TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 82. USAHA MELULUHKAN HATI


__ADS_3

Reina ingin segera sampai dirumah dan menenangkan diri. Setelah membayar ongkos taksi, Reina masuk kedalam rumah. Dia pun segera melucuti pakaian dan berjalan menuju ke kamar mandi. Kepala dan hati Reina panas membara, dia butuh mandi untuk mendinginkan dirinya. Ketika air dingin menerpa kepalanya Reina meringis nyeri.


 


Entah separah apa luka jambakan yang disebabkan Elora tapi kepala Reina terasa sakit dan perih. Dia pun memakai shampoo dan membilas rambutnya pelan-pelan.


“Reina…….” terdengar suara Varen yang berteriak memanggil namanya. Tak lama suara ketukan di pintu kamar mandi pun terdengar.


 


Reina tidak menyahut, dia malah asyik mandi dan berendam di bathtub sambil menikmati harumnya lilin aromatherapy. Suara ketukan di pintu terdengar lagi tapi Reina masih mengacuhkan.


“Reina….kamu baik-baik saja didalam?” Varen kembali memanggil nama istrinya. Satu jam lalu ibu mertuanya meneleponnya.


 


Indira mengabarkan pada Varen tentang pertengkaran Reina dan kakaknya. Dia juga mengabarkan jika Reina sudah pulang kerumah karena merasa khawatir Varen segera pulang.


“Reina…..kamu mandi terlalu lama. Buka pintunya Reina! Reina cepat buka pintunya atau ku dobrak!” ancam Varen yang merasa khawatir menunggu istrinya yang terlalu lama didalam kamar mandi.


 


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka dan Reina berjalan keluar. Terlihat wajah Reina yang segar dengan rambut basah dan tubuh yang wangi. Varen pun merasa lega melihat istrinya baik-baik saja.


“Kenapa kamu tidak menyahut?” Varen bertanya sambil menyusul Reina yang duduk didepan cermin.


 


Reina tidak merespon, dia seolah tuli tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia mengambil pelembab dan meratakannya ke kulit wajahnya. Varen mengeryit menatap Reina, biasanya kalau sudah diam begini artinya Reina sedang marah padanya. Tapi Varen bingung apa yang menyebabkan istrinya marah. Dia pun khawatir ketika melihat luka cakar diwajah istrinya.


 


“Reina…..ada apa? Kenapa kamu mendiamkan aku?” tanya Varen seraya memperhatikan istrinya yang tengah memoleskan bedak dengan hati-hati. Reina masih tetap diam dan tidak membuka mulutnya sedikitpun. Dia menganggap Varen tidak ada disana. Untuk sementara waktu dia ingin mendiamkan Varen karena itu lebih baik daripada mengamuk.


 


“AKH!” Reina meringis saat tanpa sengaja kulit kepalanya yang terluka terkena sisir. Segera Varen mengecek kepala istrinya. Ekspresi wajahnya mengeras kala melihat kulit kepala Reina terluka dan terdapat celah kosong dikepalanya karena rambutnya yang rontok. Varen mengambil sisir dari rambut Reina dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


 


“Kenapa kamu bertengkar dengan Elora?” pertanyaan itu meluncur dari mulut Varen. Tadinya dia tidak ingin menanyakan hal itu karena tidak mau membuat Reina semakin marah. Tapi melihat keadaan Reina yang terluka dia menjadi ingin tahu pemicu pertengkaran mereka. Varen menghela kala mendapati istrinya yang diam seribu bahasa.


 


Dia pun menyimpan sisir dan pergi begitu saja keluar kamar meninggalkan Reina. Sorot mata Reina berubah sendu kala menatap bayangan punggung Varen dalam cermin. Meski pernikahan mereka masih terhitung jari tapi sikap Varen membuatnya nyaman. Reina tidak bisa membayangkan kalau dirinya harus hidup tanpa suaminya.


 


Reina pun menyembunyikan wajahnya dalam kedua tangan seraya menumpukkan sikutnya diatas meja rias. Terdengar suara pintu yang dibuka disusul dengan langkah kaki yang semakin mendekat.


“Ini akan sedikit perih.” ucap Varen. Kemudian sesuatu yang dingin terasa menyentuh kulit kepala Reina yang terluka.


 


Reina meringis seraya menegakkan tubuhnya. Ternyata Varen tengah mengoles salep dikepalanya.


