TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 78. DUA ANAK SAJA


__ADS_3

‘Apa ada terjadi sesuatu? Kenapa belum pulang?’ Varen,


Tak lama Tanta membalas pesannya. ‘Nyonya ingin menenangkan diri. Saya juga tidak paham.’


Varen menghela napas seraya memperhatikan istrinya baik-baik. Reina tampak berjalan mondar mandir sambil mengepalkan tangan seperti sedang menggerutu.


 


Terkadang dia mengatur pernapasannya seperti akan melakukan olahraga. Varen meraih ponselnya lalu menghubungi istrinya. Terlihat Reina memasukkan sebagian tubuhnya kedalam mobil lalu keluar.


“Dimana kamu?” tanya Varen.


“Masih didepan kantor.” jawab Reina.


 


“Apa terjadi sesuatu padamu? Seharusnya kamu sudah dijalan sekarang. Haruskah aku menjemputmu?” tanya Varen menawarkan diri.


“Tidak perlu! Aku akan pulang sekarang Varen….” jawab Reina.


“Hem? Ada apa?”


Hening sejenak hanya terdengar suara helaan napas panjang. “Tidak apa-apa. Tunggu aku ditempat biasanya ya.” ucap Reina.


 


“Baiklah. Hati-hati dijalan.” ucap Varen memutuskan sambungan teleponnya. Setelah memastikan Reina menaiki taksi dengan aman, dia pun melajukan mobilnya menyusul Reina pulang.


Rasanya dia tidak sabar bertemu istrinya yang selalu tersenyum manis padanya. Varen sengaja meminta Tanta melajukan mobilnya dengan santai.


 


Agar Varen bisa sampai ketempat tujuan lebih dulu walau mereka berangkat dalam waktu bersamaan. Begitu sampai di persimpangan, Varen segera memasuki tempat penitipan mobil dan merubah penampilannya. Ada kegetiran didalam hatinya ketika melihat tampilan wajahnya di cermin.


“Maafkan aku Reina. Kalau cara seperti ini bisa membuatku tetap berada disampingmu. Aku akan terus melakukannya.” gumam Varen.


 


Varen meraih mantel milik istrinya kemudian segera keluar dari mobil. Dia berlari menuju tempat biasa menunggu istrinya pulang. Setelah beberapa menit taksi yang ditumpangi Reina berhenti dihadapannya.


“Kamu sudah menungguku lama ya?” tanya Reina dengan senyum manisnya yang mengembang menatap suaminya.


 


Varen tersenyum tipis, hatinya merasa lega melihat senyum istrinya. “Aku baru sampai beberapa menit yang lalu.” jawabnya sambil mengambil tas tangan istrinya dan memasangkan mantel.


“Ayo pulang.” ajak Reina yang dijawab Varen dengan anggukan. Dia menggenggam tangan kiri istrinya dan berjalan berdampingan.


 


“Varen…..” panggil Reina dengan suara yang agak ragu. “Haruskah kita buru-buru punya anak setelah menikah? Bukankah mengandung dan merawat anak butuh biaya besar? Aku tidak mau anak kita kekurangan apapun.” ucap Reina terlihat ragu. Mendengar ucapan istrinya membuat Varen tersenyum seraya mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1


 


“Apa selama hidup denganku kamu merasa kekurangan?” tanya Varen tersenyum. Reina menghentikan langkahnya dengan kening berkerut dan kedua alisnya bertaut.


Jika dipikir-pikir apapun yang dia butuhkan maka Varen selalu memenuhi. Varen bahkan memberikan lebih daripada yang Bobby pernah berikan padanya.


 


Baik dari segi materi ataupun hal lainnya. Reina dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak! Aku tidak merasa kekurangan apapun.”


“Kalau begitu apa yang kamu takutkan? Sebanyak apapun anak yang akan kamu lahirkan nanti aku akan memenuhi kebutuhan kalian dengan baik. Jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” sahut Varen menatap Reina dengan sorot mata tenang.


 


Senyum Reina langsung mengembang. “Kalau begitu aku mau punya dua anak. Kalau bisa kembar jadi sekali melahirkan langsung dapat dua. Irit waktu! Hehe….” ucap Reina seraya melangkahkan kakinya seraya terkekeh.


“Hanya dua? Tidak dua puluh?”


“Kamu pikir mengandung dan melahirkan itu mudah? Aku bukan sapi beranak banyak!”


 


“Bagaimana kalau dua belas saja?” Varen kembali menggoda istrinya.


“VAREN!”


“Tambah dua lagi saja ya?” tawar menawar Varen pun berlangsung.


“Tidak! Kita harus mengikuti program pemerintah, dua anak cukup!”


 


“Baik baik…..satu lagi saja tidak boleh lebih.”


