TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 91. IRI DAN CEMBURU


__ADS_3

“Ma! Elora itu sudah besar, umurnya sudah dua puluh enam tahun. Untuk apa sih masih merayakan ulang tahun segala? Seperti anak kecil saja.” cibir Reina yang sedang bertelepon dengan ibunya. Reina kesal pada kedua orang utanya yang sangat memanjakan Elora hingga mereka mengadakan perayaan ulang tahun untuknya.


 


Padahal Elora sudah dewasa dan rasanya tidak pantas saja mengadakan pesta ulang tahun.


“Pertambahan usia itu patut disyukuri, jadi kami merayakannya. Tidak ada hubungan dengan besar atau kecil pokoknya sempatkan dirimu untuk datang bersama suamimu!” Indira memutuskan sambungan telepon setelah menyampaikan pesan.


 


Reina berdecak seraya menatap layar ponselnya. “Ck! Ulang tahunku selalu kalian lupakan. Giliran Elira ulang tahun selalu dirayakan! Aku ini anak kalian atau bukan sih?” Reina merasa iri pada kakaknya yang selalu mendapatkan segalanya sedangkan dia tidak. Reina sakit hati setiap kali menghadiri ulang tahun kakaknya.


 


Elora selalu mendapat banyak kado tapi dirinya tidak ada yang memberi kado di hari ulang tahunnya. “Aku juga mau diberi kado. Kalian tidak adil!” pekik Reina kesal.


“Ada apa? Kenaap teriak-teriak nggak jelas begitu?” tanya Varen menautkan alisnya melihat wajah istrinya yang tertekut kusut.


 


Reina menggelengkan kepala lalu menyambar tasnya dari atas nakas lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Varen. Reina menaiki taksi Tanta dan bersiap untuk berangkat kerja.


Varen segera mengunci rumah dan menyusul Reina kedalam taksi. Dia khawatir membiarkan istrinya berangkat sendirian dalam keadaan uring-uringan seperti itu.


 


Padahal tadinya Varen berniat untuk tidur sebentar dan berangkat ke kantor setelah istirahat siang. “Aku antar.” ucap Varen ketika menaiki taksi. Reina menatap Varen dengan lekat.


Dia bersyukur ada Varen disisinya, dari semua hal yang pernah dia dapatkan dari orangtuanya maka Varen adalah hal terbaik yang orang tuanya berikan untuk Reina.


 


“Varen!” Reina tiba-tiba menyusupkan kepalanya kedada bidang suaminya. Varen terlonjak kaget dengan pelukan erat Reina. Dia ingin tahu kenapa mood istrinya tiba-tiba menjadi buruk. Tapi Varen tidak ingin memaksa Reina untu bercerita.


“Jangan memendam kekesalan sendirian. Kamu bisa cerita kapanpun kamu mau.” ucap Varen.


 

__ADS_1


Reina tidak menjawab dan hanya menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya. Begitu sampai didepan perusahaan, Varen segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Reina. “Ingat! Segera ajukan cutimu hari ini!” ujar Varen mengingatkan yang dijawab Reina dengan anggukan kepala.


“Hubungi aku jika terjadi sesuatu.” ucap Varen mengecup kening istrinya.


 


Reina mencubit perut Varen. “Ini tempat umum Varen. Banyak orang yang melihat.” desis Reina dengan wajah merona merah. Bukannya minta maaf, Varen malah mencium punggung tangan Reina.


“Aku hanya ingin para pria tahu kalau kamu istriku.” ucapnya tanpa merasa bersalah.


Wajah Reina semakin merona. Varen memang tidak sungkan lagi mengecupnya.


 


“Aku masuk dulu.” pamit Reina melambaikan tangannya dan dibalas dengan lambaian tangan Varen.


Setelah Reina memasuki lobi kantor, Varen segera masuk kedalam mobil. “Aku butuh tidur. Bangunkan aku tiga jam lagi.” Varen langsung terlelap didalam taksi Tanta. Tanpa Varen dan Reina sadari, kemesraan mereka tadi disaksikan oleh dua pasang mata yang menatap iri pada mereka.


 


‘Sial! Kenapa semakin hari mereka terlihat semakin dekat dan mesra?’ batin Elora.


Selama tiga minggu setelah dia mengetahui umpan licik yang Elora berikan untuk Varen, Bobby mulai menyadari sifat asli istrinya.


