
Reina sangat terkejut karena mobil yang ditumpanginya hampir saja menabrak orang, apalagi orang itu adalah nenek dari bosnya. Reina mulai merasa khawatir kalau kejadian ini akan berpengaruh pada pekerjaannya nanti.
“Apakah rumahmu masih jauh?” tanya Samara terlihat bulir keringat didahinya.
“Seharusnya sudah hampir sampai.” jawab Reina seraya melirik jam tangannya. Perjalanan mereka lebih dari sepuluh menit tapi belum juga sampai. Apa yang terjadi?
Reina terhenyak saat menyadari bahwa kecepatan mobil yang Tanta bawa. Pantas saja tidak sampai-sampai karena mobilnya berjalan seperti siput, batin Reina. Saking tegangnya duduk bersebelahan dengan Samara sampai Reina tidak sadar jika mobilnya melaju sangat pelan.
“Pak, bisa tolong tambah kecepatan mobilnya? Tolong yalakan AC nya sekalian ya?” pinta Reina. Dia merasa gerah dan kepanasan, bukan hanya dia saja tapi Tanta pun merasakan hal yang sama.
“Baik bu.” sahut Tanta dengan tangan gemetar. Dia lalu memutar tombol AC, karena kaget hampir menabrak Nyonya Besarnya dan dia juga takut akan dipecat dari pekerjaannya.
“Kalian terlihat akrab?” celetuk Samara.
Reina menoleh dengan kening berkerut dan dia pun segera paham ketika Samara memandang Tanta dengan tatapan tajam.
“Pak Tanta yang biasa mengantar saya bekerja Nyonya. Jadi kami sudah saling kenal.” jawab Reina. Senyum diwajahnya dipaksakan terlihat normal padahal sebenarnya dia cemas.
Samara menganggukan kepalanya kemudian mengalihkan pandangan keluar jendela. Tatapannya melemah saat dia melihat jalanan sekitar rumah Reina yang tidak asing lagi baginya. Jalan itu mengingatkan Samara pada mendiang putranya.
“Kita sudah sampai Nyonya.” ucap Reina membuyarkan lamunan Samara.
Dengan sigap Tanta membukakan pintu untuk Nyonya Besar dan menantunya. Ketika Reina memberikan dua lembar uang kertas dengan ragu-ragu Tanta menerimanya sambil menatap Samara.
“Terima kasih bu.” ucap Tanta sambil menundukkan kepalanya.
Dia tidak berani menatap Nyonya Besarnya dan langsung melajukan kembali taksinya meninggalkan tempat itu. Reina membukakan pintu gerbang rumahnya.
Dia mengeryit melihat Samara yang sedang memandangi rumahnya dengan tatapan sendu. Ekspresi kesedihan nampak jelas diwajah wanita tua itu. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu saat memandang rumah penuh kenangan.
__ADS_1
“Nyonya…..apa anda baik-baik saja?” tanya Reina hati-hati.
Dia takut Samara akan membentaknya seperti sebelumnya. Tadi saat Reina menolong Samara berdiri, wanita itu marah kepada Reina dan menudingnya telah membuatnya terluka. Padahal Samara sendiri yang menyeberan jalan tidak hati-hati.
“Tidak perlu banyak bertanya. Lukaku akan terkena infeksi jika kita terus berdiri disini.” jawab Samara dengan nada ketus.
Reina pun mempersilahkan nenek bosnya itu untuk masuk. Dada Samara terasa sesak ketika dia memasuki rumah yang dulu dihuni putranya. Dia masih ingat setiap kejadian yang pernah dia alami dirumah itu. Kejadiaan saat dia mendatangi Verdi untuk memintanya pulang dan kejadian saat Ivanna mengusirnya karena dia tidak suka pada Samara.
Bagi Ivanna, Samara selalu mengganggu suaminya. Jika bukan karena cucunya, Samara tidak sudi untuk menginjakkan kaki dirumah itu lagi selamanya.
“Nyonya mau minum apa? Biar saya buatkan.” ucap Reina sopan menawarkan.
Samara menatap Reina dengan tajam, melihat wajah Reina mengingatkannya pada Ivanna.
“Obati saja lukaku! Tidak perlu banyak basa basi.” ujar Samara dengan nada ketus.
