
Indira bangkit dari duduknya tanpa menatap Reina dan berjalan menuju ke meja kasir. Reina menatap ayahnya namun Chandra pun hanya diam saja dan malah ikut bangkit dari tempat duduknya.
“Habiskan minuman kalian! Reina…..kalau bisa kamu bantu-bantu dulu disini. Kami sedang kewalahan diakhir pekan selalu ramai.” ucapnya lalu pergi menyusul istrinya.
Reina menatap sendu kearah orangtuanya. Padahal dia ingin berbincang dengan mereka. Melihat kesedihan istrinya Varen memegang tangan Reina.
“Jangan pedulikan sikap kasar mereka. Mungkin cara mereka menyatakan kasih sayang memang seperti itu.” Sebenarnya Varen juga tidak terlalu suka dengan sikap kedua mertuanya.
Kedua mertuanya itu selalu kasar dihadapan Reina padahal dibelakang Reina, mereka justru terlihat menyayanginya. Reina menghembuskan napasnya panjang. Dia sangat mengenal sifat kedua orangtuanya yang kasar tapi penyayang. Namun tetap saja dia tidak terima jika orang tuanya merendahkan suaminya seperti itu.
“Varen….tidak bisakah kamu mengatakan kepada mereka tentang pekerjaanmu?” tanya Reina menatap suaminya dengan serius. Varen mengerutkan keningnya ketika dia hendak membuka mulutnya, Reina lebih dulu memotongnya.
“Lupakan saja! Aku lebih suka kamu menjadi penggangguran.” ucapnya seraya mengibaskan tangan.
Lalu Reina memalingkan wajahnya keluar ruangan.
“Reina…..”
“Bukankah tadi kamu bilang harus pergi?” potong Reina dengan suaranya terdengar dingin. Varen menatap istrinya elkat-lekat. Akhir-akhir ini sikap Reina terasa sering dingin seperti sekarang ini. Sama halnya ketika Reina tiba-tiba bilang membencinya.
Waktu itu Varen sudah ketakutan kalau Reina akan benar-benar meninggalkannya. “Reina….apa aku melakukan kesalahan? Apa ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?” tanya Varen seraya memegang tangan istrinya,
“Aku tidak suka kamu pergi lama-lama dariku.” Reina menatap Varen dengan senyum dipaksakan.
“Kalau begitu aku tidak akan pergi. Aku akan disini bersamamu.” jawab Varen.
Reina menggeleng, “Tidak Varen! Pergilah. Aku juga harus membantu mama dan papa disini. Sudah lama aku tidak bantu-bantu disini.” Reina meraih gelas miliknya dan meminum habis.
“Pelan-pelan minumnya. Nanti kamu tersedak.” ucap Varen mengusap bibir Reina yang basah sisa air minumnya.
__ADS_1
Reina menyeringai tanpa dosa seakan yang dilakukannya adalah hal biasa. Padahal dia baru saja meminum satu gelas es the lemon dalam sekejap mata. “Jangan lakukan lagi. Nanti perutmu kembung.”
Reina mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” pamit Varen seraya bangkit dan saat Varen hendak pergi Reina memegang tangannya.
Varen membungkukkan badannya lalu mengecup kepala Reina sekilas. “Aku akan menjemputmu. Jangan pulang tanpa aku. Ingat itu!”
Reina kembali mengangguk. Tatapan matanya berubah sendu saat punggung Varen mulai menjauh. “Apa aku harus mengikutinya ya?” gumam Reina.
Sementara itu ditempat lain tampak Elora yang sedang melajukan mobilnya. Dia hendak berkunjung ke cafe. Dia merasa bosan dirumah sendiri karena Bobby sedang berkunjung kerumah orang tuanya. Akhirnya Elora memutuskan untuk nongkring di cafe. Begitu mobilnya berbelok dia melihat Varen sudah keluar dari cafe.
“Kebetulan sekali! Aku memang harus membicarakan hal penting dengannya.” ucap Elora. Dia lalu menghentikan mobilnya didepan Varen lalu membuka kaca mobil. “Masuk! Kita harus bicara!”
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan!” ucap Varen tanpa melirik Elora sedikitpun.
Varen menggeraskan rahangnya dan masuk kedalam mobil Elora. “Ada apa?” tanya Varen.
