TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 87. JANGAN MENUDUH


__ADS_3

“Kamu benar Reina! Untung saja kita tidak punya tetangga.” ucapnya tersenyum lalu mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu dan segera mengirimkan pesan kepada Tanta. Tak berapa lama…..


Blub!


Lampu padam dan semua ruangan menjadi gelap gulita.


“VAREEEEENNNNN!”


 


Terdengar suara jeritan dan langkah kaki disertai suara kunci yang diputar terburu-buru. Varen terkekeh puas lalu segera mematikan lampu ponselnya. Kemudian dia membaringkan diri diatas sofa lalu pura-pura tidur.


'Aku mau lihat apa dia masih mengurung diri didalam kamar setelah ini? Hehehehe.....aku juga bisa ngerjain kamu Reina.' bisiknya dalam hati. Varen tertawa dalam hati membayangkan Reina yang ketakutan.


“Vareeennnn!”


Terdengar suara Reina yang memanggilnya disertai suara langkah kaki yang semakin mendekat. "Dimana kamu?"


 


Varen tersenyum dalam gelap tanpa sedikitpun mengindahkan panggilan istrinya. Reina meraba jalan yang dilaluinya yang semuanya gelap. Hanya ada sedikit sinar dari cahaya bulan tapi itupun hanya sampai jendela saja.


“Varen….kamu sudah tidur?” panggil Reina dengan suara bergetar. Reina takut gelap dan dia takut ditinggal sendirian. "Vareennn....."


 


Dengan susah payah langkah Reina sampai ke sofa. “Varen…..” panggilnya seraya meraba kursi sofa dan merangkak diatas lantai. Hati Reina berjengit saat tidak menemukan suaminya di sofa itu.


“Varen!” panggilnya dengan suara tercekat. Perasaan takut menghampirinya. ‘Kenapa Varen tidak menjawab? Apakah dia sudah tidur? Atau jangan-jangan dia pergi?’’ gumamnya dalam hati.


 


“VAREEENNNN!” lirihnya dengan suara yang terdengar semakin bergetar. Varen berusaha tidak menghiraukan Reina. Dia hendak memberi istrinya pelajaran, dia ingin Reina tahu bagaimana rasanya diacuhkan. Tapi mendengar suara Reina yang bergetar dan isakannya mulai terdengar membuat Varen terenyuh dan tidak tega.


 


“Aku disini!” ucapnya seraya bangkit dari sofa kecil tempatnya berbaring. Mendengar suara Varen membuat Reina legaa dan hatinya pun tenang. "Ada apa kamu teriak-teriak begitu?"


Dia segera berbalik dan berjalan merangkak menghampiri suaminya.


“Vaareennn…..”


“Hati-hati ada meja!” pekik Varen. Entah Reina yang rabun tapi dia hampir saja menabrak meja.


 

__ADS_1


Varen segera membantu Reina berdiri. Dia tertegun ketika Reina tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. “Aku pikir kamu pergi meninggalkanku. Aku takut! Kenapa rumah menjadi gelap?” ucapnya sambil menangis tersedu-sedu seraya mengeratkan pelukannya. Dia merasa nyaman dan tenang berada dalam pelukan suaminya.


 


Varen jadi merasa bersalah, dia tidak tahu kalau istrinya akan ketakutan sampai menangis seperti itu. “Sepertinya ada pemadaman listrik.” jawab Varen seadanya.


Padahal dia yang meminta Tanta untuk memadamkan listrik dirumahnya. Awalnya Varen hanya ingin memancing Reina keluar dari kamar karena dia tahu Reina penakut dan takut gelap.


 


Namun Varen tidak menyangka kalau Reina akan ketakutan hingga menangis. “Aku ada disini…..tidak perlu takut. Aku akan menjagamu.” Varen membalas pelukan Reina. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Dia memang senang Reina keluar dari kamar tapi dia tidak menginginkan tangisan Reina yang membat hatinya sakit. Varen merasa sedih dan juga kasihan melihat Reina yang menangis terisak.


 


“Gelap…...” isak Reina.


“Hanya sebentar saja. Aku yakin lampunya akan segera menyala. Kan hal biasa pemadaman seperti ini.” sahut Varen seraya mendudukkan Reina di kursi. Kemudian menyambar ponselnya dan menyalakan flashlight dari ponselnya.