Kemudian Reina mengambil obat diatas lemari lalu membawa semuanya lalu menghidangkan minuman dan cemilan untuk Samara.
“Silahkan diminum es jeruknya Nyonya.” ucap Reina sopan. Samara tidak menimpali, dia meraih kotak obat hendak mengobati lukanya sendiri tapi Reina segera merebut kotak obat dari tangan Samara dan bersimpuh dihadapan Samara.
“Biar saya saja yang membersihkan lukanya, Nyonya.” ucap Reina segera membuka kota obat lalu mengeluarkan kapas dan alkohol. Reina mengoleskan kapas beralkohol ke telapak tangan Samara yang terluka. Samara meringis menahan sakit, dia merasakan rasa dingin dari cairan alkohol membuat lukanya semakin perih.
“Heh! Pelan-pelan sedikitlah!” hardik Samara ketika Reina membersihkan luka dibagian dalam telapak tangan Samara.
__ADS_1
“Ma—maaf Nyonya.” ucapnya. Didalam hatinya Reina mencibir karena Samara tidak kuat menahan sakit. Padahal lukanya tidak terlalu parah hanya terkena goresan kerikil aspal saja.
Reina mengobati Samara dengan lebih hati-hati. Setelah selesai membersihkan lukanya, dia mengoleskan salep agar luka di tangan Samara cepat kering.
“Kamu sendirian tinggal disini? Katanya kamu sedang sakit?” tanya Samara memecah keheningan.
Reina mendongak sebentar lalu kembali mengoleskan salepnya. “Saya tinggal bersama suami saya. Dia sedang pergi keluar dan saya sudah sembuh. Tadinya saya mau masuk kantor tapi suami saya tidak mengijinkan dan meminta saya istirahat sehari lagi.”
“Sepertinya suamimu perhatian sekali padamu ya? Kemana perginya dia sekarang?” tanya Samara menatap lekat-lekat istri cucunya itu.
Reina menautkan alisnya, “Mungkin dia pergi bekerja atau hanya bermain-main saja. Entahlah, Nyonya. Varen tidak pernah mengatakan apapun dan saya juga tidak pernah ingin tahu.” jawab Reina dengan suara pelan.
“Kenapa kamu tidak ingin mengetahui kegiatan suamimu? Apa kamu tidak peduli dengan apa yang dilakukannya diluar sana? Bisa saja dia bersenang-senang dengan wanita lain.” Samara bertanya seraya memicingkan matanya. Dia ingin melihat wanita seperti apa istri cucunya ini.
Reina tersenyum lembut mendengar perkataan Samara. “Bukan begitu Nyonya.”
“Tentu saja saya peduli pada suamiku.. hanya saja saya sudah merasa nyaman dengan status suami saya yang pengangguran. Jadi saya lebih memilih untuk tidak mengetahui kegiatannya. Selama saya bisa bekerja dan menghasilkan uang, itu sudah cukup untuk kami. Lagipula suamiku sangat baik padaku.”
Samara menautkan kedua alisnya mendengar jawaban Reina yang terdengar rumit baginya.
“Aku kira setiap wanita senang dan bangga dengan pekerjaan suaminya. Tapi kamu justru bangga karena suamimu penggangguran.” ujar Samara sarkasme.
Reina tertawa kecil, “Meskipun suamiku penggangguran tapi dia sangat baik, perhatian dan penyayang. Aku tidak masalah jika dia penggangguran, kelak jika aku sudah punya uang cukup aku bisa membukakan usaha untuknya.”
Reina bicara dengan wajah merona saat memuji suaminya, dia malu karena memuji suaminya sendiri dihadapan nenek bosnya itu.
Tapi kan tidak ada salahnya? Karena semua yang dikatakannya itu benar.
Samara tertawarenyah mendengar jawaban polos istri cucunya. Sekilas dia melihat lukanya yang sudah selesai diobati.
__ADS_1
“Duduklah diatas, tidak baik duduk lama-lama dilantai seperti itu.” ucap Samara seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Reina.
Reina menutup kotak obat dan berpindah duduk di sofa dihadapan Samara. Baru saja dia hendak membuka mulut menawarkan kembali minuman kepada nenek bisnya itu, terdengar suara ketukan dipintu yang langsung menghentikannya.