
“Aku bahkan belum pulang kantor dari semalam.” jawab Felix terkekeh.
“Baguslah. Tolong kamu jemput Reina di lantai bawah, jauhkan dia dari orang yang mengganggunya.”
“Mengganggu? Memangnya siapa yang berani mengganggu iparku?”
“Cepatlah pergi. Pastikan Reina baik-baik saja dan hubungi aku kalau ada yang mengganggunya.”
Varen menggenggam ponselnya dengan erat. Andai dia tidak melihat ekspresi wajah Reina yang tertekan dan cemas karena gangguan Samara, mungkin Varen tidak akan menemui neneknya. Kecemasan Reina mengganggu pikiran Varen, dia suka melihat Reina tersenyum dan saat melihat senyum itu hilang, Varen menjadi tidak suka.
“Kamu yakin hari ini nenekku ada dirumah?” tanyanya pada Tanta.
“Saya yakin karena sudah menanyakan kepada Ezra tadi.” jawab Tanta.
“Baguslah. Sebenarnya aku juga merindukan nenek.” sorot mata Varen berubah sendu.
Sementara itu di gedung Kenz Copr. Reina tampak marah dan tangannya mengepal. “Maaf, saya harus segera naik kelantai atas.” ucapnya.
Kaifan kembali mengganggunya ketika Reina masuk ke lobi dan pria itu ternyata sudah menunggunya. Kaifan meminta maaf dan tanpa sungkan mengungkapkan perasaan cintanya kepada Reina tanpa tahu malu.
Kaifan mencekal tangan Reina dan berkata, “Aku benar-benar menyukaimu Reina. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu. Aku jauh lebih baik daripada suamimu itu.”
Reina melepaskan cekalan tangan Kaifan lalu berteriak marah. “Pak! Saya wanita sudah menikah dan mempunyai suami. Tidak sepantasnya bapak memiliki perasaan pada saya. Silahkan bapak cari wanita lain saja dan jangan pernah menghina suami saya!”
Kaifan menjadi geram dengan penolakan Reina. “Untuk apa kamu bertahan dengan suami tidak berguna seperti itu? Lebih baik kamu ceraikan saja dia dan terima cintaku! Aku akan memberikan segalanya kepadamu Reina!”
PLAKK!
__ADS_1
“Jaga mulut anda baik-baik! Anda tidak berhak menghina suamiku seperti itu. Dia jauh lebih baik daripada anda dan yang pasti saya mencintainya apa adanya!” hardik Reina.
Kaifan tercengang, dia tidak menyangka Reina berani menampar dan menghardiknya. Apalagi suara tamparannya sangat keras membuat semua orang melirik kepadanya.
“Berani kamu mempermalukan saya? Kamu pikir kamu itu siapa hah?” tatapan Kaifan terlihat nyalang.
“Maaf! Saya tidak akan mentolerir siapapun yang menghina suamiku. Permisi.” Reina melangkahkan kakinya namun Kaifan kembali mencekal tangan Reina.
“Dasar perempuan sombong! Kamu pikir kamu sia---”
“Ada apa ini?” suara berat Felix memotong perkataan Kaifan. Dia mendekati Kaifan lalu melepaskan tangan pria itu yang sedang memegang tangan Reina dan mencengkeramnya dengan kuat. “Tolong jaga sikap anda.saya tidak suka jika kenyamanan karyawan saya terganggu.” ucap Felix seraya melepaskan tangan Kaifan dengan kasar.
Kaifan menunduk sambil menyentuh pergelangan tangannya yang merah. “Maaf pak. Ini hanya kesalahpahaman saja.” ucapnya.
“Apa benar?” Felix melirik kearah Reina melihat wajah wanita itu merah padam. Felix pun sudah bisa menyimpulkan sendiri jawabannya. Felix menatap Kaifan dengan tajam seolah ingin mencabik-cabiknya. “Saya harap ini terakhir kali anda berbuat kasar pada karyawan saya. Saya tidak akan segan bertindak tegas jika anda mengulanginya lagi.”
“Ayo kita keatas.” ajak Felix pada Reina. Keduanya berjalan melewati Kaifan, Reina mendelik dan melayangkan tatapan tajam padanya. Ternyata firasatnya selama ini benar jika Kaifan bukan pria baik-baik dan sangat kasar. Pantas saja sejak awal dia sudah tidak menyukai pria itu dan sikapnya.
Reina dan Felix memasuki lift khusus, menuju kelantai teratas. Kaifan menatap kepergian Reina dengan tatapan dendam. Dia tidak terima ditolak dan dipermalukan seperti itu. “Lihat saja Reina! Kamu pasti akan menjadi milikku! Aku akan membuatmu tidak bisa menolakku.”
Sedangkan Elora yang berdiri tidak jauh dari Kaifan pun menatap lift yang membawa Reina dan Felix dengan tatapan geram dan benci. Dia kesal melihat bagaimana Felix bersikap baik dan perhatian kepada adiknya. ‘Kenapa semua pria yang aku suka selalu memperlakukan Reina dengan istimewa? Apa yang dia miliki yang tidak ada padaku?’ batin Elora segera pergi menuju ruang kerjanya.