“Tidak gelap lagi kan?” tanya Varen karena sekarang ruangan sudah terang dari cahaya flashlight. "Sekarang sudah terang. Kamu tidak perlu merasa takut lagi."


 


Reina mengambil ponsel Varen kemudian memegangnya erat. Dia terkejut melihat foto dirinya yang sedang bersepeda dijadikan sebagai foto wallpaper di ponsel Varen.


Dia merona melihat foto itu, ternyata suaminya melakukan hal yang tidak pernah Reina pikirkan akan dilakukan Varen.


 


Varen memberikan tisu kepada istrinya. “Usap ingusmu. Jorok tahu! Sudah besar masih ingusan."


Reina mendelik tajam, “Aku tidak ingusan!” ucapnya dengan nada kesal. Dia merasa tersinggung dituduh beringus. Reina mengeluarkan tisu yang ternyata kosong.


“Lihat! Tidak ada ingus!”


“Iya aku tahu. Usap airmatamu atau aku yang melakukannya?” ujar Varen tersenyum. Dia sangat senang bisa menggoda istrinya lagi setelah beberapa hari didiamkan.


 


Varen sengaja menggoda Reina. Reina segera menahan tangan Varen yang hendak menyentuh wajahnya. “Aku bisa sendiri.” ucapnya tergagap lalu menundukkan wajahnya berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tidak karuan.


Beruntung keadaan gelap kalau tidak mungkin Varen bisa melihat wajahnya yang merona. 'Ngapain sih dia mau pegang-pegang wajahku? Apa dia tidak tahu kalau aku masih marah?"


 

__ADS_1


“Kenapa diam saja?” tanya Varen menatap Reina. Suasana yang temaram memperlihatkan sebagian wajah istrinya yang sembab. Reina menoleh dengan cahaya dari ponsel dia tahu kalau Varen sedang memperhatikan dirinya.


Dia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu berkata, “Memangnya harus bagaimana?”


 


“Katakanlah sesuatu. Suasana gelap dan sikap diammu membuatku merasa sepi.” jawab Varen.


“Tidak ada yang harus dikatakan.” ucap Reina lirih.


“Bicarakan apa saja asal jangan diam-diaman begini.” sahut Varen cepat.


Reina menatap Varen lekat-lekat, manik matanya yang hitam terlihat bersinar. Reina menyukainya.


 


“Varen….kenapa kamu masih berhubungan dengan Elora? Bukankah---”


CUP!


Varen mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Reina tanpa sempat memberikan Reina kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.


“Kenapa harus ada Elora dalam pembicaraan kita? Jangan merusak suasana.” ucap Varen.


 


Reina tertegun selain kaget dengan kecupan Varen yang mendadak tapi dia juga bingung harus menjawab apa. Dan lagi-lagi jantung Reina akan meledak karena jarak wajah Varen yang begitu dekat. Sekali lagi Reina bersyukur pada suasana gelap yang membuat Varen tidak bisa melihat wajahnya yang kembali merona.


 


“Kenapa harus membicarkan orang yang akan membuatmu kesal?” tanya Varen lagi.


“Karena kamu yang memulainya. Kamu menemui Elora diam-diam dibelakangku.” tuduh Reina dengan suara bergetar. Dadanya sesak membayangkan keakraban Varen dengan kakaknya. “Apa kamu masih belum rela melepaskannya Varen?”


“Jangan menuduh!” ucap Varen dengan cepat. “Tolong jangan berpikiran macam-macam.” sambungnya lagi. “Reina…...apa kamu sadar? Selama tiga hari ini kamu marah dan mendiamkanku tanpa mau memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan? Tanpa bertanya alasanku menemui Elora hari itu? Kamu terlalu larut dalam prasangkamu yang salah.”


 


Reina tertegun lalu membuang wajahnya tak mau menatap Varen. “Salah bagaimana? Sudah jelas kamu bilang menemuinya. Dan kamu juga sudah mengaku kalau kamu salah sudah menemuinya.”


“Ya kamu benar. Aku menemui Elora dan membicarakan sesuatu dengannya. Aku minta maaf dan mengaku salah karena sudah menemuinya.”


 


“Seharusnya aku memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tidak menemuinya diam-diam. Aku hendak memberitahumu tapi kamu sudah marah duluan dan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan apapun. Kenapa kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku sedikitpun?” tanya Varen lirih. Mungkin itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Varen ucapkan seumur hidupnya.

__ADS_1


 


__ADS_2