
Samara menatap Reina semakin tajam, ternyata dugaannya benar kalau wanita ini sangat licik dan mata duitan. Sebenarnya Samara hanya ingin memberinya umpan saja ingin mengetes kepribadian Reina.
Dia ingin tahu selicik apa dan seberapa berbahaya wanita yang dinikahi cucunya. Tanpa dia duga, umpannya malah berhasil dan mulai menunjukkan sifat Reina yang sebenarnya.
Dia ternyata tergoda dengan uang yang ditawarkan Samara. ‘Dasar perempuan murahan! Ternyata benar, kamu hanya menginginkan uang cucuku saja! Cih!’ gumam hatinya.
“Baiklah kalau kamu menginginkan pesangon anggap saja seperti itu. Tapi aku ingin kamu segera pergi dari kehidupan Verdi, cucuku dan jangan pernah muncul dikehidupannya lagi.” ujar Samara tegas.
Dia pun salah menafsirkan pertanyaan Reina dengan hal lain. Keduanya sama-sama salah paham. Mendengara kata pesangon membuat Reina tersenyum lebar, biasanya pesangon itu dua atau tiga kali gaji bulanan maka sangat banyak jumlahnya jika dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejap mata.
‘Ah, ini tawaran bagus! Aku bisa mengajak Varen buka usaha bersama, dengan begitu dia punya pekerjaan dan tidak akan ada lagi yang mengecapnya penggangguran. Wah Varen pasti senang.’
“Maaf Nyonya kalau boleh tahu, berapa banyak pesangon yang anda berikan pada saya?” tanya Reina dengan jantung berdebar kencang dan gugup karena tak sabar ingin mendengar nominal yang akan diterimanya. Setelah melihat ekspresi tidak sabar diwajah Reina, Samara pun tersenyum sinis.
Dia sudah menilai kalau istri Verdi ini sangat mata duitan dan memang hanya peduli pada uangnya. “Berapa yang kamu inginkan? Lima puluh juta? Seratus juta? Lima ratus juta? Katakan saja berapa yang kamu mau. Akan kuberikan berapapun yang kamu minta asal kamu tidak muncul lagi di kehidupan cucuku.”
Reina menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya kalau wanita itu benar-benar akan memberinya pesangon sebanyak itu. Berbagai rencana pun muncul di benak Reina dengan senyum sumringah dia pun memutuskan.
“Ehm, kalau saya meninggalkan pekerjaan dan Pak Verdi dengan uang sebanyak itu maka saya bisa buka usaha bersama suami saya, Nyonya. Dia pasti senang sekali karena tidak akan ada lagi orang yang menghinanya pengangguran.”
Samara mengeryitkan keningnya mendengar perkataan Reina. “Apa maksudmu? Aku kan memintamu untuk menjauhi hidup cucuku?”
“Iya Nyonya. Saya akan menjauhi Pak Verdi, saya tidak perlu muncul lagi diperusahaan ini. Begini Nyonya, sebenarnya saya sudah menikah tapi suami saya itu pengangguran. Kalau saya punya uang banyak, saya bisa buka usaha bersama suami saya.”
Samara semakin pusing, ‘Apa-apaan ini? Dasar perempuan tidak tahu malu! Aku tawarkan uang banyak supaya meninggalkan cucuku tapi dia malah mau buka usaha dengan cucuku?’ semakin besar kebencian Samara mengira Reina hanya tertarik pada uang dan ingin menipunya.
__ADS_1
Lagi-lagi keduanya salah paham. Samara mengeluarkan cek dari dalam tasnya dan menulis angka pada cek itu lalu memberikan pada Reina.
“Ini ambillah! Setelah ini kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi.” ucap Samara.
Reina mengambil cek itu dan wajahnya gembira melihat jumlah uang yang tertulis di cek itu. “Ah, ini banyak sekali Nyonya.” gumam Reina dengan nada senang.
“Bagaimana? Kamu mau kan melakukan permintaanku?” tanya Samara menegaskan.
Reina mengangguk tanpa ragu seraya menatap nyonya besar dihadapannya itu. Meskipun wanita itu terlihat galak tapi Reina menganggap kalau dia baik pada karyawan. Buktinya wanita itu memberikan Reina pesangon yang sangat besar.
“Saya berjanji tidak akan menampakkan diri lagi dihadapan Pak Verdi!”
BRAAKK!
Pintu ruangan terbuka dengan keras, Verdi datang dengan wajah merah padam dan menatap neneknya tajam. Dia langsung menghampiri neneknya, “Apa yang nenek lakukan disini?” Verdi menatap neneknya dengan geram karena dia tahu pasti neneknya menggertak Reina lagi.
