
Varen sangat menyukai momen seperti ini, dia bisa duduk berlama-lama dengan neneknya meskipun tidak ada percakapan apapun. Meskipun waktunya hanya terbuang untuk diam namun Varen tidak menyesalinya.
“Tamuku akan datang sebentar lagi.” ucap Samara seraya meletakkan cangkirnya yang sudah kosong. Bahkan air di teko pun sudah kandas . Varen melirik jam tangannya, tidak terasa waktu berlalu cepat dan sudah menunjukkan bahwa dia sudah satu jam lebih duduk bersama neneknya.
Varen lalu bangkit dan memeluk neneknya dan berkata, “Varen berangkat ke kantor dulu ya nek.”
Samara hanya menepuk punggung cucunya tanpa mengatakan sepatah katapun. Varen melepaskan pelukannya lalu pergi meninggalkan rumah neneknya.
“Varen, hati-hati dijalan jangan terlalu lelah bekerja.” ucap Samara menatap punggung cucunya yang sudah menjauh. Matanya sendu, sebenarnya dia juga merindukan cucunya itu.
Tak berselang lama Martin Osahar pun tiba dikediaman Samara. Seperti biasa Ezra akan menyambut tamu majikannya dan membawanya ke taman samping dimana Samara Bimantya berada.
“Duduklah.” ucap Samara seraya menunjuk kursi kosong dihadapannya.
Martin duduk berhadapan dengan Samara. “Bagaimana kabar mama?” tanya Martin Osahar pada mantan mertuanya itu.
Samara mendengus mendengar Martin yang masih memanggilnya mama padahal sudah lama Martin bercerai dari putrinya. “Aku tidak punya waktu untuk basa basi. Berapa total thutang Varen yang harus kuganti?” tanyanya.
“Varen tidak---”
“Katakan saja! Aku akan mengganti semuanya. Berapa total belanjaannya tempo hari.” ujar Samara dengan tegas. Dia tidak mau cucunya berhutang pada siapapun.
...********...
“Ahhhh aku bebas, hari ini pak Verdi tidak datang ke kantor. Semoga saja sampai sore dia masuk kantor.” ujar Reina pada Varen yang berada di ujung telepon.
“Tapi Felix memberimu banyak pekerjaan kan?” tanya Varen.
“Tidak apa-apa. Lebih baik banyak pekerjaan yang penting pak Verdi tidak masuk kantor hari ini.” ujar Reina tersenyum senang karena memang dia mengatakan yang sejujurnya.
__ADS_1
“Perutku lapar.”
“Aku pesankan makanan ya.” ucap Varen.
“Tidak perlu. Aku minta tolong OB saja nanti belikan cemilan. Kamu sudah makan siang belum?” jawab Reina dengan cepat menolak.
“Aku sudah pesankan cemilan untukmu. Minta OB mengambilnya di resepsionis. Aku makan sebentar.” ujar Varen lagi sambil tersenyum. ‘Ehmmm ternyata kamu senang kalau aku tidak masuk kantor ya?’ gumamnya dalam hati.
“Serius? Kamu sudah pesan?” tanya Reina lagi.
“Iya. Dua puluh menit lagi sampai kok. Aku ada sedikit kesibukan hari ini. Sampai jumpa nanti malam.” Varen memutuskan panggilan. Dia menatap tumpukan map dihadapannya. Banyak dokumen yang harus dikajinya tapi Varen tidak bisa melakukannya dikantor.
Dia tidak mau merusak kebahagiaan Reina yang senang karena ketidakhadiran Verdi di kantor. Tiga puluh menit yang lalu, Varen sampai didepan gedung kantornya namun Reina mengirim pesan dan mengatakan kalau dia senang karena atasannya tidak masuk kantor. Akhirnya Varen pun berubah pikiran dan pergi ke restoran disebelah gedung kantornya dan meminta Tanta untuk membawa semua pekerjaannya kesana.
Melihat senyum Reina rasanya Vare ingin kembali ke kantor, dia ingin melihat senyum istrinya secara langsung tapi dia takut senyum Reina akan hilang kalau melihatnya. Akhirnya Varen pun menyibukkan diri dan berharap waktu berlalu dengan cepat.