“Coba aku lihat wajahmu.” ucapnya seraya memutar tubuh Reina menghadapnya lalu berjongkok. “Apa lebih baik kalau kita pergi ke dokter saja? Aku takut lukamu akan berbekas.” gumamnya. Varen mengoleskan salep kewajah Reina dengan hati-hati.


 


Dia pun terkesiap saat melihat airmata Reina mengalir dan hampur mengenai luka diwajahnya. Varen merasa kebingungan dengan apa yang terjadi pada istrinya.


 


Varen mengerutkan keningnya kemudian mengangguk. Hati Reina menciut dan terasa sakit ternyata kakaknya tidak mengarang cerita. “Bukankah aku sudah bilang aku tidak suka kamu berdekatan dengan Elora? Kenapa kamu masih mendekatinya?” geram Reina seraya memukul dada suaminya sambil berurai airmata.


 


Varen segera menangkap tangan Reina. “Aku bisa jelaskan. Kami hanya membicarakan---”


“Aku membencimu Varen!” pekik Reina memotong perkataan suaminya. Dia menatap wajah Varen dengan sengit. “Kamu dan Bobby sama saja. Kalian sama-sama brengsek!” berangnya tanpa mau mendengarkan penjelasan suaminya.


 


Varen mencoba menjelaskan keadaannya. “Reina tolong dengar aku---”


“PERGI! Keluar dari sini atau aku yang akan pergi dari kamar ini.” ancamnya.

__ADS_1


Varen terkesiap dengan kemarahan istrinya.


“Reina…..dengarkan dulu aku---”


Reina segera bangkit dan melangkah menuju pintu.


 


Tepat ketika dia akan melewati pintu, Varen mencekat tangannya. “Baiklah. Aku yang akan keluar dari kamar.” ucap Varen. Dia mengalah agar Reina lebih tenang. Dan besok Varen akan menjelaskan semuanya. “Istirahatlah! Kamu pasti lelah sudah membantu di cafe seharian.”


Reina memalingkan wajahnya tidak kuasa menatap wajah suaminya.


“Mulai malam ini kamu tidak boleh tidur dikamar ini lagi. Kita sebaiknya tidur dikamar berbeda.”


BLAM!


Reina membanting pintu kamar lalu menguncinya. Dia yakin ini yang terbaik bagi dirinya. Sebelum perasaannya kepada Varen tumbuh semakin besar dan berkembang. Reina harus memangkasnya terlebih dahulu.


 


Reina sadar jika sikap Varen sudah berhasil meluluhkan hatinya. Bahkan dalam waktu singkat Varen berhasil membantunya melupakan Bobby. Varen juga membantunya mengobati luka hati yang Bobby torehkan. Namun perkataan Elora hari ini menyadarkannya. Reina bisa saja melupakan Bobby dengan mudah tetapi belum tentu dengan Varen.


 


Meskipun Varen dan Elora belum lama bersama tapi tidak menutup kemungkinan sudah tumbuh perasaan diantara mereka. Sama seperti yang Reina rasakan saat ini. Bukan hal yang mustahil bagi Varen untuk menautkan hatinya kepada Elora yang lebih cantik dan menarik dibandingkan dirinya. Reina melangkah menuju ke tempat tidur.


 


Dia membaringkan diri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sejenak dia melihat kearah sofa tempat tidur suaminya.


“Varen…..aku tidak akan pernah menyerah pada pernikahan kita. Tapi beri aku waktu untuk menata ulang hatiku. Aku tidak mau terlalu ceroboh menyerahkan hatiku dan berakhir dalam kesakitan yang sama untuk kedua kalinya. Maafkan aku.”


 


...****...


Tiga hari sudah berlalu tapi Reina masih tetap bungkam Reina melakukan kegiata seperti biasanya. Bangun pagi memasak, sarapan bersama dan berangkat kerja. Namun Reina melakukan semuanya itu dalam diam. Dia hanya bicara sepatah atau dua patah kata itupun karena terpaksa. Varen pun menjalankan kegiatannya seperti biasanya.


 

__ADS_1


Hanya saja, selama tiga hari ini dia lebih banyak bicara dibandingkan sebelumya. Dia berusaha keras untuk membuat Reina tidak marah lagi. Demi meluluhkan hati istrinya dia melakukan banyak hal.


Menunjukkan kepedulian, meminta maaf, mengakui kesalahan, memberikan perhatian dan bahkan Varen berusaha berucap manis kepada istrinya.


__ADS_2