TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 95. PERASAAN IRI


__ADS_3

Keesokan paginya setelah selesai sarapan Varen membantu Reina bersiap-siap. Dia mengikat rambut Reina sedangkan Reina sibuk memoles wajahnya dengan bedak.


"Bagaimana? Sebenarnya aku malas datang.” tanya Reina meminta pendapat Varen mengenai acara ulang tahun kakaknya.


“Terserah kamu saja kalau tidak mau datang, ya kita dirumah saja.” jawab Varen.


Reina mencebikkan bibirnya dan memasang wajah cemberut, dia bertanya pada Varen karena merasa bingung tapi suaminya malah menambah kebingungannya.


“Tidak perlu datang jika tidak mau. Kita kirimkan hadiah saja untuk kakakmu. Tidak perlu memaksakan diri lebih baik kita jalan-jalan keluar.”


Reina menatap cermin didepannya sambil memperhatikan Varen yang sedang menyisir rambutnya. Dia sebenarnya malas untuk menghadiri acara ulang tahun Elora.


Tapi Reina tidak mau melewatkan momen kebersamaan dengan orang tuanya. Sudah lama dia tidak duduk bersama untuk makan malam ataupun sekedar mengobrol dengan mereka layaknya keluarga.


“Bagaimana kalau nanti kita diminta menginap disana? Kalau pulang pasti malam sekali.” tanya Reina lagi. Dia masih saja bimbang antara datang atau tidak.


“Menginap atau tidak, bukan masalah yang penting kamu nyaman.” jawab Varen dengan cekatan tangannya menyematkan jepitan rambut mutiara di bagian depan kepala istrinya.


“Kalau begitu aku akan menyiapkan hadiah untuk Elora. Apa yang harus kubeli untuk Elora? Dia juga tidak pernah memberiku hadiah ulang tahun.’ gerutu Reina seolah tidak rela memberikan sesuatu untuk kakaknya.


“Haruskah aku yang memilih?” tawar Varen.


Reina menautkan alisnya, “Boleh. Tapi jangan belu yang mahal. Lebih baik uangnya kamu tabung untuk modal bulan madu kita.”


“Baiklah. Aku tidak akan membeli barang mahal.” sahut Varen tersenyum. Setelah mereka selesai bersiap, Varen mengantarkan Reina ke depan rumah lalu membuka pintu taksi yang sudah menunggu.


“Hati-hati.” ucap Varen.


Reina mengangguk lalu melambaikan tangan. Reina melirik dari spion depan dan melihat Varen yang masih berdiri ditempatnya sambil memperhatikan mobil yang Reina tumpangi.


Ketika sosok Varen sudah tidak terlihat lagi, Reina mengeluarkan ponselnya dan menelepon ibunya. Dia memberitahu bahwa mereka akan hadir di acara ulang tahun Elora.

__ADS_1


‘Apa tahun ini dia juga mengundang teman-teman kantor seperti biasanya?” bisik hati Reina bertanya-tanya.


Sementara itu ditempat lain tampak Elora yang terlihat senang setelah mendengar kabar dari ibunya bahwa Reina akan datang ke perayaan ulang tahunnya.


“Apa Varen bakalan ikut juga ma?” tanya Elora pada ibunya. Didalam hatinya bersorak gembira.


“Ya, tadi Reina bilang begitu. Mereka berdua akan datang.”


“Baguslah kalau begitu! Pestanya akan lebih meriah dengan kehadiran mereka. Ya sudah ya Elora tutup dulu teleponnya.” Elora mematikan sambungan telepon.


Bobby yang sejak tadi mendengar percakapan Elora dengan ibunya menoleh. “Reina akan datang ke acaramu?”


“Iya! Dia akan datang.” jawab Elora dengan semangat. Bibirnya tersenyum sumringah menunjukkan kebahagiaan dihatinya.


Bobby mengeryitkan dahi melihat perilaku istrinya yang aneh. Biasanya dia tidak mau berdekatan dengan adiknya tapi kenapa sekarang sepertinya Elora senang sekali?


“Sepertinya kamu senang dengan kehadiran Reina.”


Malam ini semuanya akan berubah! Aku akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku! Hanya aku yang pantas!’ gumamnya dalam hati.


Bobby pun tidak melanjutkan pertanyaannya. Elora benar, memang sudah lama mereka tidak berkumpul dengan Reina.