Verdi menatap Reina lekat-lekat, memperhatikan ekspresi wajahnya. Verdi khawatir jika neneknya akan kembali melukai Reina seperti waktu itu. Dia merasa lega setelah melihat wajah Reina baik-baik saja..
“Penawaran apa yang diberikan nenekku padamu?” tanya Verdi menatap Reina dengan lembut.
Reina langsung tegang dengan kepala menunduk. Dia tidak berani menatap wajah datar bosnya itu. Dia takut Verdi akan marah karena dia memilih mengambil pesangon yang ditawarkan Samara. Reina mengatupkan bibirnya, tapi dia akhirnya memutuskan mengatakan yang sebenarnya.
“Ehm….begini pak. Nenek anda menawarkan pesangon pada saya supaya saya berhenti kerja dan tidak menemui bapak lagi. Saya mengambil ceknya karena uang itu bisa saya pakai untuk membuka usaha bersama suami saya.”
Reina pun menyodorkan cek yang ada ditangannya pada Verdi. Verdi langsung mengambil cek itu dan menatap neneknya dengan mata menyipit. “Apa maksudnya ini nek? Kenapa nenek menawarkan uang pada Reina?” dia meremas cek yang ada di genggamannya.
__ADS_1
“Nenek hanya menawarkan uang! Dia menerimanya dengan alasan untuk modal buka usaha bersama suaminya! Cih! Dasar wanita licik! Dia mau mengambil uangnya tapi tetap tidak mau meninggalkanmu.” ujar Samara menatap nyalang pada Reina.
“Hah? Bukan begitu! Saya sudah bilang---”
“Nek cukup!” bentak Verdi memotong kalimat Reina yang ingin menjelaskan. Reina merasa bingung karena tak paham maksud perkataan Samara.
“Aku tidak mau berdebat dengan nenek. Sebaiknya nenek pergi dari sini.” pinta Verdi dengan lembut.
“Baiklah. Nenek akan pergi” Samara bangkit dari duduknya menatap Reina dengan senyum mengejek. “Wanita murahan seperti kamu itu tidak pantas bersama dengan cucuku!”
Samara melangkah pergi meninggalkan ruang kerja cucunya. Hatinya merasa senang dan puas karena tujuannya sudah tercapai. Samara merasa dia berhasil memperlihatkan pada Verdi jika wanita yang dinikahinya itu tak lebih dari wanita murahan yang hanya mengincar uang dan hartanya saja.
Mendengar penghinaan yang dilontarkan Samara, membuat Reina tak dapat membendung airmatanya. Dia menangis sejadi-jadinya merasa sakit hati karena dihina dan dipermalukan didepan bosnya. Reina mendongak menatap Verdi dengan wajah berurai airmata.
“Apa salah saya pada nenek anda? Kenapa dia selalu menghina saa? Padahal tadi Nyonya yang menawarkan uang pesangon itu padaku tapi kenapa aku malah dihina? Aku mau gunakan uang itu untuk modal usaha bersama suamiku.” isaknya.
“Reina, tolong maafkan nenekku. Dia---”
“Pak! Saya memang suka uang tapi saya bukan wanita murahan! Saya menerima uang pesangon itu agar bisa dijadikan modal usaha untuk suamiku. Aku melakukannya untuk suamiku supaya dia punya usaha sendiri sehingga tidak dihina orang lain.”
Reina bangkit kemudian meninggalkan ruangan bosnya itu. Begitu dia sampai di meja kerjanya, Reina berjongkok dikolong meja dan menangis terisak-isak. Dalam keadaan menangis dan sedih dia meraih ponselnya kemudian menghubungi suaminya. Begitu sambungan terhubung, Reina pun semakin menangis dan berkata, “Varen…..aku mau pulang. Tolong jemput aku sekarang.”
Beberapa menit sebelumnya.
Verdi sedang berada diruang meeting fokus mendengarkan presentasi proyek baru yang sedang dikerjakan oleh perusahaannya. Matanya menatap layar monitor berukuran besar di hadapanya. Sedangkan telinganya mendengarkan penjelasan yang disampaikan karyawannya.
__ADS_1
Tiba-tiba suara ponsel Felix mengganggu konsentrasinya. Verdi melayangkan tatapan tajam pada Felix lalu menggerakkan kepalanya meminta Felix untuk pergi keluar ruangan menjawab teleponnya. Felix tersenyum sambil menggerakkan bibirnya meminta maaf. Dia bangkit dan menjauh kearah pintu menjawab teleponnya.