berbeda.
Ciiiitttttt! Braakkkkk!
Tanta memotong laju mobil Kaifan yang sedang melaju lalu sengaja menyenggol mobil itu dengan keras pada ujung depannya. Terdengar suara Kaifan yang memaki dan mengumpat sambil keluar dari mobilnya dengan wajah marah.
Dengan langkah cepat Varen menghampiri Kaifan yang masih mematung menatapnya. Tanpa aba-aba Varen langsung melayangkan pukulannya ke wajah Kaifan.
Buggg! Bugggg!
Kaifan mundur beberapa langkah seraya memegang bibirnya yang berdarah. Tanpa memberikan jeda Varen kembali mendaratkan pukulan ke rahang dan pipi Kaifan tanpa henti.
“Anggap saja ini sebagai peringatan. Sekali lagi kamu berani mengganggu istriku lagi, bukan hanya dua jarimu saja yang patah tapi seluruh tulangmu akan ku hancurkan.”
KRAAAKKK! Terdengar suara patahan yang disertai suara teriakan Kaifan yang kesakitan. Tanpa mempedulikan keadaan Kaifan, Varen pun langsung masuk kedalam mobilnya dan memerintahkan Tanta untuk melajukan mobil. Dia tidak mau dikenali orang karen sudah menghajar Kaifan.
“Perintahkan mereka untuk membersihkan semuanya. Aku tidak mau terkena masalah karena ini. Awasi juga laki-laki itu mulai dari sekarang.”
Tanta mengangguk dan kembali menghubungi anak buahnya. Terlihat beberapa orang turun dari mobil dan menghampiri mobil Kaifan.
“Antarkan aku pulang.” pinta Varen dengan nada yang lebih tenang. Tanpa diperintah dua kali Tanta segera melajukan mobilnya. Sekilas dia melirik melalui spion wajah Varen yang kembali datar seperti biasanya.
Tanta hanya bisa tersenyum tipis, tak pernah dia sangka Tuan Mudanya itu akan menghajar seseorang untuk istrinya. ‘Anda banyak berubah Tuan Muda.’ bisik hatinya.
__ADS_1
...********...
Reina menunggu kepulangan Varen didepan rumah sambil berjalan mondar mandir. Sudah satu jam lebih Varen pergi tapi dia belum juga kembali. Reina memanjangkan lehernya melihat kearah jalan.
“Kemana sih dia pergi?” gumam Reina cemas. Apalagi dia tidak bisa menelepon suaminya karena Varen tidak membawa ponselnya.
Reina segera berlari keluar gerbang rumahnya saat dia melihat sebuah taksi berhenti didepan rumahnya. Varen segera turun dari taksi dan melangkah menuju rumahnya. “Kamu darimana saja sih Varen?” tanya Reina menatap wajah Varen yang terlihat biasa saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun.
“Aku keluar sebentar cari angin! Pakai sepatu olahragamu lalu kita pergi.” ujar Varen singkat. Dia menilik penampilan istrinya lalu menari tangan Reina menuju kedalam rumah.
Reina berjalan sambil menatap suaminya. “Aku kan masih sakit varen? Sepertinya aku belum kuat untuk berolahraga.”
Varen menghentikan langkahnya dan menatap Reina seraya menahan senyumnya. Reina memang bukan tipe orang yang suka berolahraga, tidak seperti dirinya. “Kita hanya bersepeda berkeliling taman saja. Bukan olahraga berat. Cepatlah ganti pakaianmu.” ucap Varen seraya melanjutkan kembali langkahnya memasuki rumah.
Reina menghela napas lega, bersepeda jauh lebih baik daripada harus berlari keliling taman seperti waktu itu. Dia tidak suka berlari dan kecapekan. Dengan cepat dia pun mengganti pakaiannya.
Tak lama, mereka sudah sampai di taman. “Naik.” perintah Varen. Reina menggelengkan kepalanya karena dia takut naik sepeda. Sejak kecil tidak ada yang mengajarinya naik sepeda sehingga dia tidak pandai naik sepeda. “Cepatlah naik! Tidak akan jatuh. Aku akan memegang sepedanya dengan kuat. Kamu hanya mengayuh saja.” bujuk Varen.
Reina kembali menggeleng. “Nanti kalau aku jatuh pasti sakit. Bisa berdarah! Aku tidak suka lihat darah, Varen.”
“Aku janji tidak akan membuatmu jatuh. Percayalah padaku.” bujuk Varen lagi seraya menarik lengan istrinya dan memaksanya naik keatas sepeda. Dengan terpaksa Reina menaiki sepeda yang sudah disewa Varen.
Andai saja dia tahu kalau jalan-jalan yang dimaksud Varen adalah belajar naik sepeda, mungkin Reina akan memilih diam dan tidur dirumah saja.
“Varen! Jangan dilepas ya, aku takut!” jerit Reina saat sepeda yang dia kendarai mulai bergerak. Jantungnya berdetak kencang saat sepeda itu melaju semakin cepat. Sementara Varen yang mendorong dari belakang hanya menahan tawa.
__ADS_1