“Wah! Kamu benar-benar membawa semua pekerjaanmu kesini! Ckckck kamu bahkan mengawasi istrimu sejak tadi ya. Kenapa kamu tidak menemuinya saja?”
Felix heran dengan sikap Varen dan Reina. Sepupunya itu seperti menghindari Reina dan Reina pun seakan tidak ingin bertemu dengan Varen. Felix masih ingat sorak sorai Reina saat dia tahu kalau Verdi tidak masuk kantor hari ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa kalian saling menghindar seperti ini sih?”
Varen meletakkan map ditangannya keatas meja lalu menatap sepupunya. “Aku tidak menghindarinya, aku hanya ingin mempertahankan kebahagiannya saja. Dia bahagia kalau aku tidak ada di kantor.”
Felix mendengus seraya tersenyum lalu mengedarkan pandangannya ke meja-meja didalam restoran itu yang sepi. Dia mengeryit melihat tanda ‘Closed’ pun dipasang padahal ini sudah waktu makan siang.
__ADS_1
Sungguh gila sepupunya mempertahankan kebahagiaan istrinya. Dia mengeluarkan semua orang di restoran dan memaksa pemiliknya untuk tutup. “Kamu memang luar biasa berperan sebagai orang kaya dan orang miskin dalam waktu bersamaan. Bagaimana rasanya?” cibir Felix.
“Aku hanya menggunakan kesempatan saja. Lagipula nenek tidak ada melarangku menggunakan uangku pada jam kerja kan? Jadi kenapa tidak?” jawab Varen seraya membuka map lainnya.
“Itulah yang aku herankan dari sikap nenek. Dia menyiksamu tapi dia juga memanjakanmu juga. Aku pikir nenek tidak benar-benar ingin melihatmu sengsara. Dia hanya menggertak saja.” ucap Felix sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Varen tertegun mendengar ucapan sepupunya, nampak beberapa kerutan didahinya. Benarkah apa yang dikatakan sepupunya itu? Lalu untuk apa neneknya melakukan itu semua? Berbagai pertanyaan muncul dibenak Varen. Tapi saat dia mengingat neneknya yang benar-benar membuatnya miskin selepas kerja, Varen pun segera menyangkal pernyataan Felix itu.
Dulu, saat awal Samara menyita semua barang-barangnya dia meminta Tanta menggeledah saku bajunya. Berjaga-jaga jika Varen ada menyelipkan uang disakunya. Varen hanya bisa menghela napas panjang, sikap neneknya memang selalu membuatnya bingung. Dari dia kecil hingga sekarang Varen tidak benar-benar tahu bagaimana perasaan neneknya.
Apakah neneknya memang menyayanginya ataukah dia membencinya? Semuanya tidak dipahami oleh Varen. Dia juga tidak tahu mengapa kebencian neneknya begitu besar pada keluarga ibunya. Neneknya selalu menyalahkan ibunya sebagai penyebab kematian ayahnya. Sampai sekarang Varen tidak tahu kebenarannnya.
Sementara itu waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa sudah menunjukkan jam empat lewat tiga puluh lima menit. Sebentar lagi dia akan segera pulang dan bertemu suaminya. Hari ini Reina benar-benar senang karena Verdi tidak datang ke kantor seharian.
“Sampaikan kepada Pak Verdi, aku ingin menemuinya.”
Reina terlonjak kaget mendengar suara ketus Elora. “Pak Verdi tidak ada diruangannya. Dia tidak masuk kerja hari ini. Kembali saja besok kalau ingin menemuinya, mungkin besok dia sudah masuk kerja lagi.” jawab Reina dengan tenang.
Elora mengeryit, “Tidak masuk kerja? Jangan bohong kamu Reina! Tadi pagi pak Verdi menelepon Bobby dan meminta dokumen ini selesai sore ini juga. Aku harus segera menyerahkannya.”
“Benarkah? Tapi Pak Verdi tidak ma---”
“Ikut ke ruangan saya!”
__ADS_1