TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 44. PERKARA BUNGA DAN COKLAT


__ADS_3

Akhirnya Felix pun mendapat clue apa yang sedang melanda sepupunya. Dengan tersenyum dia menjawab, “Pasti senanglah. Tidak ada wanita yang menolak! Memangnya ada apa sih?” tanya Felix mengerutkan keningnya.


“Tadi pagi Reina marah dan aku bingung bagaimana meredakan amarahnya.” jawab Verdi.


 


“Kamu kebingungan karena Reina marah? Nggak salah tuh?” Felix menaikkan satu alisnya dan ujung bibirnya terangkat melihat raut wajah Verdi yang terlihat bimbang. Dia jadi merasa lucu karena ini pertama kalinya dia melihat Verdi bertingkah seperti itu.


 


“Ya. Dia mengacuhkan aku. Aku jadi merasa tidak nyaman.” jawab Verdi.


“Apa kamu mencintainya?” tanya Felix.


“Aku tidak tahu apa itu cinta tapi aku hanya khawatir karena Reina tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.” ucap Verdi.


 


Felix tersenyum lebar, “Yang kamu rasakan itu adalah bagian dari cinta. Kamu sedang jatuh cinta! Tapi kamu belum menyadarinya saja! Kalau kamu tidak punya perasaan apapun sama Reina, meskipun dia mengacuhkanmu tidak akan mempengaruhimu seperti ini.” ujar Felix tersenyum.


 


“Jangan mengada-ngada! Kamu tahu betul apa yang kualami dan seperti apa aku. Tidak mungkinlah aku jatuh cinta padanya. Seperti kubilang tadi, aku hanya khawatir saja! Rasanya tidak nyaman dia mendiamkanku dan acuh padaku.” ujar Verdi dengan mata menerawang.


 


“Apa yang bisa kubantu? Apa yang mau kamu lakukan kalau begitu?” tanya Felix menghela napas.


“Belikan bunga dan coklat sebanyak-banyaknya lalu kirimkan kerumahku. Tujukan untuk Reina dan pilihkan bunga paling bagus!” ujar Verdi


 


“Untuk Reina?” tanya Felix ulang untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Namun saat dia melihat Varen menganggukkan kepala sebagai jawaban, Felix pun bertambah bingung. Ada apa dengan sepupunya itu? Kenapa tiba-tiba ingin memberikan bunga dan coklat pada Reina kalau dia tidak jatuh cinta, iyakan? Biasanya orang yang jatuh cinta yang melakukan itu.


 


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan dipintu.


“Ya masuk!” sahut Verdi.


Pintu terbuka dan nampak Reina masuk sambil membawa sebatang coklat dan seikat bunga. Dia langsung berjalan menuju ke meja kerja Verdi. Kedua pria itu menatap Reina dengan wajah penasaran.


 


“Pak Verdi! Ini coklat yang anda minta” Reina memberikan sebatang coklat berukuran lebih kecil dari yang diberikan Kaifan padanya. “Ini saya belikan coklat yang baru. Tidak baik makan coklat banyak-banyak pak. Nanti anda bisa sakit gigi, sakit gula! Pokoknya bahaya pak.” ucap Reina tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


 


“Pfffff.” Felix menutup mulutnya menahan tawa.


“Aku tidak mau coklat ini tidak sama dengan coklat milikmu tadi.” ujar Verdi tak mau mengalah.


“Saya hanya mau makan coklat yang diberi Kaifan padamu tadi!” Verdi memalingkan wajahnya.


Sedangkan Reina merutuki Verdi didalam hatinya karena dia terpaksa mengeluarkan uang untuk membeli sebatang coklat yang harganya mahal.


Reina melirik Felix melayangkan tatapan memelas dan minta tolong.


“Sudah, berikan saja kalau dia mau coklat yang itu.” ucap Felix.


Reina semakin bingung dan kesal dengan sikap bosnya yang ke kanak-kanakan. “Maaf Pak Verdi, saya tidak bisa berikan coklat dari Pak Kaifan karena sudah saya kembalikan. Makanya saya beli coklat dan bunga ini untuk bapak.”


 


“Kenapa kamu kembalikan? Bukannya kamu suka bunga dan coklatnya?” Verdi mendongak menatap Reina sambil mengeryitkan keningnya.


“Ya, gimana ya pak? Saya tidak punya alasan untuk menerima barang dari Pak Kaifan. Lagipula saya sudah menikah dan punya suami, mana mungkin saya menerima pemberian pria lain? Saya juga tidak suka makan coklar karena saya tidak mau kena diabetes terlalu banyak makan coklat. Apa saya harus memintanya balik dari Pak Kaifan?” ujar Reina dengan kesal.


 


“Tidak perlu!”


“Dimana saya letakkan bunganya?” tanya Reina sambil mengangkat bunga ditangannya. Didalam hatinya dia merasa kesal. Uang pas-pasan tapi harus membeli bunga dan coklat.


