
“Ehem…..” suara deheman Elora dan Bobby membuyarkan keduanya. Reina masih berada dalam pelukan Verdi pun tersadar lalu berkata.
“Terima kasih.” berusaha menegakkan kembali tubuhnya. Tatapan Verdi tertuju pada sepatu pantofel yang dikenakan Reina terlihat kotor. Tanpa berkata sepatah katapun Verdi membalikkan badannya.
“Tim kuasa hukum akan segera melayangkan tuntutan ke pihak PT. Ananda Widjaya. Sekarang kamu fokus saja memantau pembangunan proyek yang sudah tertunda terlalu lama! Ingat baik-baik, kalian disini bekerja bukan untuk main-main apalagi membully!” ucap Verdi melanjutkan percakapannya.
Elora merasa tersindir dengan perkataan Verdi, dia langsung terdiam sedangkan Reina menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debar jantungnya yang berpacu cepat layaknya pacuan kuda. Pikirannya kembali pada Varen yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar cepat seperti sekarang.
‘Bodoh! Reina….kamu bodoh sekali! Seharusnya jantungmu hanya berdebar untuk suamimu! Bukannya pada pria lain.’ batinnya.
Dia merutuki dirinya sendiri dan merasa sangat bersalah sudah membiarkan pria lain mengusik hatinya. Reina kembali menatap nanar punggung Verdi dengan tatapan sendu dan kerinduan pada Varen. ‘Apa karena dia mirip dengan Varen ya makanya jantungku bereaksi seperti ini padanya?’
Ting!
Lift berhenti di lantai dua puluh delapan dimana ruang kerja Bobby dan Elora berada. “Saya duluan Pak.” ucap Bobby seraya membungkukkan sedikit badannya.
Sekilas pria itu menatap wajah menggemaskan Reina sang mantan istri yang berhasil membuat hatinya kembali kacau dan terusik. Bobby cemburu melihat Reina yang dipeluk Verdi barusan.
Sementara itu Elora menatap sinis pada Reina lalu melangkah dan membungkuk hormat pada Verdi sebelum keluar dari lift. Saat Elora hendak keluar dari lift, Verdi menjulurkan kakinya menyentuh ujung sepatu Elora yang langsung membuatnya hilang keseimbangan.
Elora hendak menangkap tangan suaminya sebagai pegangan namun Bobby berjalan tanpa menoleh tapi.. BUKK!
Elora jatuh tersungkur dengan kening membentur lantai yang keras. “Aduhhh…..” dia meringis kesakitan, hidung dan keningnya membentur lantai dengan keras. Mendengar suara gedebuk yang keras membuat Bobby menoleh dan menatap nyalang pada istrinya yang terbaring telungkup diatas lantai.
Bobby melayangkan tatapan tajam pada Elora, dia kesal karena Elora berjalan tidak hati-hati hingga terjatuh dan membuatnya malu karena terjadi didepan Verdi dan Reina.
Bagaimana jika ada bawahannya yang melihat kejadian itu? Bobby mengedarkan pandangannya untuk memastikan tidak ada yang melihat. Dia bukannya menolong istrinya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Makanya hati-hati!” dengus Bobby kesal.
“Maaf!” sahut Elora yang terlihat sangat malu.
Sementara Reina menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar.
Dia merasa puas karena Elora mendapatkan balasannya. Pintu lift tertutup, Reina menunduk masih menutup mulutnya dengan tangan. Hatinya benar-benar puas melihat wajah kakaknya yang menahan malu.
Di depannya, Verdi juga tersenyum karena dia pun merasa puas bisa membalas perbuatan Elora pada istrinya. Selama dia ada disisi Reina, dia tidak akan membiarkan siapapun membully istrinya.
“Hari ini kamu saya ijinkan pulang lebih awal. Tapi ingat ya, besok jangan sampai kamu terlambat lagi.” ucap Verdi ketika mereka melangkah keluar dari lift.
Senyum Reina mengembang, dia memang agak lelah dan ingin segera pulang bertemu suaminya. “Terima kasih pak.” ucap Reina. Tapi…..
PlAkkk! Plakkkk!
Sebuah tangan mencengkeran tangan Reina dan membalikkan badannya dengan cepat lalu menamparnya. Tamparan keras itu mendarat dipipinya. Reina tercengang menerima tamparan dari seorang wanita tua yang tidak dia kenal. Tangannya menyentuh pipinya yang nyeri dan terasa panas.
“Apa yang nenek lakukan?” Verdi menatap tajam wanita tua yang sudah tidak dilihatnya selama empat bulan terakhir ini.
