
Sesekali Verdi melirik dari kaca spion dihadapannya, dia memang merasa kesal karena ditampar oleh Reina tapi saat dia melihat wajah wanita itu yang terlihat tegang membuatnya menjadi khawatir.
“Kamu kenapa? Baik-baik saja?” tanyanya.
Reina mengeryitkan keningnya menatap bosnya itu sambil menahan napas. Dia merasa malu dan sangat bersalah atas apa yang dilakukannya. Dia sampai menahan napas dan Verdi melihat itu semuanya. Dia merasa kasihan melihat ekspresi wajah Reina yang sedih.
“Saya minta maaf karena sudah membuatmu salah paham. Bernapaslah! Jangan ditahan begitu nanti dadamu makin sesak. Saya tidak mau kamu mati muda didalam mobil saya karena kehabisan napas. Nanti saya yang dituduh membunuhmu.” ucapnya seraya mengulum senyum.
“Terima kasih. Bapak tidak marah kan sama saya?” Reina bicara sambil melirik Verdi yang menggelengkan kepalanya.
Verdi kembali fokus mengemudikan mobilnya sedangkan Reina fokus menatap wajah pria itu dari samping. Alisnya bertaut melihat kemiripan antara wajah Verdi dan Varen suaminya.
Hanya saja Verdi berkulit putih mulus dan netra matanya biru sedangkan Varen berkulit sawo matang dengan netra mata hitam. Keduanya sama-sama berambut gondrong dan fitur wajah yang persis sama.
‘Kenapa setiap kali aku melihat Pak Verdi, aku malah memikirkan Varen? Aku selalu terbayang Varen, tidak dirumah, dikantor wajahnya selalu membayangiku. Ada apa ya denganku? Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Ah tidak mungkin, ini terlalu cepat! Tapi kenapa aku selalu merindukannya dan takut kehilangannya?’
Mobil yang dikemudikan Verdi pun memasuki kawasan gedung kantor Narenda. Saat Reina melihat gedung itu dan wajah satpam yang menyambut mereka dia pun teringat saat dia melamar kerja di perusahaan itu. Dia masih ingat bagaimana perlakuan yang diterimanya satpam dan tatapan merendahkan dari karyawan perusahaan itu padanya.
Reina menatap nama perusahaan yang ada didepan gedung. “PT. Ananda Widjaya?” gumam Reina kaget. Dia semakin yakin dengan ingatannya bahwa perusahaan ini yang mengusirnya dengan kasar dan mencemoohnya karena penampilannya yang lusuh waktu itu.
“Ada apa dengan mu? Kamu mengenal seseorang yang bekerja disini? Atau kamu sudah pernah datang kesini sebelumnya?” tanya Verdi.
Dia melihat ekspresi wajah Reina yang langsung berubah setibanya mereka disana. Itulah mengapa Verdi menanyakannya, karena pasti ada sesuatu yang terjadi makanya sikap Reina langsung berubah.
__ADS_1
“Saya hanya pernah berkunjung sekali kesini pak. Hanya sampai lobi saja untuk mengantarkan surat lamaran kerja saya saja kok.” jawab Reina sejujurnya.
Wajahnya berubah masam saat mengingat bagaimana dia diusir dan diseret dari lobi sampai ke gerbang. Padahal dia datang kesana hanya bertanya tentang lowongan kerja.
Verdi menatap wajah Reina lekat-lekat. “Apa kamu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan waktu itu?” tanya Verdi ingin mengetahui.
“Darimana bapak bisa tahu?” Reina mengeryit.
“Tidak ada. Saya hanya menebak saja dari ekspresi wajahmu!” ucap Verdi.
Verdi berjalan diikuti Reina menuju ke lobi. Ketika mereka melewati satpam yang berjaga di pintu masuk, Verdi mendekatkan tubuhnya ke Reina lalu menepuk punggungnya dan berkata,
“Berjalan tegak dan tersenyumlah. Jangan pernah memperlihatkan ketakutanmu pada siapapun! Biarkan mereka menunduk hormat padamu.”
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, sudah satu jam berlalu ternyata pertemuan dengan Narenda membahas tentang bahan baku yang telat dikirim. Narenda minta maaf dan bersedia mengganti rugi asalkan Verdi bersedia memperpanjang kontrak kerjasama dengan mereka.
