
Karena terlalu fokus menyusun rencana, Reina tidak sadar jika Varen sudah berada dihadapannya. Jantung Reina langsung berdebar kencang kala Varen menempelkan telapak tangan dikeningnya.
“Aku baik-baik saja.” Reina menyingkirkan tangan Varen, wajahnya semakin panas. Tidak mudah mengendalikan diri saat berdekatan dengan Varen.
Hasratnya selalu mencuat setiap kali melihat tubuhnya. Apalagi tubuh Varen bermandi peluh seperti sekarang. Reina wanita normal dan berpengalamanan, dia tidak munafik dengan mengenyahkan keinginannya untuk berhubungan dengan suaminya. Apalagi seingat Reina sudah sekian lama dirinya tidak melakukan itu.
Karena sebelum berceraipun Bobby selalu mengacuhkannya. Dan itu sudah berbulan-bulan lamanya. “Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan? Kenapa semakin lama wajahmu semakin memerah?”
Tiba-tiba saja Varen mendekatkan wajahnya seraya menempelkan jari telunjuk dikening istrinya. Matanya memicing melihat gelagat aneh istrinya.
Reina hanya tersenyum saja sambil menampakkan deretan gigi putihnya. Wajahnya semakin memerah dan sorot matanya memperlihatkan keinginan. Reina sudah tidak bisa lagi berbohong.
Varen mendengus geli karena mengerti keadaan istrinya. Varen mengecup kening Reina dengan kilat. “Olahraga akan membuatmu lebih baik.”
Varen menggenggam tangan Reina dan mengajaknya berdiri. “Coba atur napasmu supaya pikiranmu lebih jernih.” ujarnya sambil melangkahkan kaki.
Varen sangat paham dengan apa yang Reina rasakan. Karena tidak hanya Reina saja yang mengalaminya, Varen pun memiliki keinginan yang sama bahkan lebih besar lagi.
Tidak mudah hidup satu atap dengan wanita berstatuskan istri tanpa melakukan hubungan badan. Palagi mulai tumbuh perasaan cinta didalam hatinya. Kadang Varen berpikir untuk melanggar janjinya.
Sebenarnya tidak sulit untuk mempengaruhi Reina karena dia pun menginginkan hal yang sama. Tapi Varen tidak mau menjadi pengecut.
Seperti yang pernah dia katakan kepada Reina waktu itu, “Pria sejati akan menepati janjinya.”
“Varen! Kamu menipuku!” keluh Reina saat mereka sampai didepan tangga. Keringatnya sudah mengucur deras dan napasnya tersengal-sengal.
“Menipu bagaimana?” sahut Varen dengan santainya.
“Kenapa kamu hanya bilang menaiki tangga tapi tidak mengatakan padaku kalau aku harus berjalan jauh dari ujung sana ke ujung sini?” Reina menunjuk ke ujung taman tempatnya duduk.
“Kalau tahu jaraknya sangat jauh begini lebih baik aku lari keliling taman tiga putaran.” sambungnya. Reina menyesali pilihannya sendiri.
__ADS_1
Varen terkekeh, “Salahmu sendiri. Kenapa memilih menaiki tangga. Ingat ya! Kamu sudah janji tidak akan protes. Kamu harus menepati janjimu.” sahut Varen seraya melangkah menaiki anak tangga.
Reina mengeram kesal, “Dasar licik! Bisa-bisanya kamu menipu istrimu sendiri.” umpat Reina yang merasa kalau dia sudah dibodohi.
Bagaimana tidak? Jarak dari ujung taman ke tangga sama dengan jarak tiga kali putaran keliling taman. Bahkan tangga yang ternyata lebih tinggi daripada apa yang dilihatnya dari tempat duduknya semula. Varen benar-benar membodohinya.
“Varen…...berhenti sebentar.” pinta Reina. Tenaganya sudah terkuras habis namun Varen tidak menghiraukannya.
Dia terus saja mengajak Reina menaiki anak tangga. “Varen! Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku menyerah saja. Varen…..apa kamu mau menjadi duda kembag?” ucap Reina mengeluh.
Varen sontak berhenti lalu menoleh pada istrinya.
“Apa itu duda kembang?” tanyanya dengan alis bertaut dan napas yang tersengal.
“Huh! Huh! Huh!” Reina menegakkan tubuhnya sambil mengatur pernapasan. Dia terlihat kesulitan. “Duda kembang itu adalah pria muda yang bercerai atau ditinggal mati istrinya. Aku merasa akan mati sebentar lagi Varen! Aku lelah sudah tidak sanggup lagi.” ujar Reina dengan ekspresi wajah yang dibuatnya selemah mungkin.
