
“Reina…..kenapa kamu---”
“Ehm...jangan salah paham dulu. Aku tidak ada hubungan dengan Pak Verdi. Aku juga tidak mendekatinya apalgi merayunya! Aku tidak melakukan itu!” dengan cepat Reina menjelaskan dengan ekspresi ketakutan. Dia tidak mau jika masalah ini akan menimbulkan masalah dalam hubungannya dengan Varen.
Varen tidak merespon, dia menatap Reina dengan lurus sambil menaikkan satu alisnya. Dia ingin tahu bagaimana Reina akan menjelaskan padanya situasi yang barusan dihadapinya, apakah istrinya itu akan jujur atau berbohong untuk menjaga perasaannya.
Tampak Reina yang menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya ada keraguan didalam hati Reina untuk mengatakan pada suaminya tapi dia tak mau ada kesalahpahaman juga.
“Begini, tadi nenek Pak Verdi yang menamparku. Dia salah paham karena mengira aku mengganggu cucunya dan mendekati cucunya itu padahal tidak! Dia memanggilku dengan sebutan wanita murahan karena menggoda cucunya! Aku sudah minta pada Pak Felix untuk membantuku menjelaskan kepada neneknya untuk meluruskan kesalahpahaman ini tapi aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak.”
Lagi-lagi Reina menghela napas panjang, “Varen! Aku tidak tertarik pada pria manapun. Bahkan pada Pak Verdi, hubungan kami hanya atasan dan bawahan saja tidak lebih dari itu! Aku tidak pernah mencoba merayu Pak Verdi atau siapapun diluar sana. Aku sudah menikah dan punya suami, aku sudah janji akan tetap setia pada suamiku. Percayalah padaku, meskipun kamu dan Pak Verdi itu terlihat mirip tapi aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padanya.” ujar Reina dengan ekspresi serius.
Reina berusaha menjelaskan panjang lebar agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Varen. Varen tak tahu bagaimana bersikap, apakah dia harus tertawa karena lucu atau kecewa, dia pun merasa bingung dengan perasaannya.
Bagaimana jika memang Reina membenci Verdi yang juga adalah dirinya? Melihat cara Reina yang berusaha keras menyakinkannya bahwa dia hanya menginginkan suaminya dengan ekspresi wajah yang menggemaskan membuat Varen ingin tertawa.
“Aku percaya sama kamu. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu menutupi lukamu? Kalau aku tidak melihat memar di wajahmu apa kamu berniat menyembunyikannya dariku? Itu artinya kamu tidak percaya padaku?” tanya Varen menyentuh pipi istrinya. “Kamu harus menceritakan apapun padaku.”
Reina tergagap, “Oh...mmmm….bukan begitu! Bukan maksudku menyembunyikan darimu tapi aku tidak mau membuatmu cemas! Varen, kamu sangat baik padaku dan ini adalah kesalahpahaman saja. Aku tidak mau kamu merasa cemas lalu memintaku berhenti bekerja! Aku tidak mau itu terjadi! Aku butuh pekerjaan ini karena gajinya besar."
“Jangan lakukan lagi, oke? Luka itu harus diobati bukannya ditutupi! Apapun yang kamu alami dan yang terjadi padamu, kamu harus memberitahuku karena aku suamimu dan tugasku untuk menjaga dan melindungimu.” ucap Varen tersenyum.
“Aku tidak akan memarahimu apalagi memintamu berhenti bekerja. Aku minta maaf karena aku belum mendapatkan pekerjaan sampai hari ini.”
“Tidak apa-apa! Sudah kubilang kalau aku tidak masalah kalau kamu tidak bekerja. Aku akan bekerja keras menghasilkan uang dan membuka usaha setelah uangku cukup. Setelah itu aku akan berhenti bekerja dan kita bisa sama-sama menjalankan bisnis kita. Aku mau buka warung atau restoran kecil-kecilan saja.”
__ADS_1
Varen tersenyum mendengar perkataan Reina, dia tidak menyangka pikiran wanita itu sudah sejauh itu merencanakan. “Aku beli obat sebentar.” ucap Varen saat taksi berhenti didepan apotik. Reina menatap punggung Varen yang masuk kedalam apotik. Dia merasa bersyukur karena Varen tidak marah padanya.
Reina tersenyum lalu menghembuskan napas lega, ternyata semua kekhawatirannya tidak terjadi dan Varen sama sekali tidak marah padanya. Pandangan mata Reina tak teralihkan dari apotik yang dimasuki suaminya, hingga dia melihat pria itu berjalan keluar dari apotik dengan plastik ditangannya.
“Ini minum dulu obatnya.” ucap Varen menyodorkan obat pereda nyeri dan air minum setelah Varen kembali kedalam mobil. Tak butuh waktu lama setelah Reina meminum obat, dia pun tertidur.
