TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 32. POSISIMU LEBIH TINGGI


__ADS_3

‘Sialan! Elora membuatku terlihat buruk dihadapan Pak Verdi!’ gerutu Reina didalam hatinya.


“Sampai kapan kamu mau berdiri seperti patung disini?” Verdi menatap Reina yang masih berdiri tak bergeming dengan menunduk. Dia ingin tahu apalagi yang membuat Reina terlihat seperti itu.


 


“Apa saya yang harus membukakan lift untukmu hah?” tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya.


Reina terlonjak dan segera mengscan ID card miliknya lalu mempersilahkan Verdi untuk masuk terlebih dulu. Dia berdiri disamping Verdi kemudian menekan tombol lantai teratas.


 


“Lain kali kalau ada yang membullymu seperti tadi, kamu harus melawan! Posisi kamu lebih tinggi daripada Elora, Bobby atau siapapun yang ada di perusahaan ini! Jangan jadi perempuan lemah yang hanya ketakutan dan tak berani melakukan apapun untuk melindungi dirimu.”


 


Saat pintu lift terbuka, Verdi melangkah keluar meninggalkan Reina yang menatapnya dengan heran. “Apa maksudnya bicara begitu? Jadi dia mau aku melawan gitu? Berkelahi dengan Elora? Ck!”


Reina masuk ke ruang kerja, menyalakan komputer dan mulai mengerjakan tugas-tugas hariannya. Dia pergi kepantry seperti biasa membuatkan teh pepermint untuk Verdi.


 


Tak terasa sudah dua jam dia berkutat didepan komputer. “Reina atur ulang pertemuan dengan Pak Narenda! Apa sudah kamu lakukan?” tanya Felix menghampiri meja kerja Reina.


Dia membawa setumpuk map ditangannya, wajahnya terlihat lelah tidak secerah biasanya. Bawah matanya terlihat menghitam menandakan dia tidak cukup tidur.


 


“Sudah saya atur ulang dan juga sudah mengabari sekretaris Pak Narenda mengenai ini. Pertemuan akan dilakukan pada jam makan siang nanti.”


“Baiklah kalau begitu. Coba kamu konfirmasi ulang ke pihak Pak Narenda.”


“Baik Pak!”


 


“Oh iya! Dan ini…..” Felix meletakkan map yang dibawanya di atas meja kerja Reina. “Itu laporan proyek yang sedang berjalan dan beberapa dokumen mengenai investasi dan perjanjian penting perusahaan. Kamu pelajari semuanya? Tidak ada penolakan.”  


 


“Heh? Semuanya Pak?” Reina menatap nanar tumpukan dokumen yang diletakkan Felix diatas meja kerjanya.


‘Sebanyak ini yang harus aku pelajari? Aku kan cuma sekretaris? Kenapa harus pelajari investasi proyek dan ini ada pengembangan bisnis juga? Hah? Aku ini sekretaris kan bukan manajer atau direktur?’ Reina agak bingung saat dia melihat-lihat dokumen itu.

__ADS_1


 


Dia kaget dengan banyaknya dokumen dan laporan yang harus dia pelajari karena setahunya ini bukan bagian dari tugas seorang sekretaris. Dia tidak pernah dilibatkan dalam proyek ataupun pembuatan dokumen penting perusahaan. Nah, ini kenapa semuanya harus dia pelajari? Seperti mau jadi pimpinan perusahaan saja?


 


Felix mengangguk seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang manis, “Waktu saya di perusahaan ini sudah tidak banyak lagi. Jadi kamu harus mempersiapkan dirimu untuk menggantikan saya mendampingi Pak Verdi menjalankan perusahaan ini.”


 


Reina terhenyak mendengar penjelasan Felix. Dia menutup mulutnya dan menatap Felix dengan mata berkaca-kaca, “Bapak sedang sakit? Apa penyakit bapak parah? Saya doakan bapak cepat sembuh ya.”


“Hahahaha…..Apa-apaan kamu Reina! Saya sehat, maksud saya kamu harus mendampingi Pak Verdi karena saya harus segera kembali ke London!”


 


“London?” Tanya Reina mengeryitkan dahinya.


“Terus, kenapa saya yang menggantikan bapak? Saya kan sekretarisnya Pak Verdi? Apa akan ada sekretaris baru? Atau gimana?” kerutan dikeningnya pun semakin banyak, dia semakin kebingungan.


“Iya saya akan ke London. Karena perusahaan ini sudah dipegang Pak Verdi jadi saya harus memegang perusahaan yang dulu saya pegang disana. Dan setelah saya pergi maka kamu yang akan menggantikan saya mendampingi Pak Verdi! Sudah jelas? Kamu pelajari ini semua! Waktumu tidak banyak jadi manfaatkan semaksimal mungkin!”