Mendengar penjelasan Reina, dengan terburu-buru Varen membungkukkan badannya. “Naiklah. Biar aku gendong saja kalau begitu. Aku tidak mau istriku mati.”
“Sebentar lagi juga sampai kok.” jawab Varen dengan napas terengah. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit menaiki tangga akhirnya mereka sampai ditujuan.
Varen pun menurunkan Reina dari punggungnya lalu mencari penjual minuman. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk berjalan pulang kerumah karena pagi mulai terang.
Menjelang siang Reina mengajak Varen untuk berkunjung ke cafe orangtuanya. Reina merindukan mereka karena terakhir kali bertemu, Reina tidak sempat mengobrol dengan mereka.
Varen yang memahami perasaan istrinya pun menyetujui ajakannya. Namun dia tidak bisa berlama-lama karena ada urusan yang harus segera dia selesaikan.
“Padahal ini hari libur. Kenapa masih sibuk sih?” gerutu Reina saat sudah berada didalam taksi.
“Hanya sebentar saja. Nanti sore aku akan menjemputmu.” ujar Varen.
Reina menghela napas panjang mendengar ucapan suaminya. Entah apa yang akan Varen urus namun Reina tidak mau tahu dan tidak berkeinginan untuk bertanya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Selama urusanmu tidak berhubungan dengan wanita, aku tidak masalah.”
Varen tersenyum tipis. “Tidak wanita. Aku jamin itu!”
Di kursi depan Tanta mengulum senyumnya karena mendengar percakapan majikannya. Dia senang rumah tangga tuan mudanya dalam keadaan baik-baik saja.
“Berhenti disini pak.” ujar Reina ketika sudah sampai didepan cafe orang tuanya. Reina dan Varen pun segera turun dari taksi. Begitu mereka masuk terlihat Chandra Hasena dan Indira yang tengah sibuk dimeja kasir. “Mama! Papa!” sapa Reina.
Melihat kedatangan putrinya Chandra dan Indira merasa senang, mereka mengajaknya duduk.
“Oh iya. Kalian mau minum apa?” tanya Indira hendak memanggil pelayan namun Reina melarangnya.
“Biar Reina saja yang ambil minum sendiri.” ucapnya lalu pergi meninggalkan Varen dan kedua orangtuanya. Setelah Reina menjauh, Indira menatap Varen dengan serius. “Kemarin lusa Nyonya Samara berkunjung kesini.” ujarnya.
Varen tersentak, “Ada urusan apa nenek menemui kalian?” tanya Varen tanpa basa basi.
“Dia menawarkan sejumlah uang untuk berinvestasi. Jumlahnya cukup besar.” jawab Chandra.
Varen menatap kedua mertuanya dengan wajah datar. Dia yakin investasi yang Chandra maksud adalah sogokan untuk menjauhkan Reina darinya.
Didalam hatinya Varen berharap kedua mertuanya tidak menerima yang dari neneknya. “Jangan memandang kami seperti itu. Penghasilan dari cafe dan resto saja sudah cukup untuk menghidupi kami. Dasar menantu tidak berguna! Bisa-bisanya kamu mencurigai mertuamu sendiri!” geram Indira.
Reaksi Varen datar sehingga Indira mengartikan sebagai bentuk kecurigaan menantunya. Mendengar suaminya dimarahi, Reina langsung melangkah cepat menuju suami dan orangtuanya.
“Mama! Bisa tidak jangan marahi Varen seperti itu?” protes Reina kepada ibunya seraya meletakkan nampan yang dibawanya dengan sedikit kasar. Reina tidak tahu masalah apa yang sedang mereka bicarakan dengan Varen.
Tapi Reina tidak terima jika suaminya dihina. Indira mendengus menanggapi putrinya,
“Suamimu memang tidak berguna! Bisanya hanya merepotkan istri saja. Buktinya sampai sekarang dia belum juga punya pekerjaan yang jelas!”
“Cukup ma! Reina kesini bukan untuk mendengar kalian menghina Varen. Reina ingin bertemu kalian.” ujarnya mendengus kesal.
Reina menatap Varen yang hanya memperlihatkan wajah datarnya. Kadang Reina merasa frustasi dengan suaminya yang kurang bisa mengekspresikan dirinya. Reina kesulitan mengetahui perasaan Varen yang sebenarnya. Entah Varen memang penyabar atau dia memang orang yang cuek.
“Ck! Bela saja terus suamimu yang tidak berguna!” sahut Indira.
__ADS_1