“Kenapa wanita murahan ini ada disini? Dia tidak pantas ada disini! Usir dia!” pekik wanita tua itu seraya menunjuk kearah wajah Reina dengan tatapan penuh kebencian.
Reina yang masih terkejut dan syok hanya bisa diam menatap sendu kearah wanita tua itu. Dia sama sekali tidak mengenal wanita itu, lalu kenapa dia begitu marah dan terlihat sangat membencinya? Apa salahku? Apa dia salah mengenali orang? Dia bahkan memanggilku wanita murahan? Batinnya.
“Felix! Bawa Reina ke dalam.” perintah Verdi lalu menyentuh kedua bahu neneknya dan mencoba menenangkannya. Dia mendorong tubuh wanita tua itu memasuki lift, “Nek, sebaiknya kita bicarakan ini secara baik-baik. Tidak perlu melibatkan Reina dalam masalah kita! Dia tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah! Kalau ada yang perlu disalahkan disini adalah aku.”
“Rei….kamu tidak apa-apa?” Felix menyentuh bahu Reina. Dia merasa tidak tega melihat Reina diperlakukan seperti itu oleh neneknya.
“Hah?” Reina menatap Felix dengan mata berkaca-kaca sambil memegangi pipinya.
Felix menyentuh pipi Reina yang bengkak dan terlihat bercak darah di ujung bibirnya. Sepertinya nenek menamparnya sangat keras sampai sudut bibir Reina terkoyak.
__ADS_1
“Sakit?”
Reina terlonjak, pipinya sakit, hatinya sakit. Tetes airmata bergulir dipipinya, wanita tua itu menamparnya sekuat tenaga sampai Reina bisa merasakan rasa karat didalam mulutnya karena luka bagian dalam pipinya.
“Ayo aku obati! Duduklah disini, aku akan ambilkan es untuk mengompres.”
Felix menghilang dibalik pintu pantry, Reina terisak karena sakit di pipinya juga dihatinya. ‘Kenapa hidupku menyedihkan seperti ini? Orangtuaku membenciku, kakakku membenciku, bahkan Bobby mmbenciku sehingga dia menceraikanku dan menikahi kakakku! Sekarang ada orang lain yang tak kukenal juga membenciku? Apa salahku?’ gumamnya dalam hati.
‘Apa karena aku menampar Pak Verdi sehingga neneknya marah dan menamparku?’ gumamnya.
Felix kembali dengan bantalan es batu lalu meminta Reina untuk menempelkan di pipinya yang bengkak. Lalu Felix duduk disebelahnya, dia meringis melihat airmata membanjiri wajah istri sepupunya itu.
“Maafkan nenek ya. Dia memang agak protektif pada Verdi. Nenek tidak pernah sukau kalau ada wnaita yang mendekatinya.” ujar Felix.
“Apa dia salah paham padaku? Aku disini hanya bekerja bukan menggoda Pak Verdi.”
“Ya, mungkin karena nenek belum mengenalmu makanya dia bersikap seperti itu. Aku yakin dia akan menerimamu jika dia sudah mengenalmu lebih jauh.” jawab Felix berusaha menenangkan Reina.
“Tolong jelaskan padanya kalau aku ini hanya sekretaris Pak Verdi saja. Aku sudah menikah dan mencintai suamiku. Jadi nenekmu tidak perlu merasa khawatir kalau aku menggoda cucunya. Aku tidak akan mendekati cucunya.” ucap Reina. Dia mengerti kesalahpahaman yang terjadi pada nenek bosnya itu.
Felix bingung karena tak tahu jawaban seperti apa yang harus diberikannya pada Reina. Dia menatap wanita itu dengan senyum miris. Ekspresi wajahnya kebingungan seraya menatap Reina. Dia mendengar ucapan Reina yang mengatakan kalau dia mencintai suaminya. Dia merasa lucu sekaligus merasa kasihan padanya.
“Pak Felix. Aku mohon tolong berikan penjelasan pada nenek anda agar tidak salah paham padaku.”
“Baiklah! Aku akan berusaha melakukannya untukmu. Jangan khawatir.” ucap Felix.
“Terima kasih pak.” ucapnya lirih menghapus airmatanya. Dia menghela napas lega setelah mendengar ucapan Felix.
__ADS_1
‘Pantas saja Pak Verdi dan Pak Felix belum menikah di usia yang sudah cukup, ternyata neneknya galak sekali! Mana ada wanita yang mau menjadi menantunya kalau begitu. Bisa-bisa tiap hari kena serangan jantung karena dibentak-bentak dan dimarahi terus-terusn.’ gumam hatinya menatap Felix iba.