
Reina terhenyak dan mengangkat wajahnya menatap Varen dengan lekat. Tentu saja dia ingat jawabannya hari itu dengan jelas dia mengatakan tidak mau menjadi janda dua kali.
“Sekarang aku tanyakan lagi pertanyaanku waktu itu. Apa yang kamu inginkan?” tanya Varen dengan tegas. Andai wajah Varen terlihat jelas pasti Reina akan melihat rahangnya mengeras.
“Kamu dengan jelas mengatakan tidak mau bercerai. Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?” ujar Varen menatap istrinya.
Reina tertegun dan terdiam mendengar pertanyaan yang sama diajukan Varen. Pertanyaan yang persis sama ditanyakan Varen pada hari pernikahan mereka. Waktu itu Reina tidak bisa menjawab karena masih bingung. Tapi sekarang?
“Setelah banyak hal yang kita lalui kenapa kamu masih bingung menjawab pertanyaan itu? Kenapa Reina? Apa kamu benar-benar mau kita bercerai?” tanya Varen tegas.
Reina masih terdiam dan menatap wajah suaminya lekat-lekat. Tentu saja perasaannya waktu itu dan sekarang jauh berbeda. Waktu itu dia mengira hidupnya sudah hancur karena dipaksa menikah. Tapi sekarang?
“Apa sampai sekarang kamu masih menganggap hubungan kita sebagai pertukaran? Kamu menganggap aku hanya sebagai suami yang ditukarkan dengan Bobby? Tidak lebih dari itu?” terdengar kegetiran dalam suara Varen yang biasanya datar.
‘Tidak! Tentu saja tidak seperti itu.’ Reina ingin menjawab tapi lidahnya kelu. Mulutnya seakan terkunci dan airmatanya kembali mengalir karena pertanyaan Varen.
Hati Varen mencelos melihat Reina yang hanya terdiam. Dia merasa kecewa menatap Reina dengan sendi Tatapan yang belum dia tampakkan sebelumnya. Dia tidak paham apa yang sebenarnya diinginkan Reina sekarang.
“Aku kira hubungan pertukaran kita sudah berakhir malam itu. Malam saat kita mengikat janji untuk saling setia walau tanpa cinta dan harta. Tapi kenapa kamu masih ragu Reina? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku dan dari hubungan ini?”
Deg!
Kesadaran Reina terhantam.
“Apa kamu sadar? Sudah dua kali kamu meragukanku. Pertama kamu ragu untuk menikah dan sekarang kamu meragukan kesetiaanku. Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Tolong katakan agar aku bisa mengerti dan memahamimu. Apa kamu ingin----”
BRAK!
CUP!
__ADS_1
Reina melepaskan ponsel Varen begitu saja lalu meraup wajah Varen dan mendekatkan bibirnya. Reina mencium Varen untuk membungkam kata-katanya yang akan keluar dari bibirnya.
Varen kaget dengan pagutan Reina yang begitu tiba-tiba. Namun ketika merasakan pagutan Reina yang lembut dan memabukkan Varen pun menikmatinya.
Dia memejamkan mata dan membalas setiap kecupan Reina dengan penuh perasaan. Tidak ada hsrat yang menggebu dalam ciuman mereka. Yang ada hanya kelembutan yang memabukkan perasaan keduanya. Menghilangkan seluruh kebimbangan dan keraguan yang digantikan dengan perasaan menyenangkan.
Perasaan yang menggelitik dan meletup-letup dalam hati keduanya. Reina menekan tengkuk Varen untuk memperdalam pagutannya. Varen pun dengan sigap mengangkat tubuh Reina agar duduk dipangkuannya.
Dalam suasana malam yang sunyi dan temaram mereka saling berpagutan dan enggan untuk melepaskan meskipun kebutuhan oksigen semakin mendesak.
“Akuuuuhhh! Sesak!” keluh Reina. Dia kalah dan butuh bernapas. Reina terengah begitupun Varen, terpaan napas Varen begitu hangat menyentuh wajahnya. Reina menatap lekat manik hitam Varen yang bersinar.
“Maafkan aku! Aku terlalu takut akan perasaanku padamu Varen. Aku takut terluka dan aku…..aku tidak mau merasakan kesakitan yang sama seperti yang aku rasakan sebelumnya.”
“Kamu membuatku keluar dari zona nyamanku Reina! Sungguh berat bagiku tapi aku bukan pria yang pandai berkata-kata atau pria yang banyak bicara. Aku bukan pria yang pandai bersikap manis atau melakukan hal-hal konyol yang bisa membuatmu tertawa. Aku bukan pria seperti itu. Tapi tiga hari ini….hari-hari yang sangat sulit bagiku.”
“Kamu berhasil membuatku melakukan semua hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Dan jujur! Aku tidak nyaman Reina. Aku merasa sudah melampau batasanku dan melangkah terlalu jauh hanya untuk menggapaimu. Tolong! Jangan membuatku kehilangan jati diriku, aku takut tidak dapat kembali pada diriku dan terdampar dalam kebingungan tak berdasar.”
Reina menyatukan kembali pagutannya yang semakin dalam dan memabukkan. Semua yang Reina lakukan membuat Varen melayang menghilangkan akal sehatnya. Reina memperkenalkan terlalu banyak hal baru baginya. Hal-hal baru yang menyesatkan jiwa dan hatinya. Reina mengecup lembut bibir suaminya dan tersenyum.
“Maafkan aku Varen. Aku hanya merasa semua perasaan yang aku rasakan untukmu terlalu cepat dan membingungkan. Aku juga kehilangan diriku selama beberapa hari ini. Aku terlalu cemburu dan kecemburuan itu membuat mata dan hatiku buta. Sungguh! Aku takut kehilanganmu. Aku tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba kamu berpaling dariku. Aku takut Varen….aku takut kehilanganmu.”
__ADS_1
Reina mengecup kembali bibir suaminya. “Kamu bukan suami penukar Bobby. Kamu juga bukan penggantinya, kamu hanya suamiku pria yang menikahiku dan membuat dadaku selalu bergetar setiap kali berdekatan denganmu.” ucap Reina seraya menempelkan tangan Varen kedadanya yang berdegup kencang.
“Aku tidak menginginkan apapun dari pernikahan kita. Aku hanya ingin kita selalu bersama dan menghabiskan masa tua bersama. Maafkan aku! Aku baru bisa mengatakannya.”
Varen tersenyum mendengar pengakuan Reina, dia pun meraih tangan Reina dan meletakkan didadanya. “Sepertinya kita merasakan hal yang sama. Dia pun tidak bisa diam setiap kali kamu menyentuhku.” ujar Varen tersenyum.
“Bukan hal yang mudah bagiku untuk menahan diri agar tidak menyentuhmu. Aku hanya berdoa semoga kewarasanku masih tetap bertahan sampai bulan depan.”
Reina tertawa, kesabaran Varen memang tidak perlu dipertanyakan lagi dan Reina mengecup bibir Varen dan sedikit menggoyangkan pinggulnya saat merasakan sesuatu yang keras mengganjal pinggulnya.
“Pria sejati akan selalu menepati janji bukan?” kata Reina menggoda suaminya.
“Jangan menggodaku Reina!” pinta Varen yang sudah sakit kepala akibat ulah istrinya.
“Aku tidak menggoda, hanya mencoba bergerak saja.” balas Reina.
“Hentikan Reina! Atau malam ini akan jadi malam pertama kita.” ancam Varen.
“Benarkah? Kalau begitu kamu akan jadi pria ingkar janji!” Reina menjulurkan lidahnya mengejek.
“Oh! Ini terlalu sulit ditahan. Aku butuh olahraga malam.” ucap Varen.
“Hahahaha!” tawa Reina pecah mendengar ucapan suaminya.
“Kenapa tertawa? Ayolah Reina, berhenti menggodaku. Aku mohon!”
“Hahahahaha!”
__ADS_1
“Tuhan! Bahkan tawamu pun terdengar merdu. Aku bisa gila hahahaha!” Varen tertawa karena kejahilan istrinya yang tak henti menggoyang pinggulnya. “Kalau kamu tidak mau berhenti, jangan salahkan aku kalau aku akan memakanmu sekarang.” ancam Varen.