 


Reina mengambil vas bunga dan mulai menata bunga didalam vas lalu meletakkan diujung meja kerja Verdi. Tanpa dia sadara Verdi tersenyum seraya menatap Reina yang fokus menata bunganya.


“Sudah pak. Apa ada lagi yang anda butuhkan? Mumpung saya disini.” tanya Reina.


“Tidak ada. Kamu bisa kembali keruanganmu.” jawab Verdi.


 


“Baik. Saya permisi dulu pak.” Reina membungkuk sedikit lalu berbalik dan pergi. Tapi….


“Reina. Coklatnya untuk kamu saja.” ucapnya lalu memberikan coklat ditangannya pada Reina.


“Tidak perlu pak. Itu untuk bapak saja.” jawab Reina.


“Kenapa? Kamu tidak mau coklatnya? Coklatnya kecil kok?” tanya Verdi bingung.


 

__ADS_1


“Fuuuuhh! Saya yang membelikan coklat itu untuk bapak dan tidak baik menolak rejeki. Saya tidak mungkin mengambil kembali barang yang sudah saya berikan pada bapak. Permisi pak.”


Dengan perasaan kesal dan marah Reina keluar dari ruangan itu. ‘Kenapa sih semua pria menyebalkan? Tidak Varen! Tidak Verdi? Si sialan Kaifan? Huh!’ geramnya didalam hati.


 


Saat itu juga suara tawa Felix memecah keheningan ruangan itu. Sekarang dia tahu kenapa sepupunya itu uring-uringan sejak tadi.


“Ha ha ha ha ha ……..Apa aku masih harus membeli bunga dan coklat sebanyak-banyaknya untuk Reina? Dia takut diabetes! Ha ha ha ha!”


“Lupakan saja! Pergilah, kau membuatku pusing saja.” jawab Verdi dengan senyum diwajahnya.


 


Sementara itu diruang kerja Reina nampak fokus mengerjakan pekerjaan. Hari ini dia ditugaskan untuk merapikan ulang semua soft data perusahaan. Dia bahkan tidak diajak meeting supaya pekerjaannya cepat selesai, dia melirik jam kecil diatas meja kerjanya sudah menunjukkan pukul tiga. Sedangkan pekerjaannya masih menumpuk, dia menghentikan gerakan jari di keyboard komputer.


 


Meregangkan tangan dan punggungnya yang sudah lelah. Dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa dia sadari seseorang membuka pintu ruangan dan menatap tajam padanya.


“Kamu! Ngapain kamu disini?” suara wanita tua itu mengagetkan Reina yang tengah fokus dengan pekerjaannya. Reina mendongak, matanya membulat saat melihat wanita tua yang sudah berdiri didepan mejanya.


 


“Nyonya.” sapa Reina berusaha tenang dan bersikap sopan.


“Ikut aku!” ujar Samara seraya berlalu dari hadpaan Reina dan pergi ke ruangan Verdi.


Reina pun berdiri dan mengikuti wanita tua itu dengan perasaan tidak tenang. Dia takut wanita itu akan memarahinya dan memperlakukannya kasara seperti tempo hari.


 


Tapi mengingat kalau wanita tua itu adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Reina pun terpaksa mengikuti masuk kedalam ruangan Verdi. Dengan takut-takut dia menatap wanita tua itu yang sudah duduk di sofa dengan tatapan tajam padanya.


“Duduklah!” ucapnya seraya menunjuk sofa kosong didepannya dengan tongkat kayunya.


 


Samara menatap lekat-lekat wanita yang dinikahi cucunya itu. Dia memperhatikan gerak gerik Reina dan penampilannya dari atas hingga ke bawah tanpa melewatkan sedikitpun. Mendapat tatapan yang tidak bersahabat dari wanita tua itu membuat Reina semakin cemas. Dia duduk dengan gugup dan ketakutan.


 


“Berapa banyak uang yang kamu inginkan agar pergi dari kehidupan cucuku? Katakan saja! Akan kuberikan berapapun yang kamu minta.” ucap Samara tegas.


Reina terperangah mendengar pernyataan wanita tua itu. Dia tidak paham maksud perkataan Samara yang membuat Reina terlihat kebingungan. Kenapa dia harus meninggalkan kehidupan bosnya itu? Padahal dia disana hanya untuk bekerja dan tidak ada sangkut paut dengan kehidupan pribadinya? Apa wanita tua ini sudah salah paham padanya?


 

__ADS_1


“Maafkan saya, Nyonya. Apa maksud anda bahwa saya akan dipecat dan diberikan pesangon? Begitukah maksud nyonya?” tanya Reina dengan ekspresi bingungnya.


Dia langsung menafsirkan perkataan Samara dengan pekerjaannya, mungkin wanita itu merasa tidak puas dengan hasil kerja Reina selama ini, begitulah yang dipikirkannya.


__ADS_2