TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 30. PRASANGKA BURUK-2


__ADS_3

Elora menatap suaminya lekat-lekat, pemikiran Bobby mungkin ada benarnya juga. Mengingat suami adiknya itu yang penggangguran dan tidak punya uang membiayai hidup mereka makanya Reina tidak punya pilihan lain.


“Kalau memang benar begitu, mama sama papa harus segera tahu.” ujar Elora. Dia merasa senang sekali karena kembali bisa membully dan menghancurkan adiknya itu.


 


“Jangan! Sebaiknya kita selidiki dulu, tidak boleh bertindak gegabah nanti malah kita yang kena imbasnya. Aku jadi curiga, jangan-jangan Varen yang memaksa Reina untuk melakukan itu. Dia sengaja memanfaatkan kepolosan Reina untuk mendapatkan uang. Dengan dalih bekerja di kantoran padahal lebih dari itu.” tuduh Bobby lagi.


 


Elora mengetukkan telunjuknya kedagu sambil berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan bukti perbuatan Reina agar dia bisa gunakan untuk menyerangnya. Elora tidak suka karena kini Reina bekerja di perusahaan yang sama dengannya. Dia merasa tersaingi apalagi posisi Reina sebagai sekretaris CEO.


“Kamu benar, sayang. Diam-diam begitu tapi keliatannya Varen orang yang licik loh! Aku saja ngeri! Untung aku sudah cerai darinya, kalau tidak bisa-bisa aku yang jadi korbannya!”


 


Elora bergidik ngeri membayangkan mantan suaminya yang jarang bicara dan berwajah datar itu. Walaupun Varen memiliki wajah yang sangat tampan dan tubuh kekar tapi kalau soal uang dan perhatian, Elora tidak sudi bersamanya. Sudahlah miskin nggak punya uang, sikapnya dingin dan tidak perhatian sedikitpun.


Meskipun Varen berwajah sangat tampan tapi Elora kesal dan membencinya karena pria itu tak pernah menatapnya apalagi menyentuhnya.


 


“Aku beruntung sudah jadi istrimu, sayang.” ucap Elora dengan nada manja seraya mengecup pipi suaminya. “Kamu laki-laki hebat dan sangat perhatian. Tidak seperti Varen! Huh! Tidak bisa apa-apa!”


Bobby tersenyum bangga, “Oh ya, apa kamu sudah mencari tahu tentang Varen? Apa benar dia itu keponakan Martin Osahar?”


 


“Ah, soal itu. Aku belum sempat cari tahu. Tapi sepertinya tidak mungkin deh, aku lihat-lihat info di internet katanya Martin itu anak tunggal. Lagian mana mungkin dia punya keponakan seperti Varen?”


Bobby semakin curiga, “Kamu harus mencari tahu lebih detail mengenai Varen. Siapa tahu saja kita masih bisa menyelamatkan Reina.”


 


“Jelek-jelek begitu, dia kan adikmu. Jangan sampai nama baik keluargamu hancur gara-gara perbuatannya yang memalukan itu! Aku juga bisa kena imbasnya! Apa nanti kata orang-orang?”


Elora mengangguk kecil, “Oke. Besok aku akan menyewa seseorang untuk menyelidiki. Sekarang kita tidur ya sayang! Aku kangen banget loh!” ajaknya dengan nada manja.


 


“Kamu harus cari orang yang bisa dipercaya! Jangan sampai dia cuma mengincar bayaran tapi hasil kerjanya tidak becus!” ujar Bobby.

__ADS_1


“Iya….iya jangan khawatir. Jaman sekarang kan sudah ada jasa detektif terpercaya yang bisa disewa untuk keperluan pribadi! Mereka juga cara kerjanya profesional.” ujar Elora.-


 


Bobby pun segera menyusul istrinya berbaring di tempat tidur. Dia paling suka kalau Elora sudah menggodanya dan bermanja-manja. Tanpa menunggu lama, Bobby langsung menyergap istrinya dan menghabiskan malam panjang seperti biasanya mereka lakukan.


...**********...


Keesokan paginya Reina mengajak Varen olahraga pagi. Selain itu Reina ingin mengenali lingkungan sekitar tempat tinggalnya karena selama tinggal dirumah tua itu dia belum pernah berkeliling. Setibanya mereka di taman, Varen memilih berlari mengelilingi taman seperti biasanya sedangkan Reina duduk di kursi taman memperhatikan suaminya.


