TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 53. KEGAGALAN


__ADS_3

Malam pertama yang seharusnya menjadi malam romantis Elora dan Varen berubah menjadi malam pertamanya dengan Bobby. Elora dan Bobby mereguk madu dikamar Reina dengan disaksikan foto pernikahan Bobby dan Reina yang terpasang didinding kamar. Mereka melakukannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dan hubungan itu terus berlanjut dengan sepengetahuan Varen.


 


“Andai kamu tahu betapa liarnya Bobby waktu itu, aku yakin kamu pasti akan cemburu padaku Reina! Sekarang kamu malah bilang kalau Varen sangat hebat diranjang! Huh! Dia bahkan tidak mau menyentuh lalu kenapa dia malah menyentuhmu Reina?” gumam Elora seraya tersenyum miring.


Ting!


 


Pintulift terbuka dan Elora segera keluar kemudian berjalan menuju keruang kerja suaminya. Elora mendorong pintu ruangan Bobby dengan kasar dan memasang wajah menggenaskan. Bobby terlonjak kaget karena kedatangan Elora. “Kamu kenapa?” tanyanya. Namun tak mendapat respon dari istrinya tapi Elora malah dengan cepat menghampirinya.


 


Elora  tak menjawab, dia langsung ******* bibir Bobby membuat kursi yang dia duduki terdorong ke belakang. Elora meluapkan semua kekesalan, kemarahan dan kecemburuannya dengan mencium Bobby. Dia tak terima penolakan Verdi dan penghinaan yang membuatnya merasa malu. Dia menyalahkan Reina atas apa yang terjadi padanya.


 


“Kamu kenapa sayang?” tanya Bobby lagi dengan napas terengah-engah seraya mengembangkan senyum nakalnya. Inilah yang dia suka dari Elora, wanita itu selalu bersikap agresif dalam menggodanya dan mampu membangkitkan gairah serta fantasi Bobby. Berbeda dengan Reina yang selalu penurut dan tak banyak protes.


 


Tanpa menjawab pertanyaan suaminya Elora kembali menautkan bibir mereka, terdengar suara erangan dan lenguhan keduanya yang memenuhi ruangan itu. Untungnya ruang kerja Bobby kedap suara sehingga tidak terdengar keluar. Elora masih tak mau berhenti dan mulai membuka kancing kemeja suaminya dengan kasar membuat Bobby kembali menyunggingkan senyumnya.


 


...******...


Reina membereskan barang-barangnya dengan tidak bersemangat, dia merasa cemas dan takut jika Elora benar-benar mengirimkan fotonya bersama Kaifan kepada Varen.  “Mau pulang sekarang?” tanya Felix yang melewati meja kerja Reina. Terlihat ditangannya membawa segelas kopi yang masih mengepul. Reina menjawab dengan anggukan lemah dan wajahnya yang nampak muram.


 


Padahal biasanya Reina selalu ceria jika jam kerja sudah tiba. Felix mengeryit menatap Reina lalu bertanya, “Kamu kenapa Rei? Apa terjadi sesuatu?”


“Saya pulang duluan ya pak.” pamitnya tanpa sedikitpun menatap Felix lalu berlalu dengan langkah gontai seperti serdadu yang kalah perang.

__ADS_1


 


“Apa dia baik-baik saja? Kenapa dengannya? Perasaan tadi dia masih ceria seperti biasanya?” gumam Felix yang mengkhawatirkan istri sepupunya itu.


Ceklek!


Verdi keluar dari kantornya, Felix pun langsung menghampiri. “Cepat kejar Reina! Sepertinya dia sakit, dia terlihat lesu dan wajahnya muram gitu. Aku tadi tanya padanya tapi dia tidak menjawab apa-apa.”


 


“Sakit?” Verdi mengulang perkataan Felix. Tanpa menunggu respon dari sepupunya, Verdi berlari mengejar Reina. Dia melihat Reina sedang memainkan ID Cardnya didepan alat pemindai.


“Kamu kenapa?”


Reina terlonjak mendengar suara Verdi yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. Dia menoleh lalu menempelkan ID Cardnya. “ID Card saya kenapa tidak bisa ya pak? Apa pemindainya rusak ya?”


 


Verdi mengambil id card milik Reina kemudian menempelkannya seketika pintu lift terbuka.


“Aneh! Kenapa tadi tidak bisa?” gumam Reina seraya masuk kedalam lift padahal biasanya dia mempersilahkan bosnya masuk duluan.


