TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 65. SALAH PAHAM


__ADS_3

Varen melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia melihat mata Reina yang sudah mulai mengantuk. “Reina harus istirahat sekarang.” ucap Varen tanpa sungkan.


Tidak takut jika kata-katanya akan menyinggung tamunya. Felix sadar dengan sindiran halus dari sepupunya itu, dia pun bangkit dan berpamitan.


 


“Kalau begitu kami pamit pulang. Semoga lekas sembuh ya Reina.”


Reina tersenyum kaku dia merasa tidak enak hati dengan sindiran halus suaminya. “Terima kasih sudah datang berkunjung.” ucap Reina berusaha tersenyum.


“Sebaiknya kamu cepat sembuh! Kasihan Pak Verdi kalau harus bekerja sendirian.” sindir Elora.


 


Sontak Felix dan Varen berpandangan, Reina melihat suaminya sekilas dan berkata. “Pak Verdi akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu mencemaskan atasanku.” sahut Reina tak kalah ketusnya.


Elora mendengus lalu melenggang pergi meninggalkan Reina. Felix dan Varen menyusul dibelakangnya sedangkan Bobby malah berdiri menghampiri Reina.


 


“Katakan anak siapa itu? Apa dia anakku?” tanya Bobby dengan suara pelan.


Reina mengeryitkan dahinya tak paham maksud pria itu. “Anak siapa apanya? Kamu ini bicara apa sih?” ujar Reina yang menatap tajam pada Bobby sambil mendengus kesal.


“Anak dalam---”


 


“Sudah aku bilang Reina harus istirahat!” ucap Varen memotong pembicaraan Bobby lalu dia berdiri tegak dianatra Reina dan Bobby. “Kalau ada hal lainnya yang mau kamu bicarakan silahkan bicara saja padaku sebagai suaminya Reina!”


 


Bobby mendengus kesal dan melihat sikap Varen yang seperti itu membuatnya semakin yakin jika anak dalam kandungan Reina adalah miliknya. “Jangan merasa bangga. Aku akan merebut apapun yang seharusnya menjadi milikku.” ujar Bobby kemudian dia pergi menyusul istrinya.


BLAM!


Terdengar suara pintu depan yang ditutup dengan kasar.


 


Varen menatap Reina dengan tajam, “Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kalian berbisik-bisik begitu?” tanya Varen dengan wajah datar penuh kekesalan.


Reina pun turut mendengus lalu mendongak menatap suaminya dengan tak kalah ketusnya berkata, “Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang tadi kamu bicarakan dengan Elora? Kenapa kamu berdekatan dengannya?”

__ADS_1


 


Reina dan Varen saling memandang tajam dan raut wajah keduanya nampak kesal. “Seharusnya kamu menjaga jarak dengan mantan istrimu/mantan suamimu.” ucap mereka bersamaan.


Sejenak mereka sama-sama terdiam dan saling memandang. Varen membuang napasnya dengan kasar karena dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Bobby pada Reina.


 


Hatinya kesal melihat Bobby yang selalu mencuri pandang kepada istrinya. Varen pun duduk disamping Reina. “Aku tidak suka melihat tatapan mata Bobby kepadamu. Dia seringkali mencuri pandang padamu dan itu sangat tidak pantas.” ungkap Varen.


“Aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan Elora.” balas Reina dengan cepat. Rasa kantuknya sudah lenyap karena kesal.


 


Mereka kembali saling berpandangan dengan tatapan tajam. Menatap kedalam manik-manik mata masing-masing. “Kamu cemburu?” tanya mereka berbarengan. Kemudian mendengus mendapati mereka mengajukan pertanyaan yang sama.


“Reina/Varen…..” mereka kembali saling bersahutan.


 


 


Entah siapa yang memulai namun perlahan jarak diantara mereka mulai menipias dan Reina mengalungkan tangannya ke leher Varen sedangkan Varen mengangkat tubuh Reina keatas pangkuannya.


 


Permainan bibir mereka menciptakan suara-suara sahutan yang menyenangkan, keduanya tampak sangat menikmati. Varen menyesap bibir bawah Reina dengan kuat membuat Reina mengerang dan meremas rambut Varen dengan kasar. Varen menjauhkan wajahnya dan menatap bibir bawah istrinya yang basah dan bengkak karena ulahnya.


