TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 90. KEINGINAN


__ADS_3

Varen mengeryit saat bau harum masakan menyeruak dari arah dapur. Padahal matanya masih ingin terpejam karena semalam dia begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi semangatnya untuk bangun langsung muncul ketika membayangkan menu sarapan yang sudah disiapkan Reina.


“Vareeeennnnnn!  Ayo bangun! Sarapan!”


 


Suara teriakan Reina menggelegar di seluruh penjuru rumah. Suara merdu yang selama tiga minggu ini sering Varen dengar. Tiga minggu berlalu sejak pertengkaran mereka dan hubungan mereka semakin dekat.


Reina kembali pada dirinya yang cerewet dan segala pemikiran anehnya yang kadang membuat Varen geleng-geleng kepala.


 


Sedangkan Varen kembali pada sikapnya yang tenang dan pendiam.


“Varen….”


“Aku disini. Tidak perlu teriak-teriak begitu! Bikin sakit telinga!”


Reina menoleh melihat suaminya yang sudah berdiri disamping meja makan. Dia pun menghampiri sambil membawa secangkir teh.


 


“Kamu itu sebenarnya apa yang kamu kerjakan? Sudah seminggu bergadang terus, telat bangun, jarang olahraga. Aku juga yang repot.” keluh Reina seraya menyodorkan teh kepada suaminya.


Lalu dia kembali ke dapur untuk mengambil makanan. Sudah seminggu Reina melihat Varen terus sibuk dengan ponsel dan laptopnya.


 


Dia pun tidur larut malam dan kadang sampai terjaga sampai pagi. “Tadi malam yang terakhir.” ucap Varen. Reina terjengit kaget ketika tangan Varen melingkar di pinggangnya dengan kepala Varen menyusup ke ceruk lehernya, lalu mendaratkan beberapa kecupan disana.


“Varrrreeennn….” desah Reina seraya menjauhkan wajah Varen dari lehernya.


 


Inilah alasannya mengapa Reina tidak suka suaminya bergadang sampai tidak menyempatkan diri berolahraga pagi seperti biasanya. Dia kerepotan menghadapi sikap Varen yang semakin sering menggodanya.


Hasrat Varen menggebu dan Reina takut terpancing juga. Varen membelit pinggang Reina dan meletakkan dagunya dibahu istrinya.


 


Posisi ini paling nyaman yang Varen suaki, untuk menikmati kehangatan tubuh istrinya sebelum dia menikmati sarapan paginya. “Malam ini aku tidak begadang lagi. Semua pekerjaanku sudah selesai dan mulai hari ini aku akan fokus mempersiapkan pernikahan kita.” ucap Varen mengecup pipi Reina dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di bahunya.


 

__ADS_1


Reina menggeliat geli, perbuatan Varen sungguh menggodanya dan membuat bulu kuduknya meremang. Mengalirkan gelenyar geli nan hangat yang terus emnaglir sampai ke inti tubuhnya.


Reina memutar tubuhnya sambil melepaskan jalinan tangan Varen. Dia mengantisipasi dirinya agar tidak tergoda untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh.


 


“Cukup main-mainnya! Kita sarapan!” ucap Reina dengan tegas. Dia membawa piring berisi maknan dan meminta suaminya duduk. Dengan enggan Varen melangkah menyusul istrinya.


“Bisakah kita menikah hari ini saja? Sepuluh hari terlalu lama bagiku.” keluh Varen.


Reina terdiam lalu mengalaskan makanan dipiring suaminya.


 


“Makanlah! Lebih baik kamu mencari kesibukan agar pikiranmu teralihkan.” Reina tidak habis pikir dengan suaminya yang semakin hari semakin banyak mengeluh dan tidak sabaran.


Padahal hanya tinggal sepuluh hari menuju pernikahan mereka. Varen memakan sarapannya dengan lahap, dia sadar sikapnya membuat Reina kesal.


 


Tapi mau bagaimana lagi? Perasaannya semakin tidak karuan menjelang pernikahannya, dia merasa gugup dan khawatir. Dia juga tidak sabar ingin segera menghalalkan hubungannya dan melakukan malam pertana.


Seminggu ini Varen sengaja lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya untuk sebulan kedepan. Dia ingin mengambil cuti setelah menikah.


 


“Reina….segera ajukan cuti kekantormu. Aku tidak mau kamu lelah menjelang pernikahan kita. Kalau bisa besok kamu harus sudah mulai cuti.” pinta Varen disela-sela menyantap sarapannya.


