TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 77. BERITA HOAKS


__ADS_3

Verdi tertegun. Hatinya merasa tersentil dengan ucapan sepupunya. Cinta? Benarkah perasaan yang tengah dirasakannya ini adalah cinta? Verdi menatap Reina yang sedang bersiap-siap mau pulang. Jantungnya berdebar kala melihat senyum Reina yang mengembang.


‘Apa aku benar-benar jatuh cinta?’ tanya Verdi didalam hatinya. 'Tapi aku memang merasakan sesuatu yang berbeda bersama Reina. Apakah itu perasaan cinta?'


 


Setelah selesai berbenar, Reina melangkah memasuki lift. Dan ketika pintu lift akan tertutup tampak Verdi dan Felix berjalan menuju kearahnya. Mau tidak mau Reina pun menunggu mereka. Padahal dia sedang tidak ingin bertemu kedua orang itu, terutama Verdi. Meskipun tadi siang pria itu sudah membantunya.


 


Tapi rasa benci dan kesal Reina terhadapnya masih tetap sama. Begitu kedua orang itu masuk, Reina membungkukkan badan memberi hormat. Kemudian dia menekan tombol nomor satu lalu menundukkan wajahnya.


“Oh iya Reina. Selamat ya. Maaf saya baru mengucapkannya sekarang.” ujar Felix tiba-tiba yang membuat Reina mengeryit.


 


Dia tidak merasa sedang berulang tahun kenapa Felix malah memberinya ucapan selamat? Sedtik kemudian Reina teringat kalau hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja setelah cuti sakit.


“Tidak apa-apa. Terimakasih sebelumnya.” sahut Reina dengan sopan seraya tersenyum hangat. Senyumnya seketika menghilang kala tatapannya bertemu dengan Verdi.


 


Reina selalu merasa tidak nyaman dengan cara Verdi menatapnya. Dia selalu mengingatkan Reina pada Varen. Mungkin karena itu Reina membencinya.


“Saya harap kamu dan bayi dalam kandungan kamu selalu sehat. Saya tidak sabar menunggu bayi itu lahir.” ujar Felix.


“Bayi?” ujar Reina dan Verdi berbarengan.


 


Mereka menatap Felix dengan mata yang hampir keluar. Felix mengeryit menatap reaksi kedua orang itu. “Iya bayi. Selamat atas kehamilan kamu Reina.” ucap Felix lagi dengan senyum yang mengembang.


Reina dan Verdi tercengang sekilas mereka saling bertatapan. Mereka merasa heran dan tak paham maksud perkataan Felix. Namun Reina segera mengalihkan pandangannya kepada Felix.


 


“Apa maksud anda Pak Felix? Saya sedang tidak hamil.” sanggah Reina dengan tegas.


Dia mulai merasa kesal dengan berita hoaks tentang kehamilannya. Bukan hanya Bobby saja ternyata Felix juga mengira Reina sedang hamil. Reina mengutuki orang yang sudah menyebarkan berita bohong tentangnya.


“Bukankah kemarin itu kamu sakit karena kehamilanmu? Saya lihat kamu mual-mula.” ucap Felix bingung.

__ADS_1


 


Reina mendengus kesal, “Saya hanya masuk angin Pak. Orang yang masuk angin kan gejalanya memang mual-mual.” sahut Reina gemas. Bisa-bisanya Felix berpikiran kalau dirinya hamil hanya karena dia mual-mual tempo hari.


“Masuk angin?” ulang Felix tercengang. Matanya mengerjap-ngerjap dengan mulut sedikit terbuka. Felix tersenyum kikuk seraya menatap Verdi yang tengah menatapnya tajam.


 


Kemudian dia kembali menatap Reina dengan tatapan penyesalan. “Bagaimana ini sepertinya seluruh kantor sudah tahu kalau kamu hamil.”


Reina mendelik menatap Felix dengan tajam. “Bagaimana bisa mereka tahu?” tanyanya heran. Felix mengusap tengkuknya seraya tersenyum kikuk.


 


“Saya tidak bermaksud menyebarkannya. Waktu itu saya sedang rapat saat mendengar kabar kalau kamu hamil. Dan tanpa diduga kabar itu menyebar begitu saja.”


“Ya Tuhan! Jadi berita itu berasal dari bapak?” pekik Reina. Dia kesal sekaligus tak percaya dengan ulah bosnya itu. Reina menatap Felix yang tampak salah tingkah.