 


Dia terpesona melihat suaminya. Tubuh Varen dibasahi keringat memperlihatkan otot-otot dan dada kekarnya yang tertutupi kaos. Mata Reina memperhatikan betapa kekarnya tubuh pria itu, dengan kulit tubuhnya yang bersinar glowing berwarna kecoklatan membuatnya terlihat sangat seksi. Ingin rasanya dia menyentuh tubuh suaminya.


 


“Kenapa kamu tidak berolahraga? Tadi kamu yang ngajakin kesini untuk olahraga. Tapi malah kamu duduk saja.” tanya Varen dengan napas tersengal seraya duduk disebelah Reina. Dia memberikan botol air minum pada Varen.


“Aku olahraganya jalan kaki saja ya kalau lari dadaku suka sesak!”


 


“Tidak mau! Capek! Tidak apa-apa kayak nenek-nenek yang penting suamiku tampan!” Reina mencondongkan tubuhnya sambil tersenyum mengejek.


 


Varen menarik kembali tangannya seraya berkata, “Mana ada olahraga yang tidak capek! Olah raga nikmat saja tetap melelahkan.”


“Olah raga nikmat? Memang ada?” Reina mengeryitkan dahinya.


“Ada.” jawab Varen.


 


“Olah raga yang dilakukan dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan, nanti kita akan melakukannya kalau kamu mau. Kapan kamu mau coba?” ujar Varen mengulum senyum menggoda Reina.


Pipi wanita itu langsung memerah, sadar maksud dari perkataan suaminya dia pun segera bangkit.


“Aku mau lari satu putaran. Jangan mengikutiku!”


...******...

__ADS_1


Reina baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Setelah kelelahan lari satu putaran dengan terpaksa akhirnya dia merasakan sekujur tubuhnya terasa segar.


Sudah hampir jam tujuh pagi tapi dia baru selesai mandi. Dia membuka lemari dan mengambil baju kerjanya. Karena tidak ada orang lain dikamar itu dia pun langsung membuka bathrobe-nya.


 


Lalu Reina memakai ****** ***** dan celana panjangnya. Ketika Reina baru saja mengenakan bra, tiba-tiba pintu terbuka.


“Taksinya sudah menung-----gu.” Varen tertegun melihat tubuh bagian atas Reina yang hanya tertutup sehelai kain. Reina pun terkesiap langsung menutupi dadanya dengan kemeja ditangannya.


 


“Balik badan!” teriaknya.


Dengan refleks Varen berbalik, debar jantungnya kuat karena melihat pemandangan langka nan indah yang baru saja dilihatnya. ‘Ah sial! Kenapa dia langsung bereaksi sih? Lagian Reina, apa-apaan dia berpakaian di kamar begitu. Aduhhhh…..” umpat Varen melihat bagian tubuhnya sudah mengembung.


 


“Apa kamu tidak punya tangan ya? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu baru masuk?”


“Maaf! Biasanya kamu kan tidak ganti baju di kamar.” jawab Varen.


“Aku buru-buru. Taksinya sudah datang ya?” Reina mengambil sisi yang menyisir rambutnya lalu mulai merias wajahnya dengan cepat.


 


“Sudah! Cepatlah nanti kamu telat!”


Varen langsung membalikkan badannya, melihat istrinya yang terlihat kewlaahan berdandan dia langsung menghampiri. Reina kaget karena tiba-tiba suaminya mengambil sisir dari tangannya dan mulai menyisir rambutnya.


 


“Rias wajahmu dengan benar. Jangan terlalu menor! Cukup seadanya saja!” ucap varen menyisir rambut istrinya sambil melirik ke cermin. Dengan perasaan canggung Reina membiarkan Varen menyisir rambutnya.


“Lain kali kita olahraga dirumah saja.” Varen merapikan rambut Reina sambil menatap pantulan wanita itu di cermin.


 


Reina mengerucutkan bibirnya, “Kamu sih pake nyuruh aku lari! Kita jadi terlambat pulang.” dia malah menyalahkan Varen yang membuatnya lari satu putaran hingga sesak napas dan hampir pingsan.


Reina bahkan tidak kuat berjalan karena kelelahan sehingga Varen terpaksa menggendongnya dari taman sampai ke rumah.  Pipi Reina merona merah saat dia emngingat kembali saat berada diatas punggung Varen.

__ADS_1


__ADS_2