
Namun semuanya gagal, Reina masih tetap saja bungkam. Selain itu akhir-akhir ini Varen pun banyak melakukan hal-hal aneh dan konyol pada dirinya sendiri.
Dia membelikan Reina coklat, bunga, boneka, bantal berlambang hati, kotak musik, aksesoris, kue bahkan Varen memberikan perhiasan tapi bukannya luluh, Reina bahkan semakin marah.
Sungguh Reina membuat Varen tersiksa. Selama tiga hari ini hidup Varen terasa hampa tanpa keceriaan istrinya. Varen merindukan senyum manis Reina yang selalu menggetarkan hatinya.
Dia juga merindukan celotehan istrinya yang selalu saja membuatnya tersenyum. Jika bisa memilih, Varen lebih memilih Reina mengomelinya. Varen sungguh tak tahan didiamkan oleh Reina seperti ini.
Atau mungkin memukulnya daripada di diamkan seperti ini tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Varen sudah hampir gila memikirkan cara untuk mengembalikan keceriaan istrinya. Pagi ini jam masih menunjukkan pukul empat pagi tapi Varen sudah bangun. Dia hendak menyiapkan sarapan untuk istrinya tapi dia sadar kalau dia tidak bisa memasak.
Tapi menurut situs yang dia baca di internet, menyiapkan sarapan untuk istri adalah salah satu cara terbaik untuk meluluhkan kemarahannya.
“Semoga saja ini berhasil.” gumamnya. Varen meletakkan ponselnya ditempat aman kemudian memutar video tutorial yang semalam disimpannya. Rencananya dia akan membuatkan omelet dan sup iga kesukaan Reina.
Setelah menyalakan kompor untuk merebus iga, dia mulai memotong wortel untuk campuran sup. Beberapa kali jari tangannya teriris tapi Varen tetap melanjutkan usahanya.
Sambil menunggu daging iganya empuk, dia memipil jagung kemudian memotong bawang bombany, jamur dan paprika untuk bahan tambahan membuat omelet.
Dengan gerakan canggung, Varen memcahkan telur dan mencampurnya dengan bahan-bahan yang sudah dia siapkan. Satu jam berlalu acara memasak berakhir dengan omelan. Reina marah-marah karena Varen menghambur-hamburkan bahan makanan. Dia juga membuat dapur berantakan. Hampir semua alat masak yang sudah Reina cuci bersih dipakai Varen.
Dan yang paling menjengkelkan adalah Varen merebus semua persediaan daging iga untuk seminggu. Bayangkan betapa banyaknya daing iga yang Varen masak. Rasanya Reina ingin memukul kepala Varen.
“Tidak perlu pegang-pegang! Duduk saja disana!: ketus Reina ketika Varen hendak membantunya membungkus daging iga yang sudah matang. “Pokoknya setelah selesai sarapan cuci bersih semuanya!” perintah Reina dengan marah.
__ADS_1
“Aku tidak mau ada pekerjaan tambahan sepulang kerja. Kamu paham?” Reina menatap tajam suaminya yang malah cengegesan. Sungguh Reina jengkel dengan suami tampannya yang selama tiga hari ini selalu melakukan hal-hal aneh. Varen juga menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang-barang tidak berguna.
Amarah Reina pun semakin besar karenanya. Seharusnya Varen menabung uangnya untuk biaya pernikahan, bukannya malah membeli coklat mahal, bunga yang cepat layu dan boneka, kotak musik juga perhiasan yang jelas-jelas hanya akan jadi pajangan. “Paham tidak? Jangan diam sambil cengegesan begitu!” ketus Reina.
Reina menatap tajam suaminya yang menatapnya seperti orang bodoh. Varen mengangguk cepat, “Kamu tenang saja. Aku akan melakukan semuanya mencuci piring, mengepel lantai, mencabut rumput dihalaman, semua akan aku lakukan. Aku akan pastikan rumah kita bersih saat kamu pulang nanti.” ucap Varen berjanji.
Reina menggeram kesal. Varen benar-benar sudah berubah menjadi pria bodoh yang menjengkelkan. “Aku tidak memintamu melakukan itu semua Varen! Aku hanya memintamu mencuci piring. Jangan coba-coba menyentuh apapun selain itu! Aku tidak mau rumahku menjadi kacau!”