Dia pun merindukan duduk satu meja dengan Reina, terakhir kali Bobby makan satu meja dengan Reina, dia malah menuduh hal-hal yang tidak baik dan kini Bobby menyesalinya. ‘Aku harus meminta maaf atas kesalah pahaman selama ini kepada Reina.’ bisik hatinya.


Sementara itu di Kenz Group seluruh karyawan heboh membicarakan pesta ulang tahun Elora. Mereka antusias untuk hadir dalam acara tersebut termasuk  Shania, Nita dan Marsha.


Sedangkan Reina sedang makan siang bersama mereka bertiga saat ini. Yang mereka bicarakan adalah pesta ulang tahun kakaknya.


“Reina…..apa ulang tahunmu juga selalu dirayakan meriah seperti ini?” tanya Shania.


Hampir saja Reina tersedak makanannya. Pertanyaan Shania begitu mengena dihatinya dan dia bingung harus menjawab. Karena orangtuanya tidak pernah merayakan pesta apapun untuk ulang tahunnya kecuali memberikan makan gratis di cafe dan resto seharian penuh.

__ADS_1


‘Apa itu bisa dibilang perayaan ya?’ batin Reina.


Dia selalu merasa apa yang orangtuanya lakukan di hari ulangtahunnya bukan perayaan karena tidak ada kue dan kado seperti ulang tahun Elora.


Jangankan merayakan pesta ulang tahun seperti Elora, kado ulang tahunpun selalu dia dapatkan seminggu setelah hari ulang tahunnya. Iri? Tentu saja Reina merasa iri karena dia diperlakukan berbeda dengan Elora.


Tapi Reina sudah terbiasa dengan itu, orang tuanya sangat pilih kasih. Tapi Reina tidak pernah protes karena tidak ada gunanya. Saat dia SMA pernah dia terpikir untuk merayakan ulang tahun tapi bukannya dituruti malah dia dimarahi habis-habisan karena dibilang tidak bersyukur.


“Reina?” panggil Shanie. Dia heran melihat Reina yang melamun.


“Hah? Iya? Ada apa?” Reina terlonjak dari lamunannya.


“Apa acara ulang tahunmu selalu digelar meraih seperti Bu Elora?” tanya Shania mengulang pertanyaan. Reina menatapnya seraya tersenyum kering.


“Tidak. Aku tidak pernah membuat pesta ulang tahun. Biasanya mama dan papa mengadakan makan gratis di cafe dan restonya seharian penuh.”


Ketiga wanita itu terperangah, “Serius bu? Makan gratis di cafe dan Resto Hasena?” tanya Nita.


“Iya apapun yang dipesan gratis.” jawab Reina mengangguk.


“Ya ampun! Orang tua Bu Reina pasti sangat menyayangi ibu dan kakak ibu. Saya jadi iri deh.” sahut Marsha. Reina yang mendengar pun mengeryitkan dahi. Dia tahu kalau Marsha tidak merasakan iri seperti yang dia rasakan.


Apa yang harus orang lain iri dari irinya yang selalu diperlakukan berbeda dari kakaknya?


“Aku juga iri. Orang tua kamu dermawan sekali sampai menggratiskan semua dagangannya. Apa mereka tidak rugi besar? Satu hari tanpa pemasukan dengan gaji karyawan yang harus tetap mereka bayar. Pasti banyak doa yang dipanjatkan orang lain untukmu dihari ulangtahunmu.” tutur Shania.


Deg! Kesadaran Reina tersentak, benarkah itu yang dipikirkan orang lain tentang dirinya? Mereka berpikir kalau orang tuanya sangat menyayanginya dan tidak berpikir tentang perlakuan berbeda yang orang tuanya berikan kepadanya.


“Tapi ulang tahunku tidak pernah semeriah ulang tahun Elora.” gumam Reina menundukkan wajah.


Dia menyeruput es jeruk miliknya.

__ADS_1


“Jangan merendah seperti itu. Walaupun tidak ada pesta tapi aku yakin jumlah uang yang orangtuamu keluarkan lebih besar. Dan lagiorang yang tidak punya uang pun bisa makan kenyang di hari ulang tahunmu. Bukankah itu luar biasa? Apalah arti sebuah pesta meriah.” ujar Shania.


__ADS_2