TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 39. MENGUNTIT


__ADS_3

Samara menahan amarahnya karena ternyata Varen memilih melanjutkan wasiat kakeknya dibandingkan memenuhi keinginan neneknya. Ginto Saskara adalah kakek dari pihak ibunya yang memberinya wasiat. Varen mengikuti wasiat itu hanya untuk mendapatkan kembali rumah tua peninggalan orang tuanya itu, tak ada yang lain. Tapi gara-gara keinginannya itu, Samara malah membuatnya miskin.


 


“Apa Nyonya mau masuk?” tanya supir didepan. Dia melirik dari kaca spion didepannya.


“Fuuhh! Untuk apa aku masuk kesana! Biarkan saja anak itu menderita dengan pilihannya! Bodoh! Dia berani menentangku hanya untuk memenuhi wasiat kakeknya! Keluarga jahanam itu!” geramnya mengepalkan tangannya. “Antar aku pulang!” perintahnya.


“Baik Nyonya!”


 


Mobil yang membawa Samara pun berputar balik dan melaju meninggalkan tempat itu. Berbagai perasaan berkecamuk didalam hati wanita tua yang selalu bersikap tegas pada siapapun. Dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran cucunya yang masih saja menentangnya hanya demi sebuah rumah tua peninggalan orang tuanya. Samara bahkan masih ingat bagaimana dia mengusir Varen setelah dua hari menikahi Elora.


 


“Terus awasi mereka berdua! Kirimkan orang lain yang mengawasi Reina!” perintah Samara pada asistennya yang duduk di kursi pengemudi. “Cari tahu informasi tentangnya.”


“Baik Nyonya Besar!” jawab pria itu menganggukkan kepalanya. “Bagaimana jika Tuan Muda tahu kalau istrinya diawasi, nyonya?” tanyanya lagi.


 


“Biarkan saja! Memangnya dia bisa berbuat apa? Aku ingin tahu bagaimana Varen bisa menikahi wanita itu! Aku yakin dia sama liciknya seperti keluarganya yang lain.”


Pria itu pun terdiam dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kediaman Bimantya.


 


Sementara itu didalam rumah tua yang ditempati Varen dan Reina mereka tampak duduk di meja makan menyantap makan malam mereka sambil berbincang-bincang. Setelah selesai makan, Reina membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Sedangkan Varen sudah masuk ke kamar tidur, tak lama Reina pun menyusul dan berbaring diatas ranjang.


Malam semakin larut, Varen berbaring menatap langit-langit. Dia sulit memejamkan matanya sedangkan Reina sudah sejak tadi tertidur pulas disampingnya. Varen menatap wajah damai istrinya yang tidur dengan nyaman, dia menyentuh pipi Reina yang tadi ditampar neneknya rasa bersalah pun memenuhi hatinya. Dia menilik wajah Reina yang membuatnya kembali teringat pada kejadian dua hari setelah dia menikahi Elora.


 


Flashback on


“Dimana Varen? Apa dia sudah pulang?” tanya Samara pada kepala pelayan dirumahnya.


“Belum Nyonya.” jawabnya. Baru saja dia selesai bicara, terdengar suara deru mobil di luar. “Oh, sepertinya Tuan Muda sudah pulang Nyonya.”


“Hem….aku ke kamar dulu! Lakukan sesuai perintahku!”

__ADS_1


“Baik Nyonya besar,”


 


Baru saja Varen melangkah memasuki rumah itu, dia sudah dihentikan oleh pengawal Samara. “Maaf Tuan Muda, anda tidak bisa masuk kerumah ini lagi!”


“Apa? Berani kamu melarangku masuk kerumah nenekku?” tanya Varen dengan marah.


“Nyonya Besar yang memerintahkan kami untuk melarang Tuan Muda masuk kerumah ini.”


 


Belum habis keterkejutan Varen, dia memelototi pengawal yang berusaha menghalanginya itu. Beberapa pengawal lainnya sudah membentengi jalan untuk menghalanginya memasuki rumah.


“Tolong meninggalkan semua barang-barang anda disini Tuan! Tinggalkan dompet, ponsel begitu juga dengan kunci mobil anda, Tuan.”


Varen menatap Tanta dengan berang, “Kenapa aku harus meninggalkan semua barang-barangku?”


 


“Maaf Tuan Muda. Kami hanya menjalankan perintah Nyonya Besar. Mohon kerjasamanya dan jangan mempersulit kami. Tolong berikan semua barang-barang anda.” ujar Tanta lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk memegangi Varen. Kemudian dia mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil milik Varen secara paksa.