 


Reina mendelik. “Tidak bisa begitu. Pekerjaanku banyak! Aku akan mulai cuti dua hari menjelang pernikahan. Lagipula kita kan hanya perlu mendaftarkan pernikahan saja. Jadi tidak ada yang perlu disiapkan.” perkataan Reina yang terkesan acuh membuat Varen geram. Dia tidak suka Reina menyepelekan pernikahan mereka.


 


“Kalau kamu tidak segera mengajukan cuti, aku akan melakukannya atau mungkin kamu ingin berhenti kerja setelah menikah?” terdengar nada ancaman dalam suara Varen. Reina pung menghela napas pasrah, mau tidak mau dia harus mematuhi ucapan suaminya.


“Baiklah! Aku akan segera mengajukan cutiku.”


Merasa puas dengan jawaban istrinya, Varen pun melanjutkan memakan sarapnnya hingga kandas.


 


Sementara itu dikediaman keluarga Hasena, Elora sedang berusaha membujuk orang tuanya untuk membantunya agar mengajak Reina dan Varen menginap dirumahnya.

__ADS_1


“Ma, Pa…..mereka kan sudah lama tidak berkunjung dan menginap disini. Jadi apa salahnya jika kalian mengundang Reina untuk ikut merayakan ulang tahunku?”


 


Besok adalah hari ulang tahun Elora yang ke dua puluh enam tahun. Jadi dia ingin Reina beserta suaminya ikut bergabung merayakannya.


“Mama tidak yakin Reina akan bersedia menginap disini. Sudahlah Elora! Lebih baik kita rayakan saja ulang tahungmu tanpa Reina. Untuk apa kamu mengundangnya segala? Tidak penting dia hadir disini.” ucap Indira berusaha terdengar ketus dan tidak peduli.


Dia tidak tahu apa yang direncanakan putri sulungnya tapi Indira tidak mau ada keributan lagi.


 


“Benar kata mamamu. Toh kalaupun mereka datang belum tentu juga memberimu hadiah. Tidak perlu mengundang mereka.” sahut Chandra Hasen menyetujui perkataan istrinya.


Sebenarnya Indira dan Chandra merasa curiga dengan permintaan Elora yang tiba-tiba menginginkan adiknya untuk datang kerumah mereka.


 


Mereka takut Elora sudah merencanakan sesuatu yang buruk untuk Reina.


“Aku mau seluruh keluarga kita kumpul ma. Bagaimanapun Reina itu bagian dari keluarga kita. Elora mohon! Lagipula apa kalian tidak merindukan Reina? Aku saja sudah sangat rindu padanya walaupun kami hampir tiap hari bertemu di kantor.” bujuk Elora.


 


Indira dan Chandra saling berpandangan merasa bingung harus bagaimana. Mereka takut Elora akan berbuat nekad jika keinginannya tidak dituruti.


“Kalau papa dan mama tidak mau mengundang Reina, biar besok kita saja yang pergi kerumahnya. Besok kita semua menginap disana.” ancam Elora.


 


Indira dan Chandra tercengang. Bukan ide yang bagus menginap dirumah Reina mengingat rumahnya kecil dan tidak mempunyai ruang kamar yang cukup banyak. Lagipula mereka takut Elora akan membuat keributan disana.


“Baiklah! Kami akan mencoba meminta Reina untuk datang!” ucap Indira dengan terpaksa.


 


“Tapi kamu harus ingat kalau keputusannya tetap ada pada Reina.” ucapnya menambahkan.


“Baiklah! Setidaknya kalian sudah membujuknya untuk pulang kerumah ini.” Elora tersenyum puas. Dia yakin Reina tidak akan bisa menolak permintaan orang tuanya. Reina pasti akan datang dan menginap dirumah bersama Varen.


 


Membayangkan Varen yang akan menginap membuat Elora merasa tidak sabar menunggu hari ulang tahunnya datang. ‘Aku yakin kali ini aku tidak akan gagal. Aku akan mendapatkan Varen kembali!’

__ADS_1


Setelah rencananya untuk merenggangkan hubungan Reina dan Varen gagal, Elora semakin terobsesi untuk mendapatkan Varen kembali. Dan pada hari ulang tahunnya besok dia sudah menyiapkan sebuah rencana besar untuk mereka. Tepatnya untuk mendapatkan Varen.


 


__ADS_2