 


Bukannya mengambil id cardnya, Reina malah membiarkan tangan Verdi tergantung diudara. Reina tidak fokus dengan keberadaan bosnya itu yang membuat Verdi mengeryitkan dahinya. “Reina! Ini id cardmu!” ucap Verdi setelah lama menunggu.


Reina menoleh lalu mengambil id cardnya, “Terima kasih pak.” ucapnya lirih. Lalu ingin memasukkan id cardnya ke tas tapi karena dia tidak membuka retsleting tasnya, id card itu terjatuh dan dia tidak sadar.


 


Verdi mengambil id card itu dan mengembalikannya pada Reina namun dia kembali mengacuhkan Verdi. Bahkan ketika Verdi membuka retsleting tasnya, Reina pun tidak menyadarinya.


“Kenapa liftnya tidak mau turun? Ada apa lagi sih liftnya tidak gerak-gerak? Apa rusak ya?” gumam Reina seraya menekan-nekan tombol lift.


 

__ADS_1


Verdi menoleh, dia tertegun melihat Reina terus menekan tombol angka lima puluh. Verdi yakin kalau istrinya itu memang tidak baik-baik saja. “Tekan angka satu bukan lima puluh.” ucap Verdi namun Reina tidak mendengarnya, akhirnya Verdi menekan tombol liftnya sendiri. Ketika lift melaju, Verdi menatap lekat istrinya yang terlihat menatap kosong.


 


Wajahnya tampak tidak bersemangat, caranya berdiri pun lunglai dan tubuhnya seperti kosong tak berjiwa dan pikirannya seperti melayang entah kemana. Begitu lift berhenti dan pintunya terbuka Reina malah menutup kembali pintu liftnya dan kembali menekan tombol angka lima puluh. Akhirnya lift pun kembali melajy ke lantai atas.


 


Verdi mulai merasa khawatir, dia menepuk bahu Reina dan menanyakan keadaannya. Namun sayang Reina tidak mengubrisnya. Verdi seperti makhluk astral yang tidak terlihat dimata Reina, wanita itu bahkan tidak menanggapi keberadaannya.


Ting!


 


Begitu pintu lift terbuka, Reina kembali menutupnya tapi kali ini menekan tombol yang benar. Dia menekan angka satu dan ketika lift sudah sampai dilantai bawah, Reina kembali menutup pintu dan menekan angka lima puluh. Kejadian itu terus berulang-ulang hingga Verdi tidak bisa lagi membendung rasa khawatirnya. Verdi menarik bahu Reina dan memeluknya. “Ada apa Reina? Kenapa kamu seperti ini?”


 


Mendengar suara seseorang yang sangat mirip dengan suaminya, Reina pun menangis sejadi-jadinya. “Varen…...maafkan aku.” ucap Reina dengan suara bergetar. Dia menangis didalam pelukan Verdi.


Tubuh Verdi menegang, apa Reina mengenalinya? Bagaimana ini jika Reina sudah mengenalinya? Apa yang akan dikatakannya nanti untuk menjelaskan semuanya pada istrinya itu?


 


Namun setelah beberapa saat, suara tangisan Reina terhenti dan Verdi mengira kalau Reina sudah tenang tapi saat itu dia menyadari kalau Reina sudah tidak sadarkan diri. Dengan panik dan khawatir, Verdi langsung menggendong tubuh Reina dan berlari menuju ke mobilnya. Dia meminta Tanta untuk pergi kerumah sakit.


 


Varen tengah berdiri didepan ruang UGD. Dia menunggu Reina yang sedang diberikan tindakan.


“Tenanglah, dokter sedang memeriksa istrimu. Aku yakin dia akan baik-baik saja.” Felix berusaha menenangkan sepupunya yang gelisah sejak tadi. Dia lelah melihat Varen yang terus mondar mandir dan tidak mau diam.


 


“Duduklah Varen! Kalau Reina sudah selesai diperiksa, pasti dokter juga akan keluar dan memberitahukan keadaannya. Kepalaku pusing melihatmu mondar mandir dari tadi!”

__ADS_1


“Jangan cerewet!” hardik Varen. Dia menatap Felix dengan kesal. Varen tahu istrinya sedang diberikan tindakan tapi tetap saja dia tidak bisa duduk tenang sebelum mengetahui keadaannya.


“Tutup saja mulutmu! Aku tidak mau mendengar apapun.” ucap Varen sarkasme.


__ADS_2