“Kita cari tempat yang lebih privasi.” jawab Elora seraya melajukan mobilnya. Elora memarkirkan mobilnya dipinggir alun-alun kota yang nampak sepi. “Aku ingin bagian dari warisan yang kamu dapatkan.” ucap Elora tanpa malu.
Varen mendengus. “Kamu tidak berhak karena kamu bukan istriku lagi.”
“Varen! Aku istri pertamamu jadi aku berhak mendapatkan bagian dari warisanmu.” geram Elora.
“Mantan istri, Elora! Apa kamu tidak ingat dengan pertukaran kamu dan Reina? Bukan hanya bertukar suami tapi kalian juga bertukar posisi dan hak milik.” ujar Varen dengan suara tinggi.
__ADS_1
Elora tercengang. Baru kali ini dia melihat Varen marah. Elora menatap Varen dengan nanar.
“Kamu bahkan tidak membiarkan Reina membawa barang-barang yang dimilikinya selama menikah dengan Bobby! Kamu mengambil semuanya dan membiarkannya pergi dengan tangan kosong! Jadi kamu tidak berhak menuntut apapun dariku Elora!”
“Apa yang aku miliki sekarang adalah milik Reina! ISTRIKU! Wanita yang menggantikan posisimu dan satu-satunya wanitaku yang berhak atas diriku dan apa yang kumiliki.” ujar Varen bergegas keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar. Dia pun pergi meninggalkan Elora yang masih tidak bergeming ditempatnya.
Elora membanting setirnya dengan kasar. Dia merasa sangat kesal sekaligus terpukau dengan bayang-bayang kemarahan Varen yang terus saja terpatri dalam ingatannya. Wajah Varen yang terluka dan amarahnya menjadi perpaduan yang sangat sempurna. Sehingga mampu menggetarkan hati Elora. Sikap Varen membuat Elora merasa tertantang.
“Hahahaha! Ternyata dia bisa marah juga ya. Bagaimana kalau aku merebutnya kembali dari Reina?” ucapnya bersemangat. “Tunggu! Lalu bagaimana dengan Verdi?” Elora teringat dengan keinginannya untuk memiliki Verdi.
“Varen kan penggangguran sedangkan Verdi seorang CEO! Jika aku berhasil memiliki keduanya tidak akan masalah.”
“Aku hanya perlu membagi waktu saja. Aku bisa menikahi Verdi dan menikmati kekayaannya. Dan diluar aku bisa memiliki Varen juga untuk memuaskanku.” senyum culas mengembang diwajahnya.
Elora pun berdecak kala teringat suaminya. “Bobby sudah tidak menarik lagi. Tapi dia masih bergun. Aku harus memanfaatkannya dengan baik.”
Tiba-tiba Elora teringat dengan keberadaan adiknya di cafe. Dia pun tersenyum miring. “Oke! Langkah pertama yang harus kulakukan adalah membuat hubungan Reina dan Varen merenggang. Sama seperti yang dulu aku lakukan kepada Bobby.” dengan membawa misinya, Elora menginjak pedal remnya lebih dalam. Dia bersemangat untuk menciptakan kekisruhan dalam rumah tangga adiknya.
Sedangkan ditempat lain Varen baru saja turun dari taksi Tanta. Kemudian dia berjalan menuju kediaman neneknya. Terlihat Samara sedang berbincang dengan Felix, Varen pun menyapa mereka dan memeluk neneknya.
“Ada apa nenek memanggilku?” tanya Varen. Ketika Reina menemui orang tuanya Samara mengirimkan pesan pada Varen.
Samara memintanya untuk datang kerumah. Karena itulah Varen tidak bisa berlama-lama menemani istrinya. “Apa istrimu sedang hamil?” Samara balas bertanya.
Dia menatap cucunya dengan tajam tanpa sedikitpun ada senyum diwajahnya. Varen melayangkan tatapan tajamnya kepada Felix. Pastilah dia yang sudah mengabarkan berita bohong itu kepada neneknya.
__ADS_1
“Belum nek. Reina belum hamil karena kami berencana untuk mulai progam bulan depan.” jawab Varen dengan penuh keyakinan. Samara tersenyum lega dan merasa senang mendengar berita kehamilan Reina adalah bohong. Gara-gara memikirkan calon cicitnya dia sampai tidak bisa tidur beberapa malam.