 


Semakin hari, hubungan Bobby dan Elora semakin renggang dan Elora pun semakin acuh dan dingin padanya. “Sayang, kamu mau langsung ke proyek kan? Hati-hati ya! Aku masuk ke kantor dulu.” ucap Elora segera turun dari mobil dan berjalan menuju lobi. Melihat Elora yang pergi begitu saja membuat Bobby menghela napas.


 


Padahal biasanya Elora memberikan kecupan singkat untuknya. Tapi akhir-akhir ini Elora selalu melupakannya. Entah bagaimana kelanjutan hubungannya dan Elora nanti yang pasti tidak ada lagi kemesraan dalam hubungan mereka.


Elora berjalan cepat untuk menyusul Reina. Dia tidak suka Reina menampakkan kemesraan dengan Varen didepan umum apalagi didepannya.


“Tunggu!” Elora mencekal tangan Reina yang hendak masuk kedalam lift. “Dasar tidak tahu malu! Bisa-bisanya kamu bermesraaan ditempat umum! Kamu mau mempermalukan aku sebagai kakakmu?”


Reina menautkan alisnya. “Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu. Lagipula apapun yang aku lakukan dengan suamiku bukan urusanmu! Jangan ikut campur!” jawab Reina acuh.

__ADS_1


 


Setelah kesalahpahaman yang disebabkan Elora tiga minggu lalu, Reina tidak pernah lagi mengubris perkataan kakaknya. Walaupun kadang perkataan Elora memancing kemarahannya tapi Reina lebih memilih menghindar atau tidak mengindahkannya. Elora geram mendengar perkataan adiknya. Dia tidak terima pria yang diincarnya semakin dekat dengan Reina.


 


“Tapi orang lain tidak suka dengan kelakuan pamermu!” protes Elora lagi.


“Pamer?” dengus Reina seraya melepaskan cekalan tangan Elora. Dia menatap Elora tajam.


“Apa yang orang lain lihat tentangku bukan urusanmu. Kenapa kamu harus repot mengurusi urusanku?” ketus Reina seraya masuk kedalam lift meninggalkan kakaknya sendirian.


 


“Sial! Reina semakin hari semakin menyebalkan saja. Lihat saja aku akan memberimu pelajaran!” ujar Elora. Melihat sikap Reina membuat Elora tidak sabar untuk menjalankan rencananya untuk merebut Varen.


“Setelah besok malam, Varen hanya akan memperhatikan aku saja! Kamu akan menjadi masa lalunya dan tidak akan pernah mendapatkan apa yang aku inginkan!”


 


Reina keluar dari lift. Pertemuannya dengan Elora membuat moodnya yang sedang buruk semakin buruk. Ketika berjalan ke meja kerjanya terlihat beberapa orang menyapanya. Setelah kepergian Felix ke London, secara otomatis Reina yang mengerjakan semua pekerjaan Felix. Awalnya dia hanya sekretaris CEO saja tapi sekarang juga menjabat sebagai asisten pribadi.


 


“Bu Reina. Ini laporan yang anda minta.” seorang wanita muda dan cantik yang duduk bersebelahan dengan meja kerja Reina memberikan sebuah map kepadanya. Reina menerima map itu lalu membacanya. “Oke. Tolong kamu siapkan materi rapat untuk nanti sore.” kemudian Reina menatap wanita berpakaian seksi yang duduk disebelah wanita cantik tadi.


 


“Windy! Bisa tidak kamu tutupi belahan dadamu? Ini tempat kerja bukan tempat pamer dada.” tegus Reina sarkasme. Wanita bernama Windy itu pun mengangguk seraya mencebikkan bibirnya. Reina menyimpan tas tangannya lalu pergi ke ruangan Verdi. Setelah kepergian Felix, Reina meminta izin pada Verdi untuk merekrut dua orang sekretaris.


 


Dia membutuhkan mereka untuk membantu pekerjaannya yang banyak. Tugas sebagai asisten pribadi membuat Reina kewalahan sehingga kadang dia tidak fokus mengerjakan tugasnya sebagai sekretaris. Windy dan Tiara adalah dua wanita yang direkrut Reina. Mereka bekerja langsung dibawah bimbingannya.


 


Tiara, wanita berparas cantik dan berpakaian sopan sedangkan Windy wanita berparas cantik yang selalu mengenakan pakaian terbuka. Berulang kali Reina sering mengingatkan Windy untuk memperbaiki cara berpakaiannya namun dia tetap saja dengan gayanya yang vulgar.

__ADS_1


“Kemana dia?” Reina melihat jam tangannya yang menunjukkan jam 08.50.


__ADS_2