TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 26. KHAWATIR


__ADS_3

“Wah…..ini mengejutkan sekali! Ya kalau begini kita akan semakin sering ketemu.” sahut Bobby. Tanpa diduga, pria itu tersenyum manis pada mantan istrinya. Senyum yang dulu sering Bobby tunjukkan pada Reina.


Mendadak Reina merasakan kebencian yang semakin mendalam dan melihat kedua orang didepannya itu membuatnya ingin muntah.


 


Elora merasa cemburu melihat Bobby yang bersikap ramah dan tersenyum pada Reina. Dia tidak suka jika tatapan hangat Bobby berikan kepada Reina.


Dengan sengaja Elora menggandeng tangan Bobby dan berkata, “Sayang, jaga pandanganmu. Jangan sampai orang lain salah paham!”


Bobby terlonjak kaget, dia sadar dari lamunannya yang mengagumi Reina hingga melupakan ada istrinya disampingnya. Bobby membalas menggandeng tangan Elora untuk melihat reaksi Reina.


 


Bobby sangat yakin jika mantan istrinya itu masih memiliki perasaan padanya. Belum sempat Reina bereaksi, seseorang sudah menginterupsi perbincangan mereka.


“Wah…..lihat! Siapa ini? Pak Bobby Maheswara dan Ibu Elora Aleysia! Pengantin baru kita akhirnya kembali bekerja! Aduh senangnya yang baru pulang bulan mad.” tuturnya dengan nada ceria.


 


Reina menatap orang itu. Terlihat Felix dan Verdi sedang berjalan kearah mereka. Bobby da Elora segera membungkuk memberi hormat sedangkan Reina hanya tertegun menatap Verdi. Dia teringat suaminya lalu dia menundukkan kepalanya karena sedih. Reina berharap Varen ada disisinya saat ini.


 


“Selamat pagi Pak Verdi, Pak Felix!” sapa Elora dan Bobby.


Mereka saling menyapa dan berbincang, entah apa yang mereka bicarakan pun Reina tidak terlalu mendengarkan karena dia juga tidak peduli. Dia hanya menunduk lesu, sibuk dengan pikirannya yang berkelana mengingat Varen.


 


“Reina! Hei! Kamu sedang mikirin apa?” Felix memanggil Reina sambil menjetikkan jarinya.


“Hah?” Reina terlonjak sadar dari lamunannya.


“Kamu melamun ya?” Felix terkekeh.


“Maaf! Aku sedang memikirkan sesuatu.” jawab Reina tersenyum tipis.


 


Wajahnya yang tadinya ceria sekarang justru terlihat muram dan tidak bersemangat.


“Aku dengar kamu adiknya Elora? Kenapa tidak pernah bercerita?” tanya Felix.


“Memangnya harus bercerita ya? Bapak kan tidak pernah bertanya? Lagian aku tidak pernah diperlakukan sebagai adik dan tidak pernah dianggap adik! Jadi untuk apa menyebutku sebagai adik?”


 


Felix terkejut mendengar perkataan Reina namun dia akhirnya tertawa keras melihat reaksi Reina. Bobby pun tergelak merasa gemas dan jengkel. Sedangkan Elora hanya tersenyum meremehkan, menganggap reaksi adiknya itu terlihat sangat bodoh! Sedangkan Verdi hanya membaca kecemasan di wajah istrinya itu.


 


Reina tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, dia merasa ucapannya tidak lucu? Dia juga tidak memakai kostum badut, apanya yang lucu? Dia pun tak mau peduli dan kembali menundukkan wajahnya. Yang dia inginkan saat ini adalah segera pergi dari hadapan mereka.


 


“Kalau begitu selamat datang kembali! Semoga kinerja kalian setelah menikah semakin bagus. Saya harus keruanganku sekarang. Ada banyak pekerjaan yang menungguku.” ucap Verdi.


Elora dan Bobby menunduk hormat kemudian Verdi dan Felix melangkah memasuki lift khsusu eksekutif. Sedangkan Reina masih mematung ditempatnya.


 

__ADS_1


“Rei! Sampai kapan kamu akan berdiri disana?” panggil Verdi.


Reina terlonjak lalu menoleh. Dia segera membalikkan tubuhnya dan menyusul Verdi masuk kedalam lift. Felix kembali tertawa melihat tingkah Reina yang menurutnya sangat lucu dan kekanak-kanakan. Sedangkan Elora dan Bobby hanya bisa bertukar pandang.


 


“Kenapa Reina masuk ke lift itu?” tanya Bobby heran saat melihat Reina ikut masuk kedalam lift khusus itu bersama Felix dan Verdi.


“Jangan bilang kalau dia bekerja sebagai sekretaris Pak Verdi! Ujar Elora mendengus. Keduanya saling melempar pandang. “Tidak mungkin” ucap mereka berdua bersamaan. Wajah kedua orang itupun terlihat makin masam apalagi wajah Elora.


 


“Sial! Kenapa Reina beruntung sekali sih?”


 


“Hei Reina?” panggil Felix yang membuat Reina terlonjak sadar dari lamunannya lalu menatap Felix. “Kamu melamun lagi ya? Ada apa?”


“Tidak, aku baik-baik saja.” jawab Reina menggeleng cepat.


“Kalau begitu kamu harus fokus, jangan melamun terus ini sudah masuk jam kerja. Kamu bisa kembali melamun di jam istirahat nanti. Tidak baik kebanyakan melamun saat bekerja.”


 


“Maaf pak.” ucap Reina.


Felix menghela napas, sebenarnya dia tidak tega bersikap tegas kepada Reina tapi Varen akan marah jika pekerjaannya terbengkalai. “Tolong kamu hubungi Bu Tiara, suruh dia datang ke ruangan Pak Verdi sekarang.” perintah Felix.