Varen menatap Reina yang tidur pulas disampingnya. Setelah meminum obat pereda nyeri. Reina terbaring dengan lengan Varen sebagai penyangga kepalanya. Melihat posisi tidur istrinya yang kurang nyaman,
Varen pun menggeser tubuhnya dan menarik Reina kedalam pelukannya. Dengan refleks Reina melingkarkan tangannya ke pinggang Varen dan menyusupkan kepalanya kedada pria itu.
Tubuhnya menegang karena pelukan istrinya namun dia berusaha untuk menguasai diri. Dia menghembuskan napasnya kasar lalu dia menatap supir didepannya.
Tubuh pria itu langsung menegang mendengar pertanyaan Varen, punggung dan kepalanya mendadak tegak dan dia bungkam seribu bahasa tidak menjawab pertanyaan itu. Dia terlihat tak nyaman dan gelisah membuat Varen yakin dengan instuisinya.
“Jawab! Atau aku akan marah besar! Kalau kamu jujur maka aku tidak akan marah.” ujar Varen.
“Maaf Tuan Muda.” jawab Tanta dengan suara bergetar karena ketakutan.
Dia tahu betul bagaimana kemarahan Tuan Mudanya itu jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Pria itu bisa melakukan hal yang tak terduga jika dia sudah marah dan Tanta tak menginginkan itu terjadi.
Varen tersenyum getir, ‘Pengawal pribadiku saja tahu kalau nenek pulang tapi aku bahkan tidak diberitahu apapun! Kenapa semua orang bersikap seperti ini padaku?’ gumamnya dalam hati.
Varen merasakan dadanya sesak seperti ada batu besar yang mengganjal didalamnya. Matanya memerah karena marah dan juga kekecewaan dengan sikap neneknya.
__ADS_1
“Apa nenek sengaja mengirimmu untuk memata-mataiku? Benar begitu Tanta? Dia memang mengirimmu untuk mengawasiku dan istriku kan?” tanya Varen lagi yang membuat Tanta kembali menegang.
Varen menilik gerak-gerik pria itu lewat kaca spion, dia merasa semakin kecewa karena semua orang tidak memikirkan perasaannya.
“Kenapa kamu diam saja? Berarti benar ucapanku kan?” tanya Varen lagi dengan suara tinggi.
“Maaf Tuan Muda!” ucap Tanta dengan suara lirih, dia merasa bersalah sekali pada Varen.
Sebenarnya dia adalah pengawal pribadi Varen dan tak ada niat untuk mengkhianatinya tapi Samara menekan dan mengancam Tanta yang membuatnya tak bisa berkutik untuk menuruti keinginan Samara.
Jawaban itu membuat kekecewaan Varen semakin besar, dia mengira kalau neneknya mengirimkan Tanta karena peduli padanya tapi ternyata salah! Keberadaan pengawal pribadinya itu hanya sebagai mata-mata untuk mengawasinya. Varen pun jadi menebak kalau Tanta pasti melaporkan semuanya pada neneknya termasuk melaporkan tentang Reina.
“Apa yang selama ini sudah kamu laporkan pada nenek? Pernikahanku? Tempat tinggalku? Atau setiap gerak gerikku dan juga semuanya yang berkaitan dengan istriku?” suara Varen bertanya dengan intonasi tinggi.
Tanta melirik dari kaca spion didepannya, dia melihat tatapan mata Varen yang tajam padanya. Tanta mengalihkan pandangannya kembali fokus mengemudi.
“Bukan begitu Tuan Muda. Nyonya Besar hanya ingin memastikan keadaan anda baik-baik saja. Dia mengkhawatirkan kehidupan anda diluar.”
“Khawatir? Cih! Kalau nenek benar-benar khawatir padaku, dia tidak akan membuat hidupku sulit dan terluntang lantung begini! Dia tidak akan membuatku miskin dan tidak punya apa-apa? Jangan pernah bilang kalau dia khawatir dan peduli padaku! Bullshit!”
Varen memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. “Nenek hanya ingin memastikan penderitaanku dan menertawai pilihanku! Dia ingin melihatku menderita dan membuatku mengerti bahwa aku tidak akan bisa bertahan tanpa bantuannya! Tapi nenek salah besar!” ujar Varen penuh kemarahan. Dia teringat kembali ke dua bulan lalu setelah dia menikahi Elora untuk memenuhi wasiat kakeknya.
Setelah membeli obat, taksi melaju mengantarkan mereka ke tujuan. Sedangkan mobil Samara masih mengikuti dari jarak aman hingga mobil itu pun berhenti tak jauh dari rumah yang ditempati Varen dan Reina. Melihat bangunan tua itu membuat Samara mengeryitkan keningnya, ekspresi wajahnya tampak tak senang.
‘Dasar anak bodoh! Kamu korbankan semuanya demi warisan kakekmu dan wanita itu? Kamu memilih tinggal di tempat seperti ini?’
__ADS_1