 


Varen yang marah pun tidak tinggal diam, dia memberontak dan memukul pengawal itu. Dia berhasil melepaskan diri dari tangan anak buah Tanta lalu melayangkan kembali beberpa pukulan pada mereka. “Kurang ajar! Beraninya kalian menyentuhku! Kalian pikir kalian itu siapa hah?”


 


Varen yang jago ilmu bela diri pun melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah dua orang pengawal yang tadi memegangi tangannya. Melihat perlawanan Varen membuat Tanta tak tinggal diam. Pria paruh baya itupun menyerang Varen hingga berhasil mengunci kedua tangannya.


 


“Tolong kendalikan diri anda Tuan! Kami hanya menjalankan perintah Nyonya Besar. Dia yang meminta kami untuk mengambil semua fasilitas yang telah Nyonya Besar berikan pada Tuan.” ucap Tanta.


“Tidak ada gunanya Tuan menyerang kami, karena ini bukan kemauan kami Tuan! Kami bekerja untuk Nyonya Besar dan harus menuruti perintahnya!”


 


“Lepaskan brengsek!” Varen menghentakkan tangannya. “Tidak mungkin nenek memberikan perintah konyol seperti itu pada kalian!” teriak Varen marah setelah berhasil melepaskan cekalan tangan Tanta.


“Silahkan Tuan tanyakan langsung pada Nyonya Besar jika Tuan tidak percaya.” Tanta memberikan ponsel yang tadi dirampasnya dari Varen.

__ADS_1


 


Varen menatap tajam pada pria itu lalu dia mengambil ponsel dengan kasar dan menghubungi neneknya. “Ada apa?” suara ketus wanita tua itu terdengar setelah panggilan tersambung.


“Kenapa nenek memerintahkan Tanta menyita semua barang-barang milikku? Apa maksudnya ini nek?” tanya Varen dengan berang.


“Apa kamu bilang barusan? Barang milikmu? Fuuh! Semua yang kami miliki itu adalah milikku! Aku yang memberikannya padamu dan kamu boleh menggunakannya selama kamu menjadi cucuku.”


 


“Apa maksud nenek?” tanya Varen tak mengerti.


“Selama kamu menjadi Verdi Bimantya Kenzie maka aku memperbolehkanmu memakai semua barang-barang milikmu. Tapi saat kamu pulang kantor dan menjadi cucu Saskara maka kamu tidak berhak menggunakan barang-barang milik cucuku!” ujar Samara tegas.


 


“Bagaimana dengan hidupku? Bagaimana aku pergi ke kantor kalau aku tidak punya uang dan mobil? Apa yang kumakan jika aku tidak punya uang untuk membeli makanan? Apa nenek mau melihatku mati kelaparan?” ujar Varen tak kalah ketusnya. “Mengapa nenek tega melakukan ini padaku?”


 


“Itu urusanmu! Tidak ada hubungannya denganku. Yang pasti Tanta akan menjemputmu setiap pagi dan memberikan semua barang milikmu. Tapi ketika kamu pulang kerja, kamu harus meninggalkan semua barang-barang milik cucuku.”


 


“Nenek! Kenapa nenek tega melakukan ini? Aku ini cucumu nek!”


“Tidak! Kau bukan cucuku karena cucuku tidak ada hubungannya dengan Saskara!”


“Nenek!” teriak Varen memanggil neneknya.


“Jangan meninggikan suaramu Varen! Aku belum tuli!”


 


“Ingat ya, pilihan ada padamu kalau kamu memutuskan untuk kembali maka kamu akan mendapatkan hakmu sepenuhnya. Tapi kalau kamu masih bersikeras melanjutkan warisan kakekmu yang gila itu, hiduplah sebagai cucu Saskara dan jangan bawa keluarga Bimantya didalam dirimu! Aku tidak segan-segan menendangmu keluar dari perusahaan jika kamu berani mengaitkan keluarga Bimantya dengan Saskara! Camkan itu!”


Varen tersenyum getir, dia tidak menyangka jika neneknya bisa bertindak sekejam itu padanya. Memiskinnya dalam sekejap, merampas semuanya dan membuatnya tak punya apa-apa.


“Baiklah. Aku mengerti sekarang tapi setidaknya biarkan aku memegang ponselku dan beri aku sedikit uang untuk pulang. Aku tidak punya sepeser uang pun.”


 

__ADS_1


“Kamu boleh mengambil ponselmu tapi tidak dengan uang! Kalau kamu menginginkan uang maka bekerjalah dengan baik. Aku akan membayar gajimu dengan harga seharusnya tapi kamu akan mendapatkannya bulan depan. Jadi, pikirkan sendiri hidupmu selama sebulan ini sampai kamu mendapatkan gajimu!” ujar Samara menjelaskan pada Varen.


__ADS_2