 


“Baik pak.” sahut Reina seraya mengangkat telepon diatas mejanya. Melihat Reina yang sudah kembali bersikap normal, Felix pun kembali kedalam ruangan Verdi.


“Apa ada sesuatu yang terjadi pada istrimu?” tanyanya.


 


“Tidak sih. Aku lihat dia tidak fokus pagi ini. Apa semuanya baik-baik saja diantara kalian?”


Varen berpaling menatap istrinya, terlihat Reina yang sedang bicara ditelepon.


Sebenarnya Verdi juga mengkhawatirkan istrinya apalagi melihat ekspresi wajahnya yang muram. Verdi yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran Reina saat ini.


 


“Apa mungkin karena pertemuannya dengan Bobby tadi yang membuatnya jadi seperti itu?” tebak Felix sambil mengelus dagunya.


“Jangan-jangan dia masih menyimpan perasaan pada Bobby? Dia mungkin cemburu makanya konsentrasinya hilang.” terbaknya lagi.


 


Verdi menatap tajam sepupunya. “Sebaiknya kamu urus saja pekerjaanmu. Segera bawa laporanmu!”


“Ha ha ha jangan dianggap serius! Aku hanya bercanda kok?”


“Tapi aku sedang tidak bercanda! Kembali ke ruanganmu dan kerjakan laporanmu! Ngapain kamu berlama-lama disini dan bicara tidak jelas?” perintahnya dengan tegas. Wajahnya terlihat kaku dan tatapannya berubah nyalang.


 


Felix menghela napas, “Baiklah. Akan aku kerjakan sekarang. Sepertinya kamu memang jatuh hati kepada wanita itu ya.”


“Pergilah!” usir Verdi.

__ADS_1


Felix hanya tertawa sambil berdiri dari duduknya, dia merasa geli melihat reaksi sepupunya itu. Tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Varen, Felix melangkah pergi menuju keruang kerjanya.


 


Varen menghela napas lega, apa yang dikatakan oleh Felix mungkin ada benarnya juga. Reina merasa terganggu dengan Bobby meskipun dia sadar jika Reina masih memiliki perasaan pada Bobby namun Varen yakin Reina akan tetap setia padanya.


‘Mengapa kamu masih menyimpan rasa cintamu terlalu lama Reina? Bukankah kamu sudah berjanji akan melupakan pria brengsek itu?’


 


Setelah selesai menelepon, Reina memanjangkan lehernya mengintip ke ruang kerja atasannya. Tiga puluh menit yang lalu Bu Tiara dan dua anggota tim personalia memasuki ruangan meeting yang terhubung dengan ruangan Verdi. Karena Reina merasa kalau atasannya itu sedang sibuk dia pun mengambil ponselnya dan berlari menuju ke toilet.


 


Tak lupa Reina meninggalkan catatan diatas meja kerjanya yang bertuliskan, ‘Sedang ke toilet. Harap tunggu!’


Begitu Reina pergi, Verdi menelepon Reina lewat telepon di meja kerjanya namun tak kunjung dijawab. Verdi yang merasa heran pun berkata pada Felix, “Tolong kamu tanyakan laporan hasil rapat kemarin kepada Reina!”


 


“Baik, pak!” Felix mengangguk lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar untuk menemui Reina.


“Kemana dia?” gumam Felix saat tidak melihat keberadaan wanita itu disana. Felix celingukan mencarinya, saat sampai didepan meja Reina dia melihat catatan yang ditinggalkan Reina diatas meja. Felix pun tak kuasa menahan tawa.


“Reina…..Reina….kamu itu lucu sekali. Apa-apaan ini? Hahahaha memangnya kasir supermarket pakai buat catatan begini?”


 


Felix memfoto tulisan Reina lalu kembali keruang meeting. Begitu dia masuk, Verdi sudah menatapnya dengan tatapan tajam dan menuntut apalagi dia melihat sepupunya itu masih terkekeh geli.


“Maaf pak. Ini dokumen yang anda inginkan!” Felix menyodorkan ponselnya pada Verdi.


 


Verdi membaca tulisan di layar ponsel sepupunya, pupilnya membulat saat sadar kalau Felix menjahilinya. “Duduklah.” ucapnya dengan senyum dibibirnya. Verdi kembali melanjutkan meeting.


“Jadi untuk anggaran yang sudah kalian susun, saya ingin semuanya direvisi ulang sesuai dengan poin-poin yang sudah kita bahas sebelumnya. Dan untuk rekruitmen karyawan baru kalian harus bekerjasama dengan tim HRD mengenai…..”


 


Perkataan Verdi terpotong karena getaran ponsel disaku jasnya. Dia hendak mematikan ponselnya namun saat melihat nama orang yang menghubunginya, dia pun memutuskan untuk menjawabnya.


“Meeting selanjutnya akan dilanjutkan oleh pak Felix!” ucapnya seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang kerjanya.


 


“Varen! Akhirnya kamu menjawab teleponku….” ucap Reina yang terdengar khawatir.


“Tadi aku sedang--”


“Varen! Ternyata Elora dan Bobby bekerja disini juga! Dua pengkhianat itu masih bekerja di perusahaan yang sama denganku.” keluh Reina.


“Oh benarkah? Kamu tahu darimana? Apa bertemu dengan mereka?” tanya Varen berpura-pura.


 


“Iya! Dan tadi Elora mengancam akan memecatku! Aku takut sekali, bagaimana kalau aku benar-benar di pecat? Susah sekali emndapatkan pekerjaan dengan pengalaman kerja yang kumiliki? Gajinya juga lumayan besar! Bagaimana ini?”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2