 


“Maaf! Tapi kamu tidak perlu khawatir, anggap saja kejadian ini sebagai doa dan motivasi agar kamu cepat hamil ya. Hehehehe.” kilah Felix menutupi rasa bersalahnya.


Reina mengepalkan kedua tangannya dengan gemas.


 


Begitu lift terbuka dia menatap tajam Felix. “Saya tidak mau tahu. Segera klarifikasi semuanya. Gara-gara bapak hari ini saya dituduh macam-macam.”


Verdi dan Felix tertegun melihat mata Reina yang menggenang. Mereka terdiam mematung saat Reina keluar dari lift dalam keadaan marah.


 


“Felix!” suara Verdi terdengar dingin seraya menatap Felix. Dia terlihat ketakutan saat melihat tatapan tajam sepupunya. “Segera selesaikan masalah ini atau aku akan mengirimmu ke London secepatnya!” ancam Verdi.


Dia pun pergi meninggalkan Felix yang masih tak bergeming ditempatnya. Sebenarnya selama ini Felix sengaja mengulur-ulur waktu keberangkatannya.


 


Dia tidak mau memimpin perusahaan sendirian tanpa sepupunya. Felix lebih senang menjadi asisten pribadi daripada harus menjabat sebagai direktur.


“Verdi tunggu aku!” teriak Felix mengejar sepupunya. Verdi sengaja pura-pura tak mendengar panggilan Felix. Dia mempercepat langkahnya untuk menyusul istrinya.

__ADS_1


 


Dia ingin memastikan keadaan Reina baik-baik saja. Dia tidak habis pikir dengan perbuatan sepupnya.  Bisa-bisanya dia menyebarkan berita konyol tentang kehamilan Reina. Mana mungkin Reina bisa hamil kalau bercocok tanam saja mereka belum pernah.


“Selamat sore pak!” sapa beberapa orang kepala divisi menghadang langkah Verdi.


 


Demi kesopanan dia pun berhenti untuk membalasa sapaan mereka. “Selamat sore.” sahutnya.


“Apa terjadi sesuatu yang buruk? Kenapa wajah bapak memar?” tanya Elora. Kebetulan Bobby dan Elora ada dalam rombongan orang yang menghadangnya. Sebenarnya dia malas dan merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Elora.


 


Tapi melihat tatapan penuh tanya dari para kepala divisi akhirnya Verdi pun tidak bisa mengelak lagi. “Saya ada sedikit masalah dengan…..”


“Pak Verdi dipukul copet saat menolong ibu-ibu di mall.” sela Felix yang sudah berdiri disamping Verdi. “Dia berkelahi dengan copet.” sambungnya.


 


Sontak saja bawahan Verdi memuji perbuatan heroiknya sedangkan Felix terkekeh kala melihat Verdi meliriknya dengan tajam. Namun Felix tidak mempedulikannya. Verdi menimpali pujian mereka dengan senyum tipisnya.


Tanpa Verdi sadari senyumnya membuat hati seseorang bergetar. Elora terkesima sekaligus kagum dengan perbuatan Verdi yang suka menolong.


 


Terlebih lagi dia terpesona dengan wajah tampan Verdi yang terluka. Verdi jadi terlihat macho dengan luka-luka diwajahnya. “Maaf saya terburu-buru. Permisi.” Verdi segera pergi meninggalkan bawahannya yang masih membicarakannya.


Tatapan Elora tertuju pada punggung Verdi yang semakin lama semakin menjauh. Dia terpesona pada senyuman dan ketampanan mantan suaminya itu.


 


‘Bodohnya aku! Kenapa aku baru menyadari kalau ada pria mengagumkan seperti kamu? Andai kamu bersedia menjadi milikku aku akan dengan sukarela melepaskan Bobby demi kamu.’ bisik hati Elora.


‘Tidak! Aku harus mendaptkan kamu bagaimanapun caranya aku tidak peduli! Kamu harus menjadi milikku.’ Elora menyeringai karena pemikirannya sendiri. 'Akan kubuat kamu bertekui lutut dan menerimaku menjadi pendampingmu.'


 


Pria itu memasuki mobilnya dengan terburu-buru. Lalu dia melajukan mobilnya keluar dari basemen begitu dia melihat Reina masih berdiri didekat taksi. Verdi menghentikan mobilnya.


“Apa ada masalah? Kenapa Reina berdiri disana?” gumam Verdi khawatir lalu dia mengirimkan pesan kepada Tanta untuk menanyakannya.

__ADS_1


__ADS_2