“Oke! Semoga setiap anak yang kamu lahirkan nanti kembar!”


“VAREN!”


 


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari minggu tiba dan Varen mengajak Reina untuk berolahraga. Pagi-pagi sekali Reina dan Varen sudah keluar dari rumah memakai sepatu dan setelah olahraga.


Walau sebenarnya Reina setengah hati menyetujui ajakan suaminya tapi melihat Varen yang bersemangat akhirnya dia pun mengayunkan langkah berlari menuju taman.


 


Sesampainya ditaman terlihat suasana masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang melakukan skipping dan beberapa orang lainnya berlari mengitari taman. Reina merasa kecewa saat tidak menemukan penjual makanan yang biasanya mangkal disana.


“Sudah aku bilang, ini masih terlalu pagi untuk olahraga.”


 

__ADS_1


Reina menggerutu seraya melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 04.50 pagi. Sesekali Reina menguap seraya menggeliatkan tubuhnya. Rasanya dia ingin kembali pulang dan bergelung dibawah selimutnya.


“Lari keliling taman tiga putaran atau menaiki tangga?” tanya Varen yang sedang melakukan gerakan pemanasan.


 


“Tidak mau dua-duanya. Aku capek mau duduk manis saja.” jawab Reina seraya duduk dikursi taman.


Varen menghentikan gerakannya. “Tidak ada pilihan untuk duduk. Lari keliling taman tiga putaran atau menaiki tangga?” ulangnya lagi dengan tegas membuat Reina mendelikkan matanya.


“Hari libur seharusnya aku malas-malasan dikamar, Varen! Bukannya membuang waktu untuk olahraga. Seharusnya aku istirahat untuk meluruskan pinggangku yang sakit.” ujar Reina seraya menepuk-nepuk pinggangnya.


 


Duduk seharian di kantor membuat pinggang Reina pegal dan nyeri. “Karena itu aku mengajakmu olahraga. Sakit pinggang tidak hanya cukup diistirahatkan saja. Kamu harus banyak bergerak supaya sakitmu berkurang. Ayo berdiri!” Varen mengulurkan tangannya.


“Aku masih lelah Varen. Baru saja kita sampai. Tolong beri aku waktu untuk duduk sejenak. Tidak perlu terburu-buru waktu kita masih panjang. Aku libur seharian.” ketus Reina sebal.


 


Varen menghembuskan napasnya, memang tidak mudah membujuk istrinya untuk hidup sehat. “Baiklah! Tapi kamu harus tetap memilih mau lari keliling taman tiga putaran atau menaiki tangga? Apa mau dua-duanya?”


Reina mendelik kesal, diajak alan santai keliling taman saja belum tentu dia mau apalagi harus melakukan dua aktivitas yang melelahkan itu.


 


Mata Reina melihat ke sekeliling taman yang terasa amat luas baginya. ‘Berlari tiga putaran sama saja bunuh diri.’ bisiknya dalam hati.


“Tangga mana yang akan kita naiki?” tanya Reina seraya mendongak menatap suaminya. Varen mengarahkan telunjuknya kearah tangga diujung taman. Tangga itu merupakan jalan menuju ke monumen kota.


 


“Naik tangga saja.” jawab Reina cepat. Senyumnya mengembang kala melihat ukuran tangga yang tidak terlalu tinggi. “Hanya satu kali saja kan?” tanya Reina bersemangat.


Varen mengangguk nampak senyum tipis diwajahnya. “Ya. Satu kali saja sudah cukup. Tapi janji ya tidak boleh protes nanti.” ucapnya seraya mengulurkan jari kelingkingnya.


 


Dengan cepat Reina mengaitkan kelingkingnya. “Janji.” ucapnya yakin.


“Kalau begitu aku lari duluan dua putaran setelah itu baru kita pergi kesana.” Varen pun meninggalkan Reina yang duduk dikursi taman sambil memperhatikan suaminya. Bibir Reina melengkung melihat tubuh atletis suaminya yang bergerak dengan gaya memukau.


 


Tubuh Varen terlihat indah dan menggiurkan. Ototnya yang padat, dada yang bidang dan bahunya yang lebar membuat pikiran Reina berkelana menuju kegiatan yang akan dilalui sebulan lagi.


Sungguh! Reina sudah tidak sabar menantikan malam pertama mereka. Karena itu dia bersikeras mengumpulkan uang untuk bisa pergi bulan madu.


 


Dia ingin malam pertamanya bersama Varen akan meninggalkan kenangan indah yang berkesan. Walau Reina bukan perawan tapi mengingat suaminya yang masih perjaka.

__ADS_1


Dia berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk Varen. Wajah Reina tiba-tiba menjadi panas membayangkan semua rencananya.


“Kamu sakit? Kenapa wajahmu memerah?”


__ADS_2