TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 58. RENCANA ELORA GAGAL


__ADS_3

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa senang saja karena hari ini cuacanya indah dan ada kamu disampingku.” jawab Elora berbohong. Semalam dia sudah mengirimkan foto Reina dan Kaifan kepada Varen.


Dia merasa sangat yakin kalau sekarang Varen dan Reina pasti sedang ribut besar karena foto itu. Jika mereka ribut maka yang akan terjadi adalah dua hal.


 


Varen akan menceraikan Reina atau Varen melarang Reina untuk bekerja. Sesampainya di kantor Elora berjalan menyapukan pandangannya mencari keberadaan adiknya.


Dia ingin memastikan semua kemungkinan yang sudah diperhitungkannya. Reina akan mengalami nasib buruk yang mana? Elora tak menemukan Reina di kantor dan ternyata adiknya itu sakit dan tidak masuk kantor.


 


Dia merasa kesal sebab dia dipenuhi rasa penasaran pada apa yang terjadi dengan rumah tangga adiknya itu. Ditengah-tengah pikirannya yang sedang melanglang buana tiba-tiba ponselnya berbunyi.


“Agatha?” gumam Elora ketika melihat nama orang yang meneleponnya. Elora pun segera menjawab panggilan wanita itu.


 


“Elora…..apa pria yang harus aku selidiki itu benar-benar bernama Varen Saskara? Apa kamu tidak salah memberikan namanya padaku?” tanya Agatha.


Elora mengeryit kesal, “Tentu saja namanya Varen. Mana mungkin aku salah karena dia mantan suamiku. Aku sudah menuliskan namanya untukmu waktu itu. Memangnya ada informasi apa?”


 


“Benarkah? Tapi aku tidak menemukan pria dengan nama itu. Aku pun sudah mencari tahu lewat rekanku yang bekerja di bandara. Tidak ada penumpang bernama Varen Saskara yang kembali dari luar negeri empat bulan lalu.” ujar Agatha dengan yakin atas informasi yang diperolehnya.


 


Elora menautkan alisnya, jelas-jelas nama mantan suaminya adalah Varen Saskara dan mendiang kakeknya juga memanggil Varen dengan nama itu. “Aku tidak mungkin salah. Aku yakin namanya Varen pokoknya aku tidak mau tahu ya kamu harus segera mencari informasi tentang pria itu.” Elora langsung memutuskan sambungan telepon.


 


Sebenarnya Elora sudah mulai meragukan dirinya sendiri. Agatha adalah seorang detektif yang handal dan berpengalaman. Kalau dia saja tidak bisa menemukan nama Varen itu berarti memang ada sesuatu yang salah dengan identitasnya. Elora mencoba mengingat-ingat tentang dokumen yang bisa menunjukkan identitas Varen yang sebenarnya.


 


Dia ingat Varen pernah memberikan KTP-nya untuk mendaftarkan pernikahannya dengan Reina. “Aku harus melihat nama asli Varen dari buku nikahnya. Jangan-jangan dia memang penjahat, bisa-bisa keluargaku malu jika mendapat menantu penjahat!”


...*****...


Varen baru saja selesai membersihkan baju Reina dan miliknya yang terkena muntahan. Tadi pagi setelah morning kiss mereka berakhir Reina mengeluh mual dan batuk-batuk. Varen sempat panik saat istrinya muntah-muntah dan dia mengajak Reina kerumah sakit namun istrinya itu menolak.


 

__ADS_1


Tak lama setelah itu ibu mertuanya menelepon dan memberitahu cara untuk merawat istrinya. Tanpa diduga keadaan Reina membaik walau demamnya masih belum reda juga.


“Masih mual?” tanya Varen.


Reina menggeleng lemas, “Katanya mama mau kesini ya? Kenapa belum juga datang?” tanyanya dengan suara yang pelan.


 


“Mungkin dia masih dijalan. Kita tunggu saja sebentar lagi.”


Tak lama terdengar suara deru mobil yang berhenti didepan rumah. Varen pun seegra menuju pintu depan untuk menyambut mertuanya. Terlihat kedua mertuanya tengah mengeluarkan beberapa paperbag dari dalam mobilnya. Varen beralan menghampiri mereka, “Ma, Pa. Apa ka---”


“Bagaimana bisa Reina masih muntah?” potong Chandra.


 


Menanyakan keadaan putrinya yang sakit mereka langsung melesat masuk kedalam rumah Varen begitu mendengar putrinya sakit.