“Baiklah. Hanya mencuci piring saja, itu mudah.” sahut Varen yakin.
Varen bangkit dan menghampiri istrinya yang masih sibuk mengemas daging untuk dibekukan. Sebenarnya Varen merasa bersalah karena menurut tutorial masak yang dia putar, daging iga yang harus dimasak dua kilogram. Akhirnya Varen memasak semua daging iga yang ada. Mana dia tahu kalau daging itu persediaan Reina untuk satu minggu.
Sontak Reina menatap suaminya dengan tajam,
“Lalu mau dikemanakan semua makanan ini? Pokoknya selama dia hari ke depan kita makan sup saja! Jangan harap ada daging ayam!”
“Baiklah. Tidak apa-apa. Lebih baik aku makan sup daripada harus makan hati karena kamu mendiamkanku terus.” sahut Varen seraya tersenyum lebar.
Tuhan! Reina kesal sekali. Tapi senyuman itu dan kata-kata Varen, dari kapan dia belajar membalikkan kata-kata seperti itu? Reina ingin tertawa tapi dia masih berusaha menjaga gengsinya.
Varen harus tahu bahwa istrinya marah. Reina berdehem untuk menetralkan suasana hatinya sambil terus berusaha agar tidak terpengaruh oleh senyum Varen.
Reina sengaja memakai make up tebal demi menyembunyikan semburat merah karena kelakuan absurb Varen akhir-akhir ini. “Buka mulutmu!” Reina terkesiap saat tiba-tiba sepotong omelet melayang didepan mulutnya.
__ADS_1
‘Apalagi ini?’ gerutu Reina didalam hati. Kelakuan Varen benar-benar membuat Reina bakal terkena diabetes pada usia muda.
“Aku bisa makan sendiri.” tolak Reina dengan nada suara yang dibuat seketus mungkin. Bukannya menjauh, Varen malah berpindah ke belakang Reina. Dia mendorong Reina untuk duduk di kursi.
“Sudah hampir jam enam, kamu akan terlambat bekerja jika harus mengurusi itu lalu sarapan. Lebih baik aku menyuapimu jadi sekali dayung dua pekerjaan selesai.”
Varen kembali menyuapkan potongan omelet kemulut istrinya. Reina melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 06.15 dengan terpaksa Reina membuka mulutnya dan menerima suapan suaminya.
“Enak tidak?” tanya Varen.
“Agak kurang asin.” jawab Reina singkat.
“Sengaja. Supaya kamu tidak darah tinggi jadi tidak marah-marah. Nanti hilang cantiknya.”
Reina menatap tajam Varen. “Aku marah bukan karena darah tinggi Varen! Aku marah karena kamu.”
Varen segera putar otak jangan sampai Reina kembali kesal. “Baiklah. Maafkan aku. Aku salah lagi. Ayo makan lagi.”
Reina memakan omeletnya seraya mendelik tajam kepada suaminya. Namun yang ditatap malah tersenyum manis. Jantung Reina berdebar kencang dan dia semakin yakin suaminya salah minum obat.
Varen terus menerus tersenyum pagi ini. Varen terus menyuapi Reina sampai semua omelet habis disantap. Lalu Reina pun bergegas berangkat ke kantor seperti biasa.
Sementara Varen melangkah penuh semangat, dia sudah tidak sabar ingin bertemu sekretarisnya. Hati Verdi senang karena perjuangannya selama tiga hari tidak sia-sia. Walau Reina masih bersikap ketus tapi dia tidak diam seperti hari-hari sebelumnya.
Omelan Reina terdengar indah ditelinga Varen. Setelah memastikan Reina sudah pergi, Varen pun menghubungi anak buah Tanta.
__ADS_1
Setelah mengintrusikan anak buah Tanta untuk mencuci piring, Varen pun berangkat ke kantor. Dia lebih memilij menghemat waktu dengan meminta orang lain mencuci piring daripada harus melakukannya sendiri. Bukannya dia tidak mau menjalankan amanat istrinya tapi akan lebih baik waktu yang digunakan untuk menatap Reina bekerja.