Saat tiba di ruang kerjanya, Elora berjalan menuju meja kerjanya dengan kesal. Hari ini Bobby harus memantau lapangan jadi suaminya tidak ada dikantor. “Sialan! Prakkkk!” umpat Elora melemparkan tasnya keatas meja. “Reina lagi…..Reina lagi buat ulah! Kenapa kamu selalu mendapatkan apapun yang aku incar? Apa sih hebatnya kamu Reina? Kenapa semua pria incaranku perhatian dan sayang padamu sedangkan mereka bersikap dingin padaku?” geramnya.
__ADS_1
“Apa yang harus kulakukan agar kamu pergi jauh dari kehidupanku? Dasar adik sialan! Adik tidak tahu diri! Arrrrgggggg.” desisnya. Tangannya mengepal kuat, matanya memicing tajam dan dadanya bergemuruh karena amarah. Kebencian dan dendamnya pada Reina semakin besar, dia memikirkan cara untuk menyingkirkan Reina sejauh-jauhnya.
Bagi Elora, Reina itu tidak lebih dari seorang pengganggu. Dari kecil hingga sekarang Reina hanya merecoki hidupnya saja. Mulai dari kasih sayang orang tua yang harus berbagi, barang-barang kesayangan yang harus diberikan kepada Reina bahkan teman-teman Elora yang selalu membancingkan dirinya dengan Reina.
Dia merasa sangat tidak nyaman mempunyai saudara perempuan yang usianya hanya berjarak beberapa bulan saja darinya. Semua orang selalu membandingkannya dengan Reina. Membuat Elora harus berjuang mati-matian untuk selalu menjadi yang terbaik supaya orang-orang tidak berpaling darinya. Dia bahkan harus bekerja keras menyenangkan hati orang lain agar mereka menyukainya.
Elora berpikir jika kepergian Reina dari rumah akan membuat kehidupannya menjadi lebih tenang. Tetapi malah sebaliknya, mereka dipertemukan kembali di perusahaan. Dan sialnya lagi, Reina menjabat sebagai sekretaris CEO, posisi yang selama ini Elora incar. Sebelumnya Elora dalah sekretaris Felix dan dia mendapatkan posisi itu karena dia mengingatkan Felix tentang hutang budi Felix padanya.
Saat Verdi datang ke perusahaan menggantikan Felix, dia diberi pilihan untuk bertahan atau pindah departemen. Felix mengatakan kalau Verdi adalah orang yang pemilih dan dia tidak bisa menjamin Verdi akan menerima Elora sebagai sekretarisnya karena selama di London, Verdi sudah berganti sekretaris berpuluh-puluh kali.
Untuk berjaga-jaga, akhirnya Elora pun memilih untuk pindah dan ditugaskan sebagai sekretaris dari direktur pengembangan. Melihat banyaknya orang yang memundurkan diri gara-gara tidak tahan bekerja dengan Verdi yang disiplin dan perfeksionis, membuat Elora bersyukur atas keputusannya saat itu. Tapi saat dia mengetahui Reina mampu bertahan, Elora pun menjadi geram.
Dia merasa iri dengan adiknya yang mampu menjadi sekretaris Verdi dengan pengalaman kerjanya yang kurang dan jenjang pendidikan yang jauh dibawahnya. Dari semua gangguan yang Reina lakukan, Elora paling terganggu dengan hubungan Reina dan Varen, hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Padahal Elora sudah merencanakan semuanya matang-matang.
Dia sengaja meminta kepada ayahnya untuk menikahkan Reina dengan Varen untuk membuat hidup Reina menderita dan semakin tersiksa. Wanita mana yang tahan hidup dengan pria acuh dan penggangguran seperti Varen? Elora ingin Reina merasakan bagaimana rasanya berdampingan dengan pria berhati dingin. Dia sangat ingin melihat Reina tersiksa lahir dan batin, tidak disentuh dan tidak diberi makan.
Namun yang Elora lihat akhir-akhir ini membuatnya marah. Varen yang dulu bersikap acuh dan dingin padanya sekarang justru bersikap hangat dan perhatian pada Reina. Mereka bahkan terlihat seperti pasangan normal lainnya, tertawa, berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan bahkan Varen mengantar jemput Reina ke tempat kerja. Suatu hal yang belum pernah dilakukan Varen padanya dulu.
Elora semakin iri pada adiknya. “Reina! Kamu memang benalu yang menyusahkan dan merugikan orang lain! Aku sangat membencimu! Pokoknya aku akan membuatmu menderita! Kamu tidak boleh hidup tenang dan bahagia. Bagaimanapun, caranya kamu harus tersiksa dan menderita. Hanya aku yang boleh tertawa bahagia!”
__ADS_1
“Varen! Apa sih yang kamu lihat dari Reina? Kamu bisa tertawa dan bersikap hangat padanya. Tapi kamu bahkan tidak mau memandangku dulu! Padahal aku jauh lebih cantik, lebih berpendidikan dan lebih menarik daripada Reina!”