“Muntahnya sudah berhenti tapi dia masih batuk-batuk.” jawab Varen.


“Bawa ini kedalam.” Indira memberikan dua paperbag ukuran besar pada menantunya lalu masuk kedalam rumah.


 


“Kamu ini memang tidak berguna! Seharusnya kalau istrimu sakit segera hubungi kami. Reina itu kalau sakit harus diberi penanganan khusus. Tidak seperti kakaknya yang cukup dibawa ke dokter saja.” gerutu Indira sambil menyimpan paperbag yang dia bawa didekat sofa. Varen hanya diam saja mendengarkan omelan mertuanya.


 


“Dimana Reina?” tanya Chandra.


“Ada dikamar Pa!” jawab Varen berjalan menuju ke kamar dan membukakan pintu untuk mereka. Terlihat Reina yang tengah terbaring lemas diatas ranjang.


 


Indira dan Chandra masuk kedalam kamar, begitu Reina melihat kedua orang tuanya dia pun menangis seperti anak kecil. Indira dan Chandra pun langsung memeriksa keadaan putri mereka.


“Sudahlah diam! Jangan menangis! Malu sama suamimu sudah besar masih saja cengeng.” ucap Indira seraya menempelkan telapak tangannya dikening putrinya.


 


Bukannya berhenti menangis, tangis Reina malah semakin kencang.


“Mama bilang jangan menangis! Kamu akan batuk-batuk jika menangis terus-terusan begini! Sudahlah diam saja! Pa suhu tubuh Reina masih tinggi, bawakan air kelapa. Oh iya nanti makanannya langsung masukin ke kulkas supaya tetap bagus.”

__ADS_1


 


“Iya Ma,” jawab Chandra berjalan keluar kamar. Varen hendak pergi membantu ayah mertuanya namun suara Indira menghentikannya.


“Mau kemana kamu? Tetap disini dan belajar cara merawat istrimu. Jangan mau enaknya sendiri saj! Reina juga sakit karena kamu, dia pasti kelelahan dan banyak pikiran makanya dia jadi seperti ini. Bawakan kursi duduk kesini!” ujar Indira sambil menunjuk tempat disampingnya.


 


“Iya ma.” sahut Varen menarik sebuah kursi lalu duduk disamping ranjang.


Sebenarnya dia cukup terkejut mendengar perkataan ibu mertuanya yang sama persis dengan perkataan dokter. Varen memperhatikan Indira yang tenga mengeluarkan beberapa botol dan sebuah pisin dari dalam paperbag.


 


“Nah kan kamu batuk lagi. Sudah mama bilang jangan menangis nanti mama obati. Sakit sedikit saja cengengnya minta ampun. Lihatlah suamimu sedang memperhatikan!” tutur Indira.


Reina pun langsung mengecilkan suara tangisannya. Dia ingin berhenti menangis tapi airmatanya terus saja mengalir.


 


“Sejak kapan Reina demam?” tanya Indira sambil membuka salah satu botol yang dia keluarkan.


“Sejak jam dua belas malam, Ma.” jawab Varen sambil memperhatikan tangan ibu mertuanya yang tengah mencampurkan beberapa minyak didalam mangkuk.


Indira menoleh menatap menantunya, “Terus kamu biarkan begitu saja?”


 


“Setelah di kompres tiga jam demamnya reda tapi tadi pagi setelah sarapan demamnya tinggi lagi.”


Indira cukup terekjut mendengar jawaban yang sangat detaik dari menantunya itu. Kemudian dia mengaduk minyak dalam mangkuk dengan tangannya.


“Tadi Reina muntah dimana?” tanya Indira lagi karena dia merasa heran melihat baju dan selimut putrinya yang nampak bersih sekali.


 


“Disini, ma.” jawab Varen singkat.


Indira kembali diam sejenak saat dia memperhatikan bekas kompres diatas nakas dan termometer disebelahnya, Indira menepuk pingguk putrinya yang masih menangis. “Buka bajumu!” titahnya.


Reina menggeleng sambil menatap wajah ibunya dengan sendu.


 

__ADS_1


“Bagaimana mama mau mengoleskan obat kalau kamu basih berpakaian. Cepat buka!” Indira membuka kancing baju putrinya.


Reina sempat menahan tangan ibunya namun Indira malah mengomelinya. Akhirnya Reina membiarkan ibunya melepas kancing bajunya. Varen yang melihat aksi mertuanya jadi salah tingkah apalagi kancing baju Reina sudah hampir terlepas semua.


__ADS_2