“Saya pastikan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Saya akan meminta pengiriman untuk mengecek kembali sebelum mengirimkan barang kepada anda. Saya harap kita bisa melanjutkan kerjasam ini. Mengenai jumlah kerugian mungkin bisa kita bicarakan lagi.” ucap Narenda Widjaya.
Reina langsung menatap kearah bosnya untuk melihat reaksinya. Sejak awal mereka duduk disana Verdi sudah menunjukkan sikapnya yang merasa enggan untuk melanjutkan hubungan kerjasama bersama PT. Ananda Widjaya.
“Berapa pun jumlah ganti rugi yang anda tawarkan pada saya, saya tidak tertarik. Keterlambatan pengiriman bahan baku menyebabkan terbengkalainya pengerjaan proyek yang menyebabkan deadline kami juga tertunda, sehingga kami mengalami kerugian yang sangat besar. Dan itu mengakibatkan konsumen kami merasa kecewa. Tolong kirimkan saja sisa bahan baku yang belum dikirim. Dan untuk kasus kemarin saya akan menempuh jalur hukum atas dasar pelanggaran kontrak.”
__ADS_1
Narenda Widjaya tercengang. Dia bahkan sudah menawarkan ganti rugi kepada Verdi namun langsung ditolak tanpa pertimbangan apapun. Verdi langsung berdiri dari tempat duduknya sambil melirik Reina yang juga ikut berdiri.
“Permisi.” ucap Verdi meninggalkan ruang rapat diikuti Reina yang berjalan dibelakangnya. Dalam hati Reina mempertanyakan keputusan Verdi yang menurutnya tidak masuk akal.
Jumlah ganti rugi yang ditawarkan oleh Narenda lumayan besar tapi kenapa Verdi menolak dan justru memilih menempuh jalur hukum yang lebih rumit?
“Pak Verdi! Apa ada masalah?” tanya Verdi saat mereka sudah didalam mobil.
“Kenapa bapak menolak penawaran Pak Narenda? Dia sudah mengajukan penawaran ganti rugi yang lumayan besar.” tanya Reina sedikit ragu-ragu.
Verdi bukannya menjawab pertanyaan Reina, dia malah melajukan mobilnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Setelah diam selama beberapa menit, akhirnya Verdi bicara, “Saya tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah menyakiti orang yang saya sayangi!”
“Heh?” Reina melirik Verdi dan merasa bingung dengan ucapan pria itu.
“Kenapa? Tidak usah terlalu dipikirkan perkataan saya barusan!” ucap Verdi tanpa menatap Reina. Setengah jam kemudian mereka tiba dikantor. Saat memasuki lobi mereka berpapasan dengan pasangan pengkhianat Bobby dan Elora yang juga baru kembali dari meeting diluar. Verdi mengajak mereka untuk naik lift khusus miliknya.
Reina menscan ID Cardnya seperti biasa lalu mereka masuk ke lift. Reina berdiri dibelakang Verdi mendendarkan percakapannya dengan Bobby mengenai pemutusan kontrak kerjasama dengan PT. Ananda Widjaya.
Ketika kedua pria itu serius berbincang, Elora dengan jahilnya bergeser lalu menginjak kaki Reina dengan keras menggunakan tumit sepatunya yang runcing. Reina sontak meringis kesakitan dan melirik Elora dengan tatapan tajam pada kakaknya itu.
Elora tersenyum sinis dan mencibir pada Reina sambil mengucapkan kata ‘Maaf’ dengan mimik mencemooh dan mengejek. Reina yang merasa kesal hendak membalas dan mengangkat kaki kirinya namun Elora sudah lebih dulu memindahkan kakinya yang membuat Reina terpeleset dan hampir jatuh.
Sebelum tubuh Reina terjatuh dan membentur tembok, dengan gesit tangan Verdi merangkul pinggang wanita itu dan tangan Reina mencengkeram bahu Verdi menjadikannya sebagai pegangan. Dalam keadaan terkejut keduanya saling bertatapan.
Mempertemukan manik manta indah Reina dengan manik biru milik Verdi. Muncul kehangatan yang menjalari kesekujur tubuh mereka dan menimbulkan detak jantung kencang pada keduanya.
__ADS_1