 


 


“Sudah paham kan kenapa saya minta kamu pelajari semua ini? Karena tanggung jawabmu akan semakin besar! Kamu akan bekerja bersama Pak Verdi mengembangkan perusahaan ini! Rei…..ini peluang untukmu mengembangkan karirmu! Saya harap kamu jangan menyerah sampai disini ya! Saya yakin kamu pasti bisa.” ujar Felix menyemangati Reina.


 


“Iya Pak. Terima kasih untuk semuanya. Saya bisa mendapatkan pekerjaan ini atas bantuan bapak. Saya janji saya tidak akan mengecewakan bapak!” Reina menganggguk mantap.


Felix kembali tersenyum pada Reina, andai wanita itu belum menikah pasti dia akan terpesona dan mengejar Reina. Tapi sayangnya bagi Reina senyum Varen lebih manis dan memabukkan daripada senyum pria manapun.


 


“Kalau begitu, tolong buatkan kopi dan antar keruangan saya.” ucap Felix berlalu dari hadapan Reina.


“Ck! Kenapa sih semua pria suka banget minuman menyebalkan itu?” decak Reina beranjak dari tempat duduknya lalu menuju ke pantry membuatkan kopi untuk Felix.


...*******...


Saat istirahat siang seelesai, Reina pergi mendampingi Verdi untuk meeting dengan klien diluar. Seharusnya Felix yang mendampingi Verdi karena itu tugasnya tapi karena dia kelelahan begadang semalaman mengerjakan presentasi untuk proyek baru akhirnya hanya Reina dan Verdi yang pergi.

__ADS_1


 


Reina menatap punggung Verdi yang berjalan didepannya, entah mengapa dia merasa familiar dengan punggung yang mengingatkannya pada punggung kekar suaminya. Bahkan sering kali dia merasa sikap dan perhatian Verdi padanya sama persis seperti apa yang dilakukan Varen padanya.


 


Saat hendak menaiki mobil, Verdi berkata, “Duduk didepan. Saya bukan supir kamu.” Verdi membukakan pintu untuk Reina yang terhenyak dengan sikap bosnya itu yang melayaninya.


Begitu keduanya sudah duduk didalam mobil, tiba-tiba Verdi mendekatkan wajahnya, sontak Reina menegang dan merasakan tangan Verdi menyentuh pinggangnya. Tanpa sadar Reina mendorong tubuh pria itu dan langsung menamparnya.


PLAKKK!


 


“Jangan macam-macam sama saya!” Reina mengacungkan telunjuknya kewajah Verdi dengan suara bergetar marah. Dia tidak menyangka kalau atasannya itu adalah pria mesum yang suka menggoda bawahannya.


 


Verdi memegang pipi kirinya, matanya memelototi Reina dengan marah, “Apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu menampar saya?”


“Bapak duluan yang dekat-dekat saya dan pegang-pegang pinggang saya! Kenapa malah bapak yang marah-marah sama saya?” ujar Reina ketus dengan wajah merah menahan amarah.


 


“Sabuk pengaman kamu tuh. Saya cuma memasangkan sabuk pengaman. Bukannya mau dekat-dekat apalagi menyentuh kamu! Jangan menuduh orang sembarangan, saya ini atasan kamu!” ujar Verdi mendengus kesal karena Reina menamparnya cukup kuat.


 


“Sabuk pengaman?” raut wajah Reina berubah, dia pun melirik sabuk pengaman yang sedikit terjulur. “Ma---ma---maaf pak. Saya kira bapak mau berbuat mesum pada saya.” ucap Reina menyadari kesalahannya. Dia meringis menatap bekas tamparannya di pipi Verdi.


“Pasang sabuk pengaman kamu! Makanya mata itu dipakai sebelum mulut! Jangan asal ngegas saja!”


 


Verdi benar-benar kesal lalu dia meluruskan duduknya dan melajukan mobil. Reina melirik atasannya itu, “Maafkan saya pak. Saya salah sudah menampar bapak. Seharusnya tadi bapak langsung bilang saja sama saya biar tidak salah paham.”


“Mau yalahin saya?”


“Ti—tidak pak. Maaf!”


 


Verdi tidak merespon dan tetap melajukan mobilnya dengan perasaan kesal. Sepanjang perjalanan tidak ada seorangpun yang bicara. Hanya ada keheningan didalam mobil itu, saking heningnya suasana Reina sampai menahan napas karena takut. Dia pun tak berani melirik Verdi apalagi mengajaknya bicara. Reina melemparkan pandangan keluar.

__ADS_1


__ADS_2