 


“Apa kita harus menunggu empat puluh tujuh hari lagi?” tanya Varen dengan suara parau. Sorot matanya menampakkan keinginan dan harapan untuk bisa menikmati penyatuan mereka. Reina tersenyum dengan napasnya yang tersengal lalu dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir dan pipi suaminya.


 


“Perjanjian kita tidak akan pernah berubah. Kamu harus kuat dan sabar menunggu.” jawab Reina seraya menyandarkan kepalanya dibahu Varen.


Ekspresi wajah Varen mengeras lalu dia mengeratkan pelukannya dan berkata. “Aku sudah tidak tahan lagi. Terlalu lama menunggu, aku nggak yakin bisa bertahan selama ini.”


 


...*****...


Dua hari berlalu dan keadaan reina sudah berangsur pulih. Selama tiga hari dia beristirahat total membuatnya bosan. Pagi ini dia meminta ijin pada Varen untuk masuk kantor tapi Varen malah melarangnya.

__ADS_1


“Aku bosan Varen. Apalagi kamu sering pergi, aku selalu merasa bingung sendiri dirumah tidak tahu harus melakukan apa.” ucap Reina ketika Varen memintanya tetap istirahat dirumah untuk beberapa hari lagi.


 


Satu hal yang baru diketahui Reina saat dia sakit dan berdiam dirumah, semua kegiatan suaminya di siang hari. Selama dua hari ini setelah demam Reina reda sejak itu pula Varen keluar rumah dipagi hari dan kembali di siang hari sampai makan siang berakhir. Setelah itu dia pergi lagi dan baru pulang menjelang sore.


 


“Sehari lagi Reina. Kamu harus istirahat satu hari lagi agar benar-benar pulih. Besok baru boleh masuk kantor lagi.” ucap Varen dengan tegas. Reina mencebikkan bibirnya kesal dengan raut wajahnya yang masam.


Dia benar-benar merasa bosan tapi Varen malah melarangnya untuk bekerja. Bahkan memasak dan membersihkan rumah pun tidak boleh semuanya dilarang oleh Varen. Reina hanya diminta untuk duduk dan tidur karena itulah dia merasa sangat bosan.


 


“Aku bisa mati kebosanan kalu begini terus, Varen." ujar Reina sambil pergi keluar kamar dan berjalan menuju keruang makan. “Stree tahu dirumah terus begini!” omelnya sambil membuka tudung saji.


Nampak makanan yang dibawa ibunya sudah tersaji berikut dengan teh hangat. Kadang Reina bingung katanya Varen tidak memasak tapi kenapa dia sangat ahli menghangatkan makanan?


 


Melihat Varen yang berdiri dihadapannya, Reina duduk tanpa mengucapkan apapun. Bahkan saat menaruh nasi untuk suaminya pun Reina tetap saja diam. Sikap Reina itu membuat Varen tidak nyaman.


Andai neneknya tidak terus menerus menelepon dan mengancam akan memotong gajinya, pasti Varen lebih memilih bekerja di rumah dan menemani Reina.


 


Namun Varen tidak mau gajinya dipotong lagipula dia sudah berniat membelikan Reina sebuah cincin pernikahan saat dia menerima gajinya di bulan depan. Varen memegang tangan istrinya lalu berkata, “Setelah sarapan kita jalan-jalan ke taman.” dia tidak tega melihat istrinya yang merasa bosan sendirian dirumah, apalagi saat dia harus ke kantor maka Reina sendirian dirumah.


 


Reina pun langsung tersenyum sumringah mendengar kata jalan-jalan yang membuatnya bersemangat. “Kami tidak pergi ke luar lagi hari ini?” tanya Reina lalu diam karena salah tingkah sambil mengunyah makanannya dengan cepat.


Varen mengeryit, dia baru sadar kalau selama dua hari ini istrinya tidak pernah bertanya tentang kepergiaannya. “Kamu tidak penasaran dengan apa yang kulakukan diluar rumah selama ini?”


 


“Hah?” Reina mendongak lalu tersenyum kikuk. “Memangnya apa yang kamu lakukan?” tanya Reina dengan tatapan fokus menatap mata suaminya. Dada Varen langsung berdegup kenang, dia menyakinkan dirinya untuk memberitahu Reina yang sebenarnya tentang dia.


“Reina selama ini aku---”


Dreeettttt dreeettttt dreeetttttt


Ponsel Reina bergetar dan dia buru-buru mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa orang yang menghubunginya. “Halo?”

__ADS_1


__ADS_2