
Jelaslah sudah dimata Bobby siapa yang sebenarnya lebih agresif mengirim pesan. Dia tersenyum getir kala membaca pesan yang dikirimkan Elora dibawa foto Reina beberapa waktu lalu.
‘Inilah yang istrimu lakukan dibelakangmu. Seharusnya kamu jangan terlalu mempercayainya.’
Melihat reaksi Bobby yang nampak kaget membuat Reina pun jadi penasaran dengan isi pesan Varen dan kakaknya. Selama ini Varen memang tidak melarang Reina untuk mengakses ponselnya. Tapi Reina tidak pernah ingin tahu isi pesan Varen dengan orang lain. Karena gengsi Bobby pun berkilah untuk tidak mengakui kesalahannya.
“Lalu hadiah apa yang dia maksud? Dan kemarin siang kalian juga bertemu juga kan?” tuduh Bobby.
Varen mendengus dan sekarang dia paham kenapa Elora mengiriminya pesan tidak jelas seperti itu. Varen merebut ponselnya dari tangan Bobby.
“Terakhir aku bertemu dengannya hari minggu dan itupun dia yang meminta bertemu denganku. Kenapa kamu tidak pulang dan tanyakan sendiri pada istrimu?”
Bobby mendengus, “Kamu pikir aku percaya. Sudah je---”
“Terserah padamu mau percaya atau tidak. Yang pasti aku tidak pernah bertemu Elora lagi setelah hari itu. Dan lagi aku bukan kamu yang mudah terpancing dengan hal murahan seperti itu.” potong Varen tersenyum miring mencemooh Bobby.
“Kamu----”
“Pergilah! Aku tidak akan membalas pukulanmu karena aku memahami perasaanmu saat ini.” ucap Varen bersikap bijak dan tenang. Varen membuka pintu taksi dan mengajak Reina masuk. Dia pun meminta Tanta untuk mengantarkan mereka sampai kerumah.
Bobby berdiri mematung ditempatnya dengan senyum getir. Bobby paham dengan maksud Baren, dia merasa tidak asing dengan kejadian ini. Melihat isi pesan Elora didalam ponsel Varen membuatnya sadar. Kalau Elora dulu juga melakukan hal yang sama kepadanya. Bobby melangkah gontai menuju mobilnya dengan perasaan bergemuruh.
Dia masih teringat jelas semua pesan-pesan yang dulu Elira kirimkan padanya sebelum mereka dekat. Awalnya Elora mengirimkan pesan tidak jelas seperti yang hari ini Varen dapatkan. Karena merasa penasaran Bobby membalasnya dan dari rasa penasaran itulah berlanjut menjadi obrolan ringan dan mereka semakin akrab.
Suatu hari Elora pernah mengirimkan foto Reina yang sedang makan dan berbelanja. Dia juga mengirim pesan yang isinya seakan memancing Bobby untuk berpikir buruk tentang istrinya.
‘Betapa beruntungnya menjaid istrimu. Bisa berbelanja dan makan mewah sesuak hati. Tanpa harus susah payah bekerja sepertiku.’
__ADS_1
Sejak pesan yang Elora kirim itu hubungan Bobby dan Reina mulai renggang. Tanpa mengkonfirmasi terlebuh dulu Bobby langsung percaya kalau selama ini Reina sering pergi menghabiskan uangnya. Bobby menghela napas dengan berat dan mulai bertanya-tanya wanita seperti apa yang sudah dia nikahi saat ini.
Wanita seperti apa yang sudah dia jadikan istri dan dia pilih dengan mengorbankan istrinya yang lain. Bobby meragukan pilihannya menikahi Elora, bagaimana kalau prasangkanya terhadap Reina selama ini tidak benar? Bagaimana kalau foto yang Elora kirimkan saat itu hanya jebakan untuknya agar hubungannya dengan Reina renggang?
Bobby mencengkeram setirnya dengan erat, ditengah keraguannya dia pun merasa penasaran. Kenapa Elora kembali mendekati Varen setelah dia sendiri yang membuang pria itu? Kenapa Elora mendekati pria yang sudah dia campakkan?
Apa yang membuat Elora berpaling dan melirim Varen lagi? Kepala Boby terasa berat seakan mau pecah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa sebenarnya yang diinginkan Elora?” gumam Bobby.
Di sepanjang jalan Reina masih merasa penasaran dengan apa yang dilihat Bobby di ponsel Varen. Dia juga ingin melihatnya tapi Reina terlalu malu mengatakannya. Selain itu Reina juga masih merasa kesal pada suaminya.
“Kenapa diam saja?” tanya Varen memecahkan keheningan tapi Reina tidak menghiraukan pertanyaan Varen. Dia masih tetap diam sambil memalingkan wajah keluar jendela.
“Reina…..” panggil Varen sambil menggoyangkan genggaman tangannya. Reina menghela napas lalu memalingkan wajahnya menatap Varen.
“Apa?” tanyanya dengan nada ketus.
Varen mengeratkan genggaman tangannya seolah takut akan kehilangan istrinya. “Jangan hiraukan tuduhan Bobby! Sungguh! Aku tidak lagi berhubungan dengan Elora sejak hari itu.” jelas
Varen seakan bisa menebak apa yang membuat Reina kesal padanya. Ketika mobil berhenti didepan rumah, Reina segera menarik tangannya dari genggaman Varen.
“Kalau kamu tidak bertemu Elora lalu kenapa dia menitipkan ini untukmu? Oh iya dia bilang terima kasih!” Reina memberikan paper bag kecil disampingnya dengan kasar. Lalu Reina turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar. Tanta sampai terperanjat dibuatnya.
“Apa lagi ini?” gumam Varen bingung dengan paper bag yang Reina berikan.
Dia pun turun dari mobil. “Reina-----” panggilnya sambil berlari menyusul istrinya. Begitu Varen memasuki rumah, Reina baru saja masuk kedalam kamar. Varen pun segera berjalan menuju ke kamar.
Dia memutar handle pintu tapi Reina menguncinya. “Reina! Buka pintunya! Aku tidak tahu apa maksud Elora memberikan ini padaku!”
__ADS_1
Varen menggedor pintu kamarnya tapi tidak ada sedikitpun sahutan dari istrinya.
“Reina…..” Varen kembali mengetuk pintu kamarnya tapi Reina benar-benar mengacuhkannya.
“Reina…..!” panggil Varen kesal. Dia tidak mau malam ini tidur di sofa ruang tamunya lagi. Selain dingin Varen pun sulit tidur karena ukuran sofa yang terlalu kecil. Didalam kamar Reina pura-pura menulikan telinganya.
Setelah mandi dia bersiap untuk tidur. Sebenarnya tadi pagi Reina sudah tidak marah pada Varen karena usaha Varen untuk membuatkan sarapan meluluhkan hatinya.
Apalagi ketika Reina mendapati luka irisan di jari tangan Varen. Dia tersentuh oleh perjuangan suaminya. Tapi setelah mengetahui Varen masih berhubungan dengan Elora membuatnya kembali kesal.
“Cih! Hubungan baik setelah pernikahan? Konyol sekali.” cibir Reina teringat kata-kata kakaknya tadi sore. “Biarlah dia tidur diluar sana! Aku tidak peduli!” ucap Reina kepada dirinya. Kemudian dia menenggelamkan diri dibawah selimut.
Duk! Duk! Duk!
“Reina…..!!!!!”
Suara gedoran pintu dan panggilan Varen kembali terdengar.
“BERISIK! Untung kita tidak punya tetangga.” pekik Reina seraya memejamkan matanya.
Mendengar teriakan Reina dari dalam kamar membuat Varen putus asa. Dia yakin Reina tidak akan membukakan pintu untuknya. Rasanya dia ingin mendobrak saja pintu kamarnya.
Tapi Varen berusaha menahan diri mengingat Reina yang tidak suka kekerasan. “Reina…..kamu tidak kasihan padaku? Sudah tiga malam aku tidur diluar! Disini dingin Reina!” ujar Varen putus asa dengan nada memelas.
Varen merasa usahanya untuk meluruhkan kemarahan Reina selama tiga hari ini sia-sia. Istrinya kembali marah dan salah paham.
Dia pun harus tidur diluar lagi. “Kenapa wanita harus rumit sekali?” keluh Varen seraya berjalan gontai menuju kursi. Varen duduk termenung ada perasaan kesal dan marah kepada istrinya yang akhir-akhir ini sering meragukan dirinya. Padahal mereka sudah berjanji untuk saling setia. Tapi kenapa Reina masih saja meragukan kesetiaannya.
__ADS_1
Haaah! Varen menghela napas panjang, dia merasa bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya.
“Baru kali ini aku merasa tidak berguna!” ujarnya seraya menyandarkan punggung ke sofa dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit rumah. Tiba-tiba dia mendapat ide, “Kenapa baru terpikir sekarang?” ucap Varen seraya tersenyum miring merasa bangga